25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
March 8, 2026
in Cerpen
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai. Orang-orang menyebut masa kuliahku “masa penuh bara.” Aku adalah orator lapangan, penulis tajam di buletin kampus, dan pengibar spanduk paling keras saat menolak revisi undang-undang yang menurut kami mencederai rakyat.

Kami menggelar demo tiap pekan. Teriakan kami memecah jalan protokol, memblokade kampus, dan kadang kami tidur di depan gedung DPRD seperti tunawisma. Tapi kami percaya itu semua untuk perubahan. Untuk rakyat. Kami percaya, jika sistem bobrok, maka harus diguncang. Kami tidak tahu bahwa guncangan itu akan menghancurkan kami lebih dulu.

Tahun 2014, aku dan lima rekanku ditangkap karena memimpin unjuk rasa besar di kantor gubernur. Seorang aparat terkena lemparan batu. Aku tak tahu siapa pelakunya, tapi aku oratornya. Dan itu cukup. Kami diadili seperti teroris. Di TV, wajah kami diburamkan, tapi nama kami disebut. Aku kehilangan beasiswa, reputasi, bahkan orangtuaku sendiri sempat berkata, “Kamu bukan anak kami kalau tetap jalan seperti ini.”

Sejak itu, satu demi satu kami mundur. Raka menikah muda dan jadi sales alat berat. Iman pindah agama dan jadi pendeta di Kalimantan. Sari perempuan paling berani yang pernah kutahu buka jasa katering dan tak pernah mau menyebut kata “demo” lagi. Dan aku? Aku mencoba bertahan. Tapi sistem itu terlalu canggih untuk dihancurkan. Ia seperti gurita. Dipotong satu tangan, tumbuh tiga.

Aku kehabisan uang, koneksi, bahkan semangat. Tak ada yang bisa kuteriakkan ketika orang-orang tak lagi mendengar. Suaraku kalah oleh algoritma, oleh influencer, oleh pendapat umum yang direkayasa. Aku pindah ke kota kecil. Menyamar jadi manusia biasa. Ngajar les privat, bantu koperasi kampung, hidup secukupnya. Tak lagi bicara ideologi. Tak lagi percaya pada pidato.

Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Seorang lelaki muda, dengan hoodie lusuh dan wajah lelah.

“Bang Galang?” tanyanya. Aku mengangguk.

Dia duduk. Mengeluarkan selebaran. “Kami butuh abang. Aksi besok. Tentang tambang ilegal di kampung kami.” Aku menatapnya lama. Masih ada mereka rupanya. Yang muda, yang marah, yang belum tahu dunia ini bisa membunuhmu tanpa darah.

“Kau yakin ingin masuk ke lubang yang sama?” Dia mengangguk mantap. Aku menghela napas. “Oke. Tapi satu kali ini saja.”

Aku ikut. Hanya sebagai pengamat. Mereka membentangkan spanduk. Aku berdiri di belakang, tidak bicara apa-apa. Tapi kamera wartawan langsung menyorotku.

“Galang Prasetya. Eks aktivis garis keras. Kembali turun ke jalan.” Itu cukup untuk membuat hidupku kembali berantakan.

Besoknya, intel datang. Mereka tak menyentuhku, hanya bertanya, “Mau main lagi, Galang?”

Tiga hari kemudian, aku dipecat dari tempat ngajar. Koperasi menolak bantuanku. Tetangga mulai berbisik saat aku lewat. Dan si anak muda yang mengajakku? Hilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Aku tahu ini permainan lama. Aku paham sistem ini tak suka jika ada yang mengusik. Aku mencoba tetap tenang. Tapi malam-malamku mulai dipenuhi bisikan. Apa gunanya hidup begini terus?

Sampai akhirnya aku putuskan menulis semua ini. Bukan untuk dibaca publik. Tapi untuk anak-anak muda yang mungkin akan datang mencariku lagi. Aku menulis di buku tulis tebal: Tentang demo pertama kami yang dibubarkan dengan gas air mata. Tentang teman kami yang hilang dan ditemukan tergantung di kamar kos. Tentang bagaimana lembaga-lembaga tempat kami percaya ternyata hanya punya dua wajah: satu untuk rakyat, satu untuk penguasa. Aku menulis semuanya. Tanpa emosi. Hanya catatan bersih. Fakta. Lalu, aku kirimkan buku itu ke alamat redaksi majalah alternatif yang dulu pernah memuat tulisanku. Tanpa nama pengirim.

Beberapa bulan kemudian, mereka menerbitkan liputan eksklusif: “Kami Pernah Percaya: Kesaksian Galang Prasetya.” Dan di sanalah, semuanya berubah.

Tiga hari setelah tulisan itu viral, aku kembali ditangkap. Kali ini, dengan pasal yang baru: penyebaran informasi yang meresahkan. Ironis, karena informasi itu memang benar. Tapi kebenaran, sejak dulu, adalah barang yang paling mengganggu. Di ruang interogasi, seorang pejabat muda yang kukenal sebagai mantan aktivis juga dulu seangkatan denganku duduk dan menatapku.

“Galang… kenapa masih begini?” tanyanya. Aku tertawa pahit.

“Dan kau? Kenapa sudah tidak?” Ia diam.

Lalu berkata, “Sistem ini tidak bisa dikalahkan dari luar.”

“Jadi kau masuk ke dalam?” Ia mengangguk. Aku menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kau jadi apa?”

“Bagian dari yang bisa mengontrol kerusakan.”

“Bukan menghentikannya?” Ia tidak menjawab.

Dua minggu setelah itu, aku dibebaskan. Tanpa syarat. Tanpa berita. Tapi semua kontakku diblokir. Aku tak bisa mengakses email. Rekeningku dibekukan. Bahkan KTP-ku ditolak saat ingin beli tiket kereta.

Satu kalimat diketik oleh teman lamaku lewat pesan anonim: “Secara administratif, kau sudah tidak ada.” Itulah akhir yang tidak kutebak. Bukan dipenjara. Bukan dibunuh. Tapi dihapus. Sistem tidak membunuhku secara fisik. Ia hanya mencabut hakku untuk menjadi warga. Aku menjadi sosok tanpa nama. Tanpa data. Tanpa jejak. Dan begitulah akhirnya. Aku masih hidup. Tapi tidak ada. Dan mungkin, ini justru lebih buruk dari mati. Sekarang aku tinggal di ruang kecil milik gereja tua, bantu bersih-bersih, tukar kerja dengan makan. Orang tak kenal aku. Dan itu baik.

Tiap malam, aku duduk menyalin tulisanku ke kertas-kertas kecil, menyelipkannya ke dalam buku-buku bekas yang kudonasikan diam-diam ke taman bacaan. Aku tahu suatu saat, seseorang akan membacanya.

Dan mungkin ia akan tahu: Bahwa kami pernah percaya. Bahwa kami pernah berjuang. Bahwa yang kami lawan bukan hanya pemerintah tapi sistem yang tidak ingin rakyat terlalu waras. Dan bahwa aku, Galang, masih hidup. Tapi sudah tidak ada. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Next Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka 'Kasanga Festival 2026'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co