25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
in Cerpen
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di balik pintu itu.

“Ini punya Kakak?” Adikku menunjukkan sebuah buku yang terlihat sudah usang.

“Ibu bilang ini punya Kakak. Ibu habis bersih-bersih gudang bawah terus nemuin buku ini. Keliatannya masih bagus Kak”

Aku hanya terdiam, bukan terkejut. Ada sesuatu yang mulai muncul di dalam hatiku yang sangat dalam. Seperti penanda waktu yang bergetar, dadaku berdegug kencang dan beberapa detik napasku tertahan.

“Iya, sini kasih aku!” Aku mengambil buku itu dari tangan adikku.

Kututup pintu, buku itu kutaruh di atas rak. Aku duduk di atas tempat tidur menghadap ke arah rak. Menatap buku itu cukup serius. Sudah lama aku tidak nampak buku itu, aku tidak pernah mencarinya karena kupikir sudah hilang sejak lama. Sudah satu tahun sejak kami tidak bersama dan aku kembali pulang ke Solo.

 Debu membuktikan bahwa aku mengabaikan dan tidak menyentuhnya, awalnya sengaja aku jauhkan dari pandangan. Aku tidak pernah berpikir akan membacanya kembali, tapi kali ini aku merasa penasaran. Tidak ada alasan khusus, hanya rasa penasaran.

Badanku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju rak buku di depanku. Buku yang berdebu tak terasa sudah berada di tanganku. Warna sampul coklat itu masih seperti dulu, ada sedikit goresan yang meyakinkanku bahwa benar itu bukunya. Reflek aku mengusap, menyentuh sampulnya memastikan itu nyata.

Namanya semakin jelas ada di benakku, seperti ada yang berbisik di kepala. Tidak nyata, alam bawah sadarku yang memanggilnya. Apakah ini yang disebut rindu? Aku sendiri tidak tahu. Aku buka halaman pertama perlahan-lahan dan dengan hati-hati, seakan-akan buku ini akan hancur lebur jika aku buka dengan sembarang. Baru aku membuka sampulnya, sudah ada tulisan tangan yang ia tulis sebelum meberikan buku ini padaku.

Cintaku, bersyukurnya aku dipertemukan dengan manusia paling manis, cantik, dan baik di muka bumi ini. Aku ucapkan selamat ulang tahun sayang, harapku agar cintamu tidak akan pernah habis untukku dan dunia selalu bersekutu akan kisah cinta kita. Buku ini aku persembahkan untukmu agar kau selalu ingat bahwa aku akan selalu ada untukmu saat di manapun semesta membawaku.

Terima kasih sudah menjadi duniaku. Aku akan selalu mencintaimu kasihku.

Bali, 28 – 09 – 2021

Kekasihmu Tercinta

Aku membaca sampai akhir tulisan tangan itu. Aku berhenti sejenak. Menarik napas. Mencerna apa yang telah aku baca. Senyumku tak kuasa muncul walau aku tidak menghendaki. Kesadaranku hilang, tersipu malu seakan aku kembali ke masa pertama kali membacanya. Manis sekali.

“Ini untukmu, sebuah buku yang akan membuatmu selalu ingat akan kehadiranku!”  Dia, aku ingat, mengarahkan sebuah bingkisan dengan bungkus berwarna merah muda. Ia tahu aku selalu suka dengan warna merah muda.

 “Buku? Bolehkah aku membukanya sekarang?” Tanpa menunggu jawabnya aku membuka bungkus bingkisan itu, terlihat sebuah buku dengan judul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’.

“Walau senja tak selalu berwarna merah muda, tapi kau selalu mengajakku untuk melihat senja, berharap akan ada warna merah muda di sela-sela oranye senja itu!” Ia tersenyum menatap wajahku.

“Seperti sekarang ini, senja tak sepenuhnya merah muda dan tidak sepenuhnya oranye!” Aku menatap langit senja yang muncul hari itu.

