10 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Helvi Carnelis by Helvi Carnelis
April 14, 2026
in Ulas Pentas
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu muncul kembali ketika menyaksikan pertunjukan “Malin Kundang Lirih” yang diperankan oleh Fajar Eka Putra di event Budamfest kerja sama antara Lab Teater Ciputat dengan MTN, Jakarta Pusat (Rabu, 10 Desember 2025).

Pementasan tersebut membuka ruang refleksi yang dalam, bukan  tentang mitos dan narasi klasik, tetapi tentang posisi manusia Minangkabau hari ini, terutama dalam relasi antara tradisi, gender dan perantauan.

Malam itu, diskusi berlangsung cukup panjang diantara kalangan seniman. Sebagai seorang seniman, saya justru merasa tidak sepenuhnya masuk kedalam bagian-bagian tertentu dari diskusi tersebut. Ada pernyataan-pernyataan yang seharusnya saya ungkapkan, namun terhenti sebagai kegelisahan batin. Kegelisahan ini bukan semata persoalan artistik, melainkan kegelisahan kultural dan sosial yang tidak didiskusikan .

Minangkabau dikenal sebagai ruang budaya dengan sistem Matrilineal, dimana perempuan memegang simbol-simbol material yang penting. Harta pusaka, rumah gadang, dan garis keturunan diwariskan melalui perempuan. Dalam kontruksi budaya ini, perempuan sering diposisikan sebagai penjaga nilai dan aset budaya.

Sementara itu, laki-laki didorong untuk merantau meninggalkan kampung halaman sebagai bagian dari proses pendewasaaan dan pencarian jati diri. Namun, dalam perbincangan tentang budaya rantau hari ini, saya mulai mempertanyakan kembali yang dikotomi lama tersebut.

Sehingga pertunjukan yang memiliki bias tradisi seperti kisah Malin Kundang melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih ini tidak lagi dianggap kurang relevan atau mempertanyakan apakah masih relevan untuk menjadi bagian sebuah pertunjukan teater, sebagaimana menjadi bagian kecil dari diskusi malam itu. Mitos perlu dibicarakan, sebab perlu dikuliti, dicari kebenaran serta perspektifnya dengan tepat dan kritis.

“Pertunjukan Malin Kundang Lirih, lebih mengulik perasaan anak perantauan yang berjuang dan bertahan. Dialog dan akting aktor disampaikan secara jujur dan mampu mewakili perasaan,ekpresi, emosi, serta tekanan yang dihadapi anak rantau. kisah ini tidak menitikberatkan pada kutukan, melainkan pada proses Malin Kundang sebagai anak perantau yang menjalani kehidupan, berproses, bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Malin tidak pernah melupakan, apalagi membenci ibunya, ia justru terbentuk oleh kerasnya kehidupan di perantauan, dikelilingi oleh orang-orang yang baru dikenalnya tanpa ikatan darah, dan terus berupaya membuktikan ia mampu bertahan. Kadang hidup seseorang tidak dapat ditebak, namun Malin  digambarkan sebagai manusia yang tidak pernah mengharapkan hidupnya berakhir dalam kesengsaraan, dimanapun ia berada.” ujar Dila Ayu Arioksa salah satu penonton.

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

 Kisah Malin Kundang bukan lagi semata persoalan bahwa laki-laki yang telah cukup usia dan matang secara sosial harus merantau, sementara perempuan tinggal di kampung sebagai “penunggu rumah” yang menjaga harta pusaka. Realitas sosial telah berubah. Lalu, bagaimana dengan perempuan Minangkau hari ini?

Perempuan Minangkabau kini memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan tinggi, ruang publik, dan pilihan hidup. Namun, ironisnya, untuk memperoleh kemandirian intelektual dan professional, banyak perempuan justru harus “melarikan diri” dari kampung  halaman, merantau bukan sebagai kewajiban budaya, tetapi sebagai strategi bertahan hidup dan pengembangan diri.

Dalam konteks ini, merantau bagi perempuan bukan lagi soal tradisi, melainkan bentuk negosiasi terhadap struktur adat yang masih membatasi. Ada juga sebagian mereka mengatakan bahwa merantau adalah salah satu cara untuk menghindari perjodohan, pertanyaan tentang pernikahan. Sebab, diusia tertentu perempuan sudah seharusnya menikah bahkan memiliki keturunan. Maka sebagian mereka memilih untuk merantau sebagai uapaya menyelamatkan diri dari pemaksaan, bahkan pertanyaan yang memaksa.

Pemikiran ini sejalan dengan pandangan feminis pascakolonial Nawal El Sadawi, yang melihat perempuan bukan sekedar objek tradisi atau simbol budaya, melainkan sebagai subjek yang memiliki kesadaran, kehendak dan tubuh yang otonom. Perempuan memahami dirinya melalui pengalaman hidupnya sendiri, bukan semata melalui defenisi budaya yang diwariskan.

