8 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
March 8, 2026
in Cerpen
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai. Orang-orang menyebut masa kuliahku “masa penuh bara.” Aku adalah orator lapangan, penulis tajam di buletin kampus, dan pengibar spanduk paling keras saat menolak revisi undang-undang yang menurut kami mencederai rakyat.

Kami menggelar demo tiap pekan. Teriakan kami memecah jalan protokol, memblokade kampus, dan kadang kami tidur di depan gedung DPRD seperti tunawisma. Tapi kami percaya itu semua untuk perubahan. Untuk rakyat. Kami percaya, jika sistem bobrok, maka harus diguncang. Kami tidak tahu bahwa guncangan itu akan menghancurkan kami lebih dulu.

Tahun 2014, aku dan lima rekanku ditangkap karena memimpin unjuk rasa besar di kantor gubernur. Seorang aparat terkena lemparan batu. Aku tak tahu siapa pelakunya, tapi aku oratornya. Dan itu cukup. Kami diadili seperti teroris. Di TV, wajah kami diburamkan, tapi nama kami disebut. Aku kehilangan beasiswa, reputasi, bahkan orangtuaku sendiri sempat berkata, “Kamu bukan anak kami kalau tetap jalan seperti ini.”

Sejak itu, satu demi satu kami mundur. Raka menikah muda dan jadi sales alat berat. Iman pindah agama dan jadi pendeta di Kalimantan. Sari perempuan paling berani yang pernah kutahu buka jasa katering dan tak pernah mau menyebut kata “demo” lagi. Dan aku? Aku mencoba bertahan. Tapi sistem itu terlalu canggih untuk dihancurkan. Ia seperti gurita. Dipotong satu tangan, tumbuh tiga.

Aku kehabisan uang, koneksi, bahkan semangat. Tak ada yang bisa kuteriakkan ketika orang-orang tak lagi mendengar. Suaraku kalah oleh algoritma, oleh influencer, oleh pendapat umum yang direkayasa. Aku pindah ke kota kecil. Menyamar jadi manusia biasa. Ngajar les privat, bantu koperasi kampung, hidup secukupnya. Tak lagi bicara ideologi. Tak lagi percaya pada pidato.

Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Seorang lelaki muda, dengan hoodie lusuh dan wajah lelah.

“Bang Galang?” tanyanya. Aku mengangguk.

Dia duduk. Mengeluarkan selebaran. “Kami butuh abang. Aksi besok. Tentang tambang ilegal di kampung kami.” Aku menatapnya lama. Masih ada mereka rupanya. Yang muda, yang marah, yang belum tahu dunia ini bisa membunuhmu tanpa darah.

“Kau yakin ingin masuk ke lubang yang sama?” Dia mengangguk mantap. Aku menghela napas. “Oke. Tapi satu kali ini saja.”

Aku ikut. Hanya sebagai pengamat. Mereka membentangkan spanduk. Aku berdiri di belakang, tidak bicara apa-apa. Tapi kamera wartawan langsung menyorotku.

“Galang Prasetya. Eks aktivis garis keras. Kembali turun ke jalan.” Itu cukup untuk membuat hidupku kembali berantakan.

Besoknya, intel datang. Mereka tak menyentuhku, hanya bertanya, “Mau main lagi, Galang?”

Tiga hari kemudian, aku dipecat dari tempat ngajar. Koperasi menolak bantuanku. Tetangga mulai berbisik saat aku lewat. Dan si anak muda yang mengajakku? Hilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Aku tahu ini permainan lama. Aku paham sistem ini tak suka jika ada yang mengusik. Aku mencoba tetap tenang. Tapi malam-malamku mulai dipenuhi bisikan. Apa gunanya hidup begini terus?

Sampai akhirnya aku putuskan menulis semua ini. Bukan untuk dibaca publik. Tapi untuk anak-anak muda yang mungkin akan datang mencariku lagi. Aku menulis di buku tulis tebal: Tentang demo pertama kami yang dibubarkan dengan gas air mata. Tentang teman kami yang hilang dan ditemukan tergantung di kamar kos. Tentang bagaimana lembaga-lembaga tempat kami percaya ternyata hanya punya dua wajah: satu untuk rakyat, satu untuk penguasa. Aku menulis semuanya. Tanpa emosi. Hanya catatan bersih. Fakta. Lalu, aku kirimkan buku itu ke alamat redaksi majalah alternatif yang dulu pernah memuat tulisanku. Tanpa nama pengirim.

Beberapa bulan kemudian, mereka menerbitkan liputan eksklusif: “Kami Pernah Percaya: Kesaksian Galang Prasetya.” Dan di sanalah, semuanya berubah.

