16 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan kehilangan kekuatannya. Langit yang tadi terang berubah menjadi jingga, kemudian kelabu. Bayangan benda-benda di dalam rumah menjadi lebih panjang. Dari jendela, dunia luar mulai kehilangan ketegasan bentuknya. Pada saat itulah tangan kita sering bergerak menuju selembar kain yang tergantung di sisi jendela.

Gorden ditarik.

Selesai.

TIDAK ada peristiwa besar. Tidak ada keputusan penting. Tidak ada yang perlu dirayakan. Hanya selembar kain yang bergeser menutup kaca jendela. Tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya, tindakan itu menyimpan sesuatu yang jarang kita pikirkan.

Mengapa kita menutup gorden ketika senja? Apakah karena cahaya sudah tidak diperlukan? Apakah karena malam segera datang? Ataukah karena tanpa kita sadari, ada sesuatu dalam diri kita yang mulai menginginkan dunia luar berhenti melihat ke dalam?

Barangkali pada saat itulah kita sedang melakukan sebuah tindakan yang jauh lebih mendasar: kita sedang menarik batas antara diri dan dunia. Dan ternyata batas itu tidak selalu berupa tembok. Tidak selalu berupa pintu yang terkunci. Kadang-kadang batas antara “aku” dan “dunia luar” hanya setipis selembar kain.

Ketika Cahaya Berubah, Dunia pun Berubah

Senja bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah perubahan cara dunia menampakkan dirinya kepada kita. Pada siang hari, cahaya membuat ruang terasa terbuka. Jendela memperlihatkan pepohonan, jalan, kendaraan, manusia yang berjalan, rumah tetangga, atau sekadar langit yang luas. Cahaya yang masuk membuat batas antara ruang dalam dan dunia luar terasa lebih cair.

Kita berada di dalam rumah, tetapi secara visual kita seperti masih terhubung dengan dunia. Namun ketika senja datang, sesuatu berubah. Cahaya berkurang. Ruangan menjadi lebih gelap. Benda-benda kehilangan sebagian ketegasan bentuknya. Ruang yang tadi terasa biasa saja tiba-tiba menjadi lebih dalam, lebih hening, bahkan sedikit asing.

Merleau-Ponty mengingatkan kita bahwa manusia tidak mengalami dunia hanya melalui pikiran. Kita mengalami dunia melalui tubuh dan persepsi. Dunia bukan semata-mata sesuatu yang berada “di luar sana”, melainkan sesuatu yang hadir melalui cara tubuh kita melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakannya.

Karena itu, perubahan cahaya pada senja bukan sekadar perubahan fisik. Ia mengubah pengalaman kita terhadap ruang. Ruang yang sama, dengan perabot yang sama, dinding yang sama, jendela yang sama, dapat terasa berbeda hanya karena cahaya berubah.

Siang membuat rumah seperti terbuka kepada dunia. Senja perlahan membuat rumah terasa seperti tempat kembali. Mungkin itulah sebabnya menutup gorden pada petang hari sering menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa bahwa sesuatu telah selesai. Dunia luar perlahan kita tinggalkan. Kita mulai masuk ke dalam diri sendiri.

Tangan menarik kain. Jendela menghilang. Dunia luar menjadi tidak terlihat.

Dan tiba-tiba ruangan terasa lebih “dalam”.

Rumah dan Keinginan untuk Berlindung

Gaston Bachelard, dalam renungannya tentang ruang, melihat rumah bukan hanya sebagai bangunan yang melindungi tubuh dari panas, hujan, dan dingin. Rumah adalah ruang tempat pengalaman batin memperoleh tempatnya.

Di dalam rumah, manusia memiliki sudut-sudut yang tidak selalu harus dibagikan kepada dunia. Ada ruang untuk diam. Ada ruang untuk mengingat. Ada ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mempertunjukkannya kepada siapa pun.

Karena itu, rumah bukan hanya persoalan arsitektur. Ia berkaitan dengan rasa aman.

Dan pada saat senja, ketika gorden ditutup, mungkin kita sedang mengaktifkan kembali fungsi rumah yang paling purba itu: berlindung.

Menariknya, perlindungan itu tidak selalu membutuhkan sesuatu yang kokoh.

