26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa ini terus-menerus dikejutkan oleh terbongkarnya berbagai kasus mega korupsi. Nilainya bukan lagi miliaran, bahkan bukan sekadar ratusan miliar, melainkan triliunan rupiah. Di balik angka-angka yang fantastis itu tersimpan ironi yang menyakitkan: mereka yang diberi amanah justru menjadi pihak yang mengkhianati kepercayaan rakyat.

Fenomena ini mengundang pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa seseorang yang telah memiliki jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, dan kehormatan sosial masih terdorong melakukan korupsi? Mengapa rasa cukup begitu sulit ditemukan? Dan mengapa, di saat satu kasus belum selesai diusut, kasus lain kembali bermunculan?

Di tengah derasnya pengungkapan berbagai perkara besar, muncul pula sebuah pertanyaan reflektif: apakah alam sedang bersih-bersih?

Pertanyaan itu bukan untuk mengajak kita berpikir di luar akal sehat, melainkan mengajak merenungkan bahwa setiap penyimpangan pada akhirnya akan menghadapi konsekuensinya. Ada saat ketika kebohongan tidak lagi mampu menutupi kebenaran. Ada masa ketika yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap satu demi satu.

Negeri yang Terlalu Lama Menoleransi Kebusukan

Harus diakui dengan jujur, praktik korupsi di negeri ini telah berlangsung terlalu lama dan terlalu dalam. Ia bukan lagi sekadar pelanggaran hukum yang dilakukan oleh segelintir orang, melainkan telah menjelma menjadi penyakit sosial yang menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa.

Korupsi merampas hak rakyat memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang memadai, infrastruktur yang berkualitas, serta kesempatan hidup yang lebih baik. Setiap rupiah yang dikorupsi sesungguhnya adalah hak masyarakat yang dirampas secara sistematis.

Karena itu, setiap langkah penegakan hukum patut diapresiasi. Tidak ada negara yang dapat berdiri kokoh apabila hukum hanya berani menyentuh mereka yang lemah, tetapi gentar menghadapi mereka yang memiliki kekuasaan.

Perkembangan terkini mengenai penggeledahan rumah pejabat di lingkungan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus menunjukkan bahwa penegakan hukum mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sulit disentuh. Apa pun hasil akhirnya nanti, masyarakat tentu berharap proses tersebut berlangsung profesional, transparan, berdasarkan alat bukti, serta bebas dari kepentingan politik maupun tekanan kelompok tertentu.

Namun penindakan hanyalah satu sisi dari perjuangan panjang melawan korupsi. Menghukum pelaku memang penting, tetapi menghentikan lahirnya pelaku baru jauh lebih penting.

Keserakahan: Musuh yang Bersemayam dalam Diri

Jika ditelusuri hingga ke akar terdalam, persoalan terbesar bukanlah kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan hanyalah alat. Yang menentukan adalah siapa yang memegang alat tersebut dan bagaimana kualitas kesadarannya. Akar persoalan sesungguhnya adalah keserakahan.

Keserakahan adalah penyakit batin yang tidak pernah mengenal kata cukup. Ia membuat seseorang selalu merasa kurang, meskipun telah memiliki segalanya. Rumah sudah megah, kendaraan sudah mewah, rekening terus bertambah, tetapi keinginan menguasai harta tidak pernah berhenti.

Dalam ajaran Sanatana Dharma, keadaan ini dikenal sebagai lobha, yaitu ketamakan, salah satu musuh utama manusia. Bersama nafsu yang tak terkendali, kemarahan, dan ego, lobha menutupi kejernihan hati sehingga manusia kehilangan kemampuan viveka, membedakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat.

Ironisnya, keserakahan justru tumbuh ketika seseorang telah memiliki banyak. Jarang kita menemukan orang miskin melakukan korupsi triliunan rupiah. Yang sering terjadi justru mereka yang telah menikmati berbagai kemewahan masih terus menumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Inilah paradoks kehidupan modern. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa takut kehilangan. Ketakutan itu kemudian melahirkan keinginan memiliki lebih banyak lagi. Lingkaran itu terus berputar tanpa pernah mencapai titik puas.

Apakah Alam Sedang Bersih-Bersih?

Dalam kehidupan terdapat hukum sebab-akibat yang bekerja melampaui pengawasan manusia. Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal sebagai hukum karma. Setiap tindakan akan menghasilkan akibat yang sepadan, cepat ataupun lambat. Siapa menabur, dia akan menuai.

Karena itu, terbongkarnya berbagai kasus besar dapat dipandang sebagai bagian dari proses koreksi. Kebusukan yang lama disembunyikan akhirnya muncul ke permukaan. Yang selama ini tampak kokoh ternyata rapuh. Yang selama ini dipuja ternyata menyimpan cacat tersembunyi.

