25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 7, 2026
in Esai
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang dingin. Ia menjelma menjadi ruang hidup demokrasi Bali. Masyarakat datang bukan untuk ngopi, campur arak sambil bercanda, melainkan untuk satu tujuan yang sangat serius dan luhur: didengar.

Simakrama—demikian forum itu disebut—adalah praktik nyata dari sila keempat Pancasila: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bukan slogan. Bukan jargon. Tapi praktik. Mereka yang datang bukan saja menyampaikan aspirasi pribadi, namun juga apa yang menjadi keluhan di masyarakat.

Kalau tidak salah, acara biasanya dimulai pukul sembilan pagi. Namun setengah jam sebelumnya, masyarakat sudah berbondong-bondong datang untuk registrasi. Bukan karena takut kehabisan konsumsi, melainkan karena kesempatan bicara diberikan kepada mereka yang mendaftar lebih awal. Sebuah mekanisme sederhana, tapi adil.

Forum berlangsung sekitar tiga jam, duduk bersama dalam sebuah dialog, bukan untuk menyalahkan, tapi mencari solusi setiap masalah, dan ditutup dengan sembahyang bersama serta makan nasi janggo. Tidak mewah. Tapi hangat. Kebersamaan yang indah.

Podium Bebas Bicara dan Ujian Integritas

Di Simakrama, masyarakat boleh bicara apa saja. Tanpa sensor. Tanpa filter. Apalagi diawasi aparat berseragam maupun tidak berseragam ala intel di era Orde Lama maupun Baru. Di sinilah integritas diuji—baik oleh warga maupun oleh penguasa.

Argumen diuji dengan data. Opini dipertemukan dengan fakta. Yang asal bunyi akan terlihat dengan sendirinya. Yang berbasis pengalaman dan bukti akurat akan berdiri tegak. Tidak ada tepuk tangan bayaran. Tidak ada buzzer. Tidak ada honorarium.

Setiap Minggu pagi bahkan disediakan Podium Bebas Bicara. Masyarakat bisa menyampaikan apa saja: kritik, keluhan, bahkan kemarahan—tanpa takut dibully, apalagi mendapat kutukan ala Gandari. Ini bukan demokrasi prosedural, melainkan demokrasi yang berani mendengar.

Yang lebih penting, beberapa persoalan bahkan langsung selesai di tempat. Bukan dijanjikan. Bukan dicatat untuk “ditindaklanjuti”. Tapi diputuskan saat itu juga. Transparansi dalam arti sesungguhnya.

Bukan Kultus Kekuasaan

Perlu ditegaskan: ini bukan nostalgia buta. Ini bukan pengkultusan penguasa.

Kita tidak perlu malu mengapresiasi langkah penguasa yang memberi manfaat bagi masyarakat, namun senantiasa tetap mengkritisi kebijakan yang keliru, bahkan bila perlu mengadakan perlawanan.

Seperti pernah kami lakukan atas nama Solidaritas Advokat untuk Kebebasan Berekspresi, di mana sekitar 80 advokat bergabung tanpa bayaran untuk melakukan praperadilan atas penetapan tersangka Aridus, penulis Obrolan di Bale Banjar. Dan kami menang. Ini menunjukkan satu hal penting: tidak ada pemujaan buta terhadap kekuasaan.

Simakrama justru menjadi ruang di mana kekuasaan diuji, bukan disembah. Dihormati, ya—karena mandat rakyat. Tapi tidak kebal kritik.

Ruang Itu Kini Hilang

Hampir tujuh tahun telah berlalu. Ruang bersama itu kini hilang. Atau lebih tepatnya: dihilangkan.

Hari ini, ke mana masyarakat Bali harus mengadu?

Ke rumput yang bergoyang?
Atau ke mbakyu yang sedang bergoyang di media sosial?

Saluran aspirasi kini terasa sempit, berlapis, dan birokratis. Rapat dengar pendapat sering kali hanya formalitas. Sosialisasi kebijakan lebih banyak bersifat satu arah. Kritik mudah dilabeli nyinyir. Ketidaksetujuan dianggap mengganggu stabilitas.

Padahal, stabilitas tanpa ruang dialog adalah ketenangan semu.

Bali Terkini: Indah di Permukaan, Retak di Dasar

Bali hari ini tampak gemerlap. Pariwisata kembali menggeliat. Hotel penuh. Kafe tumbuh seperti jamur di musim hujan. Tapi di bawah permukaan, retakan itu nyata.

Kemacetan kian parah.
Alih fungsi lahan tak terkendali.
Sampah menjadi persoalan kronis.
Banjir di mana-mana.
Bunuh diri mencatat angka yang mengkhawatirkan.

Belum lagi alih kepemilikan tanah yang perlahan menggeser warga lokal menjadi penonton di tanah sendiri.

Semua ini membutuhkan ruang dialog yang jujur, terbuka, dan berani. Bukan sekadar seminar hotel. Bukan diskusi elitis. Tapi ruang bersama—seperti Simakrama dulu.

Musyawarah Bukan Masa Lalu

Ada anggapan bahwa model seperti Simakrama sudah tidak relevan. Terlalu melelahkan. Terlalu terbuka. Terlalu berisiko.

Justru di situlah nilainya.

Musyawarah bukan tradisi usang. Ia adalah roh budaya Nusantara. Di Bali, kita mengenalnya di bale banjar, di paruman desa adat, di sangkep. Simakrama hanyalah adaptasi modern dari kearifan lama.

Tanpa ruang semacam itu, kebijakan mudah terputus dari denyut masyarakat. Penguasa sibuk dengan data statistik, sementara rakyat hidup dengan realitas sehari-hari dan semakin terbebani oleh biaya hidup yang semakin tinggi.

Kerinduan yang Rasional

Kerinduan pada Simakrama bukan romantisme masa lalu. Ia adalah kerinduan yang rasional—berbasis pengalaman, bukan imajinasi.

Ruang bersama itu membuktikan bahwa mendengar rakyat tidak melemahkan kekuasaan. Justru menguatkannya. Kritik tidak menghancurkan wibawa. Justru membersihkannya.

Pertanyaannya kini sederhana, tapi mendasar:

Apakah kita masih percaya pada musyawarah?

Ataukah kita lebih nyaman dengan monolog kekuasaan?

Ataukah hanya puas dengan julukan: The Strong Leader, dengan membungkam mulut atau aspirasi masyarakat?

Jika Bali ingin tetap ajeg, bukan hanya indah di brosur pariwisata, maka ruang seperti Simakrama bukan kemewahan. Ia adalah sebuah kebutuhan.

Dan kebutuhan yang diabaikan terlalu lama, cepat atau lambat akan menuntut dirinya sendiri—seperti alam yang terabaikan dan menuntut dengan pesan banjir 10 September silam. Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan ketika suara itu tidak direspons penguasa, maka alam yang akan merespons dan mengingatkan kembali kepada kita semua dengan cara-Nya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikekuasaansimakrama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Next Post

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co