25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan by Silvia Maharani Ikhsan
March 8, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan

ZARIFIUM

Langit hari itu mengandung muatan emosi
Yang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langit
Hingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa larut.

Udara menjadi berat oleh kenangan yang belum pernah terjadi
Kenangan yang mencoba menjelma jadi aroma,
Tapi tersendat di leher dunia.
Ada sesuatu yang ingin jatuh, tapi tak tahu bentuknya.
Mungkin air, mungkin suara, mungkin wajah.
Tapi tak ada yang diizinkan keluar.
Karena mendung itu bukan langit.
Bukan awan.
Tapi penahanan yang belum menemukan alasannya sendiri.

Burung-burung yang biasa menari
Di sela-sela udara
Kini mengerut jadi titik bisu.
Mereka tahu langit itu sedang tidak berbahaya,
Namun juga tak bisa dipercaya.

Lalu datang angin.
Angin itu hanya lewat,
Membawa puing-puing dari tempat yang tidak sempat diberi arah.
Dan dalam desah yang terlalu pelan untuk disebut suara, terdengar:

“Aku pernah tahu bagaimana caranya melepaskan. tapi waktu itu aku masih punya nama.”

Tapi yang turun bukan hujan.
Yang turun adalah rasa yang sudah kehilangan bentuk.
Menjadi debu lembap yang tak mampu membasahi, tak mampu mengering.

Dan di saat itu, tanah pun menolak menyerap.

“Jatuhmu bukan milikku,” kata bumi dengan suara yang tidak lahir dari pusatnya.

Mendung itu terus mengandung
Sampai akhirnya menguap
Menjadi bentuk yang bahkan kabut pun malu untuk meniru.
Ia tidak pernah menangis.
Karena yang lupa,
Tak bisa diingatkan.
Dan yang menahan terlalu lama,
Akan menjadi sesuatu yang tak bisa dikenali lagi sebagai rasa.

Boyolali 26

MENCARI MAKNA

Aku tak lahir dari temu
Aku tak menuju temu
Aku tertanam dalam sulur Pikiran yang tak rindu akar

Segala bait tak kusebut sajak
Segala hukum tak kusebut landas
Kujahit teori dari benang-benang asing
yang tak pernah dianggap wajar oleh logika yang membatu

Jika nafasmu masih menunggu arah
Tutuplah lembar ini
Sebab yang kubawa bukan hikmah
Melainkan rintik keganjilan
Yang menolak dilahirkan
Teori ini lahir dari luka pikiran
Yang terlalu lama berbincang dengan ruang yang tak punya nama

Aku menyebutnya ”Surealis”
Hukum puisi berliku tanpa sudut pandang

Tiada batas makna
Tiada simpul jawaban
Tiada tempat berdiam

Yang ada hanya puing kalimat
Yang tak sudi menjelaskan dirinya sendiri

Boyolali 26

RAHIM BUMI, RAHIMKU

aku adalah tanah
yang pernah kau bajak tanpa permisi
kau gali sumurnya, kau tanami benihmu
lalu kau tinggalkan, tak pernah kau rawat
kering dan patah

aku adalah rahim
yang kau puja saat subur
dan kau kutuk saat berdarah
kau puji saat memberi
yang kau abaikan saat menanti

bumi dan aku sama-sama tahu
sakitnya dicintai hanya karena fungsi

kau tak pernah bertanya,
apa yang kami rasakan saat retak?
saat gempa merobek punggungku,
saat menstruasi memanggil langit dalam nyeri
saat akar tumbuh perlahan
dan tak kau lihat sama sekali

kami tak butuh diselamatkan
kami hanya ingin didengarkan
dipeluk tanpa rencana
dirawat tanpa ambisi

aku ingin kau tahu
bahwa dalam setiap denyutku
ada nyanyian daun
ada air susu ibu
ada nyeri yang suci
ada hidup yang memilih untuk terus mengalir

jika kau mau mencium bumi perlahan
maka ciumlah juga bekas luka di tubuhku
sebab kami satu
kami saudara
kami rumah
Boyolali 26

DAGU

Ada yang duduk di atas tulang rahang tapi bukan wajahnya
Ia tidak pernah bernafas tapi selalu kehabisan udara
Ketika selatan diri retak bukan retaknya yang terdengar
Tapi napas nenek moyang yang tak sempat dilahirkan
Di situ dagu tak tumbuh
Ia menunggu perintah dari poros yang tidak punya pusat
Hanya gerak tanpa arah dan arah tanpa gerak

Waktu itu tubuh menyangka Ia rumah
Tapi kunci pintunya adalah suara yang tak bisa dieja
Mereka menyebutnya kebesaran
Padahal yang mereka lihat hanya bayang-bayang
Tidak ada pantulan
Hanya gema yang tidak tahu siapa yang bersuara
Dagu itu seandainya tumbuh hanya akan menjadi jembatan bagi perahu yang tak percaya pada air

