24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
in Cerpen
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di balik pintu itu.

“Ini punya Kakak?” Adikku menunjukkan sebuah buku yang terlihat sudah usang.

“Ibu bilang ini punya Kakak. Ibu habis bersih-bersih gudang bawah terus nemuin buku ini. Keliatannya masih bagus Kak”

Aku hanya terdiam, bukan terkejut. Ada sesuatu yang mulai muncul di dalam hatiku yang sangat dalam. Seperti penanda waktu yang bergetar, dadaku berdegug kencang dan beberapa detik napasku tertahan.

“Iya, sini kasih aku!” Aku mengambil buku itu dari tangan adikku.

Kututup pintu, buku itu kutaruh di atas rak. Aku duduk di atas tempat tidur menghadap ke arah rak. Menatap buku itu cukup serius. Sudah lama aku tidak nampak buku itu, aku tidak pernah mencarinya karena kupikir sudah hilang sejak lama. Sudah satu tahun sejak kami tidak bersama dan aku kembali pulang ke Solo.

 Debu membuktikan bahwa aku mengabaikan dan tidak menyentuhnya, awalnya sengaja aku jauhkan dari pandangan. Aku tidak pernah berpikir akan membacanya kembali, tapi kali ini aku merasa penasaran. Tidak ada alasan khusus, hanya rasa penasaran.

Badanku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju rak buku di depanku. Buku yang berdebu tak terasa sudah berada di tanganku. Warna sampul coklat itu masih seperti dulu, ada sedikit goresan yang meyakinkanku bahwa benar itu bukunya. Reflek aku mengusap, menyentuh sampulnya memastikan itu nyata.

Namanya semakin jelas ada di benakku, seperti ada yang berbisik di kepala. Tidak nyata, alam bawah sadarku yang memanggilnya. Apakah ini yang disebut rindu? Aku sendiri tidak tahu. Aku buka halaman pertama perlahan-lahan dan dengan hati-hati, seakan-akan buku ini akan hancur lebur jika aku buka dengan sembarang. Baru aku membuka sampulnya, sudah ada tulisan tangan yang ia tulis sebelum meberikan buku ini padaku.

Cintaku, bersyukurnya aku dipertemukan dengan manusia paling manis, cantik, dan baik di muka bumi ini. Aku ucapkan selamat ulang tahun sayang, harapku agar cintamu tidak akan pernah habis untukku dan dunia selalu bersekutu akan kisah cinta kita. Buku ini aku persembahkan untukmu agar kau selalu ingat bahwa aku akan selalu ada untukmu saat di manapun semesta membawaku.

Terima kasih sudah menjadi duniaku. Aku akan selalu mencintaimu kasihku.

Bali, 28 – 09 – 2021

Kekasihmu Tercinta

Aku membaca sampai akhir tulisan tangan itu. Aku berhenti sejenak. Menarik napas. Mencerna apa yang telah aku baca. Senyumku tak kuasa muncul walau aku tidak menghendaki. Kesadaranku hilang, tersipu malu seakan aku kembali ke masa pertama kali membacanya. Manis sekali.

“Ini untukmu, sebuah buku yang akan membuatmu selalu ingat akan kehadiranku!”  Dia, aku ingat, mengarahkan sebuah bingkisan dengan bungkus berwarna merah muda. Ia tahu aku selalu suka dengan warna merah muda.

 “Buku? Bolehkah aku membukanya sekarang?” Tanpa menunggu jawabnya aku membuka bungkus bingkisan itu, terlihat sebuah buku dengan judul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’.

“Walau senja tak selalu berwarna merah muda, tapi kau selalu mengajakku untuk melihat senja, berharap akan ada warna merah muda di sela-sela oranye senja itu!” Ia tersenyum menatap wajahku.

“Seperti sekarang ini, senja tak sepenuhnya merah muda dan tidak sepenuhnya oranye!” Aku menatap langit senja yang muncul hari itu.

Perasaanku semakin tertarik oleh kenangan yang muncul di kepala. Jari-jemari sangat bersemangat untuk membuka halaman selanjutnya. Kubaca setiap kalimat secara perlahan. Setiap paragraf mengingatkanku akan kenangan-kenangan yang telah kami lalui sebelumnya. Keromantisan tokoh utama membawaku kembali bagaimana hubungan kami awalnya bermula.

Bukan pandangan pertama untuknya, tapi cintanya tumbuh semakin dalam seiring waktu berlalu. Kalau aku? Tentu, siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok lelaki sepertinya. Ia selalu menyelipkan surat manis di saku tasku.  Ia selalu bertingkah manis. Bahkan kucing dekat rumah selalu mencarinya untuk bermanja.

 Sebuah warung nasi bali menjadi tempat pertama kami bertemu, tidak mewah memang, kesederhanaan membuatnya menjadi romantis dan tak terlupakan. Sejak itu, warung nasi bali menjadi tempat favorit untuknya. Kami punya tempat duduk favorit yang hanya cukup untuk dua orang dengan kipas angin menghadap ke meja, sangat nyaman tempat itu. Sudah lama aku tidak mengunjungi warung itu, jika nanti aku ke Bali mungkin aku akan menyempatkan waktu ke sana dan duduk di tempat favorit kami.

 Lekat di ingatanku, ia selalu menyisakan sate ayam untuk dimakan paling akhir, sedangkan aku selalu menghabiskan sate ayam di awal. Perdebatan itu tidak akan pernah usai. Kami memang memiliki banyak perbedaan, tapi dengan perbedaan itu banyak hal yang bisa kami bagi.

Makin membaca buku itu, makin aku mengingat senyumnya yang manis. Senyumku juga tidak pernah pudar. Sampai saat ini aku tidak pernah menghilangkan senyumku karena aku tahu itulah yang diharapkan olehnya.

Sampai di pertengahan buku, jemariku mulai terasa dingin. Ceritanya mulai berbicara tentang perpisahan, membangkitkan kenangan akan bagaimana kami berpisah.

Perpisahan yang tidak bisa kami halangi. Ia menghilang selama beberapa hari, dan saat kabar yang kutunggu tiba, hanya kabar duka yang kudapat. Ia telah tiada, meninggalkanku di dunia yang kami harapkan bersekutu dengan kisa cinta kami. Seperti indahnya senja hanya sementara dan seperti sate yang kuhabiskan di awal, nikmatnya tidak kekal, walau kenangnya tidak pernah usai. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan menggapainya sebelum ia membumbung dan tak pernah pulang.

Tetesan air mata jatuh membasahi buku. Aku terdiam sekejap.

Tidak sadar sudah berapa lama aku terdiam di halaman yang sama dan melihat air mata habis membasahinya.

Buku itu masih terasa nyata tergenggam di tanganku sampai aku tidak sadar bahwa tulisan tangan yang ada di sana dimiliki olehnya yang sudah tiada.

Tangisku perlahan mereda dan hanya meninggalkan napas yang tidak stabil. Kuperhatikan kembali tulisan tangannya, merabanya dengan lembut, masih terasa hangat seperti terakhir aku menyentuh tangannya.

Kucoba untuk mentutup buku itu dengan perlahan seperti jika aku menutup buku itu, aku menerima kenyataan kalau ia telah tiada.

Sunyi. Hanya terdengar detak jantung.

Sayangnya waktu di bumi tidak sekekal kehidupan setelah mati. Beberapa cerita memang tidak perlu ditamatkan untuk bisa dipahami. Beberapa buku memang harus ditutup agar hidup bisa dibuka. Aku letakkan di atas rak. Lampu mati dan aku lanjutkan tidur siangku yang sempat tertunda. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Next Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co