4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan

ZARIFIUM

Langit hari itu mengandung muatan emosi
Yang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langit
Hingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa larut.

Udara menjadi berat oleh kenangan yang belum pernah terjadi
Kenangan yang mencoba menjelma jadi aroma,
Tapi tersendat di leher dunia.
Ada sesuatu yang ingin jatuh, tapi tak tahu bentuknya.
Mungkin air, mungkin suara, mungkin wajah.
Tapi tak ada yang diizinkan keluar.
Karena mendung itu bukan langit.
Bukan awan.
Tapi penahanan yang belum menemukan alasannya sendiri.

Burung-burung yang biasa menari
Di sela-sela udara
Kini mengerut jadi titik bisu.
Mereka tahu langit itu sedang tidak berbahaya,
Namun juga tak bisa dipercaya.

Lalu datang angin.
Angin itu hanya lewat,
Membawa puing-puing dari tempat yang tidak sempat diberi arah.
Dan dalam desah yang terlalu pelan untuk disebut suara, terdengar:

“Aku pernah tahu bagaimana caranya melepaskan. tapi waktu itu aku masih punya nama.”

Tapi yang turun bukan hujan.
Yang turun adalah rasa yang sudah kehilangan bentuk.
Menjadi debu lembap yang tak mampu membasahi, tak mampu mengering.

Dan di saat itu, tanah pun menolak menyerap.

“Jatuhmu bukan milikku,” kata bumi dengan suara yang tidak lahir dari pusatnya.

Mendung itu terus mengandung
Sampai akhirnya menguap
Menjadi bentuk yang bahkan kabut pun malu untuk meniru.
Ia tidak pernah menangis.
Karena yang lupa,
Tak bisa diingatkan.
Dan yang menahan terlalu lama,
Akan menjadi sesuatu yang tak bisa dikenali lagi sebagai rasa.

Boyolali 26

MENCARI MAKNA

Aku tak lahir dari temu
Aku tak menuju temu
Aku tertanam dalam sulur Pikiran yang tak rindu akar

Segala bait tak kusebut sajak
Segala hukum tak kusebut landas
Kujahit teori dari benang-benang asing
yang tak pernah dianggap wajar oleh logika yang membatu

Jika nafasmu masih menunggu arah
Tutuplah lembar ini
Sebab yang kubawa bukan hikmah
Melainkan rintik keganjilan
Yang menolak dilahirkan
Teori ini lahir dari luka pikiran
Yang terlalu lama berbincang dengan ruang yang tak punya nama

Aku menyebutnya ”Surealis”
Hukum puisi berliku tanpa sudut pandang

Tiada batas makna
Tiada simpul jawaban
Tiada tempat berdiam

Yang ada hanya puing kalimat
Yang tak sudi menjelaskan dirinya sendiri

Boyolali 26

RAHIM BUMI, RAHIMKU

aku adalah tanah
yang pernah kau bajak tanpa permisi
kau gali sumurnya, kau tanami benihmu
lalu kau tinggalkan, tak pernah kau rawat
kering dan patah

aku adalah rahim
yang kau puja saat subur
dan kau kutuk saat berdarah
kau puji saat memberi
yang kau abaikan saat menanti

bumi dan aku sama-sama tahu
sakitnya dicintai hanya karena fungsi

kau tak pernah bertanya,
apa yang kami rasakan saat retak?
saat gempa merobek punggungku,
saat menstruasi memanggil langit dalam nyeri
saat akar tumbuh perlahan
dan tak kau lihat sama sekali

kami tak butuh diselamatkan
kami hanya ingin didengarkan
dipeluk tanpa rencana
dirawat tanpa ambisi

aku ingin kau tahu
bahwa dalam setiap denyutku
ada nyanyian daun
ada air susu ibu
ada nyeri yang suci
ada hidup yang memilih untuk terus mengalir

jika kau mau mencium bumi perlahan
maka ciumlah juga bekas luka di tubuhku
sebab kami satu
kami saudara
kami rumah
Boyolali 26

DAGU

Ada yang duduk di atas tulang rahang tapi bukan wajahnya
Ia tidak pernah bernafas tapi selalu kehabisan udara
Ketika selatan diri retak bukan retaknya yang terdengar
Tapi napas nenek moyang yang tak sempat dilahirkan
Di situ dagu tak tumbuh
Ia menunggu perintah dari poros yang tidak punya pusat
Hanya gerak tanpa arah dan arah tanpa gerak

Waktu itu tubuh menyangka Ia rumah
Tapi kunci pintunya adalah suara yang tak bisa dieja
Mereka menyebutnya kebesaran
Padahal yang mereka lihat hanya bayang-bayang
Tidak ada pantulan
Hanya gema yang tidak tahu siapa yang bersuara
Dagu itu seandainya tumbuh hanya akan menjadi jembatan bagi perahu yang tak percaya pada air

