19 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Agung Bawantara by Agung Bawantara
March 17, 2026
in Ulas Rupa
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud,

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang semakin terasa di wilayah Ubud–Tampaksiring dalam perkembangan ogoh-ogoh Bali beberapa tahun terakhir. Di kawasan ini, ogoh-ogoh tampak berkembang dengan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kecenderungan yang muncul di Denpasar dan mulai merambah ke Badung.

Jika Denpasar dalam satu dekade terakhir dikenal sebagai ruang eksperimen ogoh-ogoh berbasis teknologi mekanik dan spektakel visual dengan sistem hidrolik, gerakan otomatis, efek cahaya, hingga mekanisme transformasi figur, maka wilayah Ubud–Tampaksiring justru memperlihatkan kecenderungan lain. Di sini, perhatian lebih banyak diarahkan pada bahasa patung itu sendiri: anatomi, tekstur, komposisi, detail kriya, dan kekuatan imajinasi visual.

Teknologi tidak sepenuhnya absen, tetapi ia bukan pusat gagasan. Yang menjadi pusat adalah kekuatan bentuk. “Tugu Mayang” adalah salah satu karya yang secara sangat jelas menunjukkan arah ini.

Sosok dari Dunia Maya

Ketika pertama kali berhadapan dengan karya ini, kesan yang muncul bukanlah sekadar figur bhuta yang agresif sebagaimana lazimnya ogoh-ogoh. Yang terlihat justru sebuah struktur tubuh manusia yang saling bertumpuk dan menopang, membentuk komposisi yang hampir menyerupai monumen hidup.

Figur utama berada dalam posisi membungkuk dengan lutut menekuk tajam, seperti sedang menahan beban besar. Otot-otot paha menegang, betis mengeras, dan punggung melengkung kuat. Di tangannya ia menggenggam kepala figur lain yang lebih kecil. Figur kedua ini kembali menopang figur ketiga yang bertumpuk di atasnya.

Tubuh-tubuh ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling menekan, saling menahan, dan saling menopang, membentuk komposisi yang sangat dinamis sekaligus penuh ketegangan.

Yang paling menarik adalah pusat komposisi yang berada pada pertemuan kepala-kepala figur. Wajah figur besar menunduk dengan mulut terbuka memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi. Kulit wajahnya penuh keriput dengan lipatan yang dalam. Mata setengah tertutup seolah melihat dunia yang kabur. Di tangannya ia memegang kepala figur kecil yang juga memperlihatkan ekspresi penderitaan.

Rantai ekspresi ini menciptakan semacam aliran emosi bertingkat, dari wajah kecil yang tercekik hingga wajah besar yang tampak seperti menelan penderitaan itu sendiri.

Wajah-wajah ini bukan hanya menyeramkan. Mereka tampak lelah, tua, dan hampir putus asa. Ini memberi kesan bahwa figur-figur tersebut bukan sekadar makhluk buas, melainkan makhluk yang memikul beban eksistensi.

Anatomi sebagai Bahasa Emosi

Jika diperhatikan dengan teliti, anatomi tubuh patung ini menunjukkan pemahaman yang sangat baik tentang tubuh manusia. Otot-otot paha terlihat jelas, terutama tonjolan vastus medialis di dekat lutut. Tendon pada lutut tampak tertarik kuat, sementara otot betis membentuk tonjolan yang tegang.

Namun anatomi ini tidak digunakan untuk menciptakan realisme netral. Sebaliknya, ia dimanfaatkan untuk mengekspresikan tekanan dan ketegangan. Tubuh-tubuh itu terasa seperti struktur arsitektur hidup. Tulang dan otot menjadi elemen yang menopang keseluruhan komposisi.

Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme dalam seni patung, di mana tubuh manusia sering digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan kondisi batin.

Lapisan warna pada kulit figur dibuat dengan teknik yang sangat cermat. Warna dasar kehijauan dilapisi nuansa abu-abu tanah dan semburat kuning pucat. Bayangan halus memberi kesan kedalaman pada permukaan kulit.

Teknik ini menghasilkan efek yang mengingatkan pada patina perunggu tua, meskipun bahan utamanya bukan logam. Kulit tampak hidup, dengan detail pori, keriput, dan lipatan yang sangat nyata. Detail pada gigi dan mulut bahkan mendekati kualitas patung hiperrealistik. Gigi tidak disusun simetris, enamel tampak kusam, gusi sedikit memerah, dan lidah terlihat lembap. Semua ini memberi kesan bahwa patung tersebut hampir memiliki tubuh biologis.

