6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

I Made Sudiana by I Made Sudiana
October 16, 2026
in Bahasa
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

I Made Sudiana

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan saya tahu persis betapa melelahkannya mengantre. Kali ini, rasa frustrasi itu diwakilkan oleh istri saya yang harus ikut mengular berjam-jam di SPBU. Menyaksikan sendiri pemandangan orang-orang yang berjejal di tengah cuaca panas ekstrem—sebuah drama harian yang cuma bisa saya gambarkan dengan satu kata: wah—membuat saya tersadar akan satu hal.

Fenomena antrean BBM bukan cuma perkara krisis pasokan atau tangki kendaraan yang kosong. Ia adalah panggung sosial tempat lahir dan hangatnya kembali berbagai istilah kebahasaan. Ketika situasi lapangan memanas, bahasa hadir bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan cermin psikologi massa. Mari menelisik istilah dan peristilahan yang menyeruak di balik fenomena antrean BBM di Bali.

Istilah yang paling riuh terdengar dan menghiasi tajuk-tajuk berita adalah panic buying. Dalam ranah peristilahan resmi yang dirilis Badan Bahasa, padanan untuk panic buying adalah ‘pembelian panik’.

Namun, mengapa masyarakat dan media massa lebih spontan menyebut panic buying ketimbang pembelian panik?

Secara sosiolinguistik, penyerapan atau penggunaan langsung istilah asing sering kali dipicu oleh faktor kemudahan (convenience) dan jangkauan media (media repetition). Panic buying dianggap lebih padat dan langsung mengekspresikan tindakan psikologis kolektif—yakni perilaku aksi beli secara berlebihan yang didorong rasa cemas dan ketakutan akan kehabisan stok.

Selain panic buying, fenomena ini juga membawa serta istilah teknis lainnya seperti hoarding (penimbunan) dan stockpiling (pengumpulan/penumpukan pasokan). Di tengah ketergesaan publik, istilah-istilah asing ini lebih cepat mengendap di ruang publik digital ketimbang padanan resminya.

Di luar istilah populer bergaya barat, lantai SPBU memiliki glosariumnya sendiri. Salah satu kata yang mendadak kembali sering diucapkan adalah pelangsir atau aktivitasnya yang disebut nglangsir.

Secara etimologis, kata dasar langsir (berasal dari bahasa Belanda lanceren atau istilah perkeretaapian untuk memindahkan gerbong) mengalami perluasan makna (generalization). Dalam konteks BBM, pelangsir merujuk pada oknum atau warga yang bolak-balik mengantre untuk mengisi tangki kendaraan—sering kali yang sudah dimodifikasi—atau jeriken, demi mengumpulkan pasokan BBM lalu dijual kembali di tingkat pengecer dengan harga lebih tinggi.

Aktivitas ini kerap berkelindan dengan istilah kolokial seperti ngecor atau ngetor (proses memindahkan BBM dari tangki/SPBU ke wadah eceran) serta ngeteng (menjual secara eceran). Istilah-istilah ini menegaskan bagaimana masyarakat membentuk kosakata yang sangat spesifik untuk menggambarkan praktik bertahan hidup sekaligus spekulasi di tengah krisis.

Hal yang paling menarik dari fenomena bahasa di Bali adalah hadirnya nuansa lokal yang membalut kepanikan menjadi humor yang getir. Di ruang percakapan media sosial maupun obrolan antrean warga, muncul istilah-istilah khas Bali, salah satunya kata maborbor.

Kata maborbor dalam bahasa Bali secara harfiah merujuk pada aktivitas bakar-bakaran atau pemakaian daya/sumber daya secara konsumtif dan cepat habis. Dalam kelakar warga saat antre BBM, kata ini kerap meluncur sebagai sindiran: “mara misi BBM, langsung maborbor anggon ngantre buin” (baru isi BBM, langsung ‘terbakar/habis’ cuma dipakai antre lagi).

Secara konotatif, kata maborbor dalam bahasa Bali juga bermakna ‘berpanas-panasan’ karena harus antre di bawah terik sinar matahari. Panas matahari Bali ternyata bukan sekadar membakar kulit, melainkan juga membakar emosi, memicu panas hati, hingga tak jarang melahirkan rentetan umpatan di barisan kendaraan. Penggunaan ungkapan lokal semacam ini berfungsi sebagai saluran katarsis atau penawar stres. Humor berbasis bahasa daerah (local humor) dan ekspresi emosional ini menjadi benteng psikologis warga Bali dalam menghadapi situasi yang serba tak pasti.

Tidak hanya di tingkat warga, dinamika kebahasaan juga terjadi di tingkat otoritas. Dalam menyikapi antrean panjang, pilihan kata pejabat public relations (PR) atau regulator sangat krusial.

Kata kelangkaan sering kali dihindari oleh otoritas karena secara semantis mengindikasikan bahwa pasokan barang memang hilang atau habis secara total—sebuah kata yang berpotensi menyulut panic buying yang lebih hebat. Sebagai gantinya, eufemisme atau klausa penjelas seperti keterlambatan distribusi, penyesuaian kuota, atau pembatasan pasokan lebih sering dipilih untuk menenangkan publik. Benturan antara persepsi “kelangkaan” di mata warga dan “penyesuaian distribusi” di mata otoritas menunjukkan betapa bahasa memiliki daya tawar politik dan sosial yang nyata.

Antrean BBM di Bali pada akhirnya bukan sekadar tentang liter dan rupiah di mesin pompa SPBU. Ia adalah pertunjukan bahasa yang hidup. Dari istilah asing panic buying, istilah teknis pelangsir, hingga seloroh lokal maborbor, bahasa merekam dengan cermat bagaimana masyarakat merespons krisis, beradaptasi, hingga merawat rasa humor mereka.

Melalui peristilahan yang lahir dan riuh di ruang publik ini, kita diajak menyadari satu hal: selama manusia mengalami peristiwa sosial, selama itu pula bahasa akan terus tumbuh dan menciptakan istilahnya sendiri. [T]

Tags: Bahasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Next Post

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

by I Made Sudiana
November 5, 2026
0
Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

Read moreDetails

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

by I Made Sudiana
November 1, 2026
0
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

Read moreDetails

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

by I Made Sudiana
October 26, 2026
0
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

Read moreDetails

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails
Next Post
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata
Esai

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

by Hartanto
November 4, 2026
COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co