Perasaanku semakin tertarik oleh kenangan yang muncul di kepala. Jari-jemari sangat bersemangat untuk membuka halaman selanjutnya. Kubaca setiap kalimat secara perlahan. Setiap paragraf mengingatkanku akan kenangan-kenangan yang telah kami lalui sebelumnya. Keromantisan tokoh utama membawaku kembali bagaimana hubungan kami awalnya bermula.

Bukan pandangan pertama untuknya, tapi cintanya tumbuh semakin dalam seiring waktu berlalu. Kalau aku? Tentu, siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok lelaki sepertinya. Ia selalu menyelipkan surat manis di saku tasku.  Ia selalu bertingkah manis. Bahkan kucing dekat rumah selalu mencarinya untuk bermanja.

 Sebuah warung nasi bali menjadi tempat pertama kami bertemu, tidak mewah memang, kesederhanaan membuatnya menjadi romantis dan tak terlupakan. Sejak itu, warung nasi bali menjadi tempat favorit untuknya. Kami punya tempat duduk favorit yang hanya cukup untuk dua orang dengan kipas angin menghadap ke meja, sangat nyaman tempat itu. Sudah lama aku tidak mengunjungi warung itu, jika nanti aku ke Bali mungkin aku akan menyempatkan waktu ke sana dan duduk di tempat favorit kami.

 Lekat di ingatanku, ia selalu menyisakan sate ayam untuk dimakan paling akhir, sedangkan aku selalu menghabiskan sate ayam di awal. Perdebatan itu tidak akan pernah usai. Kami memang memiliki banyak perbedaan, tapi dengan perbedaan itu banyak hal yang bisa kami bagi.

Makin membaca buku itu, makin aku mengingat senyumnya yang manis. Senyumku juga tidak pernah pudar. Sampai saat ini aku tidak pernah menghilangkan senyumku karena aku tahu itulah yang diharapkan olehnya.

Sampai di pertengahan buku, jemariku mulai terasa dingin. Ceritanya mulai berbicara tentang perpisahan, membangkitkan kenangan akan bagaimana kami berpisah.

Perpisahan yang tidak bisa kami halangi. Ia menghilang selama beberapa hari, dan saat kabar yang kutunggu tiba, hanya kabar duka yang kudapat. Ia telah tiada, meninggalkanku di dunia yang kami harapkan bersekutu dengan kisa cinta kami. Seperti indahnya senja hanya sementara dan seperti sate yang kuhabiskan di awal, nikmatnya tidak kekal, walau kenangnya tidak pernah usai. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan menggapainya sebelum ia membumbung dan tak pernah pulang.

Tetesan air mata jatuh membasahi buku. Aku terdiam sekejap.

Tidak sadar sudah berapa lama aku terdiam di halaman yang sama dan melihat air mata habis membasahinya.

Buku itu masih terasa nyata tergenggam di tanganku sampai aku tidak sadar bahwa tulisan tangan yang ada di sana dimiliki olehnya yang sudah tiada.

Tangisku perlahan mereda dan hanya meninggalkan napas yang tidak stabil. Kuperhatikan kembali tulisan tangannya, merabanya dengan lembut, masih terasa hangat seperti terakhir aku menyentuh tangannya.

Kucoba untuk mentutup buku itu dengan perlahan seperti jika aku menutup buku itu, aku menerima kenyataan kalau ia telah tiada.

Sunyi. Hanya terdengar detak jantung.

Sayangnya waktu di bumi tidak sekekal kehidupan setelah mati. Beberapa cerita memang tidak perlu ditamatkan untuk bisa dipahami. Beberapa buku memang harus ditutup agar hidup bisa dibuka. Aku letakkan di atas rak. Lampu mati dan aku lanjutkan tidur siangku yang sempat tertunda. [T]

Penulis: Kadek Indra Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Next Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co