25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi salah satu alternatif berwisata. Sayangnya, tidak semua desa wisata bertahan lama, banyak yang hidup segan mati tak mau.

Desa wisata yang berhasil memang mampu menopang perekonomian desa. Sebut saja Desa Wisata Ponggok, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, Desa Wisata Ponggok mampu meraup pendapatan sekitar 14 miliar rupiah per tahun. Begitu pula Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. sepanjang tahun 2023, desa wisata ini mampu menghasilkan 20 miliar rupiah hanya dari tiket masuk saja (desawisata.co.id, 13/5/2023).

Selebihnya, banyak cerita pilu dari desa wisata. Pendapatan asli daerah (PAD) dari desa wisata tak sampai 500 juta rupiah per tahun. Viral di awal, lalu mati di kemudian hari. Beberapa penyakit kronis sering diidap desa wisata hingga berujung kematian.

Keinginan untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya menjadi salah satu penyakit kronis pengelola desa wisata. Akibatnya, desa wisata melakukan bunuh diri ekologi. Saat libur panjang banyak pengunjung ke desa wisata. Jalan macet, sampah menumpuk, dan toilet mampet. Pendapatan meningkat, tetapi udara kotor dan air keruh.

Penyakit yang kerap diderita desa wisata adalah masyarakatnya yang hanya menjadi penonton. Homestay, resto, jeep dikuasai investor dari luar desa. Warga lokal hanya jadi tukang parkir dan penjual cilok. Desa wisata go international, tetapi warga desanya masih banyak yang miskin. Kafe-kafe estetik milik investor, warga asli jualan jagung bakar.

Konflik lahan pada pengelolaan desa wisata juga dapat mengakibatkan penyakit kronis yang menghancurkan desa itu sendiri. Tanah produktif dijual untuk dibuat vila dan kafe. Dalihnya demi pariwisata. Sawah terasering jadi resort. Petani terpaksa jadi office boy di hotel. Ribuan hektare sawah hilang demi pariwisata, dan ketahanan pangan tinggal cerita.

Sumber daya manusia (SDM) di desa wisata masih banyak yang memprihatinkan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) diisi oleh orang-orang tua yang kurang melek digital. Padahal wisatawan generasi Z maunya mencari informasi tentang desa wisata di TikTok, membayar tiket masuk pakai QRIS, dan ingin respons cepat dari admin IG desa wisata. Kementrian Pariwisata (Kemenpar) memang telah melatih puluhan ribu SDM desa wisata; namun hanya sedikit yang bena-benar aktif secara digital.

Homogenisasi desa wisata menjadi salah satu penyakit kronis. Melihat satu desa wisata di tempat lain viral karena memiliki wahana, desa wisata lain copy paste membuat wahana sejenis. Terjadilah desa wisata yang homogen. Hal ini membuat wisatawan menjadi bosan mengunjungi desa wisata. Semestinya setiap desa wisata memiliki keunikan ( unique value).

Viral Lalu Mati

Tidak sedikit desa wisata di Indonesia yang viral ketika netizen demam TikTok. Namun gejala itu hanya berlangsung sebentar. Tiga bulan viral dan ramai, enam bulan kemudian sepi, dan tahun berikutnya sepi seperti kampung hantu, lantas mati tak ada pengunjung.

Dampak desa yang mati setelah viral tentu cukup serius. Okupansi homestay menurun, seiring menurunnya jumlah wisatawan. Pendapatan asli desa juga melorot. Padahal dana desa sudah digunakan untuk membuat spot swafoto, ayunan, dan cat warna-warni di desa wisata. Terjadi kesalahan sistemik dalam pengelolaan desa wisata.

Terdapat konflik konsepsional dalam pengembangan beberapa desa wisata. Pembangunan desa wisata yang berkelanjutkan bertarung dengan konsep viralitas desa wisata lewat TikTok dan Instagram. Media menjadi pemenang, sementara desa wisata jadi pecundang. Setelah viral banyak desa wisata yang rusak dan ditinggal pengunjungnya.

Pola kematian desa wisata hampir sama di banyak tempat. Bulan pertama hingga ketiga banyak mengundang pengunjung yang FOMO. Ribuan wisatawan datang ke desa wisata, uang mengalir ke desa, dan warga euforia. Bulan keempat dan keenam  fasilitas rusak karena overload. Sampah menumpuk. Parkir kacau dan review jelek mulai muncul. Bulan ketujuh hingga kedua belas algoritma TikTok pindah ke desa lain. Turis turun drastis. Perawatan mandek karena anggaran habis. Tahun kedua desa wisata menjadi “bekas tempat viral”.

