4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 7, 2026
in Esai
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang dingin. Ia menjelma menjadi ruang hidup demokrasi Bali. Masyarakat datang bukan untuk ngopi, campur arak sambil bercanda, melainkan untuk satu tujuan yang sangat serius dan luhur: didengar.

Simakrama—demikian forum itu disebut—adalah praktik nyata dari sila keempat Pancasila: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bukan slogan. Bukan jargon. Tapi praktik. Mereka yang datang bukan saja menyampaikan aspirasi pribadi, namun juga apa yang menjadi keluhan di masyarakat.

Kalau tidak salah, acara biasanya dimulai pukul sembilan pagi. Namun setengah jam sebelumnya, masyarakat sudah berbondong-bondong datang untuk registrasi. Bukan karena takut kehabisan konsumsi, melainkan karena kesempatan bicara diberikan kepada mereka yang mendaftar lebih awal. Sebuah mekanisme sederhana, tapi adil.

Forum berlangsung sekitar tiga jam, duduk bersama dalam sebuah dialog, bukan untuk menyalahkan, tapi mencari solusi setiap masalah, dan ditutup dengan sembahyang bersama serta makan nasi janggo. Tidak mewah. Tapi hangat. Kebersamaan yang indah.

Podium Bebas Bicara dan Ujian Integritas

Di Simakrama, masyarakat boleh bicara apa saja. Tanpa sensor. Tanpa filter. Apalagi diawasi aparat berseragam maupun tidak berseragam ala intel di era Orde Lama maupun Baru. Di sinilah integritas diuji—baik oleh warga maupun oleh penguasa.

Argumen diuji dengan data. Opini dipertemukan dengan fakta. Yang asal bunyi akan terlihat dengan sendirinya. Yang berbasis pengalaman dan bukti akurat akan berdiri tegak. Tidak ada tepuk tangan bayaran. Tidak ada buzzer. Tidak ada honorarium.

Setiap Minggu pagi bahkan disediakan Podium Bebas Bicara. Masyarakat bisa menyampaikan apa saja: kritik, keluhan, bahkan kemarahan—tanpa takut dibully, apalagi mendapat kutukan ala Gandari. Ini bukan demokrasi prosedural, melainkan demokrasi yang berani mendengar.

Yang lebih penting, beberapa persoalan bahkan langsung selesai di tempat. Bukan dijanjikan. Bukan dicatat untuk “ditindaklanjuti”. Tapi diputuskan saat itu juga. Transparansi dalam arti sesungguhnya.

Bukan Kultus Kekuasaan

Perlu ditegaskan: ini bukan nostalgia buta. Ini bukan pengkultusan penguasa.

Kita tidak perlu malu mengapresiasi langkah penguasa yang memberi manfaat bagi masyarakat, namun senantiasa tetap mengkritisi kebijakan yang keliru, bahkan bila perlu mengadakan perlawanan.

Seperti pernah kami lakukan atas nama Solidaritas Advokat untuk Kebebasan Berekspresi, di mana sekitar 80 advokat bergabung tanpa bayaran untuk melakukan praperadilan atas penetapan tersangka Aridus, penulis Obrolan di Bale Banjar. Dan kami menang. Ini menunjukkan satu hal penting: tidak ada pemujaan buta terhadap kekuasaan.

Simakrama justru menjadi ruang di mana kekuasaan diuji, bukan disembah. Dihormati, ya—karena mandat rakyat. Tapi tidak kebal kritik.

Ruang Itu Kini Hilang

Hampir tujuh tahun telah berlalu. Ruang bersama itu kini hilang. Atau lebih tepatnya: dihilangkan.

Hari ini, ke mana masyarakat Bali harus mengadu?

Ke rumput yang bergoyang?
Atau ke mbakyu yang sedang bergoyang di media sosial?

Saluran aspirasi kini terasa sempit, berlapis, dan birokratis. Rapat dengar pendapat sering kali hanya formalitas. Sosialisasi kebijakan lebih banyak bersifat satu arah. Kritik mudah dilabeli nyinyir. Ketidaksetujuan dianggap mengganggu stabilitas.

Padahal, stabilitas tanpa ruang dialog adalah ketenangan semu.

Bali Terkini: Indah di Permukaan, Retak di Dasar

Bali hari ini tampak gemerlap. Pariwisata kembali menggeliat. Hotel penuh. Kafe tumbuh seperti jamur di musim hujan. Tapi di bawah permukaan, retakan itu nyata.

Kemacetan kian parah.
Alih fungsi lahan tak terkendali.
Sampah menjadi persoalan kronis.
Banjir di mana-mana.
Bunuh diri mencatat angka yang mengkhawatirkan.

Belum lagi alih kepemilikan tanah yang perlahan menggeser warga lokal menjadi penonton di tanah sendiri.

Semua ini membutuhkan ruang dialog yang jujur, terbuka, dan berani. Bukan sekadar seminar hotel. Bukan diskusi elitis. Tapi ruang bersama—seperti Simakrama dulu.

Musyawarah Bukan Masa Lalu

Ada anggapan bahwa model seperti Simakrama sudah tidak relevan. Terlalu melelahkan. Terlalu terbuka. Terlalu berisiko.

Justru di situlah nilainya.

Musyawarah bukan tradisi usang. Ia adalah roh budaya Nusantara. Di Bali, kita mengenalnya di bale banjar, di paruman desa adat, di sangkep. Simakrama hanyalah adaptasi modern dari kearifan lama.

Tanpa ruang semacam itu, kebijakan mudah terputus dari denyut masyarakat. Penguasa sibuk dengan data statistik, sementara rakyat hidup dengan realitas sehari-hari dan semakin terbebani oleh biaya hidup yang semakin tinggi.

Kerinduan yang Rasional

Kerinduan pada Simakrama bukan romantisme masa lalu. Ia adalah kerinduan yang rasional—berbasis pengalaman, bukan imajinasi.

Ruang bersama itu membuktikan bahwa mendengar rakyat tidak melemahkan kekuasaan. Justru menguatkannya. Kritik tidak menghancurkan wibawa. Justru membersihkannya.

Pertanyaannya kini sederhana, tapi mendasar:

Apakah kita masih percaya pada musyawarah?

Ataukah kita lebih nyaman dengan monolog kekuasaan?

Ataukah hanya puas dengan julukan: The Strong Leader, dengan membungkam mulut atau aspirasi masyarakat?

Jika Bali ingin tetap ajeg, bukan hanya indah di brosur pariwisata, maka ruang seperti Simakrama bukan kemewahan. Ia adalah sebuah kebutuhan.

Dan kebutuhan yang diabaikan terlalu lama, cepat atau lambat akan menuntut dirinya sendiri—seperti alam yang terabaikan dan menuntut dengan pesan banjir 10 September silam. Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan ketika suara itu tidak direspons penguasa, maka alam yang akan merespons dan mengingatkan kembali kepada kita semua dengan cara-Nya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikekuasaansimakrama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Next Post

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co