23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 31, 2026
in Cerpen
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN sore itu turun dengan lembut, seperti jemari langit yang sedang mengusap luka bumi. Di bawah rinainya yang bening, seorang lelaki berjalan pelan membawa payung hitam dan sekuntum mawar merah di tangannya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam—sebuah kisah yang telah melalui badai kesombongan, ujian, dan cinta yang diuji oleh waktu. Namanya Rafli.

Ia bukan lelaki yang mencolok. Tidak berjas mahal, tidak bersepatu kulit mengilap, dan tidak pula membawa mobil berlogo kuda atau bintang. Tapi di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan otak cemerlang lulusan Sidney University—gelar yang diperoleh dengan kerja keras, bukan karena warisan atau relasi. Ia pulang ke tanah air dengan tekad sederhana: membangun hidup yang jujur dan penuh makna.

Namun sayang, dunia tidak pernah melihat dengan kacamata nurani. Ia datang melamar Silvi, gadis yang ia cintai sepenuh hati, tapi disambut dengan tatapan sinis dari keluarga besar gadis itu.

> “Sidney University? Tapi kerja di mana sekarang?”

“Masih buka konsultan sendiri, Bu. Baru merintis.”

“Oh, jadi belum punya kantor tetap?”

“Masih sewa ruangan kecil, Bu.”

Jawaban itu seolah menjadi batu yang dilempar ke telinganya sendiri. Ia tahu, keluarga Silvi menilai hidup dari kepemilikan, bukan dari nilai. Di mata mereka, lelaki baik adalah yang punya mobil mewah, jabatan, atau rumah dua lantai. Rafli hanyalah lelaki berjaket kain, dengan motor butut dan kesopanan yang dianggap tidak menjanjikan apa-apa.

Silvi, gadis yang lembut dan berwajah sabar itu, berkali-kali diminta sang ibu untuk “memikirkan ulang”.

> “Silvi, kamu cantik, pintar, masa mau nikah sama lelaki yang bahkan rumahnya kontrakan? Banyak yang lebih mapan.”

“Tapi, Bu, Rafli baik. Dia jujur, dan aku merasa tenang bersamanya.”

“Tenang nggak cukup buat hidup, Nak. Lihat abang-abang iparmu, semua sukses.”

Silvi diam, tapi hatinya bergeming. Ia tahu, ketenangan tidak dijual di mall, dan kejujuran tidak dipajang di showroom mobil.

—

I

Tiga bulan setelah itu, Rafli dan Silvi menikah dalam suasana sederhana. Tanpa pesta mewah, tanpa dekorasi mencolok. Hanya akad nikah di masjid kecil, dengan hidangan nasi kotak dan doa-doa yang tulus.

Banyak yang mencibir. Ada yang bilang Silvi menurunkan standar, ada pula yang menuduh Rafli pandai bersilat lidah. Tapi bagi mereka berdua, cinta adalah tentang keberanian berjalan di bawah hujan tanpa takut basah, asal tangan tetap saling menggenggam.

> “Kita nggak kaya, Silvi,” kata Rafli malam itu sambil menatap langit-langit rumah kontrakan mereka yang retak.

“Tapi kita punya arah. Itu lebih penting daripada punya segalanya tapi tersesat.”

Silvi tersenyum, dan malam itu menjadi awal dari perjalanan mereka—perjalanan dua jiwa yang bersekutu melawan pandangan dunia.

—

II

Ujian pertama datang seperti badai yang tiba-tiba.

Kabar itu menyebar cepat: ketiga kakak ipar Silvi ditangkap polisi karena kasus korupsi dan penggelapan dana di perusahaan tempat mereka bekerja. Tiga lelaki yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi headline berita.

Rumah besar keluarga Silvi mendadak sunyi. Telepon tak lagi berdering, para tetangga yang dulu sering berkunjung kini memilih menutup pintu. Di wajah sang ibu, nyonya Rukmini, tampak campuran malu, marah, dan kesedihan yang berat. Ia, yang dulu menilai menantu dari harta, kini tak tahu kepada siapa harus bersandar.

Saat itu, Rafli datang.

Ia datang bukan untuk menertawakan, bukan untuk membalas sindiran masa lalu. Ia datang membawa sekuntum mawar merah dan sebungkus makanan hangat.

> “Bu, ini saya bawakan makan. Saya tahu mungkin belum sempat masak.”

Ibu Rukmini menatapnya, matanya sembab.

> “Kamu masih mau datang ke rumah ini, Nak? Setelah apa yang kami ucapkan dulu?”

Rafli tersenyum.

> “Hujan tidak hanya turun di rumah orang jahat, Bu. Kadang hujan juga datang untuk menguji orang baik. Saya datang bukan karena lupa, tapi karena ingat. Ingat bahwa keluarga ini adalah keluarga istri saya, keluarga saya juga.”

Ucapan itu seperti air yang memadamkan bara di hati sang ibu. Ia menunduk, lalu menangis. Tangannya yang dulu menolak kini menggenggam tangan Rafli erat-erat.

> “Maafkan Ibu, Nak. Ibu dulu buta. Ibu menilai kamu dari dompet, bukan dari dada.”

Rafli hanya menunduk. Di luar, hujan turun deras. Tapi kali ini, payung yang ia bawa bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk melindungi hati orang-orang yang pernah melukainya.