Dalam konteks Minangkabau, ini bearti perempuan tidak hanya menjadi simbol pemilik harta, tetapi juga berhak menentukan arah hidupnya termasuk memilih untuk merantau. Dengan demikian, narasi Malin Kundang dan budaya rantau perlu dibaca ulang, bukan hanya cerita tentang anak durhaka atau kewajiban laki-laki Minangkabau, tetapi sebagai cermin relasi kuasa antara adat , gender dan modrenitas. Pertanyaanya bukan lagi siapa yang harus merantau, melainkan siapa yang diberi ruang untuk memilih.

“Utuk melihat  satu persoalan yang kompleks, mungkin kita perlu sesekali memandang kerumitan itu dari kejauhan. Seperti persoalan tokoh Malin Kundang yang kerap disebut anak durhaka, boleh jadi kita juga harus berlaku demikian, dengan mengambil jarak agar persolan itu bisa terurai. Melalui kelirihan Malin, kita mendengar keluh kesah Malin sebagai manusia yang menyejarah, agar simbol anak durhaka yang sudah terlanjur terkenal itu bisa luntur,” kata Akbar Munazif selaku penangung jawab karya.

Saya menyadari bahwa pengalaman ini bukan hanya bersifat konseptual tetapi juga sangat personal. Sebagaimana perempuan-perempuan Minangkabau lain juga pernah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh orang-orang ang dituakan: paman, tante, ibu bahkan ayah sendiri. Ucapan itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk kutukan yang ekplisit, tetapi juga beroperasi sebagai peringatan moral yang halus namun menekan: Jangan jadi Malin Kundang!

Menariknya, dalam konteks hari ini, sebutan “Malin Kundang” tidak lagi semata-mata diarahkan kepada laki-laki, ia juga disematkan kepada perempuan, terutama Ketika perempuan mengambil sikap, pilihan atau jalan hidup yang dianggap bertolak belakang dengan ekpetasi adat dan keluarga. Ketika perempuan memilih pergi, memilih mandiri, memilih berpikir dan menentukan hidupnya sendiri, label durhaka itu muncul kembali, seolah-olah mitos lama menemukan tubuh baru untuk dihukum.

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa Malin Kundang bukan lagi sekedar tokoh, melainkan mekanisme kultural. Bekerja sebagai alat disiplin sosial, sebagai cara adat mengatur tubuh dan kehendak. Jika dahulu Malin kundang adalah laki-laki yang pergi terlalu jauh dan lupa pulang, kini “Malin Kundang”  bisa bearti diperuntukkan kepada siapa saja, terutama perempuan yang tidak tunduk, tidak patuh, dan tidak diam.

Kesadaran ini, memperkuat argumen bahwa budaya rantau tidak pernah netral secara gender. Laki-laki yang merantau, sering diposisikan sebagai subjek yang berani dan dewasa, sementara perempuan yang memutuskan  hal serupa dibaca sebagai ancaman terhadap tatanan. Dalam situasi ini, perempuan berada dalam posisi paradoks: mereka secara simbolik dimuliakan sebagai pemilik harta pusaka dan penjaga rumah gadang, tetapi secara praksis dibatasi ruang geraknya. 

Label “Anak Durhaka” bekerja sebagai sanksi simbolik yang sangat efektif tidak membutuhkan hukuman fisik, cukup dengan rasa bersalah. Cukup rasa takut kehilangan legitimasi sebagai anak, sebagai kemenakan, sebagai bagian dari kaum. Dengan cara ini, adat tidak perlu melarang secara eksplisit ia cukup mengingatkan secara cerita, mitos, dan kata-kata yang diwariskan dari generasi ke generasi hinga menghantui anak-anak muda untuk bergerak, bertindak, dan memilih.

Perempuan Minangkabau tumbuh dengan negosiasi dan perdebatan batin yang sunyi: antara keinginan untuk memilih dan ketakutan diangap durhaka. Antara Hasrat untuk bergerak dan tuntutan karena telah menjadi penyangga nilai. Di sinilah, istilah Malin Kundang bertransformasi dari mitos padagogis menjadi alat kontrol.

Pertunjukan “Malin Kundang Lirih”

Maka, membaca Malin Kundang hari ini bukan  sekedar upaya yang bagaimana pertunjukan itu hadir dan tumbuh dari ruang akademik dan atau non akademik sebagaimana percakapan didalam pendiskusian panjang itu melainkan kebutuhan etis yang dapat dipertanggungjawabkan kelayakan pertunjukkanya.

Hal itu perlu dipertanyakan dan perlu ditelisik lebih jauh.  Dengan sebuah pertanyaan : Apakah adat  memberi ruang bagi seseoang untuk memilih tanpa harus kehilangan pengakuan? Atau justru modrenitaslah yang memaksa perempuan dan laki-laki bergerak, sementara adat tertinggal sebagai suara yang terus menuduh? Kesadaran ini menjadi titik penting. Apakah memungkinkan seseorang untuk mengungkap kegelisahan yang sering kali tidak mendapakan ruang dalam diskursus adat, lalu, siapa saja berhak menjadi subjek penuh atas hidupnya sendiri tanpa harus dikutuk oleh mitos yang seharusnya bisa ditafsir ulang.

