23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 31, 2026
in Cerpen
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN sore itu turun dengan lembut, seperti jemari langit yang sedang mengusap luka bumi. Di bawah rinainya yang bening, seorang lelaki berjalan pelan membawa payung hitam dan sekuntum mawar merah di tangannya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam—sebuah kisah yang telah melalui badai kesombongan, ujian, dan cinta yang diuji oleh waktu. Namanya Rafli.

Ia bukan lelaki yang mencolok. Tidak berjas mahal, tidak bersepatu kulit mengilap, dan tidak pula membawa mobil berlogo kuda atau bintang. Tapi di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan otak cemerlang lulusan Sidney University—gelar yang diperoleh dengan kerja keras, bukan karena warisan atau relasi. Ia pulang ke tanah air dengan tekad sederhana: membangun hidup yang jujur dan penuh makna.

Namun sayang, dunia tidak pernah melihat dengan kacamata nurani. Ia datang melamar Silvi, gadis yang ia cintai sepenuh hati, tapi disambut dengan tatapan sinis dari keluarga besar gadis itu.

> “Sidney University? Tapi kerja di mana sekarang?”

“Masih buka konsultan sendiri, Bu. Baru merintis.”

“Oh, jadi belum punya kantor tetap?”

“Masih sewa ruangan kecil, Bu.”

Jawaban itu seolah menjadi batu yang dilempar ke telinganya sendiri. Ia tahu, keluarga Silvi menilai hidup dari kepemilikan, bukan dari nilai. Di mata mereka, lelaki baik adalah yang punya mobil mewah, jabatan, atau rumah dua lantai. Rafli hanyalah lelaki berjaket kain, dengan motor butut dan kesopanan yang dianggap tidak menjanjikan apa-apa.

Silvi, gadis yang lembut dan berwajah sabar itu, berkali-kali diminta sang ibu untuk “memikirkan ulang”.

> “Silvi, kamu cantik, pintar, masa mau nikah sama lelaki yang bahkan rumahnya kontrakan? Banyak yang lebih mapan.”

“Tapi, Bu, Rafli baik. Dia jujur, dan aku merasa tenang bersamanya.”

“Tenang nggak cukup buat hidup, Nak. Lihat abang-abang iparmu, semua sukses.”

Silvi diam, tapi hatinya bergeming. Ia tahu, ketenangan tidak dijual di mall, dan kejujuran tidak dipajang di showroom mobil.

—

I

Tiga bulan setelah itu, Rafli dan Silvi menikah dalam suasana sederhana. Tanpa pesta mewah, tanpa dekorasi mencolok. Hanya akad nikah di masjid kecil, dengan hidangan nasi kotak dan doa-doa yang tulus.

Banyak yang mencibir. Ada yang bilang Silvi menurunkan standar, ada pula yang menuduh Rafli pandai bersilat lidah. Tapi bagi mereka berdua, cinta adalah tentang keberanian berjalan di bawah hujan tanpa takut basah, asal tangan tetap saling menggenggam.

> “Kita nggak kaya, Silvi,” kata Rafli malam itu sambil menatap langit-langit rumah kontrakan mereka yang retak.

“Tapi kita punya arah. Itu lebih penting daripada punya segalanya tapi tersesat.”

Silvi tersenyum, dan malam itu menjadi awal dari perjalanan mereka—perjalanan dua jiwa yang bersekutu melawan pandangan dunia.

—

II

Ujian pertama datang seperti badai yang tiba-tiba.

Kabar itu menyebar cepat: ketiga kakak ipar Silvi ditangkap polisi karena kasus korupsi dan penggelapan dana di perusahaan tempat mereka bekerja. Tiga lelaki yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi headline berita.

Rumah besar keluarga Silvi mendadak sunyi. Telepon tak lagi berdering, para tetangga yang dulu sering berkunjung kini memilih menutup pintu. Di wajah sang ibu, nyonya Rukmini, tampak campuran malu, marah, dan kesedihan yang berat. Ia, yang dulu menilai menantu dari harta, kini tak tahu kepada siapa harus bersandar.

Saat itu, Rafli datang.

Ia datang bukan untuk menertawakan, bukan untuk membalas sindiran masa lalu. Ia datang membawa sekuntum mawar merah dan sebungkus makanan hangat.

> “Bu, ini saya bawakan makan. Saya tahu mungkin belum sempat masak.”

Ibu Rukmini menatapnya, matanya sembab.

> “Kamu masih mau datang ke rumah ini, Nak? Setelah apa yang kami ucapkan dulu?”

Rafli tersenyum.

> “Hujan tidak hanya turun di rumah orang jahat, Bu. Kadang hujan juga datang untuk menguji orang baik. Saya datang bukan karena lupa, tapi karena ingat. Ingat bahwa keluarga ini adalah keluarga istri saya, keluarga saya juga.”

Ucapan itu seperti air yang memadamkan bara di hati sang ibu. Ia menunduk, lalu menangis. Tangannya yang dulu menolak kini menggenggam tangan Rafli erat-erat.

> “Maafkan Ibu, Nak. Ibu dulu buta. Ibu menilai kamu dari dompet, bukan dari dada.”

Rafli hanya menunduk. Di luar, hujan turun deras. Tapi kali ini, payung yang ia bawa bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk melindungi hati orang-orang yang pernah melukainya.

