6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 6, 2026
in Cerpen
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PUKUL delapan lewat sedikit ketika Jonas, pianis tetap di Café Lumina, duduk di bangkunya. Piano tua berlapis pernis hitam itu sudah tidak mulus, tapi masih menyimpan gema hari-hari yang panjang.

Malam Sabtu adalah malam paling padat, bukan karena orang ingin bersenang-senang, tapi karena mereka takut sendirian di rumah. Ketika jari Jonas menyentuh tuts, kafe mulai penuh. Ia memainkan melodi lembut yang melayang seperti asap rokok.

Setiap nada adalah undangan: ”Masuklah. Ceritakan lukamu. Aku akan menyimpannya”.

Jonas bukan sekadar pianis. Ia adalah kotak pos rahasia. Tempat orang-orang membuang isi hati tanpa tanda terima.

***

Meja Satu: Sang Politisi yang Tak Punya Negeri

Di meja pertama dekat bar, duduk Rahman, politisi terkenal yang wajahnya sering muncul di baliho. Ia datang tanpa ajudan, hal yang jarang.

“Jonas,” katanya lirih sambil mengangkat gelas. “Mainkan sesuatu yang membuat saya merasa manusia.”

Jonas tahu betul arti kalimat itu.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sering ia kehilangan bagian paling penting dari dirinya: kejujuran sederhana. Rahman memandangi gelas seperti sedang membaca masa depannya.

“Besok saya punya pidato besar,” katanya pada bartender. “Tentang masa depan negara. Tapi… saya tidak tahu masa depan saya sendiri.”

Ia tertawa kecil, tawa seorang lelaki yang sudah lama berhenti percaya pada apa pun kecuali pengawalnya. Jonas memainkan nada-nada berat, seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian di lorong panjang.

Rahman menutup mata dan mendengarkan, seolah-olah lagu itu bisa memberi jawaban.

Tapi lagu tidak memberi jawaban. Lagu hanya mendengar.

***

Meja Dua: Artis yang Ingin Menjadi Biasa

Di sudut lain kafe, Mira, seorang artis layar kaca, duduk sendirian. Rambutnya disembunyikan di bawah topi, matanya ditutupi kacamata gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar peduli siapa dia, ini tempat orang-orang melarikan diri, bukan mencari sensasi.

“Jonas,” katanya ketika jeda lagu. “Bisa mainkan sesuatu yang tidak membuat saya merasa terkenal?”

Jonas tersenyum samar. Ia tahu maksudnya: ketenaran adalah keramaian yang membuatmu kesepian. Mira bercerita kepada pelayan.

“Saya capek harus selalu cantik. Capek menghibur orang. Capek menutupi semua kekacauan hidup saya.”

Pelayan setia mendengarkan, meski ia tahu Mira bukan butuh jawaban, hanya butuh ruang untuk bernapas.

Jonas memainkan lagu yang ringan, seperti angin sore. Mira menaruh kepalanya ke meja, tersenyum kecil, bukan senyum untuk kamera, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia bukan siapa-siapa. Dan itu membuatnya bahagia.

***

Meja Tiga: Pengusaha yang Tak Bisa Tidur

Seorang pria berjas cokelat duduk sendirian di meja dekat jendela. Namanya Hartono, pengusaha sukses, pemilik banyak hal kecuali tidur malam yang tenang. Ia menyesap kopi hitam seperti menyesap obat penenang.

“Mainkan lagu keras, Jon,” katanya. “Biar suara di kepala saya kalah.”

Suara di kepala Hartono adalah daftar hutang moral yang tidak pernah lunas: janji pada keluarga yang tidak pernah dia tepati, karyawan yang dia lepas demi neraca perusahaan, ambisi yang membakar semuanya.

Jonas memainkan lagu cepat, keras, dan penuh ketegangan, bukan untuk menghibur, tapi untuk melawan suara-suara itu.

