30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Rasman Maulana by Rasman Maulana
February 6, 2026
in Ulas Rupa
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026—yang merupakan hasil dari program residensi yang diselenggarakan Manajemen Talenta Nasional (MTN) bekerjasama dengan Gurat Institut. Pameran ini menarik karena mengangkat tradisi bukan sebagai sesuatu yang mapan dan selesai, melainkan sebagai ruang terdalam yang terus menuntut pembacaan ulang.

Pameran ini dihadirkan sebagai “palung”—dasar yang menopang perjalanan panjang manusia, namun sekaligus menyimpan endapan nilai, luka, dan relasi kuasa yang kerap luput dari perhatian. Dalam konteks inilah karya “Tabur Tabah” hadir sebagai praktik menyelam ke kedalaman tradisi, bukan untuk memurnikan atau merayakannya secara romantik, melainkan untuk menyingkap beban perempuan yang selama ini dipikul dan dinormalisasi.

Karya “Tabur, Tabah” menghadirkan sebuah medan simbolik yang tenang namun sarat beban. Seperti pendapat Sutan Takdir Alisjahbana yang mengatakan bahwa seni selalu mempunyai isi, suatu pesan, atau dengan kata lain mewakili tenaga rohani, berbeda dengan mekarnya bunga-bunga atau nyanyian burung di padangan.

Sekilas membaca karya ini kita akan menemukan lingkaran bata yang membumi, tulang punggung yang terbaring di pusatnya, serta partisipasi penonton yang perlahan menumpuk residu material, membentuk ruang kontemplatif sekaligus politis. Dalam keheningan visualnya, karya ini berbicara tentang tubuh perempuan, relasi kuasa, dan sistem patriarki yang diwariskan lintas generasi, bukan sebagai abstraksi melainkan sebagai pengalaman yang menempel pada tubuh dan ingatan manusia.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dalam karya ini lingkaran bata yang menjadi dasar karya segera menghadirkan kesan ruang ritual yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah manusia. Batu bata merupakan material yang identik dengan fondasi rumah dan keteraturan sosial disusun membentuk arena yang kokoh, merepresentasikan sistem adat dan nilai budaya yang dibangun secara turun-temurun: keras, berat, dan menuntut kepatuhan mutlak. Sedangkan bentuk lingkaran bekerja sebagai batas simbolik, menandai ruang di mana peran, identitas, dan relasi kuasa telah ditentukan sebelum individu hadir di dalamnya untuk mengisi dan beranak-pinak.

Di pusat lingkaran yang terlapis kaca tersebut terbaring objek menyerupai tulang punggung manusia, tekstur dan warnanya seperti fosil yang hidup dari masa lampau menyampaikan pesan bahwa karya ini membicarkan sesuatu yang terjaga dari masa terdahulu. Posisi horizontalnya seperti sebuah penolakan gestur heroik, tidak berdiri sebagai monumen kekuasaan, tetapi justru menyatu dengan tanah, debu, dan serpihan bata.

Tulang punggung ini dimaknai sebagai tubuh perempuan yang dinarasikan sebagai penopang kehidupan sosial dan kultural yang kerap tidak diakui secara formal di kelomoknya dari dulu sampai sekarang. Dengan menempatkan tulang punggung perempuan di pusat ruang, karya ini membalik narasi dominan patriarki yang secara historis menempatkan laki-laki sebagai fondasi keluarga dan adat yang tak tergantikan.

Serbuk bata yang ditaburkan di sekitar tulang punggung memperkuat kesan luka yang berulang dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Serbuk tersebut seperti semacam residu—sisa dari sistem yang terus direproduksi dan diwariskan terus menerus. Pemakaian serbuk batu bata di dalam karya dimaksudkan sebagai penanda bentuk kekerasan yang tidak selalu hadir sebagai peristiwa spektakuler, tetapi juga sebagai tekanan simbolik, ekspektasi sosial, dan beban moral yang terus diwariskan.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Dimensi partisipatif karya diperluas melalui kehadiran toples-toples berisi serpihan bata. Pengunjung, khususnya perempuan, diajak untuk bersila dan menaburkan serpihan bata sebagai gestur simbolik yang merepresentasikan pengalaman personal dan kolektif. Serpihan bata, berfungsi sebagai arsip kolektif, bukan arsip resmi yang ditulis oleh struktur adat atau negara melainkan arsip pengalaman perempuan yang sering kali tak terdokumentasikan.

Alasan seniman memberi ruang partisipasi khusus untuk perempuan merupakan bagian dari konsep karyanya. Dengan demikian karya ini tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi perempuan untuk menulis ulang narasi melalui tindakan simbolik sederhana. Meskipun bukan tanpa kekurangan, pemilihan konsep partisipasi dalam karya ini sedikit kurang matang, karena penempatan toples yang lebih tinggi dari posisi ideal orang bersila menjadikan subjek yang terlibat sedikit kesulitan secara teknis.

Kekurangan tersebut bisa dimaklumi menijau waktu produksi yang ditentukan dalam program residensi yang pendek sehingga seniman yang terlibat tidak punya keleluasaan untuk mempertimbangkan hal-hal teknis. Meskiipun begitu setiap serpihan yang ditabur berhasil merepresentasikan pengalaman personal perempuan yang selama ini jarang tercatat dalam narasi resmi adat maupun sejarah.

Berangkat dari konteks budaya Batak Karo, karya ini mengungkap paradoks patriarki: ketika laki-laki mendominasi simbol formal adat, perempuan justru memainkan peran strategis dalam pengambilan keputusan sehari-hari di lingkup keluarga. Namun, penekanan pada ketabahan juga menyimpan ketegangan kritis. Ketabahan berisiko dirayakan tanpa membongkar sistem yang melahirkan beban tersebut. Tulang punggung perempuan yang terus menopang lingkaran adat dapat dibaca sebagai simbol perlawanan, sekaligus tanda bahwa sistem bertahan karena tubuh perempuan terus menanggungnya.

Karya Derry Aderialtha Sembiring

Tabur, Tabah tidak menawarkan solusi, melainkan membuka ruang kesadaran. Ia mengajak penonton berhenti, bersila, dan menimbang kembali beban yang diwariskan, sembari mempertanyakan: sampai kapan ketabahan akan terus dijadikan fondasi yang tak terlihat? [T]



Penulis: Rasman Maulana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Gurat InstituteMTN Seni BudayaPameran Seni RupaResidensi MTN LabSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Next Post

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Rasman Maulana

Rasman Maulana

Penulis dan kurator berbasis di Banyumas yang aktif mengolah gagasan tentang ruang alternatif, serta relasi sosial dalam praktik seni rupa. Berpengalaman menangani penyusunan konsep pameran, dan penulisan teks kuratorial yang menekankan pendekatan naratif dan sensitivitas terhadap konteks lokal. Memiliki ketertarikan pada praktik seni yang berangkat dari keseharian, lokalitas, dan dinamika komunitas, serta terus mengembangkan metode membaca karya yang peka, reflektif, dan berorientasi dialog. Ia merupakan salah satu peserta kurator residensi MTN Lab Desnpasar 2025 dan menjadi manajer project dalam pameran “Pulang ke Palung” Instagram Penulis: @mata.pijar

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? ---Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co