3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi salah satu alternatif berwisata. Sayangnya, tidak semua desa wisata bertahan lama, banyak yang hidup segan mati tak mau.

Desa wisata yang berhasil memang mampu menopang perekonomian desa. Sebut saja Desa Wisata Ponggok, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, Desa Wisata Ponggok mampu meraup pendapatan sekitar 14 miliar rupiah per tahun. Begitu pula Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. sepanjang tahun 2023, desa wisata ini mampu menghasilkan 20 miliar rupiah hanya dari tiket masuk saja (desawisata.co.id, 13/5/2023).

Selebihnya, banyak cerita pilu dari desa wisata. Pendapatan asli daerah (PAD) dari desa wisata tak sampai 500 juta rupiah per tahun. Viral di awal, lalu mati di kemudian hari. Beberapa penyakit kronis sering diidap desa wisata hingga berujung kematian.

Keinginan untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya menjadi salah satu penyakit kronis pengelola desa wisata. Akibatnya, desa wisata melakukan bunuh diri ekologi. Saat libur panjang banyak pengunjung ke desa wisata. Jalan macet, sampah menumpuk, dan toilet mampet. Pendapatan meningkat, tetapi udara kotor dan air keruh.

Penyakit yang kerap diderita desa wisata adalah masyarakatnya yang hanya menjadi penonton. Homestay, resto, jeep dikuasai investor dari luar desa. Warga lokal hanya jadi tukang parkir dan penjual cilok. Desa wisata go international, tetapi warga desanya masih banyak yang miskin. Kafe-kafe estetik milik investor, warga asli jualan jagung bakar.

Konflik lahan pada pengelolaan desa wisata juga dapat mengakibatkan penyakit kronis yang menghancurkan desa itu sendiri. Tanah produktif dijual untuk dibuat vila dan kafe. Dalihnya demi pariwisata. Sawah terasering jadi resort. Petani terpaksa jadi office boy di hotel. Ribuan hektare sawah hilang demi pariwisata, dan ketahanan pangan tinggal cerita.

Sumber daya manusia (SDM) di desa wisata masih banyak yang memprihatinkan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) diisi oleh orang-orang tua yang kurang melek digital. Padahal wisatawan generasi Z maunya mencari informasi tentang desa wisata di TikTok, membayar tiket masuk pakai QRIS, dan ingin respons cepat dari admin IG desa wisata. Kementrian Pariwisata (Kemenpar) memang telah melatih puluhan ribu SDM desa wisata; namun hanya sedikit yang bena-benar aktif secara digital.

Homogenisasi desa wisata menjadi salah satu penyakit kronis. Melihat satu desa wisata di tempat lain viral karena memiliki wahana, desa wisata lain copy paste membuat wahana sejenis. Terjadilah desa wisata yang homogen. Hal ini membuat wisatawan menjadi bosan mengunjungi desa wisata. Semestinya setiap desa wisata memiliki keunikan ( unique value).

Viral Lalu Mati

Tidak sedikit desa wisata di Indonesia yang viral ketika netizen demam TikTok. Namun gejala itu hanya berlangsung sebentar. Tiga bulan viral dan ramai, enam bulan kemudian sepi, dan tahun berikutnya sepi seperti kampung hantu, lantas mati tak ada pengunjung.

Dampak desa yang mati setelah viral tentu cukup serius. Okupansi homestay menurun, seiring menurunnya jumlah wisatawan. Pendapatan asli desa juga melorot. Padahal dana desa sudah digunakan untuk membuat spot swafoto, ayunan, dan cat warna-warni di desa wisata. Terjadi kesalahan sistemik dalam pengelolaan desa wisata.

Terdapat konflik konsepsional dalam pengembangan beberapa desa wisata. Pembangunan desa wisata yang berkelanjutkan bertarung dengan konsep viralitas desa wisata lewat TikTok dan Instagram. Media menjadi pemenang, sementara desa wisata jadi pecundang. Setelah viral banyak desa wisata yang rusak dan ditinggal pengunjungnya.

Pola kematian desa wisata hampir sama di banyak tempat. Bulan pertama hingga ketiga banyak mengundang pengunjung yang FOMO. Ribuan wisatawan datang ke desa wisata, uang mengalir ke desa, dan warga euforia. Bulan keempat dan keenam  fasilitas rusak karena overload. Sampah menumpuk. Parkir kacau dan review jelek mulai muncul. Bulan ketujuh hingga kedua belas algoritma TikTok pindah ke desa lain. Turis turun drastis. Perawatan mandek karena anggaran habis. Tahun kedua desa wisata menjadi “bekas tempat viral”.

