JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa, guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di Pantai Merta Sari Sanur, Desa Adat Intaran, Denpasar Selatan. Kegiatan pembelajaran yang berttajuk “Konservasi Terumbu Karang” ini adalah salah satu bagian dari Program Aksi Nyata Trihita Karana (Astakarana) OSIS Toska di bidang Palemahan. Sebelumnya, bertepatan dengan Purnama Kadasa pada 2 April 2026 telah dilaksanakan kegiatan bidang Parhyangan dengan persembahyangan bersama ke Pura Ulun Danu Batur dan Besakih serangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh. Selanjutnya, bidang Pawongan rencana diisi dengan kegiatan kunjungan ke Panti Asuhan pada Mei 2026.
Kegiatan Konservasi Terumbu Karang ini diikuti oleh Pengurus OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) didampingi pembina dari guru dan pegawai. Kegiatan ini berlangsung setengah hari menjelang air laut surut, mulai pukul 13.00 Wita. Pembelajaran berbasis alam ini dirangkaikan dengan kegiatan sekala merayakan Tumpek Landep (Sabtu Kliwon, 18 April 2026), selain mengajak siswa untuk peduli lingkungan pesisir yang kaya raya, tetapi diterpa isu sampah yang tidak berkesudahan. Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama antara Toska dan Yayasan Rumah Koral Bali yang membudidayakan Terumbu Karang di Pantai Merta Sari Sanur sejak tahun 2022.
Menurut I Made Yunarta, S.Si., M.Si., yang menjadi narasumber sekaligus pemandu ke tengah Sekeh Pantai Merta Sari, Siswa Toska sangat semangat mengikuti sesi materi berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan Pantai Merta Sari. “Salut buat anak-anak Toska yang semangat, aktif bertanya di sesi kelas. Kelas alam yang rindang di bawah pohon Ketapang berlatar jukung nelayan, dengan angin sepoi-sepoi. Deburan ombak tiada henti dan para tamu yang datang silih berganti, tidak membuyarkan semangat dan konsentrasi mereka”, kata Yunarta yang akrab dipanggil Bli Jo asal Ketewel Gianyar alumi S-2 Ilmu Lingkungan Unud dan S-1 Ilmu Kelautan Unud.

Ada sejumlah pesan penting dari Bli Jo buat anak-anak Toska. Pertama, ajakan merawat bumi secara bersama-sama khususnya di daerah pesisir agar tetap seimbang daya dukungnya, baik pasir, terumbu karang, dan rumput lautnya maupun komunitas ikan di dalamnya. Kedua, menjaga keseimbangan alam laut yang menyediakan kebutuhan manusia akan sumber makanan berprotein dan bergizi. Itu pula sebabnya, warga Toska diajak melakukan aksi bersih sampah plastik di sepanjang Pantai Merta Sari Sanur, sebelum nyemplung ke tengah laut mengamati proses konservasi terumbu karang. Ketiga, kegiatan ini mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran untuk mengaplikasikan Visi Sat Kerthi Loka Bali, khususnya Segara Kerthi untuk memuliakan laut dengan segala isinya. Integrasi lintas mata pelajaran ini bergantung pada kejelian para guru menemukan irisan materi yang berpotensi saling menguatkan pemahaman siswa secara luas dan mendalam sesuai dengan deep learning approach.
Selesai sesi materi di Pantai, para siswa diangkut dengan jukung ke tengah laut Sekeh dengan kedalaman yang tidak membahayakan apalagi semakin sore laut makin surut dan air semakin dangkal. Tantangannya, semakin dangkal air laut, jukung tidak bisa melintas, kano juga kesulitan didayung. Maklumlah, sepanjang Sekeh Merta Sari, rumput laut yang disebut lamun berdaun lebar dan panjang tumbuh subur. Berbeda dengan lamun di seputar Pantai Pandawa, daunnya kecil tidak panjang.

