15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa ini terus-menerus dikejutkan oleh terbongkarnya berbagai kasus mega korupsi. Nilainya bukan lagi miliaran, bahkan bukan sekadar ratusan miliar, melainkan triliunan rupiah. Di balik angka-angka yang fantastis itu tersimpan ironi yang menyakitkan: mereka yang diberi amanah justru menjadi pihak yang mengkhianati kepercayaan rakyat.

Fenomena ini mengundang pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa seseorang yang telah memiliki jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, dan kehormatan sosial masih terdorong melakukan korupsi? Mengapa rasa cukup begitu sulit ditemukan? Dan mengapa, di saat satu kasus belum selesai diusut, kasus lain kembali bermunculan?

Di tengah derasnya pengungkapan berbagai perkara besar, muncul pula sebuah pertanyaan reflektif: apakah alam sedang bersih-bersih?

Pertanyaan itu bukan untuk mengajak kita berpikir di luar akal sehat, melainkan mengajak merenungkan bahwa setiap penyimpangan pada akhirnya akan menghadapi konsekuensinya. Ada saat ketika kebohongan tidak lagi mampu menutupi kebenaran. Ada masa ketika yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap satu demi satu.

Negeri yang Terlalu Lama Menoleransi Kebusukan

Harus diakui dengan jujur, praktik korupsi di negeri ini telah berlangsung terlalu lama dan terlalu dalam. Ia bukan lagi sekadar pelanggaran hukum yang dilakukan oleh segelintir orang, melainkan telah menjelma menjadi penyakit sosial yang menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa.

Korupsi merampas hak rakyat memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang memadai, infrastruktur yang berkualitas, serta kesempatan hidup yang lebih baik. Setiap rupiah yang dikorupsi sesungguhnya adalah hak masyarakat yang dirampas secara sistematis.

Karena itu, setiap langkah penegakan hukum patut diapresiasi. Tidak ada negara yang dapat berdiri kokoh apabila hukum hanya berani menyentuh mereka yang lemah, tetapi gentar menghadapi mereka yang memiliki kekuasaan.

Perkembangan terkini mengenai penggeledahan rumah pejabat di lingkungan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus menunjukkan bahwa penegakan hukum mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sulit disentuh. Apa pun hasil akhirnya nanti, masyarakat tentu berharap proses tersebut berlangsung profesional, transparan, berdasarkan alat bukti, serta bebas dari kepentingan politik maupun tekanan kelompok tertentu.

Namun penindakan hanyalah satu sisi dari perjuangan panjang melawan korupsi. Menghukum pelaku memang penting, tetapi menghentikan lahirnya pelaku baru jauh lebih penting.

Keserakahan: Musuh yang Bersemayam dalam Diri

Jika ditelusuri hingga ke akar terdalam, persoalan terbesar bukanlah kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan hanyalah alat. Yang menentukan adalah siapa yang memegang alat tersebut dan bagaimana kualitas kesadarannya. Akar persoalan sesungguhnya adalah keserakahan.

Keserakahan adalah penyakit batin yang tidak pernah mengenal kata cukup. Ia membuat seseorang selalu merasa kurang, meskipun telah memiliki segalanya. Rumah sudah megah, kendaraan sudah mewah, rekening terus bertambah, tetapi keinginan menguasai harta tidak pernah berhenti.

Dalam ajaran Sanatana Dharma, keadaan ini dikenal sebagai lobha, yaitu ketamakan, salah satu musuh utama manusia. Bersama nafsu yang tak terkendali, kemarahan, dan ego, lobha menutupi kejernihan hati sehingga manusia kehilangan kemampuan viveka, membedakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat.

Ironisnya, keserakahan justru tumbuh ketika seseorang telah memiliki banyak. Jarang kita menemukan orang miskin melakukan korupsi triliunan rupiah. Yang sering terjadi justru mereka yang telah menikmati berbagai kemewahan masih terus menumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Inilah paradoks kehidupan modern. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa takut kehilangan. Ketakutan itu kemudian melahirkan keinginan memiliki lebih banyak lagi. Lingkaran itu terus berputar tanpa pernah mencapai titik puas.

Apakah Alam Sedang Bersih-Bersih?

Dalam kehidupan terdapat hukum sebab-akibat yang bekerja melampaui pengawasan manusia. Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal sebagai hukum karma. Setiap tindakan akan menghasilkan akibat yang sepadan, cepat ataupun lambat. Siapa menabur, dia akan menuai.

Karena itu, terbongkarnya berbagai kasus besar dapat dipandang sebagai bagian dari proses koreksi. Kebusukan yang lama disembunyikan akhirnya muncul ke permukaan. Yang selama ini tampak kokoh ternyata rapuh. Yang selama ini dipuja ternyata menyimpan cacat tersembunyi.

