8 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sugianto Membongkar Bali

Wayan Esa Bhaskara by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
in Ulas Buku
Sugianto Membongkar Bali

Buku kumpulan cerpen Aib

  • Judul Buku    : Aib
  • Penulis          : I Made Sugianto
  • Penerbit        : Pustaka Ekspresi
  • Cetakan         : Pertama, Januari 2026
  • Tebal              : 103 halaman
  • ISBN               : 978-634-7225-55-9

I Made Sugianto membuka kumpulan cerpen Aib dengan cerpen berjudul sama dengan judul bukunya. Cerpen pertama yang konon ditulis dua puluh enam tahun lalu merupakan cerpen pertamanya yang menggunakan Bahasa Indonesia. Secara strategi penceritaan memang layaknya cerpen pertama. Untuk sebelas cerpen berikutnya, barulah terlihat kematangan bercerita. Meski bisa dikatakan, Aib merupakan cerpen yang paling buruk bagi saya. Akan tetapi, bagi saya cerpen inilah yang menjadi pijakan penting bagi seluruh isi buku kumpulan ini. Sugianto membongkar Bali, serta memaparkan ‘aib’ Bali melalui 12 cerpen yang ada di dalamnya.

Saya katakan aib sebab mengangkat bagian-bagian Bali yang mungkin saja bagi sebagian orang sengaja disembunyikan untuk menjaga ‘wajah’ Bali. Menulis cerpen-cerpen demikian tentu ada riset sebelumnya. Bahkan, isu yang diangkat masih begitu relevan hingga hari ini. Pembaca sudah ‘diteror’ sejak cerpen pertama, Aib (hal 1). Kita diajak mendengarkan kisah Devi, tokoh utama yang depresi lalu gantung diri. Setelah tidak kuat menanggung segala ‘dosa’ yang disematkan kepadanya. Ia dituntut untuk aborsi janin yang ada di perutnya oleh ayahnya sendiri. Oleh ayahnya, yang memiliki karakter keras, menganggap anaknya telah melanggar agama dan norma. Pandangan aborsi dari tokoh ayah, tentu atas dasar norma dan moral yang digunakan bukan kemanusiaan. Topik depresi atau kesehatan mental sudah ada dan masih terjadi di Bali. ‘Devi membongkar lemari. Selendang warna putih digenggamnya. Pintu kamar dikunci rapat. Sehelai selendang dililitkan. Matanya memejam.’

Pada cerpen-cerpen berikutnya, Sugianto kembali menyajikan kisah-kisah pilu nan lucu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari orang Bali. Cerpen ‘Balian Sakti’ (hal 6) dan ‘Kajeng Kliwon’ (hal 36) menceritakan perihal fenomena pengobatan tradisional yang masih diyakini serta keberadaan dukun versi Bali yang masih eksis hingga hari ini. Memang, fakta masih adanya balian di tengah begitu majunya peralatan medis menunjukkan bahwa kearifan lokal di Bali masih terjaga. Melalui tokoh balian pada dua cerpen tesebut suasana dan plot terbentuk. Ending yang humorin sekaligus kritis pada cerpen ‘Balian Sakti’ menjadi daya tarik tersendiri. ‘Made kau lihat di pintu masuk kantor itu, di sanalah letak kekuatan itu. Ia seakan mengejek kita’

 Hanya saja cerpen-cerpen di kumpulan ini minim dialog, maupun interaksi dalam suatu peristiwa. Pernak-pernik kehidupan masyarkaat Bali disajikan dengan gamblang. Kita diajak seperti mendengarkan orang tua sedang bercerita. Cerita menjadi pelan namun bagi sebagian pembaca akan menemukan kenikmatan tersendiri.

Ada pula berdebatan tentang tradisi pada cerpen ‘Krematorium’ (hal 45) dan ‘Ngaben Sederhana’ (hal 51). Cerpen ini menggambarkan pro dan kontra masyarakat tentang melaksanakan upacara Yadnya. Debat yang tidak akan ada ujung pangkalnya sebab masih adanya dua pemikiran yang berseberangan; konservatif dan adaptif. Topik yang diambil, meski bukan jadi yang pertama dengan tema serupa diolah dengan baik oleh Sugianto. Cerpen ini ditutup dengan kalimat tokoh Ibu yang bernas. ‘Jika tidak dapat restu dari Siwa, kita pamit dan cari Siwa yang lain.’ Kalimat yang membuat semua tokoh terkejut, dan saya sebagai pembaca seperti mendapat sebuah jalan keluar dari benang kusut pelaksanaan ngaben selama ini. Bali seharusnya memang tidak disajikan hanya dalam bingkai ‘yang baik-baik’ saja. Cerpenis Made Sugianto berani ‘membongkar Bali’ dalam buku terbarunya, sekaligus buku kumpulan cerpen berbahasa Indonesia pertamanya ini.

