24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 6, 2026
in Cerpen
Lagu untuk Orang yang Tak Pulang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PUKUL delapan lewat sedikit ketika Jonas, pianis tetap di Café Lumina, duduk di bangkunya. Piano tua berlapis pernis hitam itu sudah tidak mulus, tapi masih menyimpan gema hari-hari yang panjang.

Malam Sabtu adalah malam paling padat, bukan karena orang ingin bersenang-senang, tapi karena mereka takut sendirian di rumah. Ketika jari Jonas menyentuh tuts, kafe mulai penuh. Ia memainkan melodi lembut yang melayang seperti asap rokok.

Setiap nada adalah undangan: ”Masuklah. Ceritakan lukamu. Aku akan menyimpannya”.

Jonas bukan sekadar pianis. Ia adalah kotak pos rahasia. Tempat orang-orang membuang isi hati tanpa tanda terima.

***

Meja Satu: Sang Politisi yang Tak Punya Negeri

Di meja pertama dekat bar, duduk Rahman, politisi terkenal yang wajahnya sering muncul di baliho. Ia datang tanpa ajudan, hal yang jarang.

“Jonas,” katanya lirih sambil mengangkat gelas. “Mainkan sesuatu yang membuat saya merasa manusia.”

Jonas tahu betul arti kalimat itu.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sering ia kehilangan bagian paling penting dari dirinya: kejujuran sederhana. Rahman memandangi gelas seperti sedang membaca masa depannya.

“Besok saya punya pidato besar,” katanya pada bartender. “Tentang masa depan negara. Tapi… saya tidak tahu masa depan saya sendiri.”

Ia tertawa kecil, tawa seorang lelaki yang sudah lama berhenti percaya pada apa pun kecuali pengawalnya. Jonas memainkan nada-nada berat, seperti langkah seseorang yang berjalan sendirian di lorong panjang.

Rahman menutup mata dan mendengarkan, seolah-olah lagu itu bisa memberi jawaban.

Tapi lagu tidak memberi jawaban. Lagu hanya mendengar.

***

Meja Dua: Artis yang Ingin Menjadi Biasa

Di sudut lain kafe, Mira, seorang artis layar kaca, duduk sendirian. Rambutnya disembunyikan di bawah topi, matanya ditutupi kacamata gelap. Tapi tidak ada yang benar-benar peduli siapa dia, ini tempat orang-orang melarikan diri, bukan mencari sensasi.

“Jonas,” katanya ketika jeda lagu. “Bisa mainkan sesuatu yang tidak membuat saya merasa terkenal?”

Jonas tersenyum samar. Ia tahu maksudnya: ketenaran adalah keramaian yang membuatmu kesepian. Mira bercerita kepada pelayan.

“Saya capek harus selalu cantik. Capek menghibur orang. Capek menutupi semua kekacauan hidup saya.”

Pelayan setia mendengarkan, meski ia tahu Mira bukan butuh jawaban, hanya butuh ruang untuk bernapas.

Jonas memainkan lagu yang ringan, seperti angin sore. Mira menaruh kepalanya ke meja, tersenyum kecil, bukan senyum untuk kamera, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia bukan siapa-siapa. Dan itu membuatnya bahagia.

***

Meja Tiga: Pengusaha yang Tak Bisa Tidur

Seorang pria berjas cokelat duduk sendirian di meja dekat jendela. Namanya Hartono, pengusaha sukses, pemilik banyak hal kecuali tidur malam yang tenang. Ia menyesap kopi hitam seperti menyesap obat penenang.

“Mainkan lagu keras, Jon,” katanya. “Biar suara di kepala saya kalah.”

Suara di kepala Hartono adalah daftar hutang moral yang tidak pernah lunas: janji pada keluarga yang tidak pernah dia tepati, karyawan yang dia lepas demi neraca perusahaan, ambisi yang membakar semuanya.

Jonas memainkan lagu cepat, keras, dan penuh ketegangan, bukan untuk menghibur, tapi untuk melawan suara-suara itu.

Hartono mendengar. Ia mengetukkan jari, seolah ikut bertarung. Tapi Jonas tahu: melodi itu tidak akan menyelamatkannya. Ada orang yang datang ke kafe untuk beristirahat. Ada pula yang datang untuk tidak hancur di rumah.

