AKHIR-AKHIR ini, percakapan di media sosial sering kali diramaikan oleh perdebatan seputar barang tiruan, ijazah, hingga berita bohong. Istilah asli dan palsu pun berulang kali mencuat di lini masa, bahkan melahirkan akronim populer yang sangat khas di telinga kita: aspal—asli, tapi palsu; atau pelesetan sarkastisnya, aslinya palsu.
Pernahkah kita bernalar dari mana asal-usul kedua kata ini? Mengapa bahasa Indonesia dan bahasa Hindi (India) yang berbagi begitu banyak kemiripan kosakata justru memiliki lawan kata yang sama sekali berbeda untuk kata asli?
Ingatan saya melayang pada rentang tahun 1988—1999, saat mendapat kesempatan berharga menerima beasiswa dari pemerintah India untuk mengikuti kursus bahasa Hindi di Kendriya Hindi Sansthan (Institut Bahasa Hindi) di Kota Agra. Berada di kota berdirinya Taj Mahal tersebut, saya mendapati kejutan linguistik yang luar biasa. Bahasa Hindi yang saya pelajari ternyata tidak terasa terlalu asing. Banyak sekali kosakata yang terasa sangat akrab di telinga seorang penutur bahasa Indonesia dan bahasa Bali.
Semangat belajar saya membumbung ketika menyadari betapa mudahnya kosakata dasar diserap. Kata-kata seperti kursi, dunia, dan asli digunakan dalam percakapan sehari-hari di India dengan makna yang persis sama seperti di Indonesia. Pembelajaran menjadi kian lancar karena saya juga mempelajari aksara Dewanagari serta dasar-dasar bahasa Sanskerta. Karena bahasa Hindi menggunakan aksara Dewanagari dan banyak menyerap kosakata Sanskerta, benang merah antara bahasa Hindi dan bahasa Indonesia menjadi makin benderang.
Melalui pendekatan Linguistik Historis Komparatif (LHK), kemiripan ini bukanlah sebuah kebetulan murni. Bahasa Indonesia (yang berakar dari rumpun Austronesia) dan bahasa Hindi (rumpun Indo-Eropa) bertemu di persimpangan sejarah kontak budaya yang panjang.
Kemiripan ini datang dari dua gelombang utama. Pertama, gelombang Sanskerta yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta dari India ke Nusantara. Kedua, gelombang Arab-Persia yang melintasi Jalur Sutra dan jalur niaga maritim. Kata seperti kursi dan dunia diserap oleh bahasa Melayu/Indonesia dari bahasa Arab melalui jalur perdagangan Islam. Di saat yang sama, kata-kata tersebut juga masuk ke anak benua India di bawah naungan Kesultanan Mughal yang menggunakan bahasa Persia sebagai bahasa istana.
Fenomena ini semakin menarik jika kita menengok bahasa Urdu—bahasa resmi Pakistan. Secara tata bahasa dan percakapan lisan, bahasa Urdu dan Hindi pada dasarnya adalah satu saudara kandung (akar Hindustani). Namun, bahasa Urdu lebih banyak menyerap kosakata dari bahasa Arab dan Persia serta ditulis dalam aksara Nasta’liq (seperti aksara Arab), sedangkan Hindi lebih condong menyerap Sanskerta dengan aksara Dewanagari.
Kembali ke teka-teki kata asli dan palsu. Saat berbelanja atau berinteraksi dengan warga lokal di Agra, saya menemukan satu fakta menarik. Ketika orang India ingin menanyakan lawan kata dari barang asli, mereka tidak menggunakan kata palsu, melainkan kata nakli (asli-nakli).
Mengapa bisa demikian? Dari manakah akar kata-kata ini berasal?
Kata asli yang digunakan di Indonesia maupun India berasal dari sumber yang sama, yaitu bahasa Arab aṣl yang bermakna akar, dasar, atau kemurnian. Namun, percabangan terjadi pada lawan katanya.
Bahasa Hindi (dan Urdu) mengambil lawan kata asli dari bahasa Arab juga, yaitu naqli yang kemudian dilafalkan menjadi nakli. Dalam bahasa asalnya, naqli berakar dari kata naql yang berarti menyalin, memindahkan, atau meniru. Bagi penutur bahasa Hindi, sesuatu yang nakli adalah sesuatu yang ditiru atau dibuat salinannya.
Lantas, mengapa bahasa Indonesia tidak mengenal kata nakli dan justru memilih kata palsu?
Jawabannya terekam dalam lembaran sejarah pelayaran Nusantara. Kata palsu bukanlah berasal dari bahasa Arab maupun Sanskerta. Leksikologi sejarah mencatat bahwa kata palsu masuk ke Nusantara melalui kontak bahasa dengan bangsa Eropa pada era penjelajahan samudra. Kata ini diserap dari bahasa Portugis, falso (atau dipengaruhi bahasa Belanda valsch), yang semuanya bermuara dari bahasa Latin falsus—berarti salah, curang, atau tiruan.
Ketika bangsa Portugis dan Belanda memegang kendali perdagangan barang-barang berharga di kepulauan Nusantara, istilah penipuan niaga dan barang tiruan mengadopsi kosakata dari bahasa mereka. Akibatnya, bahasa Indonesia mengawinkan kata asli (dari Arab) dengan kata palsu (dari Eropa) untuk menggambarkan oposisi biner antara barang murni dan tiruan.
Di era digital sekarang, penutur bahasa Indonesia membawa sejarah panjang perkawinan bahasa ini ke tingkat kreatif yang baru. Ketegangan antara yang asli dan yang palsu melahirkan istilah/akronim populer aspal (asli, tapi palsu). Istilah ini merujuk pada barang atau dokumen tiruan yang dibuat sedemikian rupa hingga sangat menyerupai bentuk aslinya—sebuah fenomena masyarakat modern yang canggih sekaligus menggelitik.
Ketika warganet hari ini berdebat soal barang aspal, tanpa disadari kita sedang merayakan titik temu peradaban dunia. Dalam satu frasa sederhana itu, ada jejak bahasa Arab (asli), bahasa Portugis (palsu), dan daya cipta penutur Indonesia yang tiada habisnya. Bahasa Indonesia menjadi kaya justru karena ia berani menyerap, memadukan, dan menghidupkan kembali kata-kata dari berbagai penjuru bumi. [T]





























