26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 6, 2026
in Cerpen
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PUKUL delapan lewat sedikit ketika Jonas, pianis tetap di Café Lumina, duduk di bangkunya. Piano tua berlapis pernis hitam itu sudah tidak mulus, tapi masih menyimpan gema hari-hari yang panjang.

Malam Sabtu adalah malam paling padat, bukan karena orang ingin bersenang-senang, tapi karena mereka takut sendirian di rumah. Ketika jari Jonas menyentuh tuts, kafe mulai penuh. Ia memainkan melodi lembut yang melayang seperti asap rokok.

Setiap nada adalah undangan: ”Masuklah. Ceritakan lukamu. Aku akan menyimpannya”.

Jonas bukan sekadar pianis. Ia adalah kotak pos rahasia. Tempat orang-orang membuang isi hati tanpa tanda terima.

***

Meja Satu: Sang Politisi yang Tak Punya Negeri

Di meja pertama dekat bar, duduk Rahman, politisi terkenal yang wajahnya sering muncul di baliho. Ia datang tanpa ajudan, hal yang jarang.

“Jonas,” katanya lirih sambil mengangkat gelas. “Mainkan sesuatu yang membuat saya merasa manusia.”

Jonas tahu betul arti kalimat itu.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sering ia kehilangan bagian paling penting dari dirinya: kejujuran sederhana. Rahman memandangi gelas seperti sedang membaca masa depannya.

“Besok saya punya pidato besar,” katanya pada bartender. “Tentang masa depan negara. Tapi… saya tidak tahu masa depan saya sendiri.”

Ia tertawa kecil, tawa seorang lelaki yang sudah lama berhenti percaya pada apa pun kecuali pengawalnya. Jonas memainkan nada-nada berat, seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian di lorong panjang.

Rahman menutup mata dan mendengarkan, seolah-olah lagu itu bisa memberi jawaban.

Tapi lagu tidak memberi jawaban. Lagu hanya mendengar.

***

Meja Dua: Artis yang Ingin Menjadi Biasa

Di sudut lain kafe, Mira, seorang artis layar kaca, duduk sendirian. Rambutnya disembunyikan di bawah topi, matanya ditutupi kacamata gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar peduli siapa dia, ini tempat orang-orang melarikan diri, bukan mencari sensasi.

“Jonas,” katanya ketika jeda lagu. “Bisa mainkan sesuatu yang tidak membuat saya merasa terkenal?”

Jonas tersenyum samar. Ia tahu maksudnya: ketenaran adalah keramaian yang membuatmu kesepian. Mira bercerita kepada pelayan.

“Saya capek harus selalu cantik. Capek menghibur orang. Capek menutupi semua kekacauan hidup saya.”

Pelayan setia mendengarkan, meski ia tahu Mira bukan butuh jawaban, hanya butuh ruang untuk bernapas.

Jonas memainkan lagu yang ringan, seperti angin sore. Mira menaruh kepalanya ke meja, tersenyum kecil, bukan senyum untuk kamera, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia bukan siapa-siapa. Dan itu membuatnya bahagia.

***

Meja Tiga: Pengusaha yang Tak Bisa Tidur

Seorang pria berjas cokelat duduk sendirian di meja dekat jendela. Namanya Hartono, pengusaha sukses, pemilik banyak hal kecuali tidur malam yang tenang. Ia menyesap kopi hitam seperti menyesap obat penenang.

“Mainkan lagu keras, Jon,” katanya. “Biar suara di kepala saya kalah.”

Suara di kepala Hartono adalah daftar hutang moral yang tidak pernah lunas: janji pada keluarga yang tidak pernah dia tepati, karyawan yang dia lepas demi neraca perusahaan, ambisi yang membakar semuanya.

Jonas memainkan lagu cepat, keras, dan penuh ketegangan, bukan untuk menghibur, tapi untuk melawan suara-suara itu.