Pada cerpen ‘Biarkan Saya Tetap Tinggal di Rumah’ (hal 12) cukup menohok sebab menyajikan fenomena tradisi yang kuat diakhiri dengan ending tak terduga. Dalam perihal ending, Sugianto memang juaranya. Cerpen ini menghadirkan fenomena menikah nyentana dan budaya patriarki yang kuat pada masyarakat Bali. Tokoh Luh Putu (Aku), memutuskan untuk menikah dengan cara nyentana meskipun telah memiliki kakak laki-laki sebagai pewaris, sebagaimana tradisi dan kebiasaan masyarakat Bali. Selain itu, isu yang menarik lain pada cerpen ini adalah pasangan yang berbeda budaya dan latar belakang. Sebagaimana cerita-cerita lain yang bermotif sama, cerpen-cerpen pada Aib tidak terjebak pada wilayah normatif-konvensional.

Dalam pengantar di buku ini, Sugianto berharap agar buku kumpulan cerpen Aib bermanfaat, selain memperluas wawasan, Memang benar adanya, bagi saya cerpen-cerpen ini akan menjadi arsip bagi masyarakat. Ciri khas Sugianto pada cerpen di kumpulan ini tetap dipertahankan yaitu muncul sisi humor serta tetap berdaya kritis. Untungnya juga, ia tidak terjebak pada penceritaan monoton. Misalnya menumpuk narasi atau bahkan menambahkan koda di sana-sini.

Membaca Aib, seperti diajak mendengar narator yang serba tahu. Sebab dominasi dilakukan narator baik dalam memperkenalkan karakter tokoh serta membangun suasana. Meski begitu, tetap ada kenikmatan sendiri dengan format penceritaan seperti ini. Hal ini karena, cerita bukan hanya apa (isi, substansi) yang terjadi, melainkan bagaimana (strategi, mekanisme dia diceritakan). Meskipun dalam beberapa cerpen, terasa sangat panjang ditambah akhir cerita yang menggantung. Beruntung pada cerpen ‘Guru Abdi’ (hal 28), ‘Made Jadi Hakim’ (hal 58), ‘Salah Tangkap’ (hal 67), dan ‘Tumbal Politik’ (hal 80) tidak kehilangan daya kritisnya.

Cerpen ‘Guru Abdi’ adalah fenomena kusut pendidikan yang bahkan hingga detik inipun belum terselesaikan. Cerpen ini diakhiri dengan kalimat dari tokoh Kepala Sekolah. ‘’Jika Kadek tetap mengajar di sini, bapak kena mutasi!’ begitu kira-kira. Hal yang diambil kepala sekolah setelah mendapatkan intimidasi/intervensi dari pimpinan. Melalui bahasa yang lugas, suasana dan adegan di dalamnya tetap hidup. Sugianto cukup berhasil membuat cerpen-cerpen ini menarik untuk dibaca. Selain itu, aib yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini sangat layak kemudian menjadi arsip. Bahwa kehidupan masyarakat Bali pernah seperti ini dan masih seperti ini. [T]

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukubuku cerpenCerpenMade SugiantoPustaka EkspresiSastra Indonesiasastra indonesia di Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Wayan Esa Bhaskara

Wayan Esa Bhaskara

Menulis esai, puisi, dan cerpen disela-sela pekerjaannya sebagai guru

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sugianto Membongkar Bali
Ulas Buku

Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’
Panggung

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

KETIKA kulkul dipukul, Kasanga Festival 2026 pun resmi dibuka di jantung Kota Denpasar. Hari itu, Jumat, 6 Maret 2026, tepat...

by Dede Putra Wiguna
March 8, 2026
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai....

by Aksara Caramellia
March 8, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

ZARIFIUM Langit hari itu mengandung muatan emosiYang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langitHingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa...

by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut
Budaya

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Anak-anak itu datang dengan wajah ceria. Busananya sopan, terlihat nyaman dan segar. Jika diajak bicara mereka sangat ramah, dan cepat...

by Nyoman Budarsana
March 7, 2026
Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat
Opini

Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat

PERSOALAN TPA Suwung kini bukan lagi sekadar urusan tumpukan residu atau aroma tak sedap yang menusuk hidung. Ketika pemerintah pusat...

by I Gede Joni Suhartawan
March 7, 2026
Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional
Pop

Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan gambar berkualitas semakin meningkat, baik untuk media sosial, bisnis online, maupun kebutuhan pribadi. Banyak...

by tatkala
March 7, 2026
Gerabah dan Manusia yang Berubah
Ulas Rupa

Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat
Panggung

PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

BAGAIMANA jika sebuah panggung pentas untuk atraksi baleganjur ngarap terjadi langsung di tengah-tengah masyarakat, bukan di atas panggung dalam sebuah...

by Agus Suardiana Putra
March 7, 2026
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik
Pop

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan konten visual semakin meningkat. Banyak orang membuat video untuk media sosial, presentasi, promosi bisnis,...

by tatkala
March 7, 2026
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang
Esai

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang...

by Agung Sudarsa
March 7, 2026
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem
Panggung

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang...

by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co