4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
March 8, 2026
in Cerpen
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai. Orang-orang menyebut masa kuliahku “masa penuh bara.” Aku adalah orator lapangan, penulis tajam di buletin kampus, dan pengibar spanduk paling keras saat menolak revisi undang-undang yang menurut kami mencederai rakyat.

Kami menggelar demo tiap pekan. Teriakan kami memecah jalan protokol, memblokade kampus, dan kadang kami tidur di depan gedung DPRD seperti tunawisma. Tapi kami percaya itu semua untuk perubahan. Untuk rakyat. Kami percaya, jika sistem bobrok, maka harus diguncang. Kami tidak tahu bahwa guncangan itu akan menghancurkan kami lebih dulu.

Tahun 2014, aku dan lima rekanku ditangkap karena memimpin unjuk rasa besar di kantor gubernur. Seorang aparat terkena lemparan batu. Aku tak tahu siapa pelakunya, tapi aku oratornya. Dan itu cukup. Kami diadili seperti teroris. Di TV, wajah kami diburamkan, tapi nama kami disebut. Aku kehilangan beasiswa, reputasi, bahkan orangtuaku sendiri sempat berkata, “Kamu bukan anak kami kalau tetap jalan seperti ini.”

Sejak itu, satu demi satu kami mundur. Raka menikah muda dan jadi sales alat berat. Iman pindah agama dan jadi pendeta di Kalimantan. Sari perempuan paling berani yang pernah kutahu buka jasa katering dan tak pernah mau menyebut kata “demo” lagi. Dan aku? Aku mencoba bertahan. Tapi sistem itu terlalu canggih untuk dihancurkan. Ia seperti gurita. Dipotong satu tangan, tumbuh tiga.

Aku kehabisan uang, koneksi, bahkan semangat. Tak ada yang bisa kuteriakkan ketika orang-orang tak lagi mendengar. Suaraku kalah oleh algoritma, oleh influencer, oleh pendapat umum yang direkayasa. Aku pindah ke kota kecil. Menyamar jadi manusia biasa. Ngajar les privat, bantu koperasi kampung, hidup secukupnya. Tak lagi bicara ideologi. Tak lagi percaya pada pidato.

Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku. Seorang lelaki muda, dengan hoodie lusuh dan wajah lelah.

“Bang Galang?” tanyanya. Aku mengangguk.

Dia duduk. Mengeluarkan selebaran. “Kami butuh abang. Aksi besok. Tentang tambang ilegal di kampung kami.” Aku menatapnya lama. Masih ada mereka rupanya. Yang muda, yang marah, yang belum tahu dunia ini bisa membunuhmu tanpa darah.

“Kau yakin ingin masuk ke lubang yang sama?” Dia mengangguk mantap. Aku menghela napas. “Oke. Tapi satu kali ini saja.”

Aku ikut. Hanya sebagai pengamat. Mereka membentangkan spanduk. Aku berdiri di belakang, tidak bicara apa-apa. Tapi kamera wartawan langsung menyorotku.

“Galang Prasetya. Eks aktivis garis keras. Kembali turun ke jalan.” Itu cukup untuk membuat hidupku kembali berantakan.

Besoknya, intel datang. Mereka tak menyentuhku, hanya bertanya, “Mau main lagi, Galang?”

Tiga hari kemudian, aku dipecat dari tempat ngajar. Koperasi menolak bantuanku. Tetangga mulai berbisik saat aku lewat. Dan si anak muda yang mengajakku? Hilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya kosong. Aku tahu ini permainan lama. Aku paham sistem ini tak suka jika ada yang mengusik. Aku mencoba tetap tenang. Tapi malam-malamku mulai dipenuhi bisikan. Apa gunanya hidup begini terus?

Sampai akhirnya aku putuskan menulis semua ini. Bukan untuk dibaca publik. Tapi untuk anak-anak muda yang mungkin akan datang mencariku lagi. Aku menulis di buku tulis tebal: Tentang demo pertama kami yang dibubarkan dengan gas air mata. Tentang teman kami yang hilang dan ditemukan tergantung di kamar kos. Tentang bagaimana lembaga-lembaga tempat kami percaya ternyata hanya punya dua wajah: satu untuk rakyat, satu untuk penguasa. Aku menulis semuanya. Tanpa emosi. Hanya catatan bersih. Fakta. Lalu, aku kirimkan buku itu ke alamat redaksi majalah alternatif yang dulu pernah memuat tulisanku. Tanpa nama pengirim.

Beberapa bulan kemudian, mereka menerbitkan liputan eksklusif: “Kami Pernah Percaya: Kesaksian Galang Prasetya.” Dan di sanalah, semuanya berubah.

Tiga hari setelah tulisan itu viral, aku kembali ditangkap. Kali ini, dengan pasal yang baru: penyebaran informasi yang meresahkan. Ironis, karena informasi itu memang benar. Tapi kebenaran, sejak dulu, adalah barang yang paling mengganggu. Di ruang interogasi, seorang pejabat muda yang kukenal sebagai mantan aktivis juga dulu seangkatan denganku duduk dan menatapku.

“Galang… kenapa masih begini?” tanyanya. Aku tertawa pahit.

“Dan kau? Kenapa sudah tidak?” Ia diam.

Lalu berkata, “Sistem ini tidak bisa dikalahkan dari luar.”

“Jadi kau masuk ke dalam?” Ia mengangguk. Aku menatapnya dalam-dalam. “Dan sekarang kau jadi apa?”

“Bagian dari yang bisa mengontrol kerusakan.”

“Bukan menghentikannya?” Ia tidak menjawab.

Dua minggu setelah itu, aku dibebaskan. Tanpa syarat. Tanpa berita. Tapi semua kontakku diblokir. Aku tak bisa mengakses email. Rekeningku dibekukan. Bahkan KTP-ku ditolak saat ingin beli tiket kereta.

Satu kalimat diketik oleh teman lamaku lewat pesan anonim: “Secara administratif, kau sudah tidak ada.” Itulah akhir yang tidak kutebak. Bukan dipenjara. Bukan dibunuh. Tapi dihapus. Sistem tidak membunuhku secara fisik. Ia hanya mencabut hakku untuk menjadi warga. Aku menjadi sosok tanpa nama. Tanpa data. Tanpa jejak. Dan begitulah akhirnya. Aku masih hidup. Tapi tidak ada. Dan mungkin, ini justru lebih buruk dari mati. Sekarang aku tinggal di ruang kecil milik gereja tua, bantu bersih-bersih, tukar kerja dengan makan. Orang tak kenal aku. Dan itu baik.

Tiap malam, aku duduk menyalin tulisanku ke kertas-kertas kecil, menyelipkannya ke dalam buku-buku bekas yang kudonasikan diam-diam ke taman bacaan. Aku tahu suatu saat, seseorang akan membacanya.

Dan mungkin ia akan tahu: Bahwa kami pernah percaya. Bahwa kami pernah berjuang. Bahwa yang kami lawan bukan hanya pemerintah tapi sistem yang tidak ingin rakyat terlalu waras. Dan bahwa aku, Galang, masih hidup. Tapi sudah tidak ada. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Next Post

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka ‘Kasanga Festival 2026’

Dari Senja di Kawasan Catur Muka, 16 Ogoh-Ogoh Terbaik Denpasar Buka 'Kasanga Festival 2026'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co