Hartono mendengar. Ia mengetukkan jari, seolah ikut bertarung. Tapi Jonas tahu: melodi itu tidak akan menyelamatkannya. Ada orang yang datang ke kafe untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk tidak hancur di rumah.

***

Meja Empat: Anak Muda yang Tak Punya Arah

Empat anak muda duduk di kursi tengah. Mereka memesan minuman manis yang mahal, uang mungkin bukan dari kerja mereka sendiri. Tapi itu bukan urusan Jonas. Yang paling vokal, Liam, berseru setelah satu teguk minuman.

“Jon! Mainkan lagu yang bikin kita lupa kalau hidup ini absurd!”

Teman-temannya tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti seseorang berusaha menutupi suara retakan dalam hati. Jonas memainkan melodi riang.

Anak-anak muda itu menari kecil-kecilan, memfilmkan diri sendiri, menjadikan kafe itu panggung hidup yang mereka sendiri tidak peduli arahnya ke mana. Salah satu gadis berkata lirih kepada temannya.

“Aku takut bangun besok tanpa tahu apa yang harus kulakukan.”

Temannya menjawab: “Kita minum dulu. Besok dipikir nanti.”

Mereka tertawa lagi. Tawa terakhir sebelum kenyataan datang menagih.

***

Meja Lima: Lelaki Tua yang Tidak Mau Pulang

Di meja paling belakang duduk lelaki tua, Pak Rendra, pengunjung paling setia. Bukan karena ia suka musik. Bukan karena ia suka kopi. Tapi karena rumahnya terlalu sunyi.

“Mainkan lagu kenangan, Jonas,” katanya dengan suara bergetar.

Jonas memainkan melodi lembut, lagu tua yang mungkin pernah menemani cinta pertamanya. Pak Rendra menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.

“Istriku dulu suka duduk di situ…” katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. “Tapi sekarang aku satu-satunya yang mengingatnya.”

Pelayan menaruh tangan di pundaknya, lembut. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kesedihan orang tua adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.

***

Meja Enam: Cerita yang Tidak Pernah Pergi

Jonas terus bermain, jarinya menari di atas tuts seperti sedang merangkul semua orang.Ia bukan hakim. Bukan guru. Bukan penolong. Ia hanya saksi.

Ia menyaksikan politisi yang ingin jadi manusia, artis yang ingin hilang dari sorotan, pengusaha yang ingin mematikan suara di kepala, anak muda yang ingin melupakan masa depan, lelaki tua yang ingin masa lalu kembali.

Kafe itu berubah menjadi ruangan pengakuan tanpa agama. Setiap meja seperti altar kecil tempat manusia mengaku kalah pada hidup. Jonas memainkan satu melodi panjang yang menyatukan semuanya, nada-nada yang tidak menghakimi, tidak menawarkan solusi, hanya menemani.

***

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang

Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Satu per satu tamu pulang membawa beban yang sama, hanya sedikit lebih ringan. Jonas menutup penutup piano perlahan. Rahman keluar dengan langkah lebih tenang. Mira pulang tanpa menunduk.

Hartono menghela napas panjang. Anak-anak muda pergi sambil tertawa kecil. Pak Rendra berjalan paling terakhir, lambat, seperti ingin menunda kepulangannya.

Ketika kafe benar-benar kosong, Jonas duduk kembali. Ia menekan satu nada. Lalu satu lagi.

“Hidup ini lucu,” gumamnya sendiri.

“Orang datang dengan masalah berbeda… tapi pergi dengan melodi yang sama.”

Ia memejamkan mata.

Di bawah lampu kafe yang redup, ia memainkan satu lagu terakhir. Lagu untuk orang-orang yang tidak benar-benar pulang. Lagu untuk mereka yang menyimpan kesedihan di saku. Lagu untuk mereka yang berbohong demi bertahan. Lagu untuk mereka yang tersenyum demi tidak menangis. Dan lagu itu mengalun dalam kesunyian, tidak untuk didengar, tapi untuk menemani. Seperti doa yang tak pernah selesai. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Next Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co