Gorden tidak cukup kuat untuk menghentikan orang masuk. Ia tidak bisa menjadi penghalang terhadap pencuri, hujan, atau badai. Tetapi ia mampu melakukan sesuatu yang lain: menghalangi pandangan.

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang menarik tentang manusia. Tidak semua batas dibangun untuk menghalangi tubuh. Sebagian batas dibangun untuk menghalangi tatapan. Kita tidak selalu takut dunia masuk ke dalam rumah. Kadang-kadang kita hanya tidak ingin dunia melihat apa yang sedang terjadi di dalamnya. Maka ketika gorden ditutup, kita bukan hanya mengubah pencahayaan. Kita sedang mengubah hubungan antara diri kita dan tatapan dunia.

Selembar Kain dan Privasi

Dalam kaca mata semiotik, tidak ada benda yang benar-benar berhenti sebagai benda. Sebuah benda dapat menjadi tanda. Gorden, misalnya, pada mulanya hanyalah kain yang digantung di jendela. Ia memiliki fungsi praktis: mengatur cahaya, mengurangi panas, atau memperindah ruangan.

Tetapi ketika ia dibuka atau ditutup, ia mulai mengatakan sesuatu. Gorden terbuka mengatakan: dunia boleh melihat. Gorden tertutup mengatakan: cukup sampai di sini.

Tentu saja tidak selalu sesederhana itu. Gorden yang terbuka tidak otomatis berarti seseorang ingin dipertontonkan, dan gorden yang tertutup tidak selalu berarti seseorang ingin mengasingkan diri. Namun secara simbolis, keduanya menghadirkan dua orientasi berbeda terhadap dunia.

Gorden terbuka menciptakan hubungan visual. Gorden tertutup menciptakan jarak.

Dalam pengertian itu, gorden bekerja seperti sebuah bahasa tanpa kata. Ia tidak berbicara, tetapi memberi isyarat. Ia tidak mengatakan “jangan melihat”, tetapi tubuh kita dapat memahami pesannya.

Di sinilah pemikiran semiotik Roland Barthes menjadi relevan. Benda-benda keseharian dapat membawa makna yang melampaui fungsi praktisnya. Kehidupan sehari-hari penuh dengan tanda yang kita gunakan hampir tanpa menyadarinya. Gorden adalah salah satunya.

Kita mungkin tidak pernah mengatakan kepada orang lain, “Saya ingin memiliki ruang privat sekarang.” Kita cukup menarik gorden. Bahasa tidak selalu berupa kata. Kadang bahasa adalah gerakan tangan. Kadang ia adalah pintu yang ditutup. Kadang ia adalah lampu yang dimatikan. Dan kadang ia hanya selembar kain yang digeser perlahan.

Dari Terbuka Menjadi Tertutup

Ada sesuatu yang lebih dalam dalam ritual ini. Sepanjang hari, kita hidup dalam keterbukaan. Kita keluar rumah. Bertemu orang. Bekerja. Berbicara. Menjawab pesan. Menghadapi tuntutan. Menunjukkan wajah tertentu kepada orang lain. Kita berada dalam berbagai peran sosial yang membuat diri kita terus-menerus hadir di hadapan dunia.

Tetapi manusia tidak mungkin selamanya berada dalam keadaan terbuka. Ada kebutuhan untuk kembali. Ada kebutuhan untuk berhenti dilihat. Ada kebutuhan untuk tidak harus menjelaskan diri.

Maka senja mungkin merupakan semacam ambang. Ia bukan lagi siang, tetapi belum sepenuhnya malam. Ia berada di antara dua keadaan. Dunia perlahan mundur dari pandangan, sementara rumah perlahan mengambil kembali kedekatannya.

Dalam suasana semacam itu, menarik gorden terasa seperti sebuah tindakan kecil untuk mengatakan: hari ini cukup. Bukan berarti dunia telah selesai.

Hanya saja, untuk sementara, kita ingin mengurangi intensitas hubungan dengannya. Kita ingin berada di dalam. Bukan sekadar berada di dalam rumah, melainkan berada di dalam diri sendiri. Barangkali karena itulah rumah menjadi lebih terasa sebagai rumah ketika gorden telah tertutup. Bukan karena rumah berubah. Tetapi karena hubungan kita dengan dunia telah berubah.

Privasi: Hak untuk Tidak Terlihat

Kita hidup dalam zaman ketika keterbukaan sering dipandang sebagai kebajikan.

