15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
in Cerpen
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di balik pintu itu.

“Ini punya Kakak?” Adikku menunjukkan sebuah buku yang terlihat sudah usang.

“Ibu bilang ini punya Kakak. Ibu habis bersih-bersih gudang bawah terus nemuin buku ini. Keliatannya masih bagus Kak”

Aku hanya terdiam, bukan terkejut. Ada sesuatu yang mulai muncul di dalam hatiku yang sangat dalam. Seperti penanda waktu yang bergetar, dadaku berdegug kencang dan beberapa detik napasku tertahan.

“Iya, sini kasih aku!” Aku mengambil buku itu dari tangan adikku.

Kututup pintu, buku itu kutaruh di atas rak. Aku duduk di atas tempat tidur menghadap ke arah rak. Menatap buku itu cukup serius. Sudah lama aku tidak nampak buku itu, aku tidak pernah mencarinya karena kupikir sudah hilang sejak lama. Sudah satu tahun sejak kami tidak bersama dan aku kembali pulang ke Solo.

 Debu membuktikan bahwa aku mengabaikan dan tidak menyentuhnya, awalnya sengaja aku jauhkan dari pandangan. Aku tidak pernah berpikir akan membacanya kembali, tapi kali ini aku merasa penasaran. Tidak ada alasan khusus, hanya rasa penasaran.

Badanku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju rak buku di depanku. Buku yang berdebu tak terasa sudah berada di tanganku. Warna sampul coklat itu masih seperti dulu, ada sedikit goresan yang meyakinkanku bahwa benar itu bukunya. Reflek aku mengusap, menyentuh sampulnya memastikan itu nyata.

Namanya semakin jelas ada di benakku, seperti ada yang berbisik di kepala. Tidak nyata, alam bawah sadarku yang memanggilnya. Apakah ini yang disebut rindu? Aku sendiri tidak tahu. Aku buka halaman pertama perlahan-lahan dan dengan hati-hati, seakan-akan buku ini akan hancur lebur jika aku buka dengan sembarang. Baru aku membuka sampulnya, sudah ada tulisan tangan yang ia tulis sebelum meberikan buku ini padaku.

Cintaku, bersyukurnya aku dipertemukan dengan manusia paling manis, cantik, dan baik di muka bumi ini. Aku ucapkan selamat ulang tahun sayang, harapku agar cintamu tidak akan pernah habis untukku dan dunia selalu bersekutu akan kisah cinta kita. Buku ini aku persembahkan untukmu agar kau selalu ingat bahwa aku akan selalu ada untukmu saat di manapun semesta membawaku.

Terima kasih sudah menjadi duniaku. Aku akan selalu mencintaimu kasihku.

Bali, 28 – 09 – 2021

Kekasihmu Tercinta

Aku membaca sampai akhir tulisan tangan itu. Aku berhenti sejenak. Menarik napas. Mencerna apa yang telah aku baca. Senyumku tak kuasa muncul walau aku tidak menghendaki. Kesadaranku hilang, tersipu malu seakan aku kembali ke masa pertama kali membacanya. Manis sekali.

“Ini untukmu, sebuah buku yang akan membuatmu selalu ingat akan kehadiranku!”  Dia, aku ingat, mengarahkan sebuah bingkisan dengan bungkus berwarna merah muda. Ia tahu aku selalu suka dengan warna merah muda.

 “Buku? Bolehkah aku membukanya sekarang?” Tanpa menunggu jawabnya aku membuka bungkus bingkisan itu, terlihat sebuah buku dengan judul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’.

“Walau senja tak selalu berwarna merah muda, tapi kau selalu mengajakku untuk melihat senja, berharap akan ada warna merah muda di sela-sela oranye senja itu!” Ia tersenyum menatap wajahku.

“Seperti sekarang ini, senja tak sepenuhnya merah muda dan tidak sepenuhnya oranye!” Aku menatap langit senja yang muncul hari itu.

Perasaanku semakin tertarik oleh kenangan yang muncul di kepala. Jari-jemari sangat bersemangat untuk membuka halaman selanjutnya. Kubaca setiap kalimat secara perlahan. Setiap paragraf mengingatkanku akan kenangan-kenangan yang telah kami lalui sebelumnya. Keromantisan tokoh utama membawaku kembali bagaimana hubungan kami awalnya bermula.

Bukan pandangan pertama untuknya, tapi cintanya tumbuh semakin dalam seiring waktu berlalu. Kalau aku? Tentu, siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok lelaki sepertinya. Ia selalu menyelipkan surat manis di saku tasku.  Ia selalu bertingkah manis. Bahkan kucing dekat rumah selalu mencarinya untuk bermanja.

 Sebuah warung nasi bali menjadi tempat pertama kami bertemu, tidak mewah memang, kesederhanaan membuatnya menjadi romantis dan tak terlupakan. Sejak itu, warung nasi bali menjadi tempat favorit untuknya. Kami punya tempat duduk favorit yang hanya cukup untuk dua orang dengan kipas angin menghadap ke meja, sangat nyaman tempat itu. Sudah lama aku tidak mengunjungi warung itu, jika nanti aku ke Bali mungkin aku akan menyempatkan waktu ke sana dan duduk di tempat favorit kami.

 Lekat di ingatanku, ia selalu menyisakan sate ayam untuk dimakan paling akhir, sedangkan aku selalu menghabiskan sate ayam di awal. Perdebatan itu tidak akan pernah usai. Kami memang memiliki banyak perbedaan, tapi dengan perbedaan itu banyak hal yang bisa kami bagi.

Makin membaca buku itu, makin aku mengingat senyumnya yang manis. Senyumku juga tidak pernah pudar. Sampai saat ini aku tidak pernah menghilangkan senyumku karena aku tahu itulah yang diharapkan olehnya.

Sampai di pertengahan buku, jemariku mulai terasa dingin. Ceritanya mulai berbicara tentang perpisahan, membangkitkan kenangan akan bagaimana kami berpisah.

Perpisahan yang tidak bisa kami halangi. Ia menghilang selama beberapa hari, dan saat kabar yang kutunggu tiba, hanya kabar duka yang kudapat. Ia telah tiada, meninggalkanku di dunia yang kami harapkan bersekutu dengan kisa cinta kami. Seperti indahnya senja hanya sementara dan seperti sate yang kuhabiskan di awal, nikmatnya tidak kekal, walau kenangnya tidak pernah usai. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan menggapainya sebelum ia membumbung dan tak pernah pulang.

Tetesan air mata jatuh membasahi buku. Aku terdiam sekejap.

Tidak sadar sudah berapa lama aku terdiam di halaman yang sama dan melihat air mata habis membasahinya.

Buku itu masih terasa nyata tergenggam di tanganku sampai aku tidak sadar bahwa tulisan tangan yang ada di sana dimiliki olehnya yang sudah tiada.

Tangisku perlahan mereda dan hanya meninggalkan napas yang tidak stabil. Kuperhatikan kembali tulisan tangannya, merabanya dengan lembut, masih terasa hangat seperti terakhir aku menyentuh tangannya.

Kucoba untuk mentutup buku itu dengan perlahan seperti jika aku menutup buku itu, aku menerima kenyataan kalau ia telah tiada.

Sunyi. Hanya terdengar detak jantung.

Sayangnya waktu di bumi tidak sekekal kehidupan setelah mati. Beberapa cerita memang tidak perlu ditamatkan untuk bisa dipahami. Beberapa buku memang harus ditutup agar hidup bisa dibuka. Aku letakkan di atas rak. Lampu mati dan aku lanjutkan tidur siangku yang sempat tertunda. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Next Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co