LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin melepaskan sejenak beban kerja sebagai dosen perguruan tinggi di kota Purwokerto.
Setiap hendak berliburan, Agung Santoso selalu membahas rencana itu bersama istri dan ketiga anaknya. Selalu saja muncul perbedaan usulan tempat liburan. Kali ini Winarni, istri Agung Santoso mengusulkan liburan ke Yogya. Arul, anak pertamanya ingin liburan ke Bandung. Badri, anak kedua minta liburan ke Malang. Sedangkan Cika, anak gadisnya, berharap liburan yang dekat-dekat saja; yang penting bisa bersantai bersama keluarga.
Semua usulan ditampung dan didiskusikan dengan berbagai pertimbangan. Arul yang kini kuliah di semester lima ternyata banyak tugas dari dosennya meski libur. Badri yang baru semester awal kuliah juga harus mengerjakan tugas terstruktur yang harus dikumpulkan setelah kembali ke kampus. Cika meski masih kelas 11 SMA ia tak begitu suka liburan terlalu jauh.
Agung Santoso menawarkan liburan dengan kemping di Bukit Pinus yang tidak jauh dari kota Purwokerto. Tempatnya sangat cocok untuk healing bersama keluarga. Pemandangannya indah. Udaranya dingin. Terpenting tidak memerlukan biaya banyak. Bukit Pinus itu memang sering dimanfaatkan untuk kemping oleh para pengunjung dari berbagai daerah.
Istri dan ketiga anak Agung Santoso setuju usulan itu. Apalagi mereka belum pernah kemping bersama untuk menikmati liburan di tengah bebukitan yang dikelilingi pohon pinus.. Mereka segera menyiapkan berbagai perlengkapan untuk kemping selama dua hari, mulai peralatan memasak, perlengkapan tidur, hingga obat-obatan.
Bukit Pinus itu tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Dengan berkendara mobil perjalanan memakan waktu kurang dari satu jam. Agung Santoso memilih lokasi kemping yang tidak terlalu jauh dari jalan, agar bila memerlukan sesuatu yang harus dibeli ia bisa dengan cepat meluncur ke bawah bukit pinus.
Cuaca sangat cerah ketika mereka tiba di Bukit Pinus sore hari. Udara dingin mereka rasakan saat mulai mendirikan tenda yang disewa dari pengelola Bukit Pinus. Agung Santoso satu tenda dengan kedua anak laki-lakinya. Sedangkan istrinya bersama Cika, anak perempuannya.
Angin lembut berhembus menambah dingin bukit yang masih banyak dihuni satwa liar ini. Tampak beberapa burung beterbangan hendak kembali ke hutan. Agung Santoso dan istri serta ketiga anak mereka melakukan relaksasi dengan olahraga ringan sambil menghirup udara segar. Sungai kecil yang mengalir di bawah bukit menambah suasana semakin syahdu.
***
Malam menjelang. Suhu udara semakin dingin. Agung Santoso sekeluarga memasak mi instan untuk makan malam sekaligus untuk menghangatkan tubuh. Tampak di kejauhan beberapa tenda milik pengunjung lain yang juga menikmati kemping di Bukit Pinus. Arul menikmati malam di kemping sambil membuat outline tugas kuliah. Badri bermain game online, sedang Cika menonton drama Korea lewat ponselnya.
Malam kian larut. Mendadak mereka dikagetkan dengan suara lolongan binatang dari arah hutan pinus. Tidak terlalu jelas, apakah itu suara anjing atau serigala. Lolongan itu terdengar di kejauhan, namun membuat bulu kuduk mereka berdiri. Arul dan Badri menggeser duduknya mendekati Agung Santoso. Sedangkan Cika merapatkan tubuhnya ke arah Winarni, ibunya.
Di tengah suara binatang aneh Arul melihat sekelebat bayangan sosok kecil di luar tenda kemping. Arul menduga sosok kecil itu adalah binatang yang melolong itu. Ia keluar dari tenda untuk menengok. Betapa terkejut dia. Dilihatnya anak kecil berlumuran darah sambil memandang kepadanya. Baju dan celana anak itu robek.
