14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
March 7, 2026
in Esai
Simakrama: Ruang Bersama yang Hilang

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP Sabtu pagi di akhir bulan, Wantilan DPRD Renon bukan sekadar bangunan terbuka dengan tiang-tiang kokoh dan lantai semen yang dingin. Ia menjelma menjadi ruang hidup demokrasi Bali. Masyarakat datang bukan untuk ngopi, campur arak sambil bercanda, melainkan untuk satu tujuan yang sangat serius dan luhur: didengar.

Simakrama—demikian forum itu disebut—adalah praktik nyata dari sila keempat Pancasila: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bukan slogan. Bukan jargon. Tapi praktik. Mereka yang datang bukan saja menyampaikan aspirasi pribadi, namun juga apa yang menjadi keluhan di masyarakat.

Kalau tidak salah, acara biasanya dimulai pukul sembilan pagi. Namun setengah jam sebelumnya, masyarakat sudah berbondong-bondong datang untuk registrasi. Bukan karena takut kehabisan konsumsi, melainkan karena kesempatan bicara diberikan kepada mereka yang mendaftar lebih awal. Sebuah mekanisme sederhana, tapi adil.

Forum berlangsung sekitar tiga jam, duduk bersama dalam sebuah dialog, bukan untuk menyalahkan, tapi mencari solusi setiap masalah, dan ditutup dengan sembahyang bersama serta makan nasi janggo. Tidak mewah. Tapi hangat. Kebersamaan yang indah.

Podium Bebas Bicara dan Ujian Integritas

Di Simakrama, masyarakat boleh bicara apa saja. Tanpa sensor. Tanpa filter. Apalagi diawasi aparat berseragam maupun tidak berseragam ala intel di era Orde Lama maupun Baru. Di sinilah integritas diuji—baik oleh warga maupun oleh penguasa.

Argumen diuji dengan data. Opini dipertemukan dengan fakta. Yang asal bunyi akan terlihat dengan sendirinya. Yang berbasis pengalaman dan bukti akurat akan berdiri tegak. Tidak ada tepuk tangan bayaran. Tidak ada buzzer. Tidak ada honorarium.

Setiap Minggu pagi bahkan disediakan Podium Bebas Bicara. Masyarakat bisa menyampaikan apa saja: kritik, keluhan, bahkan kemarahan—tanpa takut dibully, apalagi mendapat kutukan ala Gandari. Ini bukan demokrasi prosedural, melainkan demokrasi yang berani mendengar.

Yang lebih penting, beberapa persoalan bahkan langsung selesai di tempat. Bukan dijanjikan. Bukan dicatat untuk “ditindaklanjuti”. Tapi diputuskan saat itu juga. Transparansi dalam arti sesungguhnya.

Bukan Kultus Kekuasaan

Perlu ditegaskan: ini bukan nostalgia buta. Ini bukan pengkultusan penguasa.

Kita tidak perlu malu mengapresiasi langkah penguasa yang memberi manfaat bagi masyarakat, namun senantiasa tetap mengkritisi kebijakan yang keliru, bahkan bila perlu mengadakan perlawanan.

Seperti pernah kami lakukan atas nama Solidaritas Advokat untuk Kebebasan Berekspresi, di mana sekitar 80 advokat bergabung tanpa bayaran untuk melakukan praperadilan atas penetapan tersangka Aridus, penulis Obrolan di Bale Banjar. Dan kami menang. Ini menunjukkan satu hal penting: tidak ada pemujaan buta terhadap kekuasaan.

Simakrama justru menjadi ruang di mana kekuasaan diuji, bukan disembah. Dihormati, ya—karena mandat rakyat. Tapi tidak kebal kritik.

Ruang Itu Kini Hilang

Hampir tujuh tahun telah berlalu. Ruang bersama itu kini hilang. Atau lebih tepatnya: dihilangkan.

Hari ini, ke mana masyarakat Bali harus mengadu?

Ke rumput yang bergoyang?
Atau ke mbakyu yang sedang bergoyang di media sosial?

Saluran aspirasi kini terasa sempit, berlapis, dan birokratis. Rapat dengar pendapat sering kali hanya formalitas. Sosialisasi kebijakan lebih banyak bersifat satu arah. Kritik mudah dilabeli nyinyir. Ketidaksetujuan dianggap mengganggu stabilitas.

Padahal, stabilitas tanpa ruang dialog adalah ketenangan semu.

Bali Terkini: Indah di Permukaan, Retak di Dasar

Bali hari ini tampak gemerlap. Pariwisata kembali menggeliat. Hotel penuh. Kafe tumbuh seperti jamur di musim hujan. Tapi di bawah permukaan, retakan itu nyata.

Kemacetan kian parah.
Alih fungsi lahan tak terkendali.
Sampah menjadi persoalan kronis.
Banjir di mana-mana.
Bunuh diri mencatat angka yang mengkhawatirkan.

Belum lagi alih kepemilikan tanah yang perlahan menggeser warga lokal menjadi penonton di tanah sendiri.

Semua ini membutuhkan ruang dialog yang jujur, terbuka, dan berani. Bukan sekadar seminar hotel. Bukan diskusi elitis. Tapi ruang bersama—seperti Simakrama dulu.

Musyawarah Bukan Masa Lalu

Ada anggapan bahwa model seperti Simakrama sudah tidak relevan. Terlalu melelahkan. Terlalu terbuka. Terlalu berisiko.

Justru di situlah nilainya.

Musyawarah bukan tradisi usang. Ia adalah roh budaya Nusantara. Di Bali, kita mengenalnya di bale banjar, di paruman desa adat, di sangkep. Simakrama hanyalah adaptasi modern dari kearifan lama.

Tanpa ruang semacam itu, kebijakan mudah terputus dari denyut masyarakat. Penguasa sibuk dengan data statistik, sementara rakyat hidup dengan realitas sehari-hari dan semakin terbebani oleh biaya hidup yang semakin tinggi.

Kerinduan yang Rasional

Kerinduan pada Simakrama bukan romantisme masa lalu. Ia adalah kerinduan yang rasional—berbasis pengalaman, bukan imajinasi.

Ruang bersama itu membuktikan bahwa mendengar rakyat tidak melemahkan kekuasaan. Justru menguatkannya. Kritik tidak menghancurkan wibawa. Justru membersihkannya.

Pertanyaannya kini sederhana, tapi mendasar:

Apakah kita masih percaya pada musyawarah?

Ataukah kita lebih nyaman dengan monolog kekuasaan?

Ataukah hanya puas dengan julukan: The Strong Leader, dengan membungkam mulut atau aspirasi masyarakat?

Jika Bali ingin tetap ajeg, bukan hanya indah di brosur pariwisata, maka ruang seperti Simakrama bukan kemewahan. Ia adalah sebuah kebutuhan.

Dan kebutuhan yang diabaikan terlalu lama, cepat atau lambat akan menuntut dirinya sendiri—seperti alam yang terabaikan dan menuntut dengan pesan banjir 10 September silam. Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan ketika suara itu tidak direspons penguasa, maka alam yang akan merespons dan mengingatkan kembali kepada kita semua dengan cara-Nya sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikekuasaansimakrama
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Pendidikan dalam Bioskop India Jalan-Jalan di Karangasem

Next Post

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Kompres Video dan Gabung Foto: Panduan Lengkap Membuat Konten Visual Lebih Menarik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co