14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Silvia Maharani Ikhsan by Silvia Maharani Ikhsan
January 31, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Silvia Maharani

IBLIS BETINA DI DALAM CERMIN

seperti itu wajahku
tak lebih dari iblis betina
wadah dari segala rasa

terpancar dari wajahku :
cinta, benci, luka dan rindu
bercampur menjadi amarah yang jahat

kalian bisa melihatnya pada mataku
ada sedikit mimpi yang mencabik
seperti hendak memeluk luka dari rindu yang tak pernah tuntas

sekali memandang ke bintang yang berguguran
sekali pada rembulan yang pudar
sekali pada diri sendiri
yang selalu bertanya :
siapakah iblis betina ini?

Boyolali, 2026

PLASMA

zat ketiga yang lahir dari luka antara langit dan garam
kabut itu turun perlahan
menduduki ruang yang semula dihuni oleh arwah
bersamanya,
datang bisikan-bisikan dari waktu yang telah melepaskan tulangnya
aku berdiri disini
tubuhku diam
tetapi di dalam dadaku ada pintu yang terbuka satu persatu
seolah ada tamu-tamu tua yang kembali dari pengasingan mengendus bau masa silam dari liang kerongkonganku
mereka bukan arwah
bukan kenangan
mereka lebih tua dari keduanya
mereka adalah bentuk lain dari diriku yang telah lama mati
karena aku pernah menolak mendengarkan
ketika plasma datang
jiwa-jiwa yang dulu dipasung dalam penghakiman akan bangkit
mereka tak berkata
tapi dalam diamnya
kau akan merasa berguncang
lebih dalam dari gempa manapun
mereka menatapmu dari balik kabut
dengan mata yang pernah kau miliki waktu kau masih murni
dan bila kau berani memandang balik
kau tak akan tahu
siapa yang sesungguhnya sedang dilihat

mereka atau engkau yang telah lama hilang
tak ada penjelasan
tak ada permisi
yang ada hanyalah kembalinya mereka
yang pernah engkau buang demi menjadi waras
dan mungkin
itulah saat engkau benar-benar hidup untuk pertama kalinya
ketika kau biarkan yang telah mati
menumpang di perahu jiwamu
untuk satu pelayaran terakhir
tanpa arah
tanpa kompas
dan tanpa nama
“laut adalah ibu bagi segala rahasia, kabut adalah nafasnya, dan plasma adalah suara yang kau sembunyikan dalam tubuhmu sendiri.”

Boyolali, 2026

SALAM CINTA

kebahagiaanku ada di balik kelopak matamu
mari menyelesaikan segala itu
mengambil segenap kedua
kemenangan dan kekalahan manusia
dalam mengatasi kehadirannya
sedikit meninggalkan sesuatu
ialah cinta dan kumpulan puisi dalam nafas alam
dan pergulatan menentang dera
bercerita dari lembar ke lembar
menangkap segala kejadian dan peristiwa
menyanyi dalam segala lagu dan irama getar
dari hati demi hati
mengembalikan segala cahaya
yang tiba dari bintang, bulan dan mimpi
semacam pelangi melingkari alam
dalam susunan warna dan rasa
dan tercapailah satu pengenalan
tercapai satu pendekatan
seakan satu saudara sekandung
dengan segenap perasaan
salamku padamu
cintaku bersamamu selamanya

Boyolali 2026

JIWAKU PERGI

malam menyungkur bayangannya
menghanyutkan tubuh yang sudah tak kenal batas
di bawah langit yang berdenyut dengan sinar hitam
dimana batu-batu gurun
memanggil nama yang hilang
dimana waktu berhenti
menghadap cermin yang retak
dan naga-langit tertidur
dalam pikiran yang kosong
roh telah mengembara
terperangkap di sela-sela
pujangga angin yang berkelana
tak ada harapan untuk kembali
hanya sisa-sisa darah di dalam tanah merah
terbungkus kain berasap yang tak sempat terbakar
ia tak lagi mampu mengenali wajahnya
berkeliaran dalam jurang naya
yang tak meraba batas
meski bibir pernah mengucap doa
tapi tiap kata meluncur kekosongan
menemui jalan buntu
di ruang gelap tak terdefinisi
ia menunggu
menunggu sesuatu yang terlupakan
terlalu lama, sampai jejak kaki di pasir menjadi abu
dan tiba-tiba langit
meremukkan gigi-gigi bintang
menghadirkan kematian
dalam wujud padi rontok
berdebu di tangan yang tak lagi menggenggam harapan
sesuatu yang tak pernah diberitahu datang
seperti ombak yang menggulung
pulang ke lembah penghisaban
lalu ia bersandar pada pohon delima tua
dimana daunnya yang merah jatuh satu-satu
meninggalkan cahaya bayangan
yang kabur diantara rongga tubuh
jika nanti
jika kelak
nama ini terhapus oleh hujan
biarkan ia menghilang dalam bisu tanah yang tak bersuara
karena kematian adalah ruang
yang menelan seluruh cerita

