16 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

I Wayan Artika by I Wayan Artika
October 16, 2026
in Esai
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

Gambar tangkap layar dari youtube

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya terjadi di kota-kota, tetapi juga sampai ke desa-desa. Kendaraan roda dua, yang menjadi alat transportasi utama bagi banyak warga, berderet panjang dari berbagai arah. Di sejumlah tempat, antrean bahkan mencapai jarak beberapa kilometer. Orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam, setengah hari, bahkan semalam suntuk, hanya untuk mendapatkan dua sampai lima liter BBM.

Pemandangan ini sulit diterima sebagai sesuatu yang masuk akal. BBM merupakan kebutuhan sehari-hari yang menopang kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Ketika pasokannya terganggu, kegiatan bekerja, berdagang, mengantar anak ke sekolah, dan berbagai urusan lainnya ikut terganggu. Waktu yang semestinya digunakan untuk bekerja justru habis di jalan. Tenaga terkuras, tubuh kelelahan, dan sebagian orang bahkan pingsan karena tidak kuat menghadapi antrean panjang.

Di tengah keadaan seperti ini, muncul pertanyaan sederhana: mengapa untuk mendapatkan beberapa liter BBM saja masyarakat harus bersusah payah sedemikian rupa? Jawaban atas pertanyaan itu tentu tidak cukup dengan menyalahkan perilaku masyarakat. Ketika BBM sulit diperoleh, orang takut tidak kebagian. Ketakutan itu mendorong mereka segera datang ke SPBU, bahkan ketika antrean sudah sangat panjang. Orang yang melihat antrean mungkin merasa harus ikut mengantre karena khawatir kehabisan (walaupun memang demikian kenyataannya). Ketika semakin banyak orang berpikir demikian, antrean pun semakin panjang. Ketakutan bersama akhirnya menciptakan pemandangan yang semakin menegangkan.

Dalam keadaan seperti ini, masyarakat seolah-olah kehilangan kepastian. Mereka tidak tahu kapan BBM tersedia, berapa banyak yang bisa diperoleh, dan apakah setelah menunggu berjam-jam mereka benar-benar akan mendapatkannya. Ketidakpastian membuat orang terus bertahan di tempat, meskipun tubuh mereka sudah lelah. Dua sampai lima liter BBM menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit.

Di tengah kesulitan itu, kehidupan sosial masyarakat Bali memperlihatkan wajah yang menarik. Antrean BBM tidak hanya menjadi ruang ketegangan, tetapi juga melahirkan solidaritas. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal berada dalam nasib yang sama. Mereka berbagi cerita, makanan, minuman, dan hiburan. Ada yang mengisi waktu dengan musik, bahkan menjadikan antrean sebagai semacam konser kecil. Dalam keadaan sulit, manusia tetap berusaha menciptakan kegembiraan. Namun, ada pula gejala yang lebih menarik untuk dibaca melalui kebudayaan Bali: munculnya parodi religius.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, mekemit dikenal sebagai kegiatan berjaga atau bermalam di pura, terutama dalam konteks kegiatan keagamaan tertentu. Di sana, orang menjalani malam dalam suasana religius, berada dekat dengan tempat suci dan, dalam penghayatan mereka, mendekatkan diri kepada yang dipuja. Kini, dalam keadaan kelangkaan BBM, orang-orang juga bermalam. Akan tetapi, mereka tidak bermalam di pura. Mereka mekemit di SPBU. Tentu saja, antrean di SPBU bukanlah kegiatan keagamaan. Namun, kemiripan suasananya membuka ruang bagi sebuah parodi. Jika di pura orang menunggu dan menjalani kegiatan dalam hubungan dengan yang sakral, di SPBU orang menunggu kedatangan kendaraan pengangkut BBM.

Kendaraan besar yang datang dari pelabuhan atau tempat penyimpanan BBM itu menjadi pusat perhatian. Kedatangannya ditunggu dengan penuh harap, seolah-olah membawa sesuatu yang sangat berharga bagi keselamatan kehidupan sehari-hari, selayaknya para dewa.

BBM pun memperoleh kedudukan yang hampir menyerupai benda pujaan. Orang membicarakannya, menantikannya, dan mengerahkan tenaga untuk mendapatkannya. Mereka bertahan sepanjang malam demi beberapa liter BBM. Di dalam parodi ini, SPBU seolah-olah berubah menjadi pura, kendaraan pengangkut BBM menyerupai dewa yang ditunggu kedatangannya, sedangkan BBM menjadi sesuatu yang dipuja karena dianggap mampu menyelamatkan kegiatan hidup mereka. Perbandingan ini tentu tidak dimaksudkan untuk merendahkan agama atau kegiatan keagamaan masyarakat Bali. Justru melalui parodi tersebut, dapat melihat betapa pentingnya BBM dalam kehidupan modern. Ketika pasokan energi terganggu, kebutuhan yang biasanya dianggap biasa berubah menjadi sesuatu yang sangat menentukan. Orang rela menghabiskan malam, mengorbankan waktu, dan menahan kelelahan demi mendapatkannya.

