8 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teka-Teki “Asli” dan “Nakli”

I Made Sudiana by I Made Sudiana
November 8, 2026
in Bahasa
Teka-Teki “Asli” dan “Nakli”

I Made Sudiana

AKHIR-AKHIR ini, percakapan di media sosial sering kali diramaikan oleh perdebatan seputar barang tiruan, ijazah, hingga berita bohong. Istilah asli dan palsu pun berulang kali mencuat di lini masa, bahkan melahirkan akronim populer yang sangat khas di telinga kita: aspal—asli, tapi palsu; atau pelesetan sarkastisnya, aslinya palsu. 

Pernahkah kita bernalar dari mana asal-usul kedua kata ini? Mengapa bahasa Indonesia dan bahasa Hindi (India) yang berbagi begitu banyak kemiripan kosakata justru memiliki lawan kata yang sama sekali berbeda untuk kata asli?

Ingatan saya melayang pada rentang tahun 1988—1999, saat mendapat kesempatan berharga menerima beasiswa dari pemerintah India untuk mengikuti kursus bahasa Hindi di Kendriya Hindi Sansthan (Institut Bahasa Hindi) di Kota Agra. Berada di kota berdirinya Taj Mahal tersebut, saya mendapati kejutan linguistik yang luar biasa. Bahasa Hindi yang saya pelajari ternyata tidak terasa terlalu asing. Banyak sekali kosakata yang terasa sangat akrab di telinga seorang penutur bahasa Indonesia dan bahasa Bali.

Semangat belajar saya membumbung ketika menyadari betapa mudahnya kosakata dasar diserap. Kata-kata seperti kursi, dunia, dan asli digunakan dalam percakapan sehari-hari di India dengan makna yang persis sama seperti di Indonesia. Pembelajaran menjadi kian lancar karena saya juga mempelajari aksara Dewanagari serta dasar-dasar bahasa Sanskerta. Karena bahasa Hindi menggunakan aksara Dewanagari dan banyak menyerap kosakata Sanskerta, benang merah antara bahasa Hindi dan bahasa Indonesia menjadi makin benderang.

Melalui pendekatan Linguistik Historis Komparatif (LHK), kemiripan ini bukanlah sebuah kebetulan murni. Bahasa Indonesia (yang berakar dari rumpun Austronesia) dan bahasa Hindi (rumpun Indo-Eropa) bertemu di persimpangan sejarah kontak budaya yang panjang.

Kemiripan ini datang dari dua gelombang utama. Pertama, gelombang Sanskerta yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta dari India ke Nusantara. Kedua, gelombang Arab-Persia yang melintasi Jalur Sutra dan jalur niaga maritim. Kata seperti kursi dan dunia diserap oleh bahasa Melayu/Indonesia dari bahasa Arab melalui jalur perdagangan Islam. Di saat yang sama, kata-kata tersebut juga masuk ke anak benua India di bawah naungan Kesultanan Mughal yang menggunakan bahasa Persia sebagai bahasa istana.

Fenomena ini semakin menarik jika kita menengok bahasa Urdu—bahasa resmi Pakistan. Secara tata bahasa dan percakapan lisan, bahasa Urdu dan Hindi pada dasarnya adalah satu saudara kandung (akar Hindustani). Namun, bahasa Urdu lebih banyak menyerap kosakata dari bahasa Arab dan Persia serta ditulis dalam aksara Nasta’liq (seperti aksara Arab), sedangkan Hindi lebih condong menyerap Sanskerta dengan aksara Dewanagari.

Kembali ke teka-teki kata asli dan palsu. Saat berbelanja atau berinteraksi dengan warga lokal di Agra, saya menemukan satu fakta menarik. Ketika orang India ingin menanyakan lawan kata dari barang asli, mereka tidak menggunakan kata palsu, melainkan kata nakli (asli-nakli).

Mengapa bisa demikian? Dari manakah akar kata-kata ini berasal?

Kata asli yang digunakan di Indonesia maupun India berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa Arab aṣl yang bermakna akar, dasar, atau kemurnian. Namun, percabangan terjadi pada lawan katanya.

