7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
in Panggung
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

Penampilan peserta Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas panggung, kata-kata puitis bertemu dengan melodi, ritme, dan ekspresi, melahirkan pengalaman artistik yang menggugah emosi. Puisi yang semula hanya hadir sebagai rangkaian larik seolah menemukan napas baru ketika dibunyikan melalui musik. Imajinasi penonton pun diajak berkelana, mengikuti perjalanan batin penyair yang terasa lebih hidup daripada ketika puisi dibaca dalam bentuk teks.

Barangkali itulah sebabnya musikalisasi puisi selalu memiliki tempat tersendiri di hati generasi muda. Ia bukan hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang untuk bereksperimen, menafsirkan karya sastra, sekaligus menggabungkan berbagai disiplin seni dalam satu panggung.

Tahun ini, lomba diikuti sembilan kelompok dari berbagai daerah di Bali. Penampilan dibagi dalam dua sesi, yakni Selasa dan Rabu (14–15 Juli 2026), di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Seluruh peserta membawakan puisi yang dipilih sesuai tema Festival Seni Bali Jani VIII, “Kembara Sukma Atma Kerthi”, yang dimaknai sebagai perjalanan menuju jiwa yang maha suci.

Baik pada hari pertama maupun kedua, setiap kelompok menghadirkan tafsir yang berbeda atas puisi yang dibawakan. Ada yang memilih pendekatan teatrikal, ada pula yang menonjolkan kekuatan vokal dan orkestrasi musik. Aransemen yang kreatif, penghayatan yang kuat, serta konsep artistik yang matang menjadikan setiap penampilan memiliki identitasnya sendiri. Melodi yang lembut berpadu dengan vokal yang ekspresif, sementara tata panggung dan kostum memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Menghadirkan Kematian dan Spiritualitas Lewat Bunyi

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Kelompok Musikalisasi Puisi Teater Biner, ITB STIKOM Bali, pada hari kedua. Mereka membawakan dua puisi, yakni Ngaben karya Pranita dan Zoya karya Putu Vivit Lestari, dengan dukungan tiga pemain keyboard, dua gitar akustik, serta tiga vokalis.

Kekuatan utama kelompok ini terletak pada konsep visual dan tata bunyinya. Saat membawakan Ngaben, para penampil mengenakan kostum hitam berkerudung dengan jubah panjang yang menyerupai personifikasi malaikat pencabut nyawa. Nuansa muram itu kemudian berubah drastis ketika memasuki Zoya. Kostum serba putih menghadirkan atmosfer yang lebih terang dan spiritual, selaras dengan isi puisi yang berkisah tentang kepasrahan seorang manusia kepada Tuhan.

Penampilan peserta Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

Pelatih kelompok, Heri Windi Anggara, mengatakan bahwa Ngaben dihadirkan melalui pendekatan orkestra rock untuk menggambarkan dua sudut pandang sekaligus, yakni dari sisi orang yang menjalani prosesi pengabenan dan mereka yang mengantarkan kepergiannya.

“Kami mengangkat peristiwa ngaben secara umum di Bali dengan konsep orkestra rock. Ada dua sudut pandang yang kami hadirkan, yakni sebagai orang yang diaben maupun sebagai orang yang hadir dalam prosesi pengabenan. Dua sisi itulah yang kami masukkan ke dalam musik,” ujarnya.

Sementara itu, Zoya diterjemahkan melalui nuansa paduan suara bergaya katedral. Aransemen musik dibuat lebih hening dan kontemplatif sehingga mampu menguatkan pesan spiritual yang terkandung dalam puisi.

Pemilihan instrumen pun dirancang secara cermat. Tiga keyboard memiliki fungsi berbeda: menghadirkan orkestrasi, menghasilkan bunyi marimba menyerupai lonceng gereja, dan memainkan suara piano murni. Gitar listrik digunakan untuk menciptakan efek suara, sedangkan gitar akustik menjadi pengiring utama.

“Kalau di Ngaben, kami menghadirkan unsur-unsur bunyi seperti suara api, pembakaran, hingga bunyi seng penutup ketika proses kremasi berlangsung,” jelas Heri.

Eksplorasi bunyi tidak berhenti pada instrumen musik. Daun dan ranting kering dipatahkan untuk menghasilkan suara menyerupai bara api dan abu yang berjatuhan. Seng yang digesek menggunakan garpu menghadirkan bunyi berderit, kemudian dipadukan dengan efek detak jam untuk membangun kesan nyeri, sunyi, dan kegelisahan.