***

Meja Empat: Anak Muda yang Tak Punya Arah

Empat anak muda duduk di kursi tengah. Mereka memesan minuman manis yang mahal, uang mungkin bukan dari kerja mereka sendiri. Tapi itu bukan urusan Jonas. Yang paling vokal, Liam, berseru setelah satu teguk minuman.

“Jon! Mainkan lagu yang bikin kita lupa kalau hidup ini absurd!”

Teman-temannya tertawa keras. Tawa yang terdengar seperti seseorang berusaha menutupi suara retakan dalam hati. Jonas memainkan melodi riang.

Anak-anak muda itu menari kecil-kecilan, memfilmkan diri sendiri, menjadikan kafe itu panggung hidup yang mereka sendiri tidak peduli arahnya ke mana. Salah satu gadis berkata lirih kepada temannya.

“Aku takut bangun besok tanpa tahu apa yang harus kulakukan.”

Temannya menjawab: “Kita minum dulu. Besok dipikir nanti.”

Mereka tertawa lagi. Tawa terakhir sebelum kenyataan datang menagih.

***

Meja Lima: Lelaki Tua yang Tidak Mau Pulang

Di meja paling belakang duduk lelaki tua, Pak Rendra, pengunjung paling setia. Bukan karena ia suka musik. Bukan karena ia suka kopi. Tapi karena rumahnya terlalu sunyi.

“Mainkan lagu kenangan, Jonas,” katanya dengan suara bergetar.

Jonas memainkan melodi lembut, lagu tua yang mungkin pernah menemani cinta pertamanya. Pak Rendra menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.

“Istriku dulu suka duduk di situ…” katanya pada siapa pun yang kebetulan mendengar. “Tapi sekarang aku satu-satunya yang mengingatnya.”

Pelayan menaruh tangan di pundaknya, lembut. Tidak ada yang perlu dikatakan. Kesedihan orang tua adalah bahasa yang tidak perlu diterjemahkan.

***

Meja Enam: Cerita yang Tidak Pernah Pergi

Jonas terus bermain, jarinya menari di atas tuts seperti sedang merangkul semua orang.Ia bukan hakim. Bukan guru. Bukan penolong. Ia hanya saksi.

Ia menyaksikan politisi yang ingin jadi manusia, artis yang ingin hilang dari sorotan, pengusaha yang ingin mematikan suara di kepala, anak muda yang ingin melupakan masa depan, lelaki tua yang ingin masa lalu kembali.

Kafe itu berubah menjadi ruangan pengakuan tanpa agama. Setiap meja seperti altar kecil tempat manusia mengaku kalah pada hidup. Jonas memainkan satu melodi panjang yang menyatukan semuanya, nada-nada yang tidak menghakimi, tidak menawarkan solusi, hanya menemani.

***

Lagu untuk Orang yang Tak Pulang

Menjelang tengah malam, kafe mulai sepi. Satu per satu tamu pulang membawa beban yang sama, hanya sedikit lebih ringan. Jonas menutup penutup piano perlahan. Rahman keluar dengan langkah lebih tenang. Mira pulang tanpa menunduk.

Hartono menghela napas panjang. Anak-anak muda pergi sambil tertawa kecil. Pak Rendra berjalan paling terakhir, lambat, seperti ingin menunda kepulangannya.

Ketika kafe benar-benar kosong, Jonas duduk kembali. Ia menekan satu nada. Lalu satu lagi.

“Hidup ini lucu,” gumamnya sendiri.

“Orang datang dengan masalah berbeda… tapi pergi dengan melodi yang sama.”

Ia memejamkan mata.

Di bawah lampu kafe yang redup, ia memainkan satu lagu terakhir. Lagu untuk orang-orang yang tidak benar-benar pulang. Lagu untuk mereka yang menyimpan kesedihan di saku. Lagu untuk mereka yang berbohong demi bertahan. Lagu untuk mereka yang tersenyum demi tidak menangis. Dan lagu itu mengalun dalam kesunyian, tidak untuk didengar, tapi untuk menemani. Seperti doa yang tak pernah selesai. [T]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi M.Z. Billal | Merajut Jarak

Next Post

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co