Akar masalah kematian desa wisata bermula dari kesalahan metrik, semua selalu diukur secara kuantitatif pada performa digital. Kepala desa dan dinas pariwisata di daerah bangga bila desa wisatanya viral dengan 10 juta penonton di TikTok dan IG. Padahal semestinya metrik desa wisata itu adalah length of stay, repeat visitor, dan belanja wisatawan.

 Banyak pula desa wisata yang miskin cerita. Wisatawan Gen Z yang berkunjung ke Dieng, misalnya, bukan hanya untuk berfoto. Mereka ingin mendengar cerita dari petani carica dan kentang. Wisatawan ingin mendapatkan pengalaman. Dan pengalaman itu berupa cerita tentang semua yang ada di desa wisata. Tak sedikit desa wisata yang viral tak mampu menjual pengalaman, sekadar menjual pemandangan.

Solusi

Bangga dengan jutaan pemirsa di media sosial bukanlah keberhasilan desa wisata, bila setelah viral lantas gulung tikar. Metrik desa wisata harus diubah. Indeks kinerja utama desa wisata juga harus diubah. Bukan berapa banyak jumlah pengunjung, tetapi berapa lama pengunjung tinggal di desa wisata.

Cerita sukses desa wisata mestinya bukan berapa banyak jumlah wisatawan, tetapi cerita tentang wisatawan yang menginap dua hari satu malam di desa. Cerita tentang lebih dari 70% persen wisatawan yang datang berbelanja ke warung-warung yang dimiliki warga. Dan cerita sukses tentang wisatawan yang tahun berikutnya datang lagi ke desa wisata itu.

Desa wisata akan mati bila hanya menjual ayunan, tembok warna-warni, dan spot foto. Harus dibangun pengalaman berwisata ke desa bagi pengunjung. Misalnya, wisatawan ikut menanam padi di sawah, membuat gula jawa di sentra industri kecil, atau belajar membuat batik. Ada pengalaman dan keterampilan yang dapat dibawa pulang.

Membangun narasi berupa story telling perlu dilakukan desa wisata agar dapat bertahan hidup. Mengapa sebuah curug dikeramatkan oleh masyarakat? Siapa “Mbah” atau “Eyang” yang dihormati dan disakralkan di suatu desa? Cerita semacam itu lebih membuat wisatawan terkoneksi dengan alam dan budaya, ketimbang dengan ayunan atau spot foto.

Anggaran yang dimiliki desa bukan hanya untuk pembangunan sarana fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM dan perawatan desa wisata. Jalan dan toilet memang penting; tapi lebih penting menjaga dan merawat agar jalan tidak cepat rusak dan toilet tetap bersih. Pelatihan bagi Pokdarwis terkait narasi sosial budaya dan pengelolaan media sosial bagi generasi muda desa dapat menggunakan anggaran desa.

Wajib bagi desa wisata untuk menggali “DNA” yang dimilikinya agar tidak duplikasi dengan desa wisata lain.  Apa yang hanya terdapat di satu desa wisata; apakah curug, danau, bangunan bersejarah, kesenian tradisional, ataukah kulinernya? Idealnya satu desa wisata memang memiliki satu ikon wisata.

Mengatasi bunuh diri ekologis, perlu dibuat Peraturan Desa (Perdes) yang melindungi desa dari serbuan investor nakal. Jangan sampai tanah desa dibeli investor, namun warga justru jadi kuli di desanya sendiri. Perlu diatur agar pemilik usaha di desa wisata harus ber-KTP desa itu. Investor boleh masuk, tapi menjadi partner, bukan pemilik. Sawah produktif tidak boleh berubah menjadi vila. Zona lindung tidak boleh dijadikan area glamping.

Saatnya desa wisata berhenti mengejar FYP dengan membangun komunitas yang mendukung tumbuh suburnya desa wisata. Yang membunuh desa wisata bukanlah wisatawan, tetapi cara mengelolanya. Pendapatan asli daerah naik, namun ketimpangan masih tampak. Desa wisata jalan, tapi masyarakat tetap miskin. Wisatawan membludak, namun meninggalkan jejak lingkungan yang rusak.[T]

Tags: desa wisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

Next Post

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co