Hartono mendengar. Ia mengetukkan jari, seolah ikut bertarung. Tapi Jonas tahu: melodi itu tidak akan menyelamatkannya. Ada orang yang datang ke kafe untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk tidak hancur di rumah.

***

Meja Empat: Anak Muda yang Tak Punya Arah

Empat anak muda duduk di kursi tengah. Mereka memesan minuman manis yang mahal, uang mungkin bukan dari kerja mereka sendiri. Tapi itu bukan urusan Jonas. Yang paling vokal, Liam, berseru setelah satu teguk minuman.

“Jon! Mainkan lagu yang bikin kita lupa kalau hidup ini absurd!”

Teman-temannya tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti seseorang berusaha menutupi suara retakan dalam hati. Jonas memainkan melodi riang.

Anak-anak muda itu menari kecil-kecilan, memfilmkan diri sendiri, menjadikan kafe itu panggung hidup yang mereka sendiri tidak peduli arahnya ke mana. Salah satu gadis berkata lirih kepada temannya.

“Aku takut bangun besok tanpa tahu apa yang harus kulakukan.”

Temannya menjawab: “Kita minum dulu. Besok dipikir nanti.”

Mereka tertawa lagi. Tawa terakhir sebelum kenyataan datang menagih.

***

Meja Lima: Lelaki Tua yang Tidak Mau Pulang

Di meja paling belakang duduk lelaki tua, Pak Rendra, pengunjung paling setia. Bukan karena ia suka musik. Bukan karena ia suka kopi. Tapi karena rumahnya terlalu sunyi.

“Mainkan lagu kenangan, Jonas,” katanya dengan suara bergetar.

Jonas memainkan melodi lembut, lagu tua yang mungkin pernah menemani cinta pertamanya. Pak Rendra menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.

“Istriku dulu suka duduk di situ…” katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. “Tapi sekarang aku satu-satunya yang mengingatnya.”

Pelayan menaruh tangan di pundaknya, lembut. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kesedihan orang tua adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.

***

Meja Enam: Cerita yang Tidak Pernah Pergi

Jonas terus bermain, jarinya menari di atas tuts seperti sedang merangkul semua orang.Ia bukan hakim. Bukan guru. Bukan penolong. Ia hanya saksi.

Ia menyaksikan politisi yang ingin jadi manusia, artis yang ingin hilang dari sorotan, pengusaha yang ingin mematikan suara di kepala, anak muda yang ingin melupakan masa depan, lelaki tua yang ingin masa lalu kembali.

Kafe itu berubah menjadi ruangan pengakuan tanpa agama. Setiap meja seperti altar kecil tempat manusia mengaku kalah pada hidup. Jonas memainkan satu melodi panjang yang menyatukan semuanya, nada-nada yang tidak menghakimi, tidak menawarkan solusi, hanya menemani.

***

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang

Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Satu per satu tamu pulang membawa beban yang sama, hanya sedikit lebih ringan. Jonas menutup penutup piano perlahan. Rahman keluar dengan langkah lebih tenang. Mira pulang tanpa menunduk.

Hartono menghela napas panjang. Anak-anak muda pergi sambil tertawa kecil. Pak Rendra berjalan paling terakhir, lambat, seperti ingin menunda kepulangannya.

Ketika kafe benar-benar kosong, Jonas duduk kembali. Ia menekan satu nada. Lalu satu lagi.

“Hidup ini lucu,” gumamnya sendiri.

“Orang datang dengan masalah berbeda… tapi pergi dengan melodi yang sama.”

Ia memejamkan mata.

Di bawah lampu kafe yang redup, ia memainkan satu lagu terakhir. Lagu untuk orang-orang yang tidak benar-benar pulang. Lagu untuk mereka yang menyimpan kesedihan di saku. Lagu untuk mereka yang berbohong demi bertahan. Lagu untuk mereka yang tersenyum demi tidak menangis. Dan lagu itu mengalun dalam kesunyian, tidak untuk didengar, tapi untuk menemani. Seperti doa yang tak pernah selesai. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Next Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co