—

III

Hari-hari berikutnya, Rafli sering datang ke rumah itu. Ia membantu menenangkan Silvi yang sedih, menemani ibu mertuanya mengurus urusan hukum, dan menenangkan anak-anak para kakak ipar yang belum mengerti apa itu korupsi.

Di sela semua itu, ia tetap bekerja. Kantor kecilnya yang dulu dianggap remeh kini justru mulai dipercaya banyak klien karena kejujurannya. Ia tak pernah memanfaatkan musibah keluarga mertuanya untuk menaikkan citra. Ia hanya terus berbuat baik, seolah setiap langkahnya adalah bentuk pengabdian pada cinta dan Tuhan.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras rumah ibu mertuanya, Nyonya Rukmini datang membawa secangkir teh hangat.

> “Rafli…” suaranya lirih. “Ibu mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Bu.”

“Kenapa kamu tetap datang, padahal kami dulu memandang rendah kamu?”

Rafli menatap langit, hujan mulai turun rintik-rintik. Ia membuka payungnya, memayungi sang ibu.

> “Karena saya tahu, Bu, hidup ini seperti hujan. Kadang kita butuh basah dulu untuk tahu arti payung. Dan karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang saat bahagia, tapi siapa yang bertahan saat badai tiba.”

Air mata menetes dari wajah sang ibu. Ia menunduk. Di tangannya, sekuntum mawar merah yang tadi dibawa Rafli ia genggam dengan erat. Duri-durinya menembus kulit, tapi ia tak peduli. Ia tahu, keindahan selalu berdampingan dengan luka.

—

IV

Musim berganti.

Kasus para menantunya perlahan selesai. Dua di antaranya dijatuhi hukuman penjara, satu lagi divonis bebas bersyarat. Namun keluarga itu tidak pernah sama lagi. Harta mereka habis, rumah besar dijual, status sosial lenyap.

Yang tersisa hanyalah Rafli dan Silvi—dua insan yang dulu dianggap kecil, kini justru menjadi sandaran.

Rafli tak banyak bicara, ia hanya berbuat. Ia membantu mengelola keuangan keluarga, mencari pekerjaan baru untuk adik-adik Silvi, dan membangunkan semangat yang sempat patah. Di mata sang ibu, Rafli kini bukan hanya menantu, tapi cahaya kecil di tengah malam yang gelap.

> “Nak Rafli,” kata Nyonya Rukmini suatu malam, “Ibu malu kalau ingat dulu Ibu suruh Silvi menjauh darimu. Padahal, mungkin kamu satu-satunya lelaki yang paling tulus mencintai anak Ibu.”

“Tidak usah malu, Bu. Manusia memang sering tertipu oleh kilau dunia. Tapi Tuhan punya cara indah untuk membuka mata kita.”

Silvi yang duduk di sampingnya hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Rafli erat-erat. Ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya suami, tapi guru kehidupan yang mengajarinya arti kesabaran dan keberanian.

—

V

Beberapa tahun kemudian, Rafli menjadi konsultan keuangan yang sukses. Ia membuka kantor resmi di pusat kota, memiliki beberapa pegawai, tapi tetap hidup sederhana. Ia tak pernah berubah: tetap sopan, tetap rendah hati, tetap setia pada prinsip bahwa rezeki bukan soal cepat atau banyak, tapi soal berkah.

Suatu hari, di acara keluarga, ibu mertua memperkenalkannya pada tamu-tamu yang hadir.

> “Inilah menantu saya, Rafli. Dulu kami kira dia bukan siapa-siapa. Ternyata, dialah seseorang yang tak ternilai.”

Rafli hanya tersenyum malu. Di luar ruangan, hujan turun lagi. Ia berdiri di teras, membuka payung hitam kesayangannya, dan memandangi taman kecil di halaman rumah. Di sana, tumbuh sekuntum mawar merah. Mawar yang ia tanam sendiri, bertahun-tahun lalu, di hari ia pertama kali datang membawa mawar dan makanan untuk mertuanya. Kini mawar itu mekar, indah, dan tetap berduri—seperti cinta yang pernah dilukai tapi tumbuh semakin kokoh.

Silvi menghampiri dari belakang, menggandeng lengannya.

> “Mas, hujan-hujan begini masih saja menatap bunga itu?”

“Iya, karena setiap durinya mengingatkanku, cinta sejati selalu diuji.”

Silvi tersenyum, menunduk di bahunya.

> “Aku bersyukur Tuhan mengujimu, karena dari ujian itu aku belajar siapa lelaki terbaik di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di bawah payung hitam itu, menatap hujan yang turun perlahan. Langit tampak kelabu, tapi di hati mereka, ada cahaya yang lembut: cahaya ketulusan, cahaya kesabaran, cahaya yang lahir dari sekuntum mawar berduri yang tumbuh di tengah badai.

—

Dan di antara rintik hujan sore itu, dunia seakan berbisik pelan:

bahwa tidak semua lelaki baik datang dengan jas mahal,

tidak semua kebahagiaan harus berkilau,

dan tidak semua luka adalah kutukan—

karena kadang, dari luka itulah tumbuh bunga paling indah,

yang disebut cinta sejati. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Next Post

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co