Ucapan tersebut tidak pernah berdiri sendiri, hadir dari sistem  nilai yang sudah lama bekerja dan diwariskan  tanpa banyak dipertanyakan. Ketika seseorang perempuan Minangkabau mengambil jarak dari kampung halaman, secara fisik maupun cara berpikir yang dipersoalkan, tetapi keberanian untuk menegosiasikan adat. Pada titik itu, Malin Kundang hadir bukan sebagi cerita, melainkan sebagai peringatan, batas yang tidak boleh dilampaui.

Pengalaman ini bersifat kolektif, meski sering dirasakan secara individual. Banyak perempuan Minangkabau tumbuh dengan tubuh yang terus menerus yang diawasi oleh Bahasa: Cara berbicara, cara berpakaian cara memilih pasangan, cara menentukan masa depan. Ketika pilihan-pilihan itu tidak sejalan dengan harapan keluarga dengan kaum, mitos Malin Kundang menjadi alat legitimasi dan rasa takut diangap tidak tahu diri. Disinilah relasi kuasa antara adat dan gender bekerja dengan sangat halus. Perempuan seolah diberi kehormatan, sebagai pemilih  garis keturunan, tetapi kehormatan itu sekaligus menjadi beban. Ia harus menjaga, mempertahankan, dan mengorbankan diri demi kesinambungan nilai.

Modrenitas tidak serta-merta membebaskan perempuan  dari tekanan ini. Justru ditengah tuntutan mandiri, berpendidikan dan produktif. Disisi lain juga didorong untuk maju, selebihnya mereka diikat  oleh narasi adat yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi pilihan individual. Ketegangan inilah yang  membuat cerita malin kundang melaui pertunjukan  Malin Kundang Lirih menjadi sangat relevan  hari ini,  Malin Kundang yang mengukapkan keluh kesah sebagai anak yang dikutuk  yang harus yang  menyuarakan, tidak hanya pada laki-laki melainkan juga bagi perempuan.

Kisah Malin Kundang  adalah arsip  kuktural tentang siapa yang boleh merantau, siapa yang yang harus tinggal  hal ini  menandai siapa yang dianggap patuh dan siapa yang melampaui batas. Hukuman bukan hanya pengucilan simbolik melainkan juga keretakan relasi  dengan keluarga, dengan kaum bahkan dengan dirinya sendiri.

Makna kata “Pulang”  juga tidak diartikan kembali, melainkan juga  sebagai  proses berdialog, berjarak atau bahkan berbeda. Urgensi inilah yang membuat saya terus membaca ulang “Malin Kundang” bukan untuk meniadakan adat, tetapi untuk mengajukan pertanyaan kritis terhadap cara adat berkerja dan tumbuh  dalam tubuh perempuan  atau bahkan laki-laki di Minangkabau hari ini.  Jika adat adalah sesuatu yang hidup, maka seharusnya mampu mendengar kegelisahan generasinya, bukan hanya mengulang mitos sebagai alat pembungkaman. [T]

Penulis: Helvi Carnelis
Editor: Adnyana Ole

Tags: Malin Kundangseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

Next Post

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Helvi Carnelis

Helvi Carnelis

Lahir di Pariaman pada 10 Januari 1996. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang menjadikan pengalaman dan ketertarikannya pada dunia seni sebagai sumber inspirasi dalam berkarya. Selain aktif menulis, Helvi juga memiliki latar belakang di bidang Seni Peran, Sutradara, masih aktif dalam manajemen produksi seni pertunjukan yang telah membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengalaman tersebut turut memperkaya sudut pandangnya dalam membangun cerita dan karakter dalam tulisannya.

Related Posts

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
0
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

Read moreDetails

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
0
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

Read moreDetails

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

by Yudi Laksana
June 24, 2026
0
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

Read moreDetails

Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

by Kadek Surya Jayadi
June 20, 2026
0
Tembang Propaganda dan Atraksi Silat yang Memberi Warna pada Liuk Janger Kerobokan di Pesta Kesenian Bali 2026 —Sebuah Catatan

 “Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….”  ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian...

Read moreDetails

Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

by I Nyoman Darma Putra
June 15, 2026
0
Akurasi Sendratari ‘Lubdhaka Lelana’ Merefleksikan Tema ‘Atma Kerthi’ dalam PKB 2026

MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan...

Read moreDetails

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

by Rezky Chiki
June 9, 2026
0
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

Read moreDetails

Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

by Mas Ruscitadewi
June 7, 2026
0
Catatan Lomba Monolog Peksimida Bali 2026: Ada yang Masih Terjebak Pada Teriakan

Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu,...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails
Next Post
Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Saat Solidaritas Mengalahkan Kejujuran Tanpa Rasa Bersalah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali
Panggung

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

by Chusmeru
July 10, 2026
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026
Bali, Surga yang Sudah Overload
Esai

Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar
Budaya

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co