7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
in Panggung
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Pergelaran Musik "Sang Surya Sampun Metangi" di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

INI bukan sekadar konser musik. “Sang Surya Sampun Metangi” hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir menuju tembang berikutnya, membentuk jalinan kisah yang utuh dan sarat makna. Meski tanpa menghadirkan tokoh dengan rias dan busana layaknya pertunjukan fragmentari, sajian ini tetap memancarkan nuansa teatrikal yang kuat. Penonton pun larut dalam alurnya, seakan enggan beranjak karena khawatir kehilangan kepingan cerita yang tengah dirangkai di atas panggung.

Atmosfer itulah yang terasa dalam Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” bertema Menyongsong Indahnya Permata Khatulistiwa, salah satu sajian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Pertunjukan persembahan Sanggar Eka Mahardika Putra itu digelar di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Selasa (14/7/2026).

Sanggar yang bermarkas di Kota Denpasar tersebut berhasil memadukan musik pop modern dengan kekuatan gamelan Bali dalam sebuah komposisi yang harmonis. Hasilnya bukan hanya pertunjukan yang enak didengar, tetapi juga sebuah narasi musikal yang menyampaikan pesan tentang kehidupan, alam, budaya, serta harapan bagi generasi penerus.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, turut hadir menyaksikan penampilan para seniman muda itu. Raut bangga tampak jelas ketika melihat anak-anak dan remaja Bali mampu menghadirkan karya yang segar tanpa tercerabut dari akar budaya daerahnya.

Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Baru tiga lagu saya menonton, tetapi luar biasa. Saya senang sekali melihat talenta-talenta muda Bali yang terus diasah melalui kegiatan seperti Bali Jani,” ujar Putri Koster.

Musik Etnik dalam Balutan Modern

Pergelaran ini didominasi penyanyi anak-anak dan remaja. Mereka tidak hanya menunjukkan kualitas vokal, tetapi juga menghadirkan ekspresi tari yang penuh penghayatan dengan dukungan properti seperti kipas dan bunga. Penampilan mereka berkali-kali disambut tepuk tangan meriah dari penonton yang memenuhi arena pertunjukan.

Pendiri Sanggar Eka Mahardika Putra sekaligus penata vokal, penata musik, penata tabuh, pencipta lagu, dan arranger, Drs. I Gede Eka Putra, menjelaskan bahwa karya tersebut dirancang sebagai kolaborasi musik etnik yang tetap berpijak pada tradisi Bali, namun dikemas melalui pendekatan modern.

“Kami menampilkan kolaborasi etnik dengan tetap berakar pada kesenian tradisional, tetapi digarap secara modern. Ini bukan pop band biasa, melainkan perpaduan musik diatonis, pentatonis, slendro, pelog, hingga nada kromatis yang kami satukan,” jelasnya.

Selama hampir dua jam, sebanyak 19 seniman muda, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa, membawakan sepuluh lagu yang disusun menjadi satu kesatuan cerita. Instrumen modern berpadu dengan gamelan slendro dan pelog, menciptakan warna baru dalam musik pop Bali tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.

Sepuluh Lagu, Satu Perjalanan Kehidupan

Filosofi “Sang Surya Sampun Metangi” dimaknai sebagai lahirnya semangat baru dalam menjalani kehidupan. Matahari yang terbit menjadi simbol awal perjalanan manusia sekaligus menggambarkan Indonesia sebagai Permata Khatulistiwa yang kaya akan alam, budaya, dan keberagaman.

Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Melalui sepuluh lagu yang tersusun layaknya babak-babak dalam sebuah kisah, penonton diajak mengikuti perjalanan tersebut.

Pertunjukan dibuka dengan Gita Swara Alit Mahardika dan Sang Surya Sampun Metangi yang menggambarkan hadirnya cahaya kehidupan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju pengenalan keindahan alam melalui Damar di Langit. Kepedulian terhadap lingkungan disampaikan lewat Sampah Sampah Lulu Lulu dan Bali Ning Bali, yang mengajak masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap alam sekitarnya.

