18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini by Oka Rusmini
June 15, 2026
in Ulas Rupa
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

Oka Rusmini bersama tiga perempuan pelukis saat pameran | Foto: Ist

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubuh perempuan yang terus-menerus bergerak, menakar, dan menanggung beban domestik yang berlapis. Bagi masyarakat patriarki, meja makan adalah lambang kemapanan, harmoni, dan ketenteraman kosmis. Namun di bawah permukaan estetika yang rapi itu, ia adalah medan pertempuran batin, wilayah kerja tanpa upah, sekaligus ruang sunyi tempat pengorbanan dikunyah habis setiap hari.

Gagasan pameran ini menemukan akar spiritual dan konseptualnya yang kokoh dari bait-bait puisi dalam buku kumpulan puisi Saiban karya Oka Rusmini. Sebagai teks penuntun, Saiban—yang secara harfiah merujuk pada ritual persembahan makanan sehari-hari masyarakat Bali sebelum dinikmati—telah lebih dulu membongkar bagaimana ruang domestik, dapur, dan makanan adalah wilayah sakral sekaligus penuh represi bagi perempuan. Energi puitis dari teks Saiban inilah yang merembes ke dalam kanvas, mematangkan visi, dan memberi cetakan ide yang kuat bagi para perupa. Kolaborasi ini menjadi begitu organik dan bertenaga justru karena ia mempertemukan ketajaman teks dengan keliaran kuas serta kedalaman warna, melahirkan dialog interdisipliner yang solid antara sastra dan seni rupa.

Karya-karya pada pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali—Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Dyah Ayu Wulandari (Wellwul)—yang terekam dalam Katalog Pameran Seni Rupa: Trio Art Exhibition “What’s for Dinner?” (Sandat Wangi, Mira El Amir, Wellwul), Juni 2026. Esai Kuratorial oleh Savitri Sastrawan. Dan saya buka dengan pidato kecil pada tanggal 8 Juni 2026.

Bagi saya pameran ini tidak sedang sekadar bicara tentang urusan urakan dapur atau pemenuhan biologis semata. Lewat kacamata feminisme yang menggugat—feminisme yang tidak silau oleh mistifikasi adat dan “kekudusan” tradisional yang menindas—pameran yang berlangsung dari 8 Juni hingga 8 Agustus 2026 di Artotel Sanur ini adalah sebuah pemberontakan kreatif yang intim. Mereka membongkar ritual keseharian yang dianggap sepele, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk merebut kembali agensi tubuh, otoritas suara, dan kedaulatan perempuan.

Menolak Menjadi Liyan

Untuk menakar urgensi pameran “What’s for Dinner?”, kita tidak bisa melepaskannya dari bentang sejarah seni rupa kita yang sekian lama didominasi oleh narasi maskulin. Jika kita mundur sejenak, sejarah formal—mulai dari era Persagi pada tahun 1930-an hingga riuh rendahnya sanggar-sanggar pasca-kemerdekaan—kerap menempatkan perempuan hanya sebagai objek estetis. Perempuan adalah model, moleknya lekuk tubuh, penari yang eksotis, atau bagian dari lanskap alam yang romantis. Perempuan sebagai subjek pencipta harus merebut ruangnya dengan kerja keras yang berlipat ganda.

Suasana pameran kolaboratif tiga perupa perempuan berbasis di Bali di Artotel Sanur | Foto: Ist

Di tingkat nasional, kita berutang pada para perintis seperti Emiria Sunassa yang berani mendobrak kanon pada masanya, lalu disusul oleh generasi Kartika Affandi, Siti Ruliyati, hingga gerakan seni rupa kontemporer era 1990-an yang mulai mencairkan batas-batas medium. Namun di Bali, struktur komunal dan jerat adat memberikan tantangan yang jauh lebih spesifik dan berlapis bagi perupa perempuan.