Tantangan itu berhasil diterobos para siswa Toska dipandu Bli Jo bersama dua mbak pegiat di Rumah Coral Bali di Pantai Merta Sari Sanur. Berdirinya Rumah Coral Bali ini terinspirasi dari kerusakan terumbu karang yang makin meresahkan. “Keresahan nelayan terhadap kerusakan terumbu karang, membuat saya konsen untuk melakukan konservasi secara berkelanjutan bersama teman-teman. Pegiat rata-rata dari luar Bali”, kata Bli Jo yang mengaku sudah ditinggal ibu meninggal, tetapi wajib membantu ayah ngayah di Desa Ketewel Gianyar.
Obrolan santai di tengah laut Sekeh Merta Sari Sanur bersama Bli Jo berlangsung in formal. Saya satu-satunya guru yang mendampingi siswa ke tengah laut Sekeh, merasakan betapa pentingnya pembelajaran dilakukan secara informal, menerobos keformalan dalam empat tembok ruang kelas. Laut tanpa batas adalah ruang kelas pembelajaran untuk memperluas cakrawala dan memberikan horison harapan bagi siswa mengeksplorasi materi pelajaran senyatanya dan berguna bagi kelangsungan hidupnya kelak. Lebih-lebih, Bli Jo yang memandu dan memperkenalkan perawatan terumbu karang, identik dengan perawatan manusia yang sakit masuk Rumah Sakit.
Model analogi ala Bli Jo itu mencitrakan pendekatan humanis terhadap alam lingkungan tidak terkecuali dengan kerusakan terumbu karang yang makin meluas. Akibatnya, banyak biota laut yang seharusnya menjadi ekosistem menghilang dari habitatnya, sehingga tanpa disadari komunitasnya pun lenyap. Namun, Bli Jo yang mengedukasi anak-anak Toska berharap ada yang nantinya tertarik berjuang ikut menyelamatkan terumbu karang di Merta Sari atau di tempat lain, seperti di Nusa Penida atau di Pantai Pandawa. “Semoga ada lebih banyak anak-anak Bali berkecimpung menekuni dunia kelautan, apalagi di Universitas Udayana ada Program Study Ilmu Kelautan. Potensi maritim kita banyak. Sungguh sayang, bila digarap orang luar. Kita hanya menonton. Jangan sampai kita krisis ikan, padahal laut kita menyediakannya”, kata Bli Jo di hadapan siswa Toska yang telah menyelam dan berenang.
Hari makin sore, sekitar Pukul 16.30 Wita rombongan Toska meninggalkan Laut Sekeh Merta Sari. Saya sekano dengan Adi (Kelas XI) sempat ngobrol tentang keseruan belajar tentang penyelamatan terumbu karang. Adi merasa terkesan dengan cerita Bli Jo. “Seru dapat healing. Melihat habitat ikan berwarna-warni di antara terumbu karang seperti bunga di taman. Mereka berlari dan bermain ke sana ke mari di antara terumbu karang seperti layaknya anak-anak bermain. Tanpa ada yang mengganggu. Pokoknya, senang banget’, kata Adi salah seorang pengurus OSIS.

Kesan Adi mirip dengan kesan Dayas dan Risma. “Seru mengasyikkan. Kesempatan belajar merawat laut dengan penuh kasih sayang. Tidak mengotori laut dengan sampah plastik yang tidak mudah terurai”, kata Dayas dan Risma yang sesama pengurus OSIS.
Begitulah keseruan belajar di Pantai Merta Sari Sanur, ruang kelas bagi Toska dengan sentuhan kasih sayang. Tiba-tiba saya teringat Rabindranath Tagore dan Jan Ligthart. Kata Tagore, “Jangan membawa gajah ke dalam kelas, ajaklah anak ke kebun binatang belajar tentang gajah di habitatnya”. Sementara itu, Jan Ligthart berkata “Pendidikan selalu bersemi dalam iklim kasih sayang”. Inspirasi kedua tokoh itu, sangat tepat dengan penetapan TOSKA sebagai Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bali. [T]





