Bahasa Hindi (dan Urdu) mengambil lawan kata asli dari bahasa Arab juga, yaitu naqli yang kemudian dilafalkan menjadi nakli. Dalam bahasa asalnya, naqli berakar dari kata naql yang berarti menyalin, memindahkan, atau meniru. Bagi penutur bahasa Hindi, sesuatu yang nakli adalah sesuatu yang ditiru atau dibuat salinannya.

Lantas, mengapa bahasa Indonesia tidak mengenal kata nakli dan justru memilih kata palsu?

Jawabannya terekam dalam lembaran sejarah pelayaran Nusantara. Kata palsu bukanlah berasal dari bahasa Arab maupun Sanskerta. Leksikologi sejarah mencatat bahwa kata palsu masuk ke Nusantara melalui kontak bahasa dengan bangsa Eropa pada era penjelajahan samudra. Kata ini diserap dari bahasa Portugis, falso (atau dipengaruhi bahasa Belanda valsch), yang semuanya bermuara dari bahasa Latin falsus—berarti salah, curang, atau tiruan.

Ketika bangsa Portugis dan Belanda memegang kendali perdagangan barang-barang berharga di kepulauan Nusantara, istilah penipuan niaga dan barang tiruan mengadopsi kosakata dari bahasa mereka. Akibatnya, bahasa Indonesia mengawinkan kata asli (dari Arab) dengan kata palsu (dari Eropa) untuk menggambarkan oposisi biner antara barang murni dan tiruan.

Di era digital sekarang, penutur bahasa Indonesia membawa sejarah panjang perkawinan bahasa ini ke tingkat kreatif yang baru. Ketegangan antara yang asli dan yang palsu melahirkan istilah/akronim populer aspal (asli, tapi palsu). Istilah ini merujuk pada barang atau dokumen tiruan yang dibuat sedemikian rupa hingga sangat menyerupai bentuk aslinya—sebuah fenomena masyarakat modern yang canggih sekaligus menggelitik.

Ketika warganet hari ini berdebat soal barang aspal, tanpa disadari kita sedang merayakan titik temu peradaban dunia. Dalam satu frasa sederhana itu, ada jejak bahasa Arab (asli), bahasa Portugis (palsu), dan daya cipta penutur Indonesia yang tiada habisnya. Bahasa Indonesia menjadi kaya justru karena ia berani menyerap, memadukan, dan menghidupkan kembali kata-kata dari berbagai penjuru bumi. [T]

Tags: Bahasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Stop Menormalkan Luka Perempuan! — Jika Tuhan Memuliakan Perempuan, Mengapa Manusia Justru Menyakiti Mereka?

Next Post

Intuisi Liar Handy Saputra dalam “The Dialog Between The Moon and Its Halo” di Santrian Art Gallery

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

by I Made Sudiana
November 5, 2026
0
Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

Read moreDetails

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

by I Made Sudiana
November 1, 2026
0
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

Read moreDetails

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

by I Made Sudiana
October 26, 2026
0
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

Read moreDetails

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails
Next Post
Intuisi Liar Handy Saputra dalam “The Dialog Between The Moon and Its Halo” di Santrian Art Gallery

Intuisi Liar Handy Saputra dalam “The Dialog Between The Moon and Its Halo” di Santrian Art Gallery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Hutan ke Laut: Estafet Kepemimpinan ICHI Sulsel dalam Lokasabha III
Budaya

Dari Hutan ke Laut: Estafet Kepemimpinan ICHI Sulsel dalam Lokasabha III

IKATAN Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI) Dewan Pimpinan Regional Sulawesi Selatan menggelar Lokasabha III pada Minggu, 8 November 2026, bertempat di...

by Bagus WKP
November 8, 2026
Kota dan Eksplorasi Arsitektur – Cerita Bali Kontemporer
Buku Tatkala

Kota dan Eksplorasi Arsitektur – Cerita Bali Kontemporer

Judul: Kota dan Eksplorasi Arsitektur - Cerita Bali Kontemporer Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Nyoman Gede Maha Putra...