Di sinilah ironi kehidupan modern terlihat. Manusia yang memiliki keyakinan, tradisi, dan berbagai cara untuk memberi makna pada kehidupan ternyata juga sangat bergantung pada energi yang menggerakkan kendaraannya. Tanpa BBM, mobilitas terganggu. Ketika mobilitas terganggu, pekerjaan dan penghasilan ikut terancam. SPBU, dalam keadaan tertentu, menjadi panggung tempat ketergantungan itu dipertontonkan secara terbuka.

Akan tetapi, antrean BBM tidak hanya memperlihatkan ketakutan dan ketergantungan. Di sana juga tumbuh solidaritas sosial. Orang-orang yang sama-sama mengalami kesulitan dapat saling memahami. Mereka tahu bagaimana rasanya menunggu lama, menahan lapar, mengantuk, dan mencemaskan kemungkinan tidak mendapatkan BBM. Pengalaman bersama itu dapat melahirkan kepedulian. Orang yang berbagi makanan atau minuman kepada sesama pengantre sedang melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi berarti. Di tengah keadaan yang tidak menyenangkan, mereka membantu orang lain bertahan. Ketika seseorang jatuh sakit atau tidak kuat melanjutkan antrean, kepedulian orang-orang di sekitarnya dapat menjadi sangat penting.

Krisis, dengan demikian, tidak selalu menghasilkan permusuhan. Ia juga dapat membuka kesempatan bagi manusia untuk memperlihatkan sisi baiknya. Dalam antrean yang panjang, orang dapat menemukan bahwa penderitaan yang dialami bersama-sama kadang-kadang membuat mereka merasa lebih dekat. Namun, solidaritas seperti ini tidak boleh membuat kita menganggap kelangkaan BBM sebagai sesuatu yang wajar. Kepedulian masyarakat memang patut dihargai, tetapi masyarakat tidak seharusnya terus-menerus dipaksa menanggung akibat dari keadaan yang tidak mereka ciptakan sendiri. Berbagi makanan di tengah antrean adalah tindakan kemanusiaan, bukan penyelesaian persoalan distribusi BBM.

Di balik solidaritas, muncul pula wajah lain yang lebih gelap. Ada orang yang diduga memanfaatkan kelangkaan untuk memperoleh keuntungan. Mereka membeli BBM dalam jumlah banyak, menyimpannya, lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. Ada pula praktik pengisian berulang yang, menurut cerita yang beredar, dilakukan untuk mengumpulkan BBM sebelum memindahkannya ke tempat lain dan menjualnya. Jika praktik-praktik tersebut benar terjadi, kelangkaan telah membuka kesempatan bagi sebagian orang untuk mengubah kesulitan bersama menjadi keuntungan pribadi. Sementara banyak warga harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan sedikit BBM, orang lain justru berusaha mengumpulkan lebih banyak untuk dijual kembali.

]Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Kelangkaan bukan hanya menguji kesabaran, tetapi juga menguji kejujuran dan tanggung jawab sosial. Ketika kebutuhan dasar sedang sulit diperoleh, mengambil keuntungan secara tidak wajar dari penderitaan orang lain merupakan tindakan yang merusak rasa keadilan. Tentu, tuduhan terhadap orang atau kelompok tertentu harus didasarkan pada bukti. Namun, jika penimbunan dan penjualan kembali dengan harga berlebihan benar terjadi, praktik itu perlu ditangani secara tegas. Pengawasan distribusi dan penegakan aturan tidak dapat digantikan oleh imbauan agar masyarakat bersabar.

Di tengah antrean yang panjang, masyarakat juga menunggu sesuatu yang lain: kepastian dari pemerintah. Pernyataan dan komentar para pejabat tidak banyak berarti apabila tidak disertai tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh warga. Masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai penyebab kelangkaan, kepastian mengenai pasokan, informasi tentang distribusi BBM, dan langkah nyata untuk mengurangi antrean. Mereka juga membutuhkan informasi yang jelas agar tidak harus menghabiskan waktu tanpa mengetahui kapan BBM akan tersedia.