Dan ketika sorot mata menatap ke dalam tengkorak
Ia tidak melihat otak
tapi sawah yang ditanam dengan ego orang lain
Maka tumbuhlah Ilalang yang bisu tapi tajam menyayat perasaan yang bukan miliknya
Menyakiti luka yang Tak pernah dialami
itulah sebabnya dagu itu memilih tidak tumbuh
sebab jika Ia tumbuh, Maka seluruh selatan akan bergeser
dan kita semua akan terbangun di utara yang tidak kita kenal
Boyolali 26

AKU ADA ATAU TIADA

Aku berjalan di antara batas-batas yang tak terlihat, sebuah garis halus yang membelah kenyataan dan ilusi. Langkahku ringan, tapi jejaknya tak pernah tertinggal. Seakan keberadaan ku hanyalah bayangan, diterpa angin lalu hilang tanpa pernah benar-benar ada.

Aku bertanya—pada langit yang tak menjawab, pada tanah yang tak bergeming, pada malam yang selalu diam. Mungkinkah aku hanyalah gema dari suara yang telah lama padam Ataukah aku adalah riak kecil di lautan, yang datang hanya untuk menghilang?

Dalam tidurku, aku melihat dunia yang tak dikenal, dimana waktu tidak berputar, dan nama-nama tidak pernah diberikan. Aku ada di sana, tapi aku bukan aku. Aku mendengar bisikan yang berasal dari kesunyian, suara-suara yang menuturkan kisah tanpa kata.

Seseorang menyentuh dadaku—dingin, tapi lembut seperti embun yang jatuh tanpa suara. Dia berkata, “Lupakan dunia yang kau genggam. Kau tak perlu dikenali untuk tetap ada. Kau tak perlu diingat untuk tetap berarti.”

Aku tersenyum, atau mungkin tidak.
Aku hidup, atau mungkin mati.
Aku tak tahu, dan aku pun tak peduli.

Karena aku adalah angin yang berbisik di antara celah pintu, aku adalah hujan yang jatuh tanpa pernah ditunggu, aku adalah kisah yang tak pernah ditulis, tapi tetap ada dalam benak mereka yang tak ingin melupakan.
Boyolali 26

MENCINTAIMU

Aku mencintaimu
Seperti doa manis yang khusyu kau mohonkan dalam sunyi
Ketika dia terpejam dalam lelap
Dan kau sedang melukis wajahnya dalam bingkai cemas

Aku mencintaimu
Tanpa pernah bercermin tentang rasa sayang yang telah kau habiskan hanya untuk satu nama
Sementara aku rinai gerimis yang tak pernah kau sentuh sedikitpun

Aku mencintaimu
Lewat kata tak pernah kuucap ataupun tertulis
Hanya sekedar keheningan caraku memanggil Tuhan
Untuk selalu menjagamu

Aku mencintaimu
Tanpa harus selalu menunggu hatimu terketuk
Cukup menikmati adamu dalam bumi yang sama tempat kita berpijak

Aku mencintaimu
Sampai nafas ini memutus rasa
Dan aku berpulang membawa secuil rasa yang selalu kujaga tanpa dusta

Nanti bila rasa ini jatuh pada hatimu
Itulah hidayah yang lambat kau pahami dari adaku

Boyolali 26

KLISE

Aku menulis pengakuan
Ketika matahari belum bangun
Dan daun-daun belum mandi
Sepucuk puisi yang kutulis seperti angin yang gemetar
Hingga cangkir menumpahkan ampas kopi di wajahku

Isinya hampir sama dengan semut yang berbisik di telingamu
Tentang selembar daun yang pernah jatuh
Ingin kembali bergandengan dengan ranting

Ditiap paragraf angka-angka adalah remah cahaya yang kupungut dari patahan wajah bulan
Bukan pantulan dari surealisme yang sedang berkaca
Atau dari ketukan hujan di atas balkon rumahmu
Bukan pula mata angin yang diam-diam mengintip dari jendela kamar mandimu

Bila kau membacanya hanya serupa buih sabun sisamu beronani
Biarkan aksaraku mencari klimaks nya sendiri

Boyolali 26

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Next Post

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Silvia Maharani Ikhsan

Silvia Maharani Ikhsan

Lahir di Yogyakarta pada 4 September 1992. Penulis dan penyair yang menempatkan kata-kata sebagai cermin perasaan, sejarah, dan pengalaman hidup. Kini menetap di Karang gede, Boyolali, Jawa Tengah, Silvia aktif menulis puisi dan esai yang meresapi keseharian sekaligus menyentuh dimensi emosional pembacanya. Karya-karyanya mencakup antologi puisi dan kompilasi sastra, antara lain Kompilasi Jejak-jejak Sajak (2013) dan Kompilasi Pena Kartini (2013). Pada 2025, Silvia bersama Iwan Setiawan menerbitkan Kitab Puisi Melankolia, sebuah karya yang memadukan nuansa sufistik, melankolis, dan reflektif, menegaskan kepekaannya terhadap perasaan dan spiritualitas manusia

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co