Salah satu figur memiliki rambut panjang yang dibuat dari bahan alami. Serat-serat rambut ini kasar dan menggantung hingga hampir menyentuh bagian bawah komposisi.

Rambut ini tidak hanya memperkaya tekstur visual, tetapi juga menciptakan kontras kuat dengan permukaan kulit yang halus.
Selain itu, garis vertikal rambut juga berfungsi sebagai elemen komposisi yang menyeimbangkan struktur tubuh yang sangat dinamis di bagian atas.

Detail lain yang sangat menarik adalah penggunaan uang kepeng yang dironce pada berbagai bagian tubuh. Kepeng terlihat di pinggang, pergelangan tangan, lengan atas, pergelangan kaki, juga di bagian kepala. Dalam budaya Bali, kepeng bukan hanya alat tukar tradisional. Ia juga memiliki makna simbolik dalam berbagai upacara keagamaan. Dengan menempatkan kepeng di seluruh tubuh figur, pembuatnya seolah menciptakan tubuh kosmis yang dilingkari energi ritual. Figur ini menjadi semacam makhluk yang berada di antara dunia manusia dan dunia spiritual.

Cincin logam terlihat pada beberapa jari tangan, bahkan pada jari kaki. Penempatan ini terasa tidak lazim, tetapi justru memberikan karakter unik pada figur tersebut. Ia tampak seperti makhluk purba yang sekaligus memiliki sentuhan gaya kontemporer. Sabuk logam di bagian pinggang bahkan memiliki ornamen kepala kuda di bagian belakang, yang menambah kesan eksentrik sekaligus simbolik.

Pedestal Realistis

Jika figur-figur di atasnya terasa surealis, pedestal yang menopangnya justru sangat realistis. Ia dibuat menyerupai struktur batu padas tua yang dipenuhi: ukiran, patung buthakala, lumut, dan rumput liar. Gambaran ini sangat akrab di Bali, karena banyak tugu atau patung penjaga di catus patha memang tampak seperti ini. Pedestal tersebut terasa seperti potongan nyata dari ruang Bali. Masyarakat Bali menyebutnya bataran.

Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini tampak jelas. Pedestal atau bataran-nya sangat realistis, seolah-olah benar-benar berasal dari ruang fisik Bali. Tetapi figur-figur yang berdiri di atasnya begitu surealis dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata.

Karya ini seperti mempertemukan dua lapisan realitas sekaligus: sekala (dunia nyata yang dapat dilihat dan disentuh) dan niskala (dunia tak kasat mata yang dipercaya hadir dalam kosmologi Bali)

Dengan cara ini, penonton seperti diajak membayangkan bahwa di perempatan jalan yang kita lewati setiap hari, sebenarnya terdapat makhluk-makhluk maya yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Para Maestro Bali Hadir Kembali

Secara estetika, karya ini mengingatkan pada beberapa garis penting dalam sejarah patung Bali. Salah satunya adalah karya Ida Bagus Tilem dari Desa Mas, yang dikenal dengan patung-patung ekspresifnya yang menggambarkan wajah manusia penuh emosi. Tilem sering menampilkan figur dengan ekspresi penderitaan yang kuat dan bentuk tubuh yang terdistorsi.

“Tugu Mayang” terasa memiliki kedekatan dengan semangat ekspresionisme Tilem, terutama dalam penggambaran wajah yang penuh tekanan batin.

Di sisi lain, komposisi tubuh yang berpilin dan saling menekan mengingatkan pada karya Ida Bagus Nyana, yang sering menghadirkan gerak spiral dalam patungnya. Sementara tekstur yang liar dan organik mengingatkan pada tradisi patung Tjokot, yang terkenal dengan bentuk-bentuk makhluk yang tampak seolah lahir langsung dari kayu.

“Tugu Mayang” menunjukkan bahwa ogoh-ogoh kini bukan hanya medium ritual atau festival, tetapi juga ruang eksperimen seni patung.

