7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
in Cerpen
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di balik pintu itu.

“Ini punya Kakak?” Adikku menunjukkan sebuah buku yang terlihat sudah usang.

“Ibu bilang ini punya Kakak. Ibu habis bersih-bersih gudang bawah terus nemuin buku ini. Keliatannya masih bagus Kak”

Aku hanya terdiam, bukan terkejut. Ada sesuatu yang mulai muncul di dalam hatiku yang sangat dalam. Seperti penanda waktu yang bergetar, dadaku berdegug kencang dan beberapa detik napasku tertahan.

“Iya, sini kasih aku!” Aku mengambil buku itu dari tangan adikku.

Kututup pintu, buku itu kutaruh di atas rak. Aku duduk di atas tempat tidur menghadap ke arah rak. Menatap buku itu cukup serius. Sudah lama aku tidak nampak buku itu, aku tidak pernah mencarinya karena kupikir sudah hilang sejak lama. Sudah satu tahun sejak kami tidak bersama dan aku kembali pulang ke Solo.

 Debu membuktikan bahwa aku mengabaikan dan tidak menyentuhnya, awalnya sengaja aku jauhkan dari pandangan. Aku tidak pernah berpikir akan membacanya kembali, tapi kali ini aku merasa penasaran. Tidak ada alasan khusus, hanya rasa penasaran.

Badanku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju rak buku di depanku. Buku yang berdebu tak terasa sudah berada di tanganku. Warna sampul coklat itu masih seperti dulu, ada sedikit goresan yang meyakinkanku bahwa benar itu bukunya. Reflek aku mengusap, menyentuh sampulnya memastikan itu nyata.

Namanya semakin jelas ada di benakku, seperti ada yang berbisik di kepala. Tidak nyata, alam bawah sadarku yang memanggilnya. Apakah ini yang disebut rindu? Aku sendiri tidak tahu. Aku buka halaman pertama perlahan-lahan dan dengan hati-hati, seakan-akan buku ini akan hancur lebur jika aku buka dengan sembarang. Baru aku membuka sampulnya, sudah ada tulisan tangan yang ia tulis sebelum meberikan buku ini padaku.

Cintaku, bersyukurnya aku dipertemukan dengan manusia paling manis, cantik, dan baik di muka bumi ini. Aku ucapkan selamat ulang tahun sayang, harapku agar cintamu tidak akan pernah habis untukku dan dunia selalu bersekutu akan kisah cinta kita. Buku ini aku persembahkan untukmu agar kau selalu ingat bahwa aku akan selalu ada untukmu saat di manapun semesta membawaku.

Terima kasih sudah menjadi duniaku. Aku akan selalu mencintaimu kasihku.

Bali, 28 – 09 – 2021

Kekasihmu Tercinta

Aku membaca sampai akhir tulisan tangan itu. Aku berhenti sejenak. Menarik napas. Mencerna apa yang telah aku baca. Senyumku tak kuasa muncul walau aku tidak menghendaki. Kesadaranku hilang, tersipu malu seakan aku kembali ke masa pertama kali membacanya. Manis sekali.

“Ini untukmu, sebuah buku yang akan membuatmu selalu ingat akan kehadiranku!”  Dia, aku ingat, mengarahkan sebuah bingkisan dengan bungkus berwarna merah muda. Ia tahu aku selalu suka dengan warna merah muda.

 “Buku? Bolehkah aku membukanya sekarang?” Tanpa menunggu jawabnya aku membuka bungkus bingkisan itu, terlihat sebuah buku dengan judul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’.

“Walau senja tak selalu berwarna merah muda, tapi kau selalu mengajakku untuk melihat senja, berharap akan ada warna merah muda di sela-sela oranye senja itu!” Ia tersenyum menatap wajahku.

“Seperti sekarang ini, senja tak sepenuhnya merah muda dan tidak sepenuhnya oranye!” Aku menatap langit senja yang muncul hari itu.

