23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Silvia Maharani Ikhsan by Silvia Maharani Ikhsan
January 31, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Silvia Maharani

IBLIS BETINA DI DALAM CERMIN

seperti itu wajahku
tak lebih dari iblis betina
wadah dari segala rasa

terpancar dari wajahku :
cinta, benci, luka dan rindu
bercampur menjadi amarah yang jahat

kalian bisa melihatnya pada mataku
ada sedikit mimpi yang mencabik
seperti hendak memeluk luka dari rindu yang tak pernah tuntas

sekali memandang ke bintang yang berguguran
sekali pada rembulan yang pudar
sekali pada diri sendiri
yang selalu bertanya :
siapakah iblis betina ini?

Boyolali, 2026

PLASMA

zat ketiga yang lahir dari luka antara langit dan garam
kabut itu turun perlahan
menduduki ruang yang semula dihuni oleh arwah
bersamanya,
datang bisikan-bisikan dari waktu yang telah melepaskan tulangnya
aku berdiri disini
tubuhku diam
tetapi di dalam dadaku ada pintu yang terbuka satu persatu
seolah ada tamu-tamu tua yang kembali dari pengasingan mengendus bau masa silam dari liang kerongkonganku
mereka bukan arwah
bukan kenangan
mereka lebih tua dari keduanya
mereka adalah bentuk lain dari diriku yang telah lama mati
karena aku pernah menolak mendengarkan
ketika plasma datang
jiwa-jiwa yang dulu dipasung dalam penghakiman akan bangkit
mereka tak berkata
tapi dalam diamnya
kau akan merasa berguncang
lebih dalam dari gempa manapun
mereka menatapmu dari balik kabut
dengan mata yang pernah kau miliki waktu kau masih murni
dan bila kau berani memandang balik
kau tak akan tahu
siapa yang sesungguhnya sedang dilihat

mereka atau engkau yang telah lama hilang
tak ada penjelasan
tak ada permisi
yang ada hanyalah kembalinya mereka
yang pernah engkau buang demi menjadi waras
dan mungkin
itulah saat engkau benar-benar hidup untuk pertama kalinya
ketika kau biarkan yang telah mati
menumpang di perahu jiwamu
untuk satu pelayaran terakhir
tanpa arah
tanpa kompas
dan tanpa nama
“laut adalah ibu bagi segala rahasia, kabut adalah nafasnya, dan plasma adalah suara yang kau sembunyikan dalam tubuhmu sendiri.”

Boyolali, 2026

SALAM CINTA

kebahagiaanku ada di balik kelopak matamu
mari menyelesaikan segala itu
mengambil segenap kedua
kemenangan dan kekalahan manusia
dalam mengatasi kehadirannya
sedikit meninggalkan sesuatu
ialah cinta dan kumpulan puisi dalam nafas alam
dan pergulatan menentang dera
bercerita dari lembar ke lembar
menangkap segala kejadian dan peristiwa
menyanyi dalam segala lagu dan irama getar
dari hati demi hati
mengembalikan segala cahaya
yang tiba dari bintang, bulan dan mimpi
semacam pelangi melingkari alam
dalam susunan warna dan rasa
dan tercapailah satu pengenalan
tercapai satu pendekatan
seakan satu saudara sekandung
dengan segenap perasaan
salamku padamu
cintaku bersamamu selamanya

Boyolali 2026

JIWAKU PERGI

malam menyungkur bayangannya
menghanyutkan tubuh yang sudah tak kenal batas
di bawah langit yang berdenyut dengan sinar hitam
dimana batu-batu gurun
memanggil nama yang hilang
dimana waktu berhenti
menghadap cermin yang retak
dan naga-langit tertidur
dalam pikiran yang kosong
roh telah mengembara
terperangkap di sela-sela
pujangga angin yang berkelana
tak ada harapan untuk kembali
hanya sisa-sisa darah di dalam tanah merah
terbungkus kain berasap yang tak sempat terbakar
ia tak lagi mampu mengenali wajahnya
berkeliaran dalam jurang naya
yang tak meraba batas
meski bibir pernah mengucap doa
tapi tiap kata meluncur kekosongan
menemui jalan buntu
di ruang gelap tak terdefinisi
ia menunggu
menunggu sesuatu yang terlupakan
terlalu lama, sampai jejak kaki di pasir menjadi abu
dan tiba-tiba langit
meremukkan gigi-gigi bintang
menghadirkan kematian
dalam wujud padi rontok
berdebu di tangan yang tak lagi menggenggam harapan
sesuatu yang tak pernah diberitahu datang
seperti ombak yang menggulung
pulang ke lembah penghisaban
lalu ia bersandar pada pohon delima tua
dimana daunnya yang merah jatuh satu-satu
meninggalkan cahaya bayangan
yang kabur diantara rongga tubuh
jika nanti
jika kelak
nama ini terhapus oleh hujan
biarkan ia menghilang dalam bisu tanah yang tak bersuara
karena kematian adalah ruang
yang menelan seluruh cerita