Media sosial mengajarkan kita untuk membagikan aktivitas, makanan, perjalanan, perasaan, bahkan bagian-bagian kehidupan yang dahulu dianggap sangat pribadi. Teknologi membuat kamera berada di tangan hampir setiap orang. Kehidupan manusia semakin mudah dilihat, direkam, disimpan, dan dibagikan.

Dalam keadaan seperti itu, gorden menjadi simbol yang menarik. Ia mengingatkan kita bahwa tidak semua yang ada dalam hidup harus terlihat.  Ada sesuatu yang sehat dalam ketidakterlihatan. Ada pengalaman yang tidak perlu menjadi konten. Ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan penonton. Ada kesedihan yang tidak perlu diumumkan. Ada percakapan yang cukup didengar oleh dua orang. Ada doa yang tidak perlu diketahui siapa pun.

Privasi bukan selalu bentuk penutupan diri dari dunia. Privasi bisa menjadi cara manusia memelihara wilayah terdalam dirinya agar tidak seluruhnya menjadi milik publik. Maka gorden yang tertutup tidak harus dibaca sebagai simbol keterasingan. Ia juga dapat dibaca sebagai simbol kedaulatan diri. Saya berhak menentukan apa yang boleh dilihat dan apa yang tidak. Saya berhak membuka diri. Tetapi saya juga berhak menutup diri. Di antara kedua pilihan itu terdapat kebebasan yang sangat manusiawi.

Tetapi Bukankah Tirai Juga Bisa Menyembunyikan?

Namun di sinilah refleksi ini perlu menjadi sedikit lebih kritis. Sebab setiap batas memiliki dua sisi. Gorden dapat memberikan rasa aman, tetapi ia juga dapat menjadi alat untuk menyembunyikan sesuatu. Pintu yang tertutup dapat melindungi privasi, tetapi juga dapat menyembunyikan kekerasan.

Tirai dapat menciptakan keintiman, tetapi juga dapat menyembunyikan kesepian.

Keterbukaan dapat menghadirkan hubungan, tetapi juga dapat berubah menjadi pertunjukan. Karena itu, tidak ada makna tunggal dalam sebuah benda. Tanda selalu bergantung pada konteks.

Rumah dengan gorden tertutup bisa berarti keluarga yang sedang menikmati kebersamaan. Tetapi rumah yang sama bisa juga menyimpan seseorang yang sedang merasa sendirian. Gorden terbuka dapat berarti keramahan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari budaya mempertontonkan kehidupan kepada orang lain. Maka semiotika mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat mempercayai permukaan.

Sebuah tanda tidak pernah sesederhana apa yang tampak. Dan fenomenologi mengingatkan bahwa kita juga tidak boleh terlalu cepat menghakimi pengalaman orang lain berdasarkan apa yang kita lihat. Sebab kita hanya melihat gorden.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di baliknya.

Batas Setipis Selembar Kain

Mungkin inilah bagian paling menarik dari seluruh ritual sederhana tersebut.

Kita membayangkan batas sebagai sesuatu yang kokoh. Tembok. Pagar. Pintu. Kunci.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, batas antara diri dan dunia bisa sangat tipis.

Setipis selembar kain. Gorden tidak benar-benar memisahkan kita dari dunia. Suara kendaraan masih terdengar. Angin masih terasa ketika jendela dibuka. Dunia tetap berada di luar sana.

Yang berubah hanyalah akses pandangan. Kita tidak memutus hubungan dengan dunia.

Kita hanya mengatur seberapa jauh dunia boleh masuk ke dalam pengalaman kita. Dan mungkin itulah hakikat batas yang sebenarnya.

Batas tidak selalu berarti pemisahan mutlak. Batas adalah cara kita mengatur hubungan. Kita membuka ketika ingin berjumpa. Kita menutup ketika ingin berdiam. Kita mengundang. Kita menarik diri. Kita memperlihatkan sebagian diri. Kita menyimpan sebagian lainnya.

Dalam kehidupan sosial, manusia pun melakukan hal yang sama. Kita semua memiliki “gorden” psikologis. Ada bagian diri yang mudah kita tunjukkan kepada orang lain, dan ada bagian yang hanya kita izinkan diketahui oleh orang-orang tertentu. Bahkan orang yang paling dekat dengan kita pun tidak pernah sepenuhnya melihat seluruh diri kita.