Perasaanku semakin tertarik oleh kenangan yang muncul di kepala. Jari-jemari sangat bersemangat untuk membuka halaman selanjutnya. Kubaca setiap kalimat secara perlahan. Setiap paragraf mengingatkanku akan kenangan-kenangan yang telah kami lalui sebelumnya. Keromantisan tokoh utama membawaku kembali bagaimana hubungan kami awalnya bermula.

Bukan pandangan pertama untuknya, tapi cintanya tumbuh semakin dalam seiring waktu berlalu. Kalau aku? Tentu, siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok lelaki sepertinya. Ia selalu menyelipkan surat manis di saku tasku.  Ia selalu bertingkah manis. Bahkan kucing dekat rumah selalu mencarinya untuk bermanja.

 Sebuah warung nasi bali menjadi tempat pertama kami bertemu, tidak mewah memang, kesederhanaan membuatnya menjadi romantis dan tak terlupakan. Sejak itu, warung nasi bali menjadi tempat favorit untuknya. Kami punya tempat duduk favorit yang hanya cukup untuk dua orang dengan kipas angin menghadap ke meja, sangat nyaman tempat itu. Sudah lama aku tidak mengunjungi warung itu, jika nanti aku ke Bali mungkin aku akan menyempatkan waktu ke sana dan duduk di tempat favorit kami.

 Lekat di ingatanku, ia selalu menyisakan sate ayam untuk dimakan paling akhir, sedangkan aku selalu menghabiskan sate ayam di awal. Perdebatan itu tidak akan pernah usai. Kami memang memiliki banyak perbedaan, tapi dengan perbedaan itu banyak hal yang bisa kami bagi.

Makin membaca buku itu, makin aku mengingat senyumnya yang manis. Senyumku juga tidak pernah pudar. Sampai saat ini aku tidak pernah menghilangkan senyumku karena aku tahu itulah yang diharapkan olehnya.

Sampai di pertengahan buku, jemariku mulai terasa dingin. Ceritanya mulai berbicara tentang perpisahan, membangkitkan kenangan akan bagaimana kami berpisah.

Perpisahan yang tidak bisa kami halangi. Ia menghilang selama beberapa hari, dan saat kabar yang kutunggu tiba, hanya kabar duka yang kudapat. Ia telah tiada, meninggalkanku di dunia yang kami harapkan bersekutu dengan kisa cinta kami. Seperti indahnya senja hanya sementara dan seperti sate yang kuhabiskan di awal, nikmatnya tidak kekal, walau kenangnya tidak pernah usai. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan menggapainya sebelum ia membumbung dan tak pernah pulang.

Tetesan air mata jatuh membasahi buku. Aku terdiam sekejap.

Tidak sadar sudah berapa lama aku terdiam di halaman yang sama dan melihat air mata habis membasahinya.

Buku itu masih terasa nyata tergenggam di tanganku sampai aku tidak sadar bahwa tulisan tangan yang ada di sana dimiliki olehnya yang sudah tiada.

Tangisku perlahan mereda dan hanya meninggalkan napas yang tidak stabil. Kuperhatikan kembali tulisan tangannya, merabanya dengan lembut, masih terasa hangat seperti terakhir aku menyentuh tangannya.

Kucoba untuk mentutup buku itu dengan perlahan seperti jika aku menutup buku itu, aku menerima kenyataan kalau ia telah tiada.

Sunyi. Hanya terdengar detak jantung.

Sayangnya waktu di bumi tidak sekekal kehidupan setelah mati. Beberapa cerita memang tidak perlu ditamatkan untuk bisa dipahami. Beberapa buku memang harus ditutup agar hidup bisa dibuka. Aku letakkan di atas rak. Lampu mati dan aku lanjutkan tidur siangku yang sempat tertunda. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Next Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik
Pop

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

PERKEMBANGAN teknologi digital membuat kebutuhan akan konten visual semakin meningkat. Banyak orang membuat video untuk media sosial, presentasi, promosi bisnis,...

by tatkala
March 7, 2026
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang
Esai

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang...

by Agung Sudarsa
March 7, 2026
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem
Panggung

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang...

by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co