16 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
in Esai
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

Antrean BBM mengular di Denpasar│Foto: tatkala.co/Dede

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan waktu dan tenaga hanya untuk memperoleh beberapa liter bahan bakar. Setelah tangki terisi, mereka pulang dengan perasaan lega, seolah baru memenangkan sebuah pertandingan yang melelahkan.

Padahal, kemenangan macam apa yang sebenarnya sedang dirayakan?

Pemandangan itulah yang mewarnai Bali sepanjang sepekan terakhir. Hingga Kamis, 15 Oktober 2026, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Dua hari sebelumnya, antrean di Denpasar, Badung, hingga Gianyar dilaporkan memanjang antara 700meter hingga lebih dari satu kilometer. Kawasan wisata seperti Kuta dan Seminyak pun tidak luput dari persoalan serupa.

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas, kelangkaan BBM bukan sekadar ketidaknyamanan. Ia dapat berarti hilangnya pendapatan, tertundanya pekerjaan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Namun, di tengah kesulitan tersebut, masyarakat justru diminta untuk tidak panik. Seolah-olah persoalan utamanya terletak pada perilaku warga yang berbondong-bondong membeli bensin, bukan pada sistem distribusi yang gagal memenuhi kebutuhan mereka secara wajar.

Terlalu Mudah Menyalahkan Kepanikan

Istilah panic buying hampir selalu muncul setiap kali terjadi kelangkaan barang kebutuhan masyarakat. Dalihnya, warga panik, membeli secara berlebihan, lalu menyebabkan persediaan semakin cepat habis.

Dalam kasus di Bali, kemungkinan itu tidak dapat diabaikan. Ketika pasokan tidak menentu, sebagian orang memilih mengisi seluruh kendaraan yang dimiliki meskipun belum mendesak. Perilaku demikian tentu memperburuk antrean dan menambah tekanan terhadap stok di SPBU.

Namun, tidak semua orang yang mengantre sedang melakukan pembelian berlebihan. Banyak yang datang karena tangki kendaraannya memang kosong. Mereka bukan sedang menimbun bensin, melainkan berusaha memastikan esok hari masih bisa bekerja.

Bali memiliki karakter ekonomi yang sangat bergantung pada pergerakan manusia. Pengemudi ojek online, sopir, pekerja hotel, pedagang, kurir, hingga pekerja sektor pariwisata tidak dapat begitu saja menghentikan aktivitasnya. Bagi mereka, kendaraan merupakan bagian dari alat mencari nafkah.

Karena itu, menyebut antrean panjang semata-mata sebagai akibat kepanikan masyarakat merupakan penyederhanaan yang berbahaya. Penjelasan tersebut berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan distribusi kepada perilaku konsumen.

Lagi pula, kepanikan tidak selalu lahir dari sikap irasional. Ia dapat muncul karena masyarakat kehilangan kepastian. Ketika seseorang berulang kali mendatangi SPBU dan mendapati bensin habis, kekhawatirannya memiliki dasar yang nyata.

Oleh karena itu, panic buying bisa menjadi penyebab sekaligus akibat dari krisis. Ia memperburuk kelangkaan, tetapi juga tumbuh dari ketidakpastian pasokan. Pemerintah tidak cukup hanya meminta masyarakat tenang tanpa memastikan bahwa alasan untuk panik benar-benar telah diatasi.

Bensin Ada, tetapi Tidak Sampai

Mengutip dari BBC, Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina menyebut kelangkaan BBM dipicu kombinasi gangguan distribusi dan lonjakan permintaan. Gubernur Bali, Wayan Koster mengatakan stok di depo utama masih tersedia, tetapi penyalurannya menuju SPBU terhambat. Kemacetan lalu lintas disebut memperlambat distribusi, sementara Pertamina mengakui adanya keterlambatan bongkar muat kapal tanker.

“Sebenarnya tidak perlu panik karena dipastikan pasokan itu tersedia dan cukup,” kata Koster, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (13/10).

Di sinilah letak persoalannya. Ketersediaan di tempat penyimpanan tidak otomatis berarti ketersediaan bagi konsumen. Ukuran keberhasilan pengelolaan BBM bukan hanya berapa banyak bahan bakar yang tersimpan, melainkan seberapa andal pasokan tersebut sampai kepada masyarakat.

Dikutip dari Kompas, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora menyampaikan bahwa pihaknya mengoptimalkan kedatangan kapal tanker secara bertahap pada 14–17 Oktober 2026 melalui Terminal Manggis dan Terminal Sanggaran. Total tambahan pasokan dijadwalkan mencapai 57,9 juta liter, terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax.

Tambahan pasokan tersebut tentu diharapkan memperbaiki keadaan. Namun, krisis ini semestinya tidak berakhir hanya dengan datangnya kapal tanker dan terurainya antrean.

Ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab. Mengapa gangguan distribusi dapat berlangsung hingga mengacaukan aktivitas masyarakat? Seberapa memadai stok yang disiapkan? Bagaimana antisipasi terhadap keterlambatan pengiriman, dan mengapa hambatan tersebut tidak dapat ditangani sebelum antrean meluas?

Pertanyaan ini menjadi penting karena Bali bukan wilayah yang baru mengenal kepadatan lalu lintas atau tingginya konsumsi BBM. Pariwisata, transportasi, dan mobilitas pekerja telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi pulau ini. Kebutuhan bahan bakarnya semestinya dapat dipetakan, begitu pula risiko yang mengancam kelancaran distribusinya.

Apalagi kelangkaan serupa sebelumnya dilaporkan terjadi di Sumatra pada Juli dan Makassar pada September 2026. Rangkaian gangguan di sejumlah wilayah tersebut patut menjadi alasan untuk mengevaluasi ketahanan distribusi BBM secara lebih luas.

Jika persoalan terus berulang, pemerintah dan pengelola tidak cukup memperlakukannya sebagai gangguan teknis yang selesai begitu pasokan kembali normal.

Solusi yang Tidak Menyentuh Akar Persoalan

Dalam situasi kelangkaan, kebijakan bekerja atau belajar dari rumah barangkali dianggap sebagai salah satu cara mengurangi konsumsi BBM. Secara teoritis, berkurangnya kendaraan di jalan dapat membantu menekan permintaan sekaligus memperlancar distribusi.

Namun, kebijakan semacam itu memiliki keterbatasan, terutama di Bali.

Tidak semua pekerjaan dapat dipindahkan ke ruang digital. Pekerja pariwisata, pengemudi, pedagang, kurir, dan berbagai pekerja sektor jasa tetap harus hadir secara fisik. Mereka tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah tanpa kehilangan sebagian atau seluruh penghasilannya.

Mengalihkan sementara aktivitas aparatur sipil negara (ASN), siswa, dan mahasiswa mungkin dapat mengurangi mobilitas. Akan tetapi, langkah tersebut hanya menyentuh sebagian kebutuhan. Masyarakat tetap membutuhkan BBM untuk bekerja, menjalankan urusan keluarga, serta memenuhi kewajiban sosial, adat, dan keagamaan. Pengurangan mobilitas dapat menjadi langkah darurat, tetapi bukan pengganti pembenahan distribusi.

Di sisi lain, kelangkaan juga membuka peluang bagi pihak-pihak yang ingin memperoleh keuntungan. Penjualan bensin eceran dengan harga jauh lebih tinggi, berpotensi memperburuk keadaan.

Karena itu, warga sebaiknya tidak ikut menyuburkan praktik percaloan dengan membeli bensin berharga tidak wajar. Namun, pengawasan tidak boleh dibebankan kepada masyarakat semata. Pemerintah dan aparat terkait perlu memastikan bahwa distribusi tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang sengaja mengambil keuntungan dari krisis.

Yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan agar masyarakat berhemat atau tidak panik, melainkan langkah yang memastikan pasokan tersedia dan dapat diakses secara adil.

Menertawakan Kekalahan

Di luar persoalan distribusi, ada gejala sosial yang tidak kalah menarik sekaligus memprihatinkan, yaitu cara masyarakat merespons krisis.

Antrean panjang menjadi bahan candaan. Ada yang mendirikan tenda untuk berkemah di sekitar SPBU. Ada pula yang merayakan keberhasilan mendapatkan bensin sebagai sebuah pencapaian, lalu membagikannya melalui media sosial.

Humor memang sering menjadi cara masyarakat menghadapi kesulitan. Dalam situasi yang melelahkan, lelucon dapat membantu meredakan ketegangan. Bahkan, sindiran kerap menjadi medium kritik yang lebih mudah diterima daripada kemarahan secara terbuka.

Namun, humor juga memiliki sisi lain. Ia dapat membuat persoalan yang serius terasa biasa, terutama ketika masyarakat berhenti mempertanyakan penyebab kesulitannya.

Sebagian warga justru menyalahkan diri sendiri karena tidak mengantre lebih awal atau tidak mengisi tangki ketika bensin masih tersedia. Mereka menyesali kurangnya persiapan, seolah persoalannya semata-mata terletak pada ketidakmampuan mengantisipasi kelangkaan.

Di titik itulah terjadi pergeseran yang mengkhawatirkan. Masalah yang seharusnya menuntut pertanggungjawaban pemerintah berubah menjadi penyesalan pribadi. Masyarakat tidak lagi bertanya mengapa distribusi terganggu, melainkan mengapa dirinya tidak lebih cepat mendapatkan bensin daripada orang lain.

Dalam istilah masyarakat Bali, dikenal ungkapan “sing ngerambang bangken dongkang”, yang secara harfiah berarti tidak memedulikan bangkai kodok. Ungkapan ini dapat menggambarkan sikap masa bodoh terhadap persoalan yang sebenarnya terlihat jelas.