Di tangan generasi pematung muda Bali, ogoh-ogoh menjadi laboratorium tempat berbagai gagasan estetika bertemu: tradisi kriya, ekspresionisme, simbolisme kosmologis, dan bahkan pengaruh seni patung dunia. Karya ini memperlihatkan bagaimana bahasa patung Bali terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

“Tugu Mayang” memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang sebagai medium seni rupa yang serius. Di tengah kecenderungan spektakel teknologi yang berkembang di beberapa daerah, karya ini menunjukkan bahwa kekuatan patung itu sendiri –melalui detail, imajinasi, dan simbol– tetap mampu menciptakan pengalaman estetika yang mendalam. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat Masogoh-ogohUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Next Post

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails
Next Post
Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh  dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Suara Klunting Menjelang Takbir
Esai

Suara Klunting Menjelang Takbir

SUARA pesan WhatsApp siang itu membuat sumringah wajah temanku Katno. Aku melihatnya saat kami berlima ngobrol santai di kantin sambil...

by L Margi
March 19, 2026
Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia
Esai

Nyepi: Menubuhkan Ruang, Mengheningkan Dunia

PAGI ini, Bali tidak bangun. Tidak ada suara motor, tidak ada langkah tergesa, tidak ada percakapan yang saling bertubrukan di...

by I Wayan Sujana Suklu
March 19, 2026
14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman
Budaya

14 Ogoh-Ogoh, Menghidupkan Bencingah Kembali, Menyemarakkan Ruang Budaya di Kesiman

SEBANYAK 14 Sekaa Teruna Teruni (STT) se-Kesiman, Denpasar, mengikuti Parade Fragmentari Ogoh-ogoh pada malam pengerupukan Nyepi, Rabu (18/3/2026) malam. Selain...

by Nyoman Budarsana
March 18, 2026
Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026
Esai

Arsitektur Kekosongan dalam Tradisi Nusantara   —Catatan Sunyi Nyepi 2026

NUSANTARA bukan sekadar titik koordinat di peta dunia; ia adalah titik temu antara yang terlihat (Sakala) dan yang tak terlihat...

by I Ketut Sumarta
March 18, 2026
Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja
Panggung

Ketika Seorang Guru Menjaga Nyala Literasi Anak  —Dari Lomba Bertutur HUT Kota Singaraja

Seorang gadis dengan busana kemeja putih, destar bermotif batik, dan rok merah tampil dengan percaya diri di atas panggung beralas...

by Radha Dwi Pradnyani
March 18, 2026
Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi
Esai

Guru Sejati, Upaya Menyelami Diri untuk Introspeksi, Evaluasi, dan Harmonisasi

PERNAHKAH terlintas di pikiran kita spontan satu pertanyaan, “Apa tujuan hidup ini?”. Atau memikirkan, “Siapa saya ini?”. Atau pertanyaan-pertanyaan lain...

by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026
Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan
Bahasa

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Nyepi merupakan nomina (kata benda) yang bermakna hari suci umat Hindu untuk memperingati...

by I Made Sudiana
March 18, 2026
Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia
Esai

Mudik sebagai Ritual Antropologis Bangsa Indonesia

SETIAP menjelang Idul Fitri, jutaan orang Indonesia bergerak hampir bersamaan. Jalan tol penuh, terminal padat, pelabuhan sesak, dan bandara dipadati...

by Angga Wijaya
March 18, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Satu Bumi, Satu Keluarga: Kontemplasi Nyepi di Tengah Riuh Dunia dan Semangat Saka Bhoga Sevanam

MOMENTUM Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 hadir dalam lanskap global yang tidak...

by I Made Pria Dharsana
March 18, 2026
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”
Esai

Pesan ‘Buda Wage Kelawu’: Gunakanlah Kekayaan untuk Keharmonisan, Bukan Perpecahan Apalagi Peperangan

 HARI suci yang bertemu dalam satu hari memang tidak jarang terjadi dalam perhitungan waktu atau dewasa di Bali. Nyepi bersamaan...

by IK Satria
March 18, 2026
Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar
Panggung

Konsep Keseimbangan dalam Bhuta Wiru, Ogoh-Ogoh Banjar Wanayu, Gianyar

Tubuh abu-abu besar, kalung benang menjuntai-juntai, rambut jabrik, dan juluran lidah perlambang ekspresi yang mengerikan tergambar dari ogoh-ogoh Bhuta Wiru,...

by Wahyu Mahaputra
March 17, 2026
Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh  dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng
Panggung

Pasukan Taruna Menjelma Jadi Pasukan Penabuh dalam Lomba Baleganjur Ngarap SMA/SMK Se-Buleleng HUT ke-3 Pro Yowana Buleleng

MENDENGAR kata taruna, seakan terbayang seseorang yang tegap, tinggi, gagah, dan disiplin. Namun bagaimana jika kita membayangkan taruna memainkan instrumen...

by Agus Suardiana Putra
March 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co