15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Ni Kadek Grace Vernita by Ni Kadek Grace Vernita
March 7, 2026
in Panggung
Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Bioskop India Jalan-Jalan di aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem | Foto: Grace

LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang biasanya sepi dan hening di malam hari ini, mendadak ramai dihadiri hampir 500 orang. Di sinilah, Boomba Ride akan diputar. Film India berdurasi 70 menit ini akan menemani masyarakat Karangasem hingga pukul 20.30 Wita.

Penonton yang terdiri dari komunitas teater, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum datang dengan sumringah. Malam ini terasa sangat istimewa karna sudah sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah lagi, komunitas film mengadakan kegiatan nonton bersama. Pada dekade sebelum 2000-an, layar tancap memang sering diadakan, bahkan hingga ke desa-desa. Namun, setelah TV semakin marak dan digitalisasi ferfilman semakin merebak, layar tancap sangat jarang ditemukan. Ini mungkin menjadi kesenangan tersendiri bagi ratusan penonton yang hadir.

Bioskop India Jalan-Jalan di aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem | Foto: Grace

Kegiatan menonton film ini merupakan program penguatan kebudayaan India oleh Consulat General of India, Bali bersama Teater Garaka dan Singaraja Menonton. Tajuknya adalah Bioskop India Jalan-Jalan.

Ada sesi menarik sebelum film India itu diputar, yaitu pemutaran film pendek karya siswa. Ada dua film pendek yang diputar, yaitu Terjebak karya Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura dan Sebelum Cahaya Itu Padam karya Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura. Sesudah kedua dilm ini diputar, Tarania, selaku host dalam acara ini memanggil Kardian Narayana, filmmaker dari Singaraja Menonton untuk memberikan kritik atas kedua karya tersebut.

Orisinalitas dan isu adalah hal utama yang disoroti oleh Kardian. Praktisi film yang aktivitasnya sudah menasional ini mengungkapkan, semasih menjadi siswa, tidak apa-apa karya kita jelak, kurang bagus, tetapi jujur, termasuk juga pemuatan musik. Kejujuran akan menjadi fondasi baik dalam berkarya.

Dua film pendek karya siswa

Bagi Kardian, kelemahan lainnya dari dua film itu adalah kekritisan atas isu yang menjadi dasar pembuatan film. Baginya, isu kedua film di atas: narkoba dan keluarga, belum cukup kritis. Pola alurnya pun masih template, misalnya seorang pemuda dijebak memakai narkoba lalu ditangkap polisi. Pun dalam film kedua, seorang anak yang kuliah, lalu kembali ke rumah dengan ibu yang sudah meninggal.

Tepat pukul 19.00 Wita saat perwakilan Konsul India selesai menyampaikan pidatonya, lampu sorot mulai di padamkan. Semua mata pun tertuju pada layar putih besar di depan mereka.

Boomba Ride diputar. Film diawali dengan komedi dari tokoh Boomba sehingga penonton berhasil dibuat tertawa bersama. Namun, hingga beberapa menit berukutnya, penonton mulai paham bahwa flim ini bukan komedi biasa.

Boomba Ride mengisahkan realitas pendidikan yang dijalankan di daerah pelosok. Berkisah tentang sebuah sekolah dasar di pedesaan Assam yang hanya memiliki satu-satunya murid yaitu “Boomba”. Para guru di sana terus berjuang mempertahankan sekolah agar tidak tutup. Namun, sayangnya, motifnya sesungguhnya bukan untuk pendidikan, bukan untuk melihat anak didiknya sukses di masa depan, melainkan tujuan ekonomi agar mereka tidak kehilangan uang yang diberikan pemerintah untuk mengelola sekolah itu. Boomba sendiri tahu posisinya sebagai kunci bisnis guru-gurunya. Ia pun dengan sengaja menyusahkan mereka, misalnya dengan enggan datang ke sekolah. Agar mau datang ke sekolah, guru-gurunya terus membujuknya dengan makanan, ayam kampung, bahkan uang.

Pemutaran film Boomba Ride | Foto: Grace

Meskipun bernada komedi, film ini menyoroti realitas kenyataan pahit mengenai buruknya infrastruktur sekolah di pedesaan dan pelosok terpencil. Film ini juga juga merupakan satire terkait korupsi di tingkat bawah. Memberikan gambaran bahwa permasalahan pendidikan itu sistemik, dari pemerintah paling atas, lewat kebijakan politik pendidikannya, hingga pelaksana paling bawah melalui korupsi-korupsinya. Kisah dalam film ini memang sederhana, tetapi ada peristiwa yang menyentuh hati, sekaligus menyindir, menunjukkan bagaimana pendidikan seharusnya mentransformasi kehidupan, namun justru dijadikan alat korupsi menerima uang.

Boomba Ride berakhir dipukul 20.20 Wita. Namun, aktivitas tidak berhenti. Rintik hujan memang turun di malam itu, tetapi antusiasme penonton takturun. Di Akhir flim, penonton diajak berdiskusi.

“Dari flim yang saya nonton, itu sangat memotivasi saya sendiri. Saya menyadari bagaimana ketimpangan pendidikan antara daerah perkotaan dan di pelosok pedasaan. Karenanya saya berharap besar, ketika saya astungkara berhasil menjadi seorang guru. Saya sangat berharap sekali nantinya saya akan di tempatkan di daerah pelosok-pelosok kecil. Tidak masalah mengenai jarak tetapi mengenai bagaimana saya memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak disana.” Ucap Dayu salah satu Mahasiswa STKIP Agama Hindu yang merupakan salah satu penonton setia dalam acara itu.

Penonton pada acara Bioskop India Jalan-Jalan di aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem | Foto: Grace

Di akhir penyampaiannya, Aries Pidrawan, salah satu fasilitator dalam kegiatan “Bioskop India Jalana-Jalan” mengungkapkan, dari beberapa film yang ditentukan, ia memilih Boomba Ride karena dianggap sangat selaras dengan kondisi pendidikan saat ini di Indonesia, termasuk juga di Karangasem. Yayasan Yasa Kerti sangat dekat dengan kampus pendidikan, juga dihadiri oleh siswa dan praktisi pendidikan. Jadi, menurutnya, pemutaran Boomba Ride bisa menjadi bahan refleksi bagi penguatan pendidikan di Karangasem. Boomba Ride adalah pemantik kesadaran bahwa di Karangasem sendiri, penguatan kualitas pendidikan masih perlu ditingkatkan. [T]

Penulis: Ni Kadek Grace Vernita
Editor: Adnyana Ole

Tags: film Indiafilm indiefilm pendekindiakarangasemSingaraja MenontonSMAN 1 AmlapuraSMAN 2 Amlapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Ni Kadek Grace Vernita

Ni Kadek Grace Vernita

Siswa SMA Negeri 1 Amlapura. Menekuni bidang sastra, utamanya cerpen sejak duduk di bangku SMP. Saat ini mengembangkan kemampuan sastra di Teater Garaka dan dunia penulisan jurnalistik di Tika Smansapura.

Related Posts

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails
Next Post
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co