7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

Pande Susan by Pande Susan
October 17, 2026
in Esai
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

Ilustrasi gambar Drupadi dan Bali yang dilucuti | Pengolahan dari AI oleh penulis

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan bersejarah di Kota Denpasar, di hari ketiga belas bulan kesepuluh. Pulang melewati persimpangan jalan yang berbeda namun dengan satu kegelisahan yang sama sejak semalam.

Saya dapat bensin atau tidak hari ini?

Malam sebelumnya, lini masa dipenuhi gambar SPBU-SPBU utama di Bali dan barisan kendaraan yang mengular hingga tumpah ke jalan raya, bahkan terpaksa mengambil alih setengah ruas jalan, dengan satu keluhan: BBM langka.

Antrean di dalam area SPBU Denpasar | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Saya melajukan kendaraan dengan perasaan gamang, melewati jalan yang tidak biasa saya lalui. SPBU yang saya ingat pertama adalah SPBU Jalan Padma di daerah Penatih, sepi tak ada antrean karena persediaan habis. Kemudian menembus batas Denpasar-Gianyar, tarikan napas dalam ketika melihat barisan nyata kendaraan yang mengular dari arah Patung Barong, antrean panjang pertama tampak di sepanjang jalan menuju SPBU Batubulan. Berlanjut sampai SPBU Kemenuh dan ditutup dengan kekosongan SPBU Dharma Giri Timur, Gianyar.

Janji kemudian digelontorkan oleh pejabat, namun malam setelah saya ikut mengantre selama 1 jam dengan kendaraan yang penuh merangsek di seluruh area SPBU Samplangan, keadaan semakin buruk. Masyarakat antre semalam suntuk, menunggu ratusan meter jauhnya, jalan-jalan di ruas SPBU dan persimpangan mampat, dan akhirnya jadwal harus diatur ulang.

Masyarakat dari pagi hingga malam menunggu giliran mengisi BBM | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Di tengah-tengah antrian, ada keluhan yang terdengar samar. Ada juga keluhan dan umpatan penuh emosi, “Bagaimana saya berangkat kerja?”, “Kapan truk tangki datang?”, “Anak saya harus sekolah”, “Saya harus mengantar barang!”, “Kenapa stoknya kosong?” Dan masih banyak lagi keluhan dengan gambaran ekspresi wajah yang sama banyaknya. Jika boleh merajuk, saya rasa mereka ingin tantrum sekeras-kerasnya pada pemerintah. Lagipula, bukankah masyarakat adalah anak dan pemerintah adalah orang tua dalam Catur Guru?

Ingatan saya kemudian berputar pada rentetan peristiwa yang setidaknya masih bisa saya rekam selama tiga dekade hidup saya. Peristiwa yang seharusnya membangunkan Bali, namun sebagian besar dari kami akhirnya tetap memilih bisu.

Pertama, krisis moneter dan reformasi 1998. Tidak jelas ingatan saya ketika itu, tapi mengingat masifnya efek di berbagai daerah, menurut saya Bali pasti terkena efek sampingnya juga. Berdasarkan data BPS 2023, kunjungan wisatawan turun 11% hingga minus 3% kala itu.

Antrian masyarakat sampai ke jalan menunggu BBM | Foto: Dokumentasi anggota Komunitas Bali Book Party

Kedua, Bom Bali I dan II, 2002 dan 2004. Guncangan 1 ton bahan peledak menewaskan ratusan orang dan membunuh seluruh pariwisata Bali dua dekade yang lalu. Masyarakat Bali yang mayoritas pelaku pariwisata terpaksa mengencangkan ikat pinggang, sebab kembali tercatat oleh BPS kunjungan wisatawan menurun hingga minus 22%.

Ketiga, Flu Burung, 2005. Isunya memang tentang virus yang menulari unggas, tapi bagi dunia internasional pembatasan perjalanan keluar negeri tetap harus dilaksanakan. Isu ini mulai mengguncang pikiran pelaku wisata kala itu, akan adakah wisatawan yang tetap ingin berkunjung ke Bali?