by Buku Tatkala
November 8, 2026
Murid SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Merajut Kebersamaan Lewat Lomba Ngelawar, Membuat Canang dan Kwangen, serta Menyusun Gebogan
Khas

Murid SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Merajut Kebersamaan Lewat Lomba Ngelawar, Membuat Canang dan Kwangen, serta Menyusun Gebogan

AROMA rempah menguar dari sebuah ruang kelas. Sejumlah murid perempuan duduk melingkar di lantai, sibuk mencacah bahan, meracik bumbu, dan...

by Dede Putra Wiguna
November 8, 2026
Kehabisan Cerita atau Kehabisan Cara Berpikir? — Ketika Kita Sibuk Mencari Cerita Baru, tetapi Lupa Menggali yang Lama
Esai

Kehabisan Cerita atau Kehabisan Cara Berpikir? — Ketika Kita Sibuk Mencari Cerita Baru, tetapi Lupa Menggali yang Lama

* BELAKANGAN ini, saya kerap tergelitik oleh sebuah pertanyaan yang seolah menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia penciptaan seni: “Ada cerita...

by I Gusti Made Darma Putra
November 8, 2026
Intuisi Liar Handy Saputra dalam “The Dialog Between The Moon and Its Halo” di Santrian Art Gallery
Pameran

Intuisi Liar Handy Saputra dalam “The Dialog Between The Moon and Its Halo” di Santrian Art Gallery

PETIKAN gitar Tan Lioe Ie seketika menghentikan perbincangan para pengunjung. Puisi “Aku Danau; Aku Laut” yang dilantunkan lantang melalui sajian...

by Nyoman Budarsana
November 8, 2026
Teka-Teki “Asli” dan “Nakli”
Bahasa

Teka-Teki “Asli” dan “Nakli”

AKHIR-AKHIR ini, percakapan di media sosial sering kali diramaikan oleh perdebatan seputar barang tiruan, ijazah, hingga berita bohong. Istilah asli dan palsu pun berulang...

by I Made Sudiana
November 8, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Stop Menormalkan Luka Perempuan! — Jika Tuhan Memuliakan Perempuan, Mengapa Manusia Justru Menyakiti Mereka?

Memuliakan perempuan bukan sekadar tradisi. Ia adalah ujian kesadaran Dharma dalam kehidupan manusia. Ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama....

by Luh Irma Susanthi
November 8, 2026
Menghidupkan Ingatan, Merawat Kemanusiaan: Arsip Melani Setiawan sebagai Monumen Humanisme Seni Rupa Indonesia
Ulas Rupa

Menghidupkan Ingatan, Merawat Kemanusiaan: Arsip Melani Setiawan sebagai Monumen Humanisme Seni Rupa Indonesia

Esai reflektif-sosiologis tentang arsip, fotografi, drawing-sketsa, dan kehidupan pengetahuan dalam momentum Hari Raya Saraswati di ISI Bali. Arsip yang Menghidupkan...

by I Wayan Sujana Suklu
November 8, 2026
Tari Pertiwi: Ketika Maskot Museum Menolak Menjadi Artefak
Ulas Pentas

Tari Pertiwi: Ketika Maskot Museum Menolak Menjadi Artefak

Dari maskot Museum Bali menuju tari persembahan: kisah tentang karya yang sempat berhenti menari, komposisi musik yang diselamatkan, dan tubuh...

by I Gede Tilem Pastika
November 7, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Moderasi Beragama: Belajar Berbeda, Bertumbuh sebagai Manusia

KITA hidup di zaman ketika manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin mampu memahami satu sama lain. Teknologi mendekatkan...

by Hairunnisa Br. Sagala
November 7, 2026
Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan
Khas

Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan

SEBUAH kota tidak cukup hanya memiliki sejarah sastra, nama-nama besar, atau gedung-gedung yang sesekali menjadi tempat berlangsungnya perhelatan kebudayaan. Kota...

by Emi Suy
November 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co