Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa yang selalu ia ulangi sebelum tidur. Ia jarang berdoa kepada Tuhan, ia berdoa kepada pertumbuhan.
Di kantornya, dinding dipenuhi cermin buram. Bukan untuk bercermin, melainkan untuk memastikan siapa yang pantas dipantulkan dan siapa yang harus dihapus. Alfie tahu caranya membuat orang terlihat bersalah tanpa pernah menyentuh mereka. Ia memindahkan kesalahan seperti memindahkan arsip, diam-diam, sah, dan tak menyisakan sidik jari. Di dunia yang ia bangun, kejujuran adalah barang rapuh yang terlalu mahal untuk disimpan.
Alfie selalu menyebut dirinya profesional. Kata itu ia kenakan seperti jas mahal: menutup noda, menegaskan jarak. Rekan kerja baginya adalah tangga; setelah dipijak, tak perlu diingat. Bawahan adalah mesin, bila berisik, tinggal dimatikan. Ia menyebut semua itu efisiensi.
Rumah Alfie luas, tapi kosong seperti laporan tahunan yang hanya indah di sampul. Mainan Edo berjajar di sudut, masih bersegel, seperti janji-janji yang tak pernah dibuka. Setiap malam, Alfie pulang membawa tas kerja yang berat dan waktu yang ringan. Ringan karena selalu ia tinggalkan di kantor.
“Ayah sedang membangun masa depanmu,” katanya suatu hari, seolah masa depan bisa dipindahkan dengan tanda tangan.
Edo mengangguk. Anak-anak memang diajari untuk percaya.
Puncak ambisi Alfie datang seperti undangan resmi: proyek raksasa, kerahasiaan tinggi, keuntungan berlapis. Ia tahu ada kebusukan di dalamnya. Tetapi kebusukan, baginya, hanya bau yang bisa ditutup dengan parfum. Ia menandatangani berkas-berkas dengan tangan mantap, seolah menandatangani nasib orang lain, bukan dirinya sendiri.
Lalu tubuhnya mulai memberontak.
Awalnya hanya lelah. Kemudian nyeri yang menyebar ke seluruh sendi. Hingga akhirnya dokter menyebut kata yang tak bisa dinegosiasikan: kanker. Kata itu berdiri telanjang di ruang praktik, tak bisa ditunda, tak bisa dimanipulasi.
“Stadium lanjut,” kata dokter.
Alfie mencari angka, persentase, peluang, durasi. Tidak ada yang memuaskan. Untuk pertama kalinya, ia menghadapi sesuatu yang tak bisa ia singkirkan, tak bisa ia salahkan pada orang lain. Tubuhnya sendiri menjadi dokumen yang rusak.
Ironi bekerja dengan rapi. Tepat saat kekayaan hampir sepenuhnya jatuh ke tangan Alfie, waktu justru ditarik dari sakunya. Ia menang tender, tapi kalah napas. Ia memperoleh kuasa, tapi kehilangan kendali.
Di rumah sakit, cermin memantulkan wajahnya yang asing. Ia melihat seorang pria yang sepanjang hidupnya mengejar harta benda, kuasa, celah hukum, kebisuan orang-orang yang ia injak. Kini rahasia itu berbalik: tubuhnya menyimpan sesuatu yang tak bisa ia paksa keluar.
Alfie mulai pulang lebih awal. Duduk di lantai, membuka mainan Edo yang selama ini hanya jadi pajangan. Ternyata butuh waktu lama untuk belajar hadir. Waktu yang kini, tak lagi ia punya.
***
Suatu malam, Alfie mengajari Edo mengikat tali sepatu. Jarinya gemetar. Bukan karena takut mati, tetapi karena sadar bahwa ia telah mengajari banyak hal: cara diam, cara menunggu, cara percaya pada ketidakhadiran.
“Ayah pernah salah,” katanya pelan, tanpa kisah heroik. “Kalau kamu ingin sesuatu, jangan sampai kamu menjadi orang yang hilang di tengah jalan.”
Edo tidak paham sepenuhnya. Tapi ia memegang tangan ayahnya lebih lama dari biasanya. Sentuhan itu terasa seperti pengampunan yang tak pernah diminta.
Proyek besar itu rampung. Uang masuk seperti banjir yang terlambat. Nama Alfie tercatat, dipuji, dibersihkan. Dunia menganggapnya berhasil.
Namun di ranjang rumah sakit, Alfie mengerti ironi terbesar: kekuasaan yang terlalu dikejar justru akan menelan pencarinya pelan-pelan. Ia menghabiskan hidup, menyusun arsip, tapi lupa menyimpan satu hal yang tak bisa diulang, kehadiran.
Saat matanya terpejam, angka-angka di kepalanya berhenti. Yang tersisa hanyalah wajah seorang anak, dan sebuah doa yang tak lagi meminta tambahan apa pun. [T]
Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole




