Keempat, The Great Endemics, COVID-19, 2019-2022. Bali telah selamat dan bangkit berkali-kali, meski berusaha pulih sendiri. Hingga akhirnya ombak besar menghantam, hampir mencabut napas masyarakat Bali. Indonesia dan tentu saja Bali koma tanpa pariwisata. Virus Corona menurunkan angka kunjungan wisatawan hingga minus 83%. Percaya atau tidak, yang menghidupi Bali selama itu justru pertanian.

Ilustrasi rangkuman peristiwa jejak-jejak krisis di Bali 1998-2026 | Foto: Pengolahan dengan AI oleh penulis

Kelima, banjir, 2025. Larut dalam kebangkitan kembali, ternyata faktor luar masih menyisakan napas Bali untuk bangkit lewat pariwisata berkelanjutannya. Sayangnya, hantaman justru datang dari dalam. Ingar-bingar pariwisata kembali memabukkan dan menyilaukan pelakunya, lupalah kita jika pariwisata ini hidup karena harmoni sekala-niskala. Banjir menghantam 80% wilayah Bali termasuk jantung Kota Denpasar. Tukad Badung menumpahkan apa yang ditampung dari hasil kegiatan manusia di sepanjang alirannya.

Keenam, krisis BBM, 2026. Premium dicabut, konversi gas, solar dibatasi, kode-kode barcode untuk mobil hingga akhirnya semuanya diputus. Jalanan Bali sesak oleh antrean pembeli BBM yang belum tahu pukul berapa stok datang dan apakah stok itu akan sampai untuk mengisi tangki kendaraan mereka. Sudah hampir seminggu dari gejala hingga puncak yang kami sendiri belum tahu kapan berakhir. Sebagai warga Bali, saya hanya beropini, jika rantai pasokan belum normal hingga seminggu, bukan tidak mungkin sektor pariwisata kembali terganggu. Harga kebutuhan pokok pun akan merembet naik di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang diwarnai perayaan efisiensi.

Enam peristiwa besar dan puluhan lagi yang bisa jadi akan terakumulasi lalu meledak di linimasa lainnya, nyatanya hanya menimbulkan riak-riak kecil bagi masyarakat Bali. Banyak dari kami lebih memilih diam dan berpura-pura pulih sendiri, “taluh goreng ada hasil”, “kanggoang, ne penting b****t paone mekudus”, “nyen kal ganti?” Barisan kalimat ungkapan khas bernada penyangkalan bagi masyarakat Bali yang bersembunyi demi ketenangan pariwisata. Padahal peristiwa-peristiwa di atas jelas-jelas menunjukkan Bali telah dilucuti berkali-kali.

Ilustrasi gambar Drupadi dan Bali yang dilucuti | Pengolahan dari AI oleh penulis

Bali harus tetap memilih diam atas pilihannya bergantung pada spekulasi pariwisata yang konon menyumbang devisa terbesar. Harus membiarkan para nomaden dari segala sudut bumi menginjakkan kakinya di atas Pertiwi Hyang Bali Dwipa. Sebagian menyisakan euforia sementara dan sebagian lagi melucuti perlahan. Bali bukan tanah taruhan, seperti Drupadi di tangan polosnya Panca Pandawa, kemudian kehormatannya dilucuti oleh liciknya Kurawa dan Sengkuni. Sementara para guru, Drona dan Bhisma, justru memilih diam. Pertanyaan saya, apakah kita harus percaya dan menunggu jika kain Drupadi tidak akan pernah habis? Atau adakah Prabu Dretarastra yang berani menghentikan pelucutan Drupadi?

Akhirnya, untuk merayakan kekalahan saya sebagai masyarakat Bali, saya mencoba meminjam sebaris lirik Sadrah dari band asal Bandung, For Revenge, “Lelah harus bijaksana, saat kita yang terluka”.[T]

Penulis: Pande Susan
Editor: Jaswanto

Tags: baliBBM
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Next Post

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

Pande Susan

Pande Susan

Perempuan unyil yang punya rasa ingin tahu maksimal dengan latar belakang pendidikan ilmu pengetahuan alam dan praktik tradisional. Si unyil senang mengumpulkan pengalaman di berbagai bidang, seperti farmasi, lingkungan, dan basis data serta penelitian, praktik, dan dokumentasi budaya. Sedang tertarik mengawinkan sains-sosial untuk membedah pengetahuan tradisional sebagai dasar untuk kemajuan budaya. Keep in touch with me on instagram @earth_susan

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co