Dalam keadaan seperti ini, komentar yang berulang-ulang tanpa hasil yang terlihat justru dapat menambah kejengkelan. Masyarakat tidak sedang membutuhkan perlombaan memberikan pendapat. Mereka membutuhkan pekerjaan pemerintahan yang nyata. Kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa semua pejabat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Namun, ketika antrean terus berlangsung, warga jatuh kelelahan, dan kegiatan ekonomi terganggu, pemerintah perlu menunjukkan bahwa keadaan sedang ditangani secara terukur.

Jika terdapat kendala pasokan atau distribusi, kendala itu harus dijelaskan secara terbuka. Jika ada penyimpangan, penyimpangan itu harus ditindak. Jika diperlukan koordinasi lintas lembaga, masyarakat perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan apa yang sedang dikerjakan. Ukuran keberhasilan pemerintah dalam keadaan seperti ini bukanlah banyaknya pernyataan yang disampaikan, melainkan seberapa cepat masyarakat kembali memperoleh BBM tanpa harus menghabiskan sebagian besar waktunya di antrean.

Antrean BBM di Bali pada akhirnya menghadirkan sebuah gambaran yang penuh ironi. Ada orang-orang yang kelelahan, bahkan jatuh pingsan. Ada warga yang saling berbagi dan menghibur. Ada parodi tentang SPBU yang menyerupai pura dan kendaraan pengangkut BBM yang ditunggu seperti kedatangan dewa. Ada musik yang tumbuh di tengah kejenuhan. Ada pula orang-orang yang mungkin melihat kelangkaan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Semua itu berlangsung di tempat yang sama, dalam keadaan yang sama, tetapi dengan sikap manusia yang berbeda-beda.

Tertawa melihat parodi mekemit di SPBU. Kita dapat mengagumi solidaritas orang-orang yang tidak saling mengenal. Kita juga dapat mengecam tindakan mengambil keuntungan dari kesulitan bersama. Namun, di balik semua itu, jangan sampai perhatian kita berhenti pada cerita-cerita yang menarik. Sebab, antrean panjang bukanlah pertunjukan yang sengaja dipentaskan. Di balik setiap sepeda motor terdapat seseorang yang hendak bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Waktu yang hilang di antrean adalah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dikembalikan. Bagi masyarakat yang hidup dari penghasilan harian, kehilangan waktu kerja dapat berarti kehilangan uang untuk kebutuhan rumah tangga.

Karena itu, parodi tentang SPBU sebagai pura seharusnya tidak membuat kita lupa pada kenyataan bahwa masyarakat sedang menghadapi kesulitan. Solidaritas warga patut dirawat, tetapi kelangkaan harus segera diatasi. Pemerintah perlu bekerja, distribusi perlu dipastikan, dan penyalahgunaan keadaan harus dicegah. Orang Bali semestinya dapat kembali mekemit di pura ketika menjalankan kegiatan keagamaan, bukan terpaksa menghabiskan malam di SPBU demi beberapa liter BBM. Kendaraan pengangkut BBM semestinya datang sebagai bagian dari distribusi yang teratur, bukan menjadi pusat penantian panjang yang menguras tenaga dan kecemasan masyarakat.

Sebab, BBM bukan dewa. SPBU bukan pura. Dan rakyat tidak seharusnya dipaksa menjalani ritual panjang hanya untuk mendapatkan bahan bakar yang mereka perlukan untuk hidup. [T]

Tags: baliBBMparodi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

Next Post

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails
Next Post
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Panduan Lumut --- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 16, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dariย โ€œPanic Buyingโ€ย hinggaย โ€œMaborborโ€: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 15, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ
Pameran

๐Œ๐„๐๐“๐„๐‘๐ˆ ๐‹๐”๐€๐‘ ๐๐„๐†๐„๐‘๐ˆ ๐ˆ๐๐ƒ๐ˆ๐€ ๐๐”๐Š๐€ ๐๐€๐Œ๐„๐‘๐€๐ ๐‹๐Ž๐๐“๐€๐‘ ๐๐€๐‹๐ˆ

Menteri Luar Negeri India, ๐ƒ๐ซ. ๐’. ๐‰๐š๐ข๐ฌ๐ก๐š๐ง๐ค๐š๐ซ, 12 Oktober 2026, membuka pameran ๐‘๐‘–๐‘Ÿฤ๐‘š๐‘Ž๐‘ฆฤ๐‘ก๐‘Ž: ๐ป๐‘’๐‘Ž๐‘™๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘›๐‘‘ ๐‘Š๐‘’๐‘™๐‘™๐‘๐‘’๐‘–๐‘›๐‘” ๐‘–๐‘› ๐‘†๐‘œ๐‘ข๐‘กโ„Ž ๐ด๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘‡๐‘’๐‘ฅ๐‘ก๐‘ ...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright ยฉ 2016-2025, tatkala.co