Akar masalah kematian desa wisata bermula dari kesalahan metrik, semua selalu diukur secara kuantitatif pada performa digital. Kepala desa dan dinas pariwisata di daerah bangga bila desa wisatanya viral dengan 10 juta penonton di TikTok dan IG. Padahal semestinya metrik desa wisata itu adalah length of stay, repeat visitor, dan belanja wisatawan.

 Banyak pula desa wisata yang miskin cerita. Wisatawan Gen Z yang berkunjung ke Dieng, misalnya, bukan hanya untuk berfoto. Mereka ingin mendengar cerita dari petani carica dan kentang. Wisatawan ingin mendapatkan pengalaman. Dan pengalaman itu berupa cerita tentang semua yang ada di desa wisata. Tak sedikit desa wisata yang viral tak mampu menjual pengalaman, sekadar menjual pemandangan.

Solusi

Bangga dengan jutaan pemirsa di media sosial bukanlah keberhasilan desa wisata, bila setelah viral lantas gulung tikar. Metrik desa wisata harus diubah. Indeks kinerja utama desa wisata juga harus diubah. Bukan berapa banyak jumlah pengunjung, tetapi berapa lama pengunjung tinggal di desa wisata.

Cerita sukses desa wisata mestinya bukan berapa banyak jumlah wisatawan, tetapi cerita tentang wisatawan yang menginap dua hari satu malam di desa. Cerita tentang lebih dari 70% persen wisatawan yang datang berbelanja ke warung-warung yang dimiliki warga. Dan cerita sukses tentang wisatawan yang tahun berikutnya datang lagi ke desa wisata itu.

Desa wisata akan mati bila hanya menjual ayunan, tembok warna-warni, dan spot foto. Harus dibangun pengalaman berwisata ke desa bagi pengunjung. Misalnya, wisatawan ikut menanam padi di sawah, membuat gula jawa di sentra industri kecil, atau belajar membuat batik. Ada pengalaman dan keterampilan yang dapat dibawa pulang.

Membangun narasi berupa story telling perlu dilakukan desa wisata agar dapat bertahan hidup. Mengapa sebuah curug dikeramatkan oleh masyarakat? Siapa “Mbah” atau “Eyang” yang dihormati dan disakralkan di suatu desa? Cerita semacam itu lebih membuat wisatawan terkoneksi dengan alam dan budaya, ketimbang dengan ayunan atau spot foto.

Anggaran yang dimiliki desa bukan hanya untuk pembangunan sarana fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM dan perawatan desa wisata. Jalan dan toilet memang penting; tapi lebih penting menjaga dan merawat agar jalan tidak cepat rusak dan toilet tetap bersih. Pelatihan bagi Pokdarwis terkait narasi sosial budaya dan pengelolaan media sosial bagi generasi muda desa dapat menggunakan anggaran desa.

Wajib bagi desa wisata untuk menggali “DNA” yang dimilikinya agar tidak duplikasi dengan desa wisata lain.  Apa yang hanya terdapat di satu desa wisata; apakah curug, danau, bangunan bersejarah, kesenian tradisional, ataukah kulinernya? Idealnya satu desa wisata memang memiliki satu ikon wisata.

Mengatasi bunuh diri ekologis, perlu dibuat Peraturan Desa (Perdes) yang melindungi desa dari serbuan investor nakal. Jangan sampai tanah desa dibeli investor, namun warga justru jadi kuli di desanya sendiri. Perlu diatur agar pemilik usaha di desa wisata harus ber-KTP desa itu. Investor boleh masuk, tapi menjadi partner, bukan pemilik. Sawah produktif tidak boleh berubah menjadi vila. Zona lindung tidak boleh dijadikan area glamping.

Saatnya desa wisata berhenti mengejar FYP dengan membangun komunitas yang mendukung tumbuh suburnya desa wisata. Yang membunuh desa wisata bukanlah wisatawan, tetapi cara mengelolanya. Pendapatan asli daerah naik, namun ketimpangan masih tampak. Desa wisata jalan, tapi masyarakat tetap miskin. Wisatawan membludak, namun meninggalkan jejak lingkungan yang rusak.[T]

Tags: desa wisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

Next Post

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co