“Kami ingin mengejar suara-suara itu. Saya membayangkan bagaimana jika saya sendiri yang mengalami proses itu. Walaupun seseorang telah meninggal, kadang muncul pertanyaan apakah kesadaran itu masih ada. Dari sanalah muncul rasa ngilu yang ingin kami hadirkan lewat bunyi,” tuturnya.

Puisi dan Musik Harus Berjalan Sejajar

Dewan juri Tan Lioe Ie menilai sebagian peserta masih belum sepenuhnya menangkap makna puisi yang mereka bawakan. Menurutnya, tema Festival Seni Bali Jani tahun ini bersifat kontemplatif sehingga membutuhkan pembacaan yang lebih mendalam sebelum diterjemahkan menjadi karya musikal.


Penampilan peserta Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Ada peserta yang salah menangkap makna puisi. Karena itu perlu pembacaan yang lebih cermat agar tawaran estetik puisi benar-benar dipahami. Ketika dipadukan dengan musik, keduanya bisa bersinergi secara utuh,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan musikalisasi puisi tidak hanya diukur dari kualitas musik ataupun pembacaan puisi, melainkan dari kemampuan keduanya saling menguatkan.

“Dalam penilaian, yang kami lihat adalah sinergi puisi dengan musik, karena ini merupakan dua cabang kesenian yang dipadukan menjadi satu.”

Menurut Tan Lioe Ie, pertemuan puisi dan musik seharusnya melahirkan nilai estetis yang lebih besar dibandingkan ketika keduanya berdiri sendiri. Karena itu, musik tidak boleh mendominasi puisi, begitu pula sebaliknya.

“Yang penting, puisi tidak menjadi subordinat musik, begitu juga musik tidak menjadi subordinat puisi. Keduanya harus berjalan sejajar karena sama-sama memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi perkembangan musikalisasi puisi di Bali yang dinilainya cukup menggembirakan. Regenerasi berlangsung baik karena banyak alumni peserta tingkat SMA kini telah menjadi pelatih, bahkan mendirikan kelompok musikalisasi puisi di sekolah masing-masing.

Ruang Pembaruan bagi Seni Pertunjukan

Pandangan senada disampaikan juri Ketut Sumerjana. Menurutnya, pemahaman terhadap isi puisi harus menjadi fondasi utama sebelum menyusun aransemen musik. Ia mencontohkan masih ada kelompok yang menghadirkan musik terlalu heroik untuk puisi yang bernuansa religius dan kontemplatif.

“Harusnya lebih lembut karena nuansanya religius, tetapi justru terlalu heroik. Mungkin memang perlu ada workshop,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai pelatihan dan workshop perlu diperbanyak agar pemahaman para pelaku terhadap musikalisasi puisi semakin matang. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi sejumlah kelompok yang berhasil memadukan puisi dan musik secara harmonis sehingga melahirkan pengalaman artistik yang segar.


Penampilan peserta Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Sesuai dengan visi panitia, karya yang ditampilkan harus terus menghadirkan kebaruan,” ujarnya.

Ke depan, Sumerjana berharap unsur inovasi semakin menonjol dalam setiap penampilan. Baginya, semangat pembaruan merupakan ruh Festival Seni Bali Jani.

“Kata ‘Jani’ berarti sekarang. Kalau hanya mengulang hal-hal lama tanpa pembaruan, tentu tidak akan ada progres. Itu harapan kami,” katanya.

Senada dengan itu, juri Yulian Kruscov Binti menilai masih ada peserta yang belum sepenuhnya memahami hakikat musikalisasi puisi sehingga dialog antara puisi dan musik belum terbangun secara utuh. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi keberanian seluruh peserta dalam mengeksplorasi medium sastra menjadi karya pertunjukan.

“Peserta sudah berupaya menerjemahkan puisi, meskipun masih ada kelompok yang belum mencapai pemahaman utuh tentang musikalisasi puisi,” tandas Yulian.

Pada akhirnya, Lomba Musikalisasi Puisi FSBJ VIII bukan sekadar arena kompetisi. Lebih dari itu, ajang ini menjadi ruang perjumpaan sastra dan musik yang saling memperkaya. Kata-kata memperoleh suara, nada menemukan makna, dan tafsir-tafsir baru lahir dari keberanian generasi muda mengeksplorasi puisi melalui medium musikal.

Di panggung inilah Festival Seni Bali Jani terus menegaskan dirinya sebagai ruang pembaruan, tempat tradisi, sastra, dan musik bertemu dalam semangat kreativitas yang terus bergerak mengikuti zaman.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026musikalisasi puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

Next Post

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co