Namun kita tidak boleh berhenti pada euforia penangkapan. Bersih-bersih yang sesungguhnya bukan hanya menangkap pelaku, melainkan membersihkan sistem, memperkuat pengawasan, memperbaiki tata kelola, serta membangun budaya integritas.

Kalau akar persoalan tidak disentuh, sejarah akan terus berulang. Satu pelaku dipenjara, pelaku lain akan lahir menggantikannya. Karena itu, pertanyaan “apakah alam sedang bersih-bersih?” semestinya berubah menjadi pertanyaan yang lebih pribadi: apakah kita juga sedang membersihkan diri? Sebab perubahan sosial selalu berawal dari perubahan individu.

Revolusi Kesadaran: Jalan Keluar yang Terlupakan

Selama ini kita terlalu banyak berbicara mengenai reformasi hukum, reformasi birokrasi, reformasi politik, dan reformasi ekonomi. Semua itu penting. Namun ada satu reformasi yang sering terlupakan, yaitu reformasi kesadaran.

David R. Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Ketika seseorang hidup dalam dominasi rasa takut, ego, dan keserakahan, keputusan-keputusan yang diambil pun cenderung merugikan orang lain. Sebaliknya, ketika kesadaran meningkat menuju integritas, kasih sayang, dan kebijaksanaan, kekuasaan berubah menjadi sarana pelayanan.

Pemikiran ini sejalan dengan ajaran spiritual Nusantara yang selalu menempatkan pengendalian diri sebagai kemenangan tertinggi. Menaklukkan orang lain mungkin membutuhkan kekuatan, tetapi menaklukkan diri sendiri membutuhkan kebijaksanaan. Korupsi pada akhirnya bukan hanya persoalan hukum. Ia adalah krisis karakter dan krisis kesadaran.

Karena itu pendidikan antikorupsi tidak cukup diajarkan melalui mata pelajaran di sekolah. Ia harus dimulai dari keluarga, diteladankan oleh para pemimpin, diperkuat oleh lembaga pendidikan, dan menjadi budaya dalam setiap institusi.

Anak-anak perlu belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada kekayaan. Bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Bahwa kesuksesan bukan diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Kekuasaan sebagai Jalan Pengabdian

Pada akhirnya, kekuasaan bukanlah musuh. Kekuasaan dapat melahirkan kemajuan apabila berada di tangan orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya, kekuasaan dapat menjadi bencana apabila berada di tangan mereka yang diperbudak oleh keserakahan.

Barangkali memang benar bahwa bangsa ini sedang memasuki fase pembersihan. Satu demi satu kasus besar mulai terungkap. Semoga proses ini tidak berhenti sebagai tontonan publik atau sekadar pergantian pemain, tetapi menjadi momentum membangun tata kelola yang lebih bersih dan berkeadilan.

Namun revolusi terbesar sesungguhnya tidak terjadi di ruang penyidikan, bukan pula di ruang sidang. Revolusi terbesar terjadi ketika manusia berani berdamai dengan dirinya sendiri dan belajar mengatakan satu kata yang sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan: cukup.

Sebab selama manusia tidak pernah merasa cukup, sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki tidak akan mampu mengisi kekosongan batinnya. Sebaliknya, ketika seseorang telah menemukan rasa cukup, ia tidak lagi diperbudak oleh harta maupun jabatan.

Di situlah makna terdalam dari perjuangan melawan korupsi. Bukan sekadar memenjarakan pelaku, melainkan membebaskan manusia dari penjara keserakahannya sendiri.

Mungkin alam memang sedang bersih-bersih. Tetapi pembersihan itu baru akan membawa perubahan sejati apabila setiap kita bersedia ikut membersihkan hati. Sebab dari hati yang bersih lahirlah pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih lahirlah tindakan yang benar. Dan dari tindakan yang benar akan lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan pengabdian, bukan sebagai alat untuk memuaskan keserakahan.

Ketika itulah ungkapan Lord Acton memperoleh makna yang lebih utuh. Kekuasaan memang cenderung menggoda manusia untuk menyimpang. Namun kekuasaan tidak harus berakhir dengan korupsi. Di tangan manusia yang memiliki integritas dan kesadaran, kekuasaan justru menjadi sarana menghadirkan keadilan, menyejahterakan rakyat, dan meninggalkan warisan yang akan dikenang jauh melampaui usia jabatannya.[T]

Tags: alam semestaAnti Korupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Next Post

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Ketika Lagu Menjadi Cerita, "Sang Surya Sampun Metangi" Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co