Arul ketakutan. Siapa dan dari mana anak kecil itu. Mengapa tubuhnya berlumuran darah. Tidak berapa lama anak itu menghilang. Arul merasa bergidik. Bulu kuduknya berdiri. Teko air yang ditaruh di luar tenda bergerak sendiri. Air mengucur dari teko itu. Arul bergegas masuk ke dalam tenda.
“Ada apa, Rul?” tanya ayahnya melihat Arul ketakutan.
“Ada anak kecil berlumuran darah di luar tenda,” jawab Arul dengan wajah pucat.
Agung Santoso dan Badri bergegas ke luar tenda. Mereka melihat ke sekeliling.
“Mana, Rul..?” tanya Agung Santoso ketika tak melihat siapa pun.
“Sudah hilang, Pak. Mungkin hantu..,” kata Arul terbata-bata.
Badri ketakutan mendengar perkataan kakaknya. Agung Santoso menggunakan lampu senter untuk menyorot ke sekeliling tenda kemping. Tak terlihat apa pun. Suasana menjadi mencekam. Teko air di depan tenda terjatuh. Lalu terdengar suara tawa anak kecil. Mereka merinding dan segera masuk ke dalam tenda.
Malam yang dingin di Bukit Pinus menjadi terasa gerah dengan kehadiran hantu anak kecil yang dilihat Arul. Di dalam tenda Agung Santoso dan Badri menanyakan kembali sosok anak kecil yang dilihat Arul. Dengan wajah yang masih menyimpan rasa takut Arul kembali menceritakannya. Anak kecil itu sekira berusia 10 tahun. Wajahnya memelas namun menyeramkan. Tubuhnya berlumuran darah. Anehnya ketika Arul berusaha melihat dengan jelas, anak itu telah menghilang begitu saja.
Mendengar cerita Arul, Agung Santoso dan Badri ikutan merinding. Mereka memastikan anak kecil itu adalah hantu Bukit Pinus. Selama ini Agung Santoso memang pernah mendengar cerita dari orang-orang bila hutan pinus di bukit itu dikenal angker. Tetapi ia tak mempercayainya. Meski ia juga merasa tercekam juga ketika anak sulungnya melihat hantu anak kecil.
***
Tenda lain yang ditempati Winarni dan Cika tak kalah mencekam. Menjelang tengah malam mereka berdua sulit untuk tidur. Hawa dingin menembus ke dalam tenda, terasa lebih dingin dari suhu udara di luar. Bau asap kemenyan mereka cium dari luar tenda yang berhembus ke dalam tertiup angin. Winarni dan Cika saling pandang, ketakutan.
Terdengar suara perempuan mengerang kesakitan di luar tenda. Cika ingin keluar dari tenda, tetapi dilarang oleh Winarni. Suara erangan perempuan semakin jelas terdengar. Cika memaksa keluar tenda.
Ia nyaris menjerit. Dilihatnya seorang perempuan berlumuran darah sedang duduk bersimpuh di samping tenda. Rambut perempuan yang panjang itu acak-acakan. Mukanya rusak berdarah. Mengerikan. Perempuan itu seperti merintih kesakitan. Dada Cika berdegup kencang. Keringat dingin terasa di keningnya.
“Siapa di luar, Cika?” tanya Winarni melihat Cika ketakutan.
“Entahlah, Bu. Perempuan menyeramkan…,” jawab Cika sambil menutup mukanya.
Winarni segera menyusul Cika keluar tenda. Ia menengok ke seluruh tempat kemping. Winarni tak melihat apa pun. Ia hanya mencium aroma kemenyan yang menyengat di sekitar tendanya.
“Mana perempuan itu?” tanya Winarni.
Cika tak menjawab. Ia hanya menunjukkan satu tempat dengan jari telunjuknya. Namun Winarni tetap tak melihat siapa pun. Suasana menjadi mencekam. Cika berlari kembali ke dalam tenda. Tubuhnya gemetaran menahan takut. Winarni mencoba menenangkan. Ia menelpon suaminya yang berada di tenda sebelah.