Dan ketika sorot mata menatap ke dalam tengkorak
Ia tidak melihat otak
tapi sawah yang ditanam dengan ego orang lain
Maka tumbuhlah Ilalang yang bisu tapi tajam menyayat perasaan yang bukan miliknya
Menyakiti luka yang Tak pernah dialami
itulah sebabnya dagu itu memilih tidak tumbuh
sebab jika Ia tumbuh, Maka seluruh selatan akan bergeser
dan kita semua akan terbangun di utara yang tidak kita kenal
Boyolali 26

AKU ADA ATAU TIADA

Aku berjalan di antara batas-batas yang tak terlihat, sebuah garis halus yang membelah kenyataan dan ilusi. Langkahku ringan, tapi jejaknya tak pernah tertinggal. Seakan keberadaan ku hanyalah bayangan, diterpa angin lalu hilang tanpa pernah benar-benar ada.

Aku bertanya—pada langit yang tak menjawab, pada tanah yang tak bergeming, pada malam yang selalu diam. Mungkinkah aku hanyalah gema dari suara yang telah lama padam Ataukah aku adalah riak kecil di lautan, yang datang hanya untuk menghilang?

Dalam tidurku, aku melihat dunia yang tak dikenal, dimana waktu tidak berputar, dan nama-nama tidak pernah diberikan. Aku ada di sana, tapi aku bukan aku. Aku mendengar bisikan yang berasal dari kesunyian, suara-suara yang menuturkan kisah tanpa kata.

Seseorang menyentuh dadaku—dingin, tapi lembut seperti embun yang jatuh tanpa suara. Dia berkata, “Lupakan dunia yang kau genggam. Kau tak perlu dikenali untuk tetap ada. Kau tak perlu diingat untuk tetap berarti.”

Aku tersenyum, atau mungkin tidak.
Aku hidup, atau mungkin mati.
Aku tak tahu, dan aku pun tak peduli.

Karena aku adalah angin yang berbisik di antara celah pintu, aku adalah hujan yang jatuh tanpa pernah ditunggu, aku adalah kisah yang tak pernah ditulis, tapi tetap ada dalam benak mereka yang tak ingin melupakan.
Boyolali 26

MENCINTAIMU

Aku mencintaimu
Seperti doa manis yang khusyu kau mohonkan dalam sunyi
Ketika dia terpejam dalam lelap
Dan kau sedang melukis wajahnya dalam bingkai cemas

Aku mencintaimu
Tanpa pernah bercermin tentang rasa sayang yang telah kau habiskan hanya untuk satu nama
Sementara aku rinai gerimis yang tak pernah kau sentuh sedikitpun

Aku mencintaimu
Lewat kata tak pernah kuucap ataupun tertulis
Hanya sekedar keheningan caraku memanggil Tuhan
Untuk selalu menjagamu

Aku mencintaimu
Tanpa harus selalu menunggu hatimu terketuk
Cukup menikmati adamu dalam bumi yang sama tempat kita berpijak

Aku mencintaimu
Sampai nafas ini memutus rasa
Dan aku berpulang membawa secuil rasa yang selalu kujaga tanpa dusta

Nanti bila rasa ini jatuh pada hatimu
Itulah hidayah yang lambat kau pahami dari adaku

Boyolali 26

KLISE

Aku menulis pengakuan
Ketika matahari belum bangun
Dan daun-daun belum mandi
Sepucuk puisi yang kutulis seperti angin yang gemetar
Hingga cangkir menumpahkan ampas kopi di wajahku

Isinya hampir sama dengan semut yang berbisik di telingamu
Tentang selembar daun yang pernah jatuh
Ingin kembali bergandengan dengan ranting

Ditiap paragraf angka-angka adalah remah cahaya yang kupungut dari patahan wajah bulan
Bukan pantulan dari surealisme yang sedang berkaca
Atau dari ketukan hujan di atas balkon rumahmu
Bukan pula mata angin yang diam-diam mengintip dari jendela kamar mandimu

Bila kau membacanya hanya serupa buih sabun sisamu beronani
Biarkan aksaraku mencari klimaks nya sendiri

Boyolali 26

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Ceria dalam Buka Puasa Bersama IHKA BPD Bali dan Yayasan Fastabhikul Khoirut

Next Post

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Silvia Maharani Ikhsan

Silvia Maharani Ikhsan

Lahir di Yogyakarta pada 4 September 1992. Penulis dan penyair yang menempatkan kata-kata sebagai cermin perasaan, sejarah, dan pengalaman hidup. Kini menetap di Karang gede, Boyolali, Jawa Tengah, Silvia aktif menulis puisi dan esai yang meresapi keseharian sekaligus menyentuh dimensi emosional pembacanya. Karya-karyanya mencakup antologi puisi dan kompilasi sastra, antara lain Kompilasi Jejak-jejak Sajak (2013) dan Kompilasi Pena Kartini (2013). Pada 2025, Silvia bersama Iwan Setiawan menerbitkan Kitab Puisi Melankolia, sebuah karya yang memadukan nuansa sufistik, melankolis, dan reflektif, menegaskan kepekaannya terhadap perasaan dan spiritualitas manusia

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co