25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
March 8, 2026
in Cerpen
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai. Orang-orang menyebut masa kuliahku “masa penuh bara.” Aku adalah orator lapangan, penulis tajam di buletin kampus, dan pengibar spanduk paling keras saat menolak revisi undang-undang yang menurut kami mencederai rakyat.

Kami menggelar demo tiap pekan. Teriakan kami memecah jalan protokol, memblokade kampus, dan kadang kami tidur di depan gedung DPRD seperti tunawisma. Tapi kami percaya itu semua untuk perubahan. Untuk rakyat. Kami percaya, jika sistem bobrok, maka harus diguncang. Kami tidak tahu bahwa guncangan itu akan menghancurkan kami lebih dulu.

Tahun 2014, aku dan lima rekanku ditangkap karena memimpin unjuk rasa besar di kantor gubernur. Seorang aparat terkena lemparan batu. Aku tak tahu siapa pelakunya, tapi aku oratornya. Dan itu cukup. Kami diadili seperti teroris. Di TV, wajah kami diburamkan, tapi nama kami disebut. Aku kehilangan beasiswa, reputasi, bahkan orangtuaku sendiri sempat berkata, “Kamu bukan anak kami kalau tetap jalan seperti ini.”

Sejak itu, satu demi satu kami mundur. Raka menikah muda dan jadi sales alat berat. Iman pindah agama dan jadi pendeta di Kalimantan. Sari perempuan paling berani yang pernah kutahu buka jasa katering dan tak pernah mau menyebut kata “demo” lagi. Dan aku? Aku mencoba bertahan. Tapi sistem itu terlalu canggih untuk dihancurkan. Ia seperti gurita. Dipotong satu tangan, tumbuh tiga.

Aku kehabisan uang, koneksi, bahkan semangat. Tak ada yang bisa kuteriakkan ketika orang-orang tak lagi mendengar. Suaraku kalah oleh algoritma, oleh influencer, oleh pendapat umum yang direkayasa. Aku pindah ke kota kecil. Menyamar jadi manusia biasa. Ngajar les privat, bantu koperasi kampung, hidup secukupnya. Tak lagi bicara ideologi. Tak lagi percaya pada pidato.

Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Seorang lelaki muda, dengan hoodie lusuh dan wajah lelah.

“Bang Galang?” tanyanya. Aku mengangguk.

Dia duduk. Mengeluarkan selebaran. “Kami butuh abang. Aksi besok. Tentang tambang ilegal di kampung kami.” Aku menatapnya lama. Masih ada mereka rupanya. Yang muda, yang marah, yang belum tahu dunia ini bisa membunuhmu tanpa darah.

“Kau yakin ingin masuk ke lubang yang sama?” Dia mengangguk mantap. Aku menghela napas. “Oke. Tapi satu kali ini saja.”

Aku ikut. Hanya sebagai pengamat. Mereka membentangkan spanduk. Aku berdiri di belakang, tidak bicara apa-apa. Tapi kamera wartawan langsung menyorotku.

“Galang Prasetya. Eks aktivis garis keras. Kembali turun ke jalan.” Itu cukup untuk membuat hidupku kembali berantakan.

Besoknya, intel datang. Mereka tak menyentuhku, hanya bertanya, “Mau main lagi, Galang?”

Tiga hari kemudian, aku dipecat dari tempat ngajar. Koperasi menolak bantuanku. Tetangga mulai berbisik saat aku lewat. Dan si anak muda yang mengajakku? Hilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Aku tahu ini permainan lama. Aku paham sistem ini tak suka jika ada yang mengusik. Aku mencoba tetap tenang. Tapi malam-malamku mulai dipenuhi bisikan. Apa gunanya hidup begini terus?

Sampai akhirnya aku putuskan menulis semua ini. Bukan untuk dibaca publik. Tapi untuk anak-anak muda yang mungkin akan datang mencariku lagi. Aku menulis di buku tulis tebal: Tentang demo pertama kami yang dibubarkan dengan gas air mata. Tentang teman kami yang hilang dan ditemukan tergantung di kamar kos. Tentang bagaimana lembaga-lembaga tempat kami percaya ternyata hanya punya dua wajah: satu untuk rakyat, satu untuk penguasa. Aku menulis semuanya. Tanpa emosi. Hanya catatan bersih. Fakta. Lalu, aku kirimkan buku itu ke alamat redaksi majalah alternatif yang dulu pernah memuat tulisanku. Tanpa nama pengirim.

Beberapa bulan kemudian, mereka menerbitkan liputan eksklusif: “Kami Pernah Percaya: Kesaksian Galang Prasetya.” Dan di sanalah, semuanya berubah.

Tiga hari setelah tulisan itu viral, aku kembali ditangkap. Kali ini, dengan pasal yang baru: penyebaran informasi yang meresahkan. Ironis, karena informasi itu memang benar. Tapi kebenaran, sejak dulu, adalah barang yang paling mengganggu. Di ruang interogasi, seorang pejabat muda yang kukenal sebagai mantan aktivis juga dulu seangkatan denganku duduk dan menatapku.

“Galang… kenapa masih begini?” tanyanya. Aku tertawa pahit.

“Dan kau? Kenapa sudah tidak?” Ia diam.

Lalu berkata, “Sistem ini tidak bisa dikalahkan dari luar.”

“Jadi kau masuk ke dalam?” Ia mengangguk. Aku menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kau jadi apa?”

“Bagian dari yang bisa mengontrol kerusakan.”

“Bukan menghentikannya?” Ia tidak menjawab.

Dua minggu setelah itu, aku dibebaskan. Tanpa syarat. Tanpa berita. Tapi semua kontakku diblokir. Aku tak bisa mengakses email. Rekeningku dibekukan. Bahkan KTP-ku ditolak saat ingin beli tiket kereta.

Satu kalimat diketik oleh teman lamaku lewat pesan anonim: “Secara administratif, kau sudah tidak ada.” Itulah akhir yang tidak kutebak. Bukan dipenjara. Bukan dibunuh. Tapi dihapus. Sistem tidak membunuhku secara fisik. Ia hanya mencabut hakku untuk menjadi warga. Aku menjadi sosok tanpa nama. Tanpa data. Tanpa jejak. Dan begitulah akhirnya. Aku masih hidup. Tapi tidak ada. Dan mungkin, ini justru lebih buruk dari mati. Sekarang aku tinggal di ruang kecil milik gereja tua, bantu bersih-bersih, tukar kerja dengan makan. Orang tak kenal aku. Dan itu baik.

Tiap malam, aku duduk menyalin tulisanku ke kertas-kertas kecil, menyelipkannya ke dalam buku-buku bekas yang kudonasikan diam-diam ke taman bacaan. Aku tahu suatu saat, seseorang akan membacanya.

Dan mungkin ia akan tahu: Bahwa kami pernah percaya. Bahwa kami pernah berjuang. Bahwa yang kami lawan bukan hanya pemerintah tapi sistem yang tidak ingin rakyat terlalu waras. Dan bahwa aku, Galang, masih hidup. Tapi sudah tidak ada. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Next Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka 'Kasanga Festival 2026'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co