Menjadi seniman perempuan di Bali bukan sekadar urusan memegang kuas, mencampur pigmen, atau memahat di atas kanvas. Ini adalah proses negosiasi tiada henti yang melelahkan antara tuntutan domestik, tanggung jawab ritual adat (makarya), dan dorongan ekspresi pribadi.                               

Maka, ketika Wellwul, Mira, dan Sandat Wangi hadir dengan konsistensi kerja bersama selama lima tahun terakhir, mereka tidak sedang berdiri di ruang hampa. Pameran ini adalah kelanjutan dari rantai perlawanan estetis para pendahulunya yang menolak menjadi “liyan” (the other) di tanah mereka sendiri.

Otoritas, Mistisisme, dan Brutalitas Ekologis

Pameran ini membalikkan cara pandang patriarki yang meremehkan ruang domestik sebagai wilayah sekunder yang sunyi dari pemikiran besar. Ketiga perupa ini justru membuktikan bahwa dapur dan meja makan adalah episentrum dari pergolakan batin dan politik tubuh yang paling radikal.

Karya-karya Sanfat Wangi | Foto: Ist

Sandat Wangi membuka narasi ini dari wilayah paling awal: pagi hari. Doktrin patriarki tradisional kerap menuntut perempuan untuk bersiap sejak fajar demi melayani seluruh isi rumah. Namun, Sandat mendekonstruksi ritme ini lewat prinsip “good dinner begins in the morning”.

Melalui goresan garis halus (fine line) dan figur-figur khasnya yang merawat bunga baby blue, morning glory, hingga tapak dara, ia membalikkan logika pelayan menjadi penguasa atas ruangnya sendiri. Bagi Sandat, makanan adalah nutrisi agar seluruh organ bekerja dengan baik—sebuah bekal dalam menggapai tujuan dan kesiapan diri. Proses berkebun dan menyiapkan makanan diubahnya menjadi ritus pemulihan otoritas tubuh: sebuah proses pendewasaan dan pemenuhan bagi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum dipaksa siap menghadapi tuntutan luar dalam lembaran baru pernikahan. Tubuh perempuan di sini bertindak sebagai kurator kehidupan yang otonom.

Gugatan yang lebih transparan, magis, dan mistis hadir dalam karya Mira El Amir. Di Bali, perempuan adalah arsitek utama di balik estetika sesajen; mereka adalah penjaga spiritualitas yang sunyi namun tubuhnya dipahat oleh kelelahan. Mira melihat meja makan layaknya altar sesajen modern—sebuah wilayah di mana kasih sayang berjalin kelindan dengan kebosanan dan beban kebudayaan yang mematikan. Tindakan menyajikan makanan digeser dari sekadar kewajiban gender menjadi sebuah otoritas sakral untuk merawat peradaban dari unit terkecil.

Lewat sapuan warna terang bermedium kontemporer dan goresan garis pendek, Mira menghadirkan figur Barong Mother. Ini adalah metafora yang brutal sekaligus jujur: sosok ibu dipaksa menjadi ‘Barong’—penjaga keseimbangan kosmis antara terang dan gelap, yang menanggung seluruh beban emosional keluarga hingga mengalami kematian-kematian kecil (loss of self) demi menjaga nyala kehidupan rumah tangga. Dengan menyisipkan aksara Bali dan simbol spiritual leluhur, Mira merebut kembali ruang sakral tersebut. Ia menegaskan bahwa tubuh perempuan bukanlah alat reproduksi budaya yang pasif, melainkan medan perlawanan politik yang nyata dan berdaya.