“Cika melihat hantu perempuan, Pak,” kata Winarni sambil meminta Agung Santoso datang ke tendanya.
Agung Santoso, Arul, dan Badri segera mendatangi tenda Winarni dan Cika. Mereka melihat Cika tampak ketakutan. Agung Santoso menenangkan Cika. Suasana di dalam tenda menjadi mencekam. Baru menginap semalam mereka sudah berhadapan dengan kejadian yang mistis. Arul melihat hantu anak kecil, Cika melihat hantu perempuan. Semua yang mereka lihat dalam keadaan berdarah mengerikan.
“Besok pagi kita pulang saja, Pak,” ujar Winarni kepada suaminya.
Belum sempat Agung Santoso menjawab permintaan istrinya, terdengar suara gaduh di tenda yang ditempatinya bersama Arul dan Badri. Mereka semua keluar. Winarni dan Cika yang masih dalam keadaan ketakutan ikutan berlari ke tenda Agung Santoso.
Semua terkejut. Barang-barang di dalam tenda Agung Santoso berantakan. Gelas berisi kopi yang belum sempat diminum Agung Santoso tumpah. Laptop Arul terjatuh ke tanah. Pakaian yang dibawa Badri juga berantakan seperti habis diacak-acak.
“Kaos Badri ada yang hilang, Pak,” kata Badri sambil membereskan pakaiannya.
“Hahhh… siapa yang mengambil?” tanya Agung Santoso heran. Ia mulai larut dalam suasana yang mencekam.
Malam bertambah larut. Kemping sekeluarga di Bukit Pinus yang mestinya menyenangkan dan menyejukkan berubah menjadi mengerikan. Agung Santoso memutuskan untuk mengakhiri kemping besok pagi. Ia tak mau istri dan anak-anaknya dicekam ketakutan oleh hantu. Untuk menenangkan, Winarni dan Cika bergabung dalam satu tenda dengan Agung Santoso. Mereka tidak tidur hingga pagi, karena memang tidak bisa tidur. Wajah hantu yang dilihat Arul dan Cika masih membayang di benak mereka.
Begitu matahari terbit, mereka bergegas membereskan tenda dan barang-barang yang dibawa. Badri masih penasaran siapa yang mengambil kaosnya. Ia cari ke sekeliling tempat kemping, tapi tak ditemukan. Mungkinkah hantu itu yang mengambil kaosnya?, pikir Badri.
Pengelola area kemping Bukit Pinus heran ketika Agung Santoso memberi tahu akan mengakhiri kemping.
“Bukannya kemping dua hari, Pak Agung?” tanya pengelola Bukit Pinus.
Agung Santoso menceritakan kejadian semalam yang dialami istri dan anak-anaknya. Pengelola Bukit Pinus tidak menunjukkan keterkejutannya. Wajahnya justru tampak seperti bersedih.
“Beberapa tahun lalu terjadi kecelakaan mobil di jalan dekat Bukit Pinus. Penumpangnya satu keluarga meninggal semua,” kata pengelola Bukit Pinus.
Agung Santoso, istri, dan ketiga anaknya kaget mendengar cerita pengelola Bukit Pinus. Mereka tidak menyangka tempat mereka kemping berdekatan dengan lokasi kecelakaan yang menewaskan satu keluarga. Namun Agung Santoso dan keluarga tidak lagi menunjukkan rasa takut. Mereka justru turut prihatin dan sedih.
Agung Santoso sekeluarga meninggalkan tempat kemping dengan keharuan. Suasana mencekam yang semalam mereka alami kini berubah menjadi rasa iba. Mereka berdoa semoga semua arwah korban kecelakan mendapat tempat yang indah di sisi Tuhan. Yang pasti, Agung Santoso dan keluarganya tidak pernah kapok untuk kemping lagi. Mungkin kemping semalam di Bukit Pinus bukan waktu yang tepat bagi mereka. [T]




























