26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

I Made Sudiana by I Made Sudiana
October 26, 2026
in Bahasa
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

I Made Sudiana

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan FB Nyoman T, beliau melontarkan sebuah adagium singkat yang sarat makna: “Mendidik tidak mendadak.”

Ungkapan itu sederhana, padat, dan langsung menohok kesadaran kita bahwa pembentukan karakter atau transfer ilmu tidak bisa dicapai dengan cara instan seperti membalik telapak tangan. Bagi telinga seorang yang perhatian dengan bahasa, ungkapan Nyoman Tingkat ini justru memicu rantai asosiasi pikiran yang unik dan menggelitik pula. Bunyi didik di kepala saya tiba-tiba melompat bebas menyeberang ke lorong kosakata lain yang bunyinya nyaris kembar: kata tidik dan nidik dalam bahasa Bali.

Bagaimana kata didik dan tidik  yang secara bunyi mirip bisa melahirkan makna yang begitu kontras—dari urusan mencerdaskan akal budi hingga urusan mengisi perut, bahkan merembet ke ranah umpatan?

Dalam ranah bahasa Indonesia, kata didik sudah berakar kuat di kepala kita sebagai sinonim dari pengajaran, pembinaan, dan pelatihan sosial. Kita mengenal kata pendidikan, pendidik, dan mendidik. Semuanya beraroma kognitif, formal, dan berorientasi pada masa depan.

Ketika Anda menyeberang ke Bali dan menyelami khazanah leksikon lokalnya, Anda akan menemukan kata tidik. Apa arti tidik? Berbeda jauh dari urusan sekolah atau rapor merah anak didik, tidik dalam ragam bahasa Bali justru bermakna ‘makan’.

Jangan bayangkan kata ini sebagai bahasa kasar. Meminjam istilah sosiolinguistik yang kerap dibahas oleh mendiang Prof. I Gusti Ngurah Bagus, tidik adalah bentuk ragam “lepas hormat”. Dalam sistem budaya Bali yang terkenal dengan sor-singgih basa (tingkat tutur), masyarakat memiliki spektrum kata makan yang berlapis-lapis—mulai dari tidik, nidik; amah, ngamah (dianggap kasar, biasanya untuk hewan atau keakraban ekstrem yang tak beretika); ragam yang umum seperti daar, madaar; hingga ajeng, ngajeng yang merupakan ragam alus mider/alus (ragam hormat). Sebenarnya, masih banyak lagi bentuk kosakata untuk aktivitas makan dalam bahasa Bali yang menunjukkan betapa kayanya khazanah leksikon bahasa Bali.

Di sinilah letak keunikan tidik. Kata ini berada di ruang yang cair. Ia bukanlah kata yang kaku, melainkan bentuk keakraban yang digunakan sesama teman dekat atau kerabat dalam situasi santai tanpa harus terikat aturan hierarki yang kaku. Ketika seseorang mengajak temannya nidik (makan), suasananya cair, hangat, dan tanpa beban.

Dinamika bahasa memang kerap menyimpan kejutan. Di luar urusan makan, kata tidik juga bisa bertransformasi menjadi bagian dari ekspresi emosional, seperti dalam bentuk umpatan: “tidik kema malali.” Umpatan ini secara kontekstual bermakna ‘celaka kau ke sana bermain-main’. Kata tidik dalam hal ini bergeser fungsi dan maknanya menjadi bentuk makian lokal.

Kalau kita kulik dengan ilmu bahasa, didik (bahasa Indonesia) dan tidik (bahasa Bali) ini ibarat saudara kandung yang terpisah jalan. Bentuknya nyaris kembar: sama-sama dua suku kata dengan ekor belakang yang persis sama, yaitu -idik. Bedanya cuma di huruf paling depan: huruf /d/ pada didik berubah menjadi huruf /t/ dalam kata tidik.

Cerita kebahasaan ini menjadi semakin liar dan seru ketika kita melihat apa yang terjadi jika kedua kata ini disandingkan dengan kaidah tata bahasa Bali.

Kata didik (bahasa Indonesia) rupanya juga diserap ke dalam kosakata bahasa Bali. Ketika kata didik mendapat imbuhan awalan nasal /n-/ khas Bali, ia berubah menjadi nidik (mendidik). Di sisi lain, kata dasar tidik (makan) jika juga diberi awalan nasal yang sama /n-/, hasilnya juga berbunyi nidik!

Di sinilah letak keajaiban sekaligus kelucuannya. Kita mendadak punya satu kata kembar identik (homonim) di meja linguistik: nidik.

Coba bayangkan kalimat iseng ini diucapkan dalam pergaulan sehari-hari di Bali: “nidik murid”. Kalimat ini mendadak punya makna ganda yang mengundang senyum (atau bahkan bulu kuduk merinding kalau dibayangkan secara harfiah): (1) bisa bermakna ‘mendidik murid’(dari kata serapan didik + nasal), dan (2) bisa juga bermakna ‘makan murid’—meskipun tentu saja ini sekadar plesetan absurd dari kata tidik + nasal!

Kejadian langka seperti ini membuktikan betapa dinamisnya interaksi antara bahasa nasional dan bahasa daerah. Sesuatu yang awalnya terpisah oleh ruang makna yang jauh, tiba-tiba bertabrakan di satu titik bunyi yang persis sama gara-gara aturan gramatika.

Apa yang bisa kita petik dari perjumpaan tidak sengaja antara didik, tidik, hingga jebakan kebahasaan bernama nidik ini?

Pertama, bahasa tidak pernah kaku. Ia adalah makhluk hidup yang tumbuh, bercabang, dan kadang melahirkan kejutan-kejutan semantik yang menggelitik. Siapa sangka, aktivitas intelektual di ruang guru, aktivitas ragawi di meja makan, hingga candaan tentang nidik murid diikat oleh benang merah struktur bunyi yang serupa.

Kedua, ragam “lepas hormat” seperti kata tidik membuktikan bahwa masyarakat lokal di Indonesia memiliki cara yang sangat kaya untuk merawat keintiman sosial. Bahasa tidak selalu harus kaku berkalang formalitas. Ada ruang-ruang santai ketika sebuah kata diucapkan bukan untuk meninggikan status, melainkan untuk merapatkan jarak antarteman.

Nanti suatu hari ketika Anda mendengar nasihat bijak tentang “mendidik tidak mendadak”, jangan heran kalau pikiran Anda langsung melayang ke piring nasi atau bahkan waspada ketika mendengar kalimat nidik murid! Karena pada akhirnya, baik urusan mengisi kepala (didik) maupun urusan mengisi perut (nidik), keduanya sama-sama membutuhkan proses yang sabar, nikmat, dan sama sekali tidak bisa dilakukan secara mendadak.[T]

Tags: BahasaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

Next Post

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co