SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam dunia sastra. Kepergiannya memang merenggut sosoknya dari hadapan kita, tetapi tidak dengan suaranya—sebab suara itu tetap hidup dan bergaung melalui puisi-puisinya yang sederhana, jenaka, ironis, sekaligus melankolis.
Melalui tulisan ini, aku tidak bermaksud memberi penilaian yang muluk-muluk atau penghormatan yang berlebihan; aku hanya ingin mengenangnya dengan cara yang paling jujur sebagai seorang pembaca: duduk bersama karyanya, membuka kembali halaman-halaman puisinya, dan merasakan kehadirannya yang diam-diam masih menemani.
Pandanganku Tentang Jokpin dan Epigram 60
Aku tak pernah bertemu atau bertatapan langsung dengannya tetapi, aku merasa hidup berdampingan dengannya saat itu dan sampai sekarang lewat karyanya. Epigram 60, sesuai judulnya meunrut KBBI V daring Epigram didefinisikan sebagai syair atau ungkapan pendek. Dari judulnya maka dapat kita simpulkan bahwa isi dalam buku ini adalah berupa ungkapan yang pendek-pendek dari Joko Pinurbo.
Dari semua karya Poko Pinurbo nampaknya Epigram 60 ini adalah karya terpendek yang pernah ku baca. Panjangnya hanya sekitar 64 lembar halaman buku. Dari semua syair yang terdapat di buku ini entah mengapa aku menyukai syair dengan judul “SEMADI“ bunyinya seperti ini:
Tak ada koneksi internet di sini.
Bahkan listrik pamit mati sementara,
membiarkan malam bercahaya.
Cinta kita semesta semiotika
yang serba taksa dan penuh enigma
sehingga rindu tetap terpelihara.
Makna Syair “SEMADI“
Setelah selesai membaca izinkan aku mencoba mengartikan maksud dibalik syair ini.
Ketiadaan internet dan listrik melambangkan terputusnya hubungan dengan dunia luar dan teknologi. Namun, kondisi itu tidak gelap—“malam bercahaya”—karena cahaya yang hadir berasal dari kedekatan batin, bukan dari alat-alat modern.
Cinta kita semesta semiotika menempatkan cinta sebagai ruang tanda dan makna: isyarat, diam, kehadiran, dan rasa saling memahami yang tidak selalu bisa dijelaskan secara langsung. Ketaksaan dan enigma menunjukkan bahwa cinta tidak pernah tunggal maknanya; ia selalu terbuka untuk ditafsirkan.
Justru karena tidak sepenuhnya jelas dan tidak selalu hadir secara fisik, rindu tetap terpelihara. Rindu di sini bukan kekurangan, melainkan bukti bahwa cinta hidup—dirawat oleh jarak, sunyi, dan ketidakpastian.
Sedikit Tentang Cover Buku
- Cover Depan
Cover depan buku ini sangat simpel, berwarna merah dan hanya berisi 2 sosok seseorang, salah satunya tertidur di pangkuan yang satunya. Agaknya, menurut keyakinan saya ini mirip Jokpin itu sendiri. Cover ini Padat, simpel namun sayat makna. Gambarnya menggambarkan seperti sesuatu yang cukup sederhana, ironis, gelisah, kadang lucu tapi seperti menyimpan luka. Bagi ku cover ini sangat mempresentasikan isi dialamnya.
- Cover Belakang: Kutipan Isi dan Biografi Jokpin
Pada bagian belakang caver terdapat satu syair dengan judul “IBU KAMI” bunyinya seperti ini:
Saban malam ibu kami yang jelata
Membersihkan pikiran anak-anaknya
Dari godaan kiat sukses dan kaya
Dengan mudah, cepat, dan celaka.
Selain penggalan dari sebuah syair dalam buku, bagian belakang cover buku ini juga terdapat biografi singkat dari sang penyair.
Inilah biografi singkat dari Joko Pinurbo yang tertera dalam cover belakang:
Joko Pinurbo alias Jokpin lahir di Palabuhanratu, Sukabumi, 11 Mei 1962, menetap di Yogyakarta. Sejang merilis kumpulan sajak Celana pada tahun 1999, ia rajin menerbitkan karya penyair yang istikamah menunaikan ibadah puisi.
Simpulan
Tulisan ini merupakan penilaianku terhadap buku “Epigram 60” karya Joko Pinurbo. Bagiku, buku ini sangat menyenangkan karena ringan dibaca namun kaya makna, bahkan dapat dihabiskan dalam sekali duduk.
Di antara syair-syair yang ada, aku memiliki bab favorit, yaitu syair berjudul “Semadi”. Syair ini terasa sederhana, tenang, dan reflektif. Melalui pilihan kata yang singkat namun tajam, Joko Pinurbo berhasil menghadirkan suasana perenungan yang sunyi tetapi bermakna, sehingga meninggalkan kesan mendalam bagiku sebagai pembaca. [T]
Penulis: Luqi Aditya Wahyu Ramadan
Editor: Adnyana Ole



