Oka Rusmini (penulis) saat membuka pameran | Foto: Ist

Mira El Amir (kiri)

Sandat Wangi (kanan)

Dyah Ayu Wulandari “Wellwul” (kanan)

Sementara Wellwul menarik benturan ini keluar, menabrakkan narasi domestik dengan brutalitas sosio-kultural dan cengkeraman industrialisasi. Perempuan kerap kali menjadi korban pertama ketika alam dirusak dan pangan dikomodifikasi. Wellwul mengajukan pertanyaan eksistensial yang tajam: “Bagaimana mengolahnya?” agar hidup dan karya dapat dinikmati sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Lewat garis ekspresif dan palet warna yang terbatas, seri karyanya seperti Behind the Plate dan Pesta Plastik di Muara menyoroti bagaimana keserakahan industri (seperti ekspansi kelapa sawit) telah merusak ruang hidup, sementara masyarakat modern terjebak dalam budaya konsumtif yang rakus—melahap gosip, informasi, hingga sampah plastik kemasan tanpa jeda. Bagi Wellwul, momen makan malam adalah ruang krusial untuk berhenti: sebuah jeda untuk menginterogasi kembali apa yang telah masuk ke dalam tubuh kita, dan sejauh mana kita ikut andil dalam kerusakan alam di luar piring kita.

Solidaritas Saling Sulang: Politik Etika Merawat (Caring)

Pameran ini mencapai puncaknya pada karya kolaborasi yang diberi judul Saling Sulang. Selama lima hari di Karangasem, ketiga perupa ini berkumpul, menurunkan ego penciptaan individu, dan berkarya bersama dalam satu kanvas spiritual.

Di tengah struktur sosial yang sering kali mengadu domba sesama perempuan demi status adat, kasta, atau standarisasi domestik, Saling Sulang hadir sebagai bentuk solidaritas politik perempuan (sisterhood). Mereka tidak sekadar berbagi ruang fisik, melainkan saling menutrisi, menguatkan, dan merayakan agensi kolektif mereka sebagai sesama subjek yang berdaulat.

Apa yang mungkin dianggap sepele oleh sejarah besar—mengiris bawang, menakar garam, menghidangkan mangkuk—oleh ketiga perupa ini diangkat menjadi sebuah “ritual” penciptaan. Ini adalah tindakan-tindakan kecil yang penuh makna. Sebuah simbolisasi tentang “merawat” (caring) yang kini menjadi diskursus penting dalam kritik seni kontemporer dan gerakan gender dunia.

Savitri Sastrawan (nomor dua dari kiri) bersama tiga perempuan pelukis | Foto: Ist

Di tengah riuhnya perdebatan teoritis tentang keperempuanan yang kerap berjarak di menara gading, pameran “What’s for Dinner?” menjadi sangat kuat justru karena ia membumi. Ia mengembalikan teori-teori gender yang rumit itu ke dalam pengalaman yang paling dekat, paling intim, dan paling jujur dari tubuh mereka sendiri. Menyajikan makanan, pada akhirnya, adalah cara mereka merepresentasikan diri. Ini bukan bentuk ketundukan pasrah pada slogan klasik sumur-dapur-kasur, melainkan sebuah proklamasi: bahwa dari ruang domestik inilah mereka saling mengingatkan, menguatkan, mendukung, dan merawat bersama ke depannya.

Pameran ini adalah sebuah dekolonisasi pikiran dari struktur patriarki yang telah membeku selama ribuan tahun dalam tatanan teologis maupun sosiologis. Sandat Wangi, Mira El Amir, dan Wellwul telah membuktikan dengan bertenaga bahwa urusan domestik, isi piring, dan tubuh perempuan tidak pernah sepele. Mereka adalah pusat perlawanan, sebuah kuali sejarah yang diaduk dengan kesadaran penuh untuk meruntuhkan dinding-dinding kekudusan semu yang selama ini memenjarakan suara perempuan.

Selamat atas lima tahun kerja kultural yang sunyi namun meledak ini. Meja makan telah resmi menjadi mimbar politik yang sah. [T]

Padangsabian Kelod, Denpasar, Juni 2026

Tags: Artotel SanurOka RusminiPameranPameran Seni RupaPerempuanperempuan pelukis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Next Post

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co