Ada pula ungkapan lain seperti “taluh goreng ade hasil” atau “presiden nu hidup nyen kel ganti?”. Ungkapan-ungkapan semacam ini mencerminkan bagaimana kekecewaan terhadap keadaan sosial dan politik dapat menjelma menjadi kelakar yang getir.

Humor dapat menjadi bentuk perlawanan. Namun, jika sindiran hanya berakhir sebagai hiburan dan tidak mendorong tuntutan perubahan, ia berisiko menjadi pelarian dari ketidakberdayaan. Yang patut dikhawatirkan bukanlah masyarakat yang menertawakan krisis, melainkan masyarakat yang akhirnya menganggap krisis sebagai kewajaran.

Ketika seseorang merasa menang karena berhasil membeli bensin setelah berjam-jam mengantre, sesungguhnya ada sesuatu yang telah terbalik. Kebutuhan yang semestinya mudah diperoleh berubah menjadi hadiah bagi mereka yang paling sabar, paling cepat, atau paling beruntung. Padahal, warga tidak seharusnya berlomba untuk mendapatkan sesuatu yang mestinya tersedia melalui pelayanan yang andal.

Kesabaran Menjadi Alibi

Pemerintah tentu berkepentingan menjaga situasi tetap kondusif. Imbauan agar masyarakat tidak panik dan tidak membeli BBM secara berlebihan diperlukan untuk mencegah keadaan semakin buruk. Namun, ketenangan publik tidak dapat dibangun hanya melalui imbauan.

Koster sebelumnya memperkirakan pasokan dapat kembali normal dalam satu hingga dua hari. Pernyataan seperti ini memberi harapan, tetapi sekaligus menuntut kejelasan mengenai langkah pemulihan dan hasil yang benar-benar dicapai.

Masyarakat berhak mengetahui penyebab hambatan distribusi, kondisi pasokan, jadwal penyaluran, dan langkah antisipasi agar gangguan tidak kembali terjadi. Transparansi menjadi penting karena krisis BBM bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga soal kepercayaan.

Beban krisis pun tidak ditanggung secara merata. Mereka yang memiliki penghasilan tetap mungkin masih bisa menunda sebagian aktivitas. Namun, bagi pekerja harian, beberapa jam mengantre dapat berarti hilangnya pendapatan. Petugas SPBU juga harus menghadapi tekanan pekerjaan dan kelelahan akibat lonjakan antrean.

Karena itu, meminta masyarakat bersabar tanpa menghadirkan penyelesaian yang terukur hanya akan memperbesar beban yang harus mereka tanggung.

Kesabaran warga memang diperlukan dalam keadaan darurat. Tetapi kesabaran tidak boleh menjadi alibi bagi buruknya pelayanan. Solidaritas masyarakat juga tidak seharusnya menggantikan kewajiban pemerintah untuk memastikan distribusi berjalan sebagaimana mestinya.

Krisis seperti ini semestinya menjadi momentum mengevaluasi perencanaan pasokan, kapasitas penyimpanan, kesiapan transportasi distribusi, dan koordinasi antarlembaga. Terlebih bagi Bali, yang kehidupan ekonomi dan pariwisatanya sangat bergantung pada kelancaran mobilitas.

Jangan Merayakan Kekalahan

Pada akhirnya, krisis BBM di Bali mungkin akan berakhir ketika pasokan kembali lancar. Antrean menghilang, kendaraan kembali bergerak, dan masyarakat melanjutkan aktivitas sehari-hari. Namun, pulihnya distribusi tidak seharusnya sekaligus mengakhiri pertanyaan tentang penyebab krisis.

Justru ketika keadaan kembali normal, pemerintah dan Pertamina perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bagian mana dari sistem yang gagal bekerja, dan perbaikan apa yang dilakukan agar masyarakat tidak kembali menghadapi pengalaman serupa.

Masyarakat pun perlu menjaga daya kritisnya. Tidak menimbun bensin, menggunakan BBM secara bijak, dan tidak ikut menyuburkan percaloan merupakan bentuk tanggung jawab warga. Namun, tanggung jawab tersebut harus berjalan beriringan dengan keberanian menuntut pelayanan yang layak. Sebab, ada perbedaan besar antara bersabar menghadapi kesulitan dan menerima kesulitan sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan.

Barangkali pemandangan paling menyedihkan dari krisis ini bukanlah seseorang yang pulang dengan tangki kendaraan kosong. Melainkan seseorang yang berhasil mengisi bensin setelah mengantre berjam-jam, kemudian merasa begitu beruntung hingga lupa mempertanyakan mengapa ia harus mengalami semua itu.

Ia merasa telah menang karena berhasil mendapatkan bensin. Padahal, waktu, tenaga, dan kesempatan bekerja yang hilang tidak akan kembali hanya karena tangkinya kini terisi. Ketika mendapatkan kebutuhan sehari-hari harus dirayakan sebagai kemenangan, barangkali yang sebenarnya kita rayakan adalah kekalahan.[T]

Tags: baliBBM
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co