Tiga hari setelah tulisan itu viral, aku kembali ditangkap. Kali ini, dengan pasal yang baru: penyebaran informasi yang meresahkan. Ironis, karena informasi itu memang benar. Tapi kebenaran, sejak dulu, adalah barang yang paling mengganggu. Di ruang interogasi, seorang pejabat muda yang kukenal sebagai mantan aktivis juga dulu seangkatan denganku duduk dan menatapku.

“Galang… kenapa masih begini?” tanyanya. Aku tertawa pahit.

“Dan kau? Kenapa sudah tidak?” Ia diam.

Lalu berkata, “Sistem ini tidak bisa dikalahkan dari luar.”

“Jadi kau masuk ke dalam?” Ia mengangguk. Aku menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kau jadi apa?”

“Bagian dari yang bisa mengontrol kerusakan.”

“Bukan menghentikannya?” Ia tidak menjawab.

Dua minggu setelah itu, aku dibebaskan. Tanpa syarat. Tanpa berita. Tapi semua kontakku diblokir. Aku tak bisa mengakses email. Rekeningku dibekukan. Bahkan KTP-ku ditolak saat ingin beli tiket kereta.

Satu kalimat diketik oleh teman lamaku lewat pesan anonim: “Secara administratif, kau sudah tidak ada.” Itulah akhir yang tidak kutebak. Bukan dipenjara. Bukan dibunuh. Tapi dihapus. Sistem tidak membunuhku secara fisik. Ia hanya mencabut hakku untuk menjadi warga. Aku menjadi sosok tanpa nama. Tanpa data. Tanpa jejak. Dan begitulah akhirnya. Aku masih hidup. Tapi tidak ada. Dan mungkin, ini justru lebih buruk dari mati. Sekarang aku tinggal di ruang kecil milik gereja tua, bantu bersih-bersih, tukar kerja dengan makan. Orang tak kenal aku. Dan itu baik.

Tiap malam, aku duduk menyalin tulisanku ke kertas-kertas kecil, menyelipkannya ke dalam buku-buku bekas yang kudonasikan diam-diam ke taman bacaan. Aku tahu suatu saat, seseorang akan membacanya.

Dan mungkin ia akan tahu: Bahwa kami pernah percaya. Bahwa kami pernah berjuang. Bahwa yang kami lawan bukan hanya pemerintah tapi sistem yang tidak ingin rakyat terlalu waras. Dan bahwa aku, Galang, masih hidup. Tapi sudah tidak ada. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Next Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka 'Kasanga Festival 2026'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sugianto Membongkar Bali
Ulas Buku

Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’
Panggung

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

KETIKA kulkul dipukul, Kasanga Festival 2026 pun resmi dibuka di jantung Kota Denpasar. Hari itu, Jumat, 6 Maret 2026, tepat...

by Dede Putra Wiguna
March 8, 2026
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia
Cerpen

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai....

by Aksara Caramellia
March 8, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

ZARIFIUM Langit hari itu mengandung muatan emosiYang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langitHingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa...

by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut
Budaya

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Anak-anak itu datang dengan wajah ceria. Busananya sopan, terlihat nyaman dan segar. Jika diajak bicara mereka sangat ramah, dan cepat...

by Nyoman Budarsana
March 7, 2026
Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat
Opini

Kedaulatan di Pesisir TPA Suwung: Menolak ‘Kuda Troya’ Hukum Pusat

PERSOALAN TPA Suwung kini bukan lagi sekadar urusan tumpukan residu atau aroma tak sedap yang menusuk hidung. Ketika pemerintah pusat...

by I Gede Joni Suhartawan
March 7, 2026
Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional
Pop

Edit Foto dan Ubah Background Foto: Panduan Lengkap Membuat Gambar Lebih Profesional

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan gambar berkualitas semakin meningkat, baik untuk media sosial, bisnis online, maupun kebutuhan pribadi. Banyak...

by tatkala
March 7, 2026
Gerabah dan Manusia yang Berubah
Ulas Rupa

Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat
Panggung

PENITI Generation  ‘Mebaleganjuran Ngarap’,  Dari Panggung Lomba ke Panggung Nyata di Tengah Masyarakat

BAGAIMANA jika sebuah panggung pentas untuk atraksi baleganjur ngarap terjadi langsung di tengah-tengah masyarakat, bukan di atas panggung dalam sebuah...

by Agus Suardiana Putra
March 7, 2026
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik
Pop

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan konten visual semakin meningkat. Banyak orang membuat video untuk media sosial, presentasi, promosi bisnis,...

by tatkala
March 7, 2026
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang
Esai

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang...

by Agung Sudarsa
March 7, 2026
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem
Panggung

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang...

by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co