—

III

Hari-hari berikutnya, Rafli sering datang ke rumah itu. Ia membantu menenangkan Silvi yang sedih, menemani ibu mertuanya mengurus urusan hukum, dan menenangkan anak-anak para kakak ipar yang belum mengerti apa itu korupsi.

Di sela semua itu, ia tetap bekerja. Kantor kecilnya yang dulu dianggap remeh kini justru mulai dipercaya banyak klien karena kejujurannya. Ia tak pernah memanfaatkan musibah keluarga mertuanya untuk menaikkan citra. Ia hanya terus berbuat baik, seolah setiap langkahnya adalah bentuk pengabdian pada cinta dan Tuhan.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras rumah ibu mertuanya, Nyonya Rukmini datang membawa secangkir teh hangat.

> “Rafli…” suaranya lirih. “Ibu mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Bu.”

“Kenapa kamu tetap datang, padahal kami dulu memandang rendah kamu?”

Rafli menatap langit, hujan mulai turun rintik-rintik. Ia membuka payungnya, memayungi sang ibu.

> “Karena saya tahu, Bu, hidup ini seperti hujan. Kadang kita butuh basah dulu untuk tahu arti payung. Dan karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang saat bahagia, tapi siapa yang bertahan saat badai tiba.”

Air mata menetes dari wajah sang ibu. Ia menunduk. Di tangannya, sekuntum mawar merah yang tadi dibawa Rafli ia genggam dengan erat. Duri-durinya menembus kulit, tapi ia tak peduli. Ia tahu, keindahan selalu berdampingan dengan luka.

—

IV

Musim berganti.

Kasus para menantunya perlahan selesai. Dua di antaranya dijatuhi hukuman penjara, satu lagi divonis bebas bersyarat. Namun keluarga itu tidak pernah sama lagi. Harta mereka habis, rumah besar dijual, status sosial lenyap.

Yang tersisa hanyalah Rafli dan Silvi—dua insan yang dulu dianggap kecil, kini justru menjadi sandaran.

Rafli tak banyak bicara, ia hanya berbuat. Ia membantu mengelola keuangan keluarga, mencari pekerjaan baru untuk adik-adik Silvi, dan membangunkan semangat yang sempat patah. Di mata sang ibu, Rafli kini bukan hanya menantu, tapi cahaya kecil di tengah malam yang gelap.

> “Nak Rafli,” kata Nyonya Rukmini suatu malam, “Ibu malu kalau ingat dulu Ibu suruh Silvi menjauh darimu. Padahal, mungkin kamu satu-satunya lelaki yang paling tulus mencintai anak Ibu.”

“Tidak usah malu, Bu. Manusia memang sering tertipu oleh kilau dunia. Tapi Tuhan punya cara indah untuk membuka mata kita.”

Silvi yang duduk di sampingnya hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Rafli erat-erat. Ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya suami, tapi guru kehidupan yang mengajarinya arti kesabaran dan keberanian.

—

V

Beberapa tahun kemudian, Rafli menjadi konsultan keuangan yang sukses. Ia membuka kantor resmi di pusat kota, memiliki beberapa pegawai, tapi tetap hidup sederhana. Ia tak pernah berubah: tetap sopan, tetap rendah hati, tetap setia pada prinsip bahwa rezeki bukan soal cepat atau banyak, tapi soal berkah.

Suatu hari, di acara keluarga, ibu mertua memperkenalkannya pada tamu-tamu yang hadir.

> “Inilah menantu saya, Rafli. Dulu kami kira dia bukan siapa-siapa. Ternyata, dialah seseorang yang tak ternilai.”

Rafli hanya tersenyum malu. Di luar ruangan, hujan turun lagi. Ia berdiri di teras, membuka payung hitam kesayangannya, dan memandangi taman kecil di halaman rumah. Di sana, tumbuh sekuntum mawar merah. Mawar yang ia tanam sendiri, bertahun-tahun lalu, di hari ia pertama kali datang membawa mawar dan makanan untuk mertuanya. Kini mawar itu mekar, indah, dan tetap berduri—seperti cinta yang pernah dilukai tapi tumbuh semakin kokoh.

Silvi menghampiri dari belakang, menggandeng lengannya.

> “Mas, hujan-hujan begini masih saja menatap bunga itu?”

“Iya, karena setiap durinya mengingatkanku, cinta sejati selalu diuji.”

Silvi tersenyum, menunduk di bahunya.

> “Aku bersyukur Tuhan mengujimu, karena dari ujian itu aku belajar siapa lelaki terbaik di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di bawah payung hitam itu, menatap hujan yang turun perlahan. Langit tampak kelabu, tapi di hati mereka, ada cahaya yang lembut: cahaya ketulusan, cahaya kesabaran, cahaya yang lahir dari sekuntum mawar berduri yang tumbuh di tengah badai.

—

Dan di antara rintik hujan sore itu, dunia seakan berbisik pelan:

bahwa tidak semua lelaki baik datang dengan jas mahal,

tidak semua kebahagiaan harus berkilau,

dan tidak semua luka adalah kutukan—

karena kadang, dari luka itulah tumbuh bunga paling indah,

yang disebut cinta sejati. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Next Post

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co