Namun kita tidak boleh berhenti pada euforia penangkapan. Bersih-bersih yang sesungguhnya bukan hanya menangkap pelaku, melainkan membersihkan sistem, memperkuat pengawasan, memperbaiki tata kelola, serta membangun budaya integritas.

Kalau akar persoalan tidak disentuh, sejarah akan terus berulang. Satu pelaku dipenjara, pelaku lain akan lahir menggantikannya. Karena itu, pertanyaan “apakah alam sedang bersih-bersih?” semestinya berubah menjadi pertanyaan yang lebih pribadi: apakah kita juga sedang membersihkan diri? Sebab perubahan sosial selalu berawal dari perubahan individu.

Revolusi Kesadaran: Jalan Keluar yang Terlupakan

Selama ini kita terlalu banyak berbicara mengenai reformasi hukum, reformasi birokrasi, reformasi politik, dan reformasi ekonomi. Semua itu penting. Namun ada satu reformasi yang sering terlupakan, yaitu reformasi kesadaran.

David R. Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Ketika seseorang hidup dalam dominasi rasa takut, ego, dan keserakahan, keputusan-keputusan yang diambil pun cenderung merugikan orang lain. Sebaliknya, ketika kesadaran meningkat menuju integritas, kasih sayang, dan kebijaksanaan, kekuasaan berubah menjadi sarana pelayanan.

Pemikiran ini sejalan dengan ajaran spiritual Nusantara yang selalu menempatkan pengendalian diri sebagai kemenangan tertinggi. Menaklukkan orang lain mungkin membutuhkan kekuatan, tetapi menaklukkan diri sendiri membutuhkan kebijaksanaan. Korupsi pada akhirnya bukan hanya persoalan hukum. Ia adalah krisis karakter dan krisis kesadaran.

Karena itu pendidikan antikorupsi tidak cukup diajarkan melalui mata pelajaran di sekolah. Ia harus dimulai dari keluarga, diteladankan oleh para pemimpin, diperkuat oleh lembaga pendidikan, dan menjadi budaya dalam setiap institusi.

Anak-anak perlu belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada kekayaan. Bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Bahwa kesuksesan bukan diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Kekuasaan sebagai Jalan Pengabdian

Pada akhirnya, kekuasaan bukanlah musuh. Kekuasaan dapat melahirkan kemajuan apabila berada di tangan orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya, kekuasaan dapat menjadi bencana apabila berada di tangan mereka yang diperbudak oleh keserakahan.

Barangkali memang benar bahwa bangsa ini sedang memasuki fase pembersihan. Satu demi satu kasus besar mulai terungkap. Semoga proses ini tidak berhenti sebagai tontonan publik atau sekadar pergantian pemain, tetapi menjadi momentum membangun tata kelola yang lebih bersih dan berkeadilan.

Namun revolusi terbesar sesungguhnya tidak terjadi di ruang penyidikan, bukan pula di ruang sidang. Revolusi terbesar terjadi ketika manusia berani berdamai dengan dirinya sendiri dan belajar mengatakan satu kata yang sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan: cukup.

Sebab selama manusia tidak pernah merasa cukup, sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki tidak akan mampu mengisi kekosongan batinnya. Sebaliknya, ketika seseorang telah menemukan rasa cukup, ia tidak lagi diperbudak oleh harta maupun jabatan.

Di situlah makna terdalam dari perjuangan melawan korupsi. Bukan sekadar memenjarakan pelaku, melainkan membebaskan manusia dari penjara keserakahannya sendiri.

Mungkin alam memang sedang bersih-bersih. Tetapi pembersihan itu baru akan membawa perubahan sejati apabila setiap kita bersedia ikut membersihkan hati. Sebab dari hati yang bersih lahirlah pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih lahirlah tindakan yang benar. Dan dari tindakan yang benar akan lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan pengabdian, bukan sebagai alat untuk memuaskan keserakahan.

Ketika itulah ungkapan Lord Acton memperoleh makna yang lebih utuh. Kekuasaan memang cenderung menggoda manusia untuk menyimpang. Namun kekuasaan tidak harus berakhir dengan korupsi. Di tangan manusia yang memiliki integritas dan kesadaran, kekuasaan justru menjadi sarana menghadirkan keadilan, menyejahterakan rakyat, dan meninggalkan warisan yang akan dikenang jauh melampaui usia jabatannya.[T]

Tags: alam semestaAnti Korupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Next Post

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Ketika Lagu Menjadi Cerita, "Sang Surya Sampun Metangi" Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co