Setiap manusia menyimpan ruang batin yang tidak sepenuhnya dapat dimasuki orang lain. Mungkin karena itu, selembar kain yang menutup jendela pada senja hari sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu tentang eksistensi manusia: kita membutuhkan dunia, tetapi kita juga membutuhkan jarak dari dunia.

Senja sebagai Waktu untuk Kembali

Ada sesuatu yang khas dari senja. Pagi membuka. Siang memperluas. Senja menurunkan intensitas. Malam menyimpan. Jika pagi adalah saat manusia bergerak menuju dunia, senja seperti gerakan sebaliknya: kembali ke dalam.

Tidak mengherankan bila banyak kebudayaan memiliki ritual petang. Lampu dinyalakan. Pintu ditutup. Anak-anak dipanggil pulang. Aktivitas luar rumah dikurangi. Keluarga berkumpul. Suara dunia perlahan mengecil.

Manusia seperti memiliki intuisi yang sama: bahwa setelah sepanjang hari berhadapan dengan dunia, ada saatnya kita perlu kembali kepada ruang yang lebih intim. Gorden yang ditutup mungkin adalah salah satu bentuk paling sederhana dari ritual itu.

Ia tidak membutuhkan doa. Tidak membutuhkan kata-kata. Tidak membutuhkan upacara. Hanya sebuah gerakan kecil. Tarik ke kiri. Tarik ke kanan. Kain bertemu.

Jendela menghilang. Dan dunia sejenak menjadi lebih jauh.

Kita Menutup Gorden, tetapi Tidak Menutup Dunia

Namun pada akhirnya, gorden yang tertutup tidak pernah benar-benar menghapus dunia. Dunia tetap ada di baliknya. Malam tetap datang. Suara tetap terdengar. Waktu terus bergerak.

Esok pagi cahaya akan kembali masuk melalui jendela yang sama. Dan mungkin justru di situlah kebijaksanaan kecil dari ritual ini. Kita tidak perlu terus-menerus terbuka. Tetapi kita juga tidak mungkin selamanya tertutup.

Ada waktu untuk membuka diri kepada dunia. Ada waktu untuk menarik diri. Ada waktu untuk terlihat. Ada waktu untuk tidak terlihat. Ada waktu untuk berbicara. Ada waktu untuk diam.

Kehidupan yang sehat mungkin bukan kehidupan yang selalu terbuka atau selalu tertutup, melainkan kehidupan yang mampu mengetahui kapan harus membuka dan kapan harus menarik gorden. Sebab manusia membutuhkan dunia untuk bertumbuh, tetapi membutuhkan ruang privat untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Maka kelak, ketika senja kembali datang dan tangan kita secara otomatis menarik gorden, mungkin kita dapat berhenti sejenak. Tidak perlu lama. Cukup beberapa detik. Lihatlah cahaya yang perlahan menghilang dari lantai. Rasakan bagaimana ruang tiba-tiba berubah. Perhatikan bagaimana rumah terasa lebih dekat. Kemudian sadari bahwa yang baru saja kita lakukan bukan sekadar menutup kain.

Kita sedang mengubah hubungan kita dengan dunia. Di luar sana, dunia tetap bergerak dengan segala kebisingannya. Di dalam sini, kita menemukan ruang yang lebih tenang. Dan di antara keduanya hanya ada selembar kain. Tipis sekali.

Tetapi cukup untuk mengingatkan kita bahwa menjadi manusia berarti terus-menerus mengatur jarak: antara aku dan orang lain, antara keterbukaan dan perlindungan, antara dunia yang ingin melihat dan diri yang sesekali ingin bersembunyi. Barangkali itulah sebabnya sebuah rumah terasa paling intim bukan ketika semua jendelanya terbuka, melainkan ketika kita tahu bahwa kita memiliki hak untuk menutupnya. Sebab pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat kita tinggal.

Rumah adalah tempat di mana kita boleh berhenti menjadi tontonan. Dan ketika senja tiba, kita menarik gorden perlahan. Bukan untuk mengusir dunia. Hanya untuk berkata kepadanya: untuk malam ini, izinkan aku kembali menjadi diriku sendiri.[T]

Tags: filosofigaya hiduprenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hukum Tanah Air Bali

Next Post

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co