Memasuki bagian akhir, Putri Cening Ayu menghadirkan harapan melalui sosok generasi penerus, sementara Juru Pencar mengisahkan kehidupan masyarakat pesisir. Pertunjukan mencapai klimaks melalui Permata Khatulistiwa, Gita Permata Khatulistiwa, dan Eka Mahardika, yang mengajak masyarakat mencintai alam, menjaga budaya, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Menurut Eka Putra, seluruh lagu memang dirancang saling terhubung agar membentuk satu alur cerita yang utuh.

“Dimulai dari matahari terbit sebagai awal kehidupan, kemudian mengenal alam, masuk pada persoalan sampah, melihat kondisi Bali, lalu muncul harapan melalui generasi muda hingga akhirnya mengajak masyarakat mencintai Permata Khatulistiwa,” ungkapnya.

Menjaga Budaya melalui Generasi Muda

Persiapan pertunjukan dilakukan selama sekitar tiga bulan sejak awal Mei 2026. Hampir seluruh lagu yang dibawakan merupakan karya Eka Putra sendiri. Hanya Putri Cening Ayu dan Juru Pencar, yang merupakan lagu rakyat Bali, diaransemen ulang agar selaras dengan konsep pertunjukan.

Selain menyuguhkan perpaduan musik etnik dan modern, pertunjukan ini juga menyisipkan pesan pelestarian lingkungan melalui ajakan memilah sampah berdasarkan sumber dan jenisnya.

Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keberlanjutan seni budaya Bali melalui tiga pilar, yakni pelestarian, pengembangan, dan pembinaan generasi muda,” ujarnya.

Ia menilai antusiasme anak-anak terhadap musik kolaborasi etnik masih sangat tinggi. Karena itu, ruang-ruang kreatif seperti Festival Seni Bali Jani menjadi wadah penting untuk menumbuhkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Bali.

Setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19, Festival Seni Bali Jani, menurutnya, telah menjadi ruang baru bagi para seniman untuk kembali menghadirkan karya-karya kreatif.

“Dulu kami sering tampil di Pesta Kesenian Bali. Setelah pandemi sempat berhenti. Sekarang Bali Jani menjadi ruang baru untuk menampilkan kolaborasi etnik yang menjadi ciri khas kami,” katanya.

Ruang Ekspresi di Tengah Era Digital

Putri Suastini Koster menilai pertunjukan tersebut membuktikan bahwa musik pop Bali mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas budayanya. Unsur gamelan dan musik etnik yang tetap dipertahankan justru menjadi kekuatan utama yang membedakan musik pop Bali dengan genre lain.

“Musiknya memang pop modern, tetapi akar budayanya tetap terasa. Nuansa gamelan Bali tetap terdengar sehingga menjadi sesuatu yang unik,” ujarnya.

Pergelaran Musik “Sang Surya Sampun Metangi” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan ruang ekspresi bagi generasi muda agar tetap aktif berkesenian di tengah derasnya arus teknologi digital.

“Di tengah gempuran gawai, anak-anak kita tetap memiliki ruang untuk beraktivitas. Keilmuannya terasah, talentanya juga berkembang. Itulah pentingnya Bali Jani,” tuturnya.

Melihat potensi besar yang dimiliki generasi muda Bali, Putri Suastini berharap pertunjukan musik kolaborasi etnik semacam ini dapat dikembangkan menjadi festival di tingkat kabupaten dan kota sehingga semakin banyak ruang bagi lahirnya kreativitas baru.

Pada akhirnya, “Sang Surya Sampun Metangi” bukan sekadar pertunjukan musik. Ia menjadi pengingat bahwa tradisi dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk bertransformasi. Di tangan generasi muda, budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui kreativitas yang mampu menjembatani akar tradisi dengan semangat zaman. Dengan cara itulah warisan Bali akan terus bersinar, seterang matahari yang menjadi inspirasi pertunjukan ini.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026Sang Surya Sampun MetangiSanggar Eka Mahardika Putra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Next Post

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co