Boyolali, 2026

KITA YANG TUMBUH DI ANTARA RETAKAN KOTA

aku mencintaimu
seperti trotoar mencintai langkah kaki yang letih
tak pernah dipeluk
hanya diinjak berkali-kali
namun tetap setia menahan arah
di dadamu
aku belajar bahwa cinta bukan perayaan
melainkan antrean panjang di depan loket harapan
orang-orang membawa luka
dan kita saling menyembunyikan tangis
agar tampak dewasa di hadapan dunia
malam menurunkan baliho wajah-wajah bahagia
iklan keluarga sempurna
sementara kita berdua
menyusup di gang sempit perasaan
mencuri waktu
membagi sunyi
seperti roti terakhir
kau bilang
cinta tak selalu punya rumah
kadang ia hanya berteduh
di bawah jembatan ingatan
menunggu seseorang yang berani tinggal
meski air pasang kenyataan terus datang
aku memelukmu
bukan sebagai kekasih semata
melainkan sebagai sesama manusia
yang pernah dipatahkan sistem
dilupakan doa-doa
dan dipaksa tersenyum demi kelangsungan hidup
jika suatu hari
kita tak lagi bersama
biarlah kota ini mengingat
bahwa pernah ada dua orang
yang saling mencintai
tanpa modal selain keberanian
dan kejujuran untuk tetap merasa
karena cinta
adalah satu-satunya kemewahan
yang masih bisa dimiliki
oleh mereka
yang tak punya apa-apa

Boyolali, 2026

KITA MENUNGGU DI TEPI YANG SAMA

kita jatuh cinta di antara berita-berita buruk
tentang harga yang naik dan doa yang tak sempat diucapkan
kau menyeduh kopi seolah sedang merawat luka kota
aku meminumnya perlahan agar tak ikut pahit
di luar, lampu-lampu jalan bekerja keras menipu gelap
sementara kita belajar mencintai tanpa janji
tanpa peta, tanpa jaminan hari esok
aku ingin memelukmu seperti hujan memeluk atap seng
berisik, namun jujur
tak menyembunyikan apa-apa
kadang kita lelah menjadi manusia
yang harus kuat di siang hari
dan pura-pura baik-baik saja di hadapan orang banyak
tapi malam tahu cinta kita bukan sekadar rasa
ia adalah perlawanan kecil terhadap sepi
terhadap dunia yang terlalu sering lupa cara mendengarkan
jika suatu saat kita harus berpisah arah
biarlah kenangan ini tinggal di sela-sela hidup orang lain
sebagai kabar baik, bahwa dua manusia
pernah saling memilih
meski segalanya serba terbatas
karena mencintaimu
adalah caraku tetap percaya
bahwa duniamasih bisa diselamatkan
oleh hal-hal sederhana

Boyolali, 2026

PEREMPUAN YANG BELAJAR MENCINTAI PELAN-PELAN

aku mencintaimu, dengan cara yang tidak riuh
seperti perempuan menyimpan rahasia di lipatan bajunya sendiri
setiap pagi aku menanak rindu
di dapur yang sempit
sementara dunia di luar terus meminta perempuan
agar kuat, agar sabar, agar tak banyak berharap
aku belajar mencintaimu tanpa suara
sebab terlalu sering,
perasaan perempuan dianggap berlebihan
atau tak perlu didengar
kau datang bukan sebagai penyelamat
melainkan sebagai jeda
tempat aku boleh lelah
tanpa harus menjelaskan apa pun
di pelukmu, aku tak perlu menjadi siapa-siapa
selain perempuan yang ingin dicintai
tanpa syarat, tanpa penghakiman
jika suatu hari aku memilih diam
jangan kira itu ketiadaan
itu hanya caraku merawat cinta
agar tidak habis dipakai dunia
aku mencintaimu seperti perempuan mencintai hidup
pelan
namun sepenuh hati
meski berkali-kali harus terluka

Boyolali, 2026

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

Next Post

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Silvia Maharani Ikhsan

Silvia Maharani Ikhsan

Lahir di Yogyakarta pada 4 September 1992. Penulis dan penyair yang menempatkan kata-kata sebagai cermin perasaan, sejarah, dan pengalaman hidup. Kini menetap di Karang gede, Boyolali, Jawa Tengah, Silvia aktif menulis puisi dan esai yang meresapi keseharian sekaligus menyentuh dimensi emosional pembacanya. Karya-karyanya mencakup antologi puisi dan kompilasi sastra, antara lain Kompilasi Jejak-jejak Sajak (2013) dan Kompilasi Pena Kartini (2013). Pada 2025, Silvia bersama Iwan Setiawan menerbitkan Kitab Puisi Melankolia, sebuah karya yang memadukan nuansa sufistik, melankolis, dan reflektif, menegaskan kepekaannya terhadap perasaan dan spiritualitas manusia

Related Posts

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails
Next Post
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co