Boyolali, 2026

KITA YANG TUMBUH DI ANTARA RETAKAN KOTA

aku mencintaimu
seperti trotoar mencintai langkah kaki yang letih
tak pernah dipeluk
hanya diinjak berkali-kali
namun tetap setia menahan arah
di dadamu
aku belajar bahwa cinta bukan perayaan
melainkan antrean panjang di depan loket harapan
orang-orang membawa luka
dan kita saling menyembunyikan tangis
agar tampak dewasa di hadapan dunia
malam menurunkan baliho wajah-wajah bahagia
iklan keluarga sempurna
sementara kita berdua
menyusup di gang sempit perasaan
mencuri waktu
membagi sunyi
seperti roti terakhir
kau bilang
cinta tak selalu punya rumah
kadang ia hanya berteduh
di bawah jembatan ingatan
menunggu seseorang yang berani tinggal
meski air pasang kenyataan terus datang
aku memelukmu
bukan sebagai kekasih semata
melainkan sebagai sesama manusia
yang pernah dipatahkan sistem
dilupakan doa-doa
dan dipaksa tersenyum demi kelangsungan hidup
jika suatu hari
kita tak lagi bersama
biarlah kota ini mengingat
bahwa pernah ada dua orang
yang saling mencintai
tanpa modal selain keberanian
dan kejujuran untuk tetap merasa
karena cinta
adalah satu-satunya kemewahan
yang masih bisa dimiliki
oleh mereka
yang tak punya apa-apa

Boyolali, 2026

KITA MENUNGGU DI TEPI YANG SAMA

kita jatuh cinta di antara berita-berita buruk
tentang harga yang naik dan doa yang tak sempat diucapkan
kau menyeduh kopi seolah sedang merawat luka kota
aku meminumnya perlahan agar tak ikut pahit
di luar, lampu-lampu jalan bekerja keras menipu gelap
sementara kita belajar mencintai tanpa janji
tanpa peta, tanpa jaminan hari esok
aku ingin memelukmu seperti hujan memeluk atap seng
berisik, namun jujur
tak menyembunyikan apa-apa
kadang kita lelah menjadi manusia
yang harus kuat di siang hari
dan pura-pura baik-baik saja di hadapan orang banyak
tapi malam tahu cinta kita bukan sekadar rasa
ia adalah perlawanan kecil terhadap sepi
terhadap dunia yang terlalu sering lupa cara mendengarkan
jika suatu saat kita harus berpisah arah
biarlah kenangan ini tinggal di sela-sela hidup orang lain
sebagai kabar baik, bahwa dua manusia
pernah saling memilih
meski segalanya serba terbatas
karena mencintaimu
adalah caraku tetap percaya
bahwa duniamasih bisa diselamatkan
oleh hal-hal sederhana

Boyolali, 2026

PEREMPUAN YANG BELAJAR MENCINTAI PELAN-PELAN

aku mencintaimu, dengan cara yang tidak riuh
seperti perempuan menyimpan rahasia di lipatan bajunya sendiri
setiap pagi aku menanak rindu
di dapur yang sempit
sementara dunia di luar terus meminta perempuan
agar kuat, agar sabar, agar tak banyak berharap
aku belajar mencintaimu tanpa suara
sebab terlalu sering,
perasaan perempuan dianggap berlebihan
atau tak perlu didengar
kau datang bukan sebagai penyelamat
melainkan sebagai jeda
tempat aku boleh lelah
tanpa harus menjelaskan apa pun
di pelukmu, aku tak perlu menjadi siapa-siapa
selain perempuan yang ingin dicintai
tanpa syarat, tanpa penghakiman
jika suatu hari aku memilih diam
jangan kira itu ketiadaan
itu hanya caraku merawat cinta
agar tidak habis dipakai dunia
aku mencintaimu seperti perempuan mencintai hidup
pelan
namun sepenuh hati
meski berkali-kali harus terluka

Boyolali, 2026

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

Next Post

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Silvia Maharani Ikhsan

Silvia Maharani Ikhsan

Lahir di Yogyakarta pada 4 September 1992. Penulis dan penyair yang menempatkan kata-kata sebagai cermin perasaan, sejarah, dan pengalaman hidup. Kini menetap di Karang gede, Boyolali, Jawa Tengah, Silvia aktif menulis puisi dan esai yang meresapi keseharian sekaligus menyentuh dimensi emosional pembacanya. Karya-karyanya mencakup antologi puisi dan kompilasi sastra, antara lain Kompilasi Jejak-jejak Sajak (2013) dan Kompilasi Pena Kartini (2013). Pada 2025, Silvia bersama Iwan Setiawan menerbitkan Kitab Puisi Melankolia, sebuah karya yang memadukan nuansa sufistik, melankolis, dan reflektif, menegaskan kepekaannya terhadap perasaan dan spiritualitas manusia

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co