3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 31, 2026
in Cerpen
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN sore itu turun dengan lembut, seperti jemari langit yang sedang mengusap luka bumi. Di bawah rinainya yang bening, seorang lelaki berjalan pelan membawa payung hitam dan sekuntum mawar merah di tangannya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam—sebuah kisah yang telah melalui badai kesombongan, ujian, dan cinta yang diuji oleh waktu. Namanya Rafli.

Ia bukan lelaki yang mencolok. Tidak berjas mahal, tidak bersepatu kulit mengilap, dan tidak pula membawa mobil berlogo kuda atau bintang. Tapi di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan otak cemerlang lulusan Sidney University—gelar yang diperoleh dengan kerja keras, bukan karena warisan atau relasi. Ia pulang ke tanah air dengan tekad sederhana: membangun hidup yang jujur dan penuh makna.

Namun sayang, dunia tidak pernah melihat dengan kacamata nurani. Ia datang melamar Silvi, gadis yang ia cintai sepenuh hati, tapi disambut dengan tatapan sinis dari keluarga besar gadis itu.

> “Sidney University? Tapi kerja di mana sekarang?”

“Masih buka konsultan sendiri, Bu. Baru merintis.”

“Oh, jadi belum punya kantor tetap?”

“Masih sewa ruangan kecil, Bu.”

Jawaban itu seolah menjadi batu yang dilempar ke telinganya sendiri. Ia tahu, keluarga Silvi menilai hidup dari kepemilikan, bukan dari nilai. Di mata mereka, lelaki baik adalah yang punya mobil mewah, jabatan, atau rumah dua lantai. Rafli hanyalah lelaki berjaket kain, dengan motor butut dan kesopanan yang dianggap tidak menjanjikan apa-apa.

Silvi, gadis yang lembut dan berwajah sabar itu, berkali-kali diminta sang ibu untuk “memikirkan ulang”.

> “Silvi, kamu cantik, pintar, masa mau nikah sama lelaki yang bahkan rumahnya kontrakan? Banyak yang lebih mapan.”

“Tapi, Bu, Rafli baik. Dia jujur, dan aku merasa tenang bersamanya.”

“Tenang nggak cukup buat hidup, Nak. Lihat abang-abang iparmu, semua sukses.”

Silvi diam, tapi hatinya bergeming. Ia tahu, ketenangan tidak dijual di mall, dan kejujuran tidak dipajang di showroom mobil.

—

I

Tiga bulan setelah itu, Rafli dan Silvi menikah dalam suasana sederhana. Tanpa pesta mewah, tanpa dekorasi mencolok. Hanya akad nikah di masjid kecil, dengan hidangan nasi kotak dan doa-doa yang tulus.

Banyak yang mencibir. Ada yang bilang Silvi menurunkan standar, ada pula yang menuduh Rafli pandai bersilat lidah. Tapi bagi mereka berdua, cinta adalah tentang keberanian berjalan di bawah hujan tanpa takut basah, asal tangan tetap saling menggenggam.

> “Kita nggak kaya, Silvi,” kata Rafli malam itu sambil menatap langit-langit rumah kontrakan mereka yang retak.

“Tapi kita punya arah. Itu lebih penting daripada punya segalanya tapi tersesat.”

Silvi tersenyum, dan malam itu menjadi awal dari perjalanan mereka—perjalanan dua jiwa yang bersekutu melawan pandangan dunia.

—

II

Ujian pertama datang seperti badai yang tiba-tiba.

Kabar itu menyebar cepat: ketiga kakak ipar Silvi ditangkap polisi karena kasus korupsi dan penggelapan dana di perusahaan tempat mereka bekerja. Tiga lelaki yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi headline berita.

Rumah besar keluarga Silvi mendadak sunyi. Telepon tak lagi berdering, para tetangga yang dulu sering berkunjung kini memilih menutup pintu. Di wajah sang ibu, nyonya Rukmini, tampak campuran malu, marah, dan kesedihan yang berat. Ia, yang dulu menilai menantu dari harta, kini tak tahu kepada siapa harus bersandar.

Saat itu, Rafli datang.

Ia datang bukan untuk menertawakan, bukan untuk membalas sindiran masa lalu. Ia datang membawa sekuntum mawar merah dan sebungkus makanan hangat.

> “Bu, ini saya bawakan makan. Saya tahu mungkin belum sempat masak.”

Ibu Rukmini menatapnya, matanya sembab.

> “Kamu masih mau datang ke rumah ini, Nak? Setelah apa yang kami ucapkan dulu?”

Rafli tersenyum.

> “Hujan tidak hanya turun di rumah orang jahat, Bu. Kadang hujan juga datang untuk menguji orang baik. Saya datang bukan karena lupa, tapi karena ingat. Ingat bahwa keluarga ini adalah keluarga istri saya, keluarga saya juga.”

Ucapan itu seperti air yang memadamkan bara di hati sang ibu. Ia menunduk, lalu menangis. Tangannya yang dulu menolak kini menggenggam tangan Rafli erat-erat.

> “Maafkan Ibu, Nak. Ibu dulu buta. Ibu menilai kamu dari dompet, bukan dari dada.”

Rafli hanya menunduk. Di luar, hujan turun deras. Tapi kali ini, payung yang ia bawa bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk melindungi hati orang-orang yang pernah melukainya.

—

III

Hari-hari berikutnya, Rafli sering datang ke rumah itu. Ia membantu menenangkan Silvi yang sedih, menemani ibu mertuanya mengurus urusan hukum, dan menenangkan anak-anak para kakak ipar yang belum mengerti apa itu korupsi.

Di sela semua itu, ia tetap bekerja. Kantor kecilnya yang dulu dianggap remeh kini justru mulai dipercaya banyak klien karena kejujurannya. Ia tak pernah memanfaatkan musibah keluarga mertuanya untuk menaikkan citra. Ia hanya terus berbuat baik, seolah setiap langkahnya adalah bentuk pengabdian pada cinta dan Tuhan.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras rumah ibu mertuanya, Nyonya Rukmini datang membawa secangkir teh hangat.

> “Rafli…” suaranya lirih. “Ibu mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Bu.”

“Kenapa kamu tetap datang, padahal kami dulu memandang rendah kamu?”

Rafli menatap langit, hujan mulai turun rintik-rintik. Ia membuka payungnya, memayungi sang ibu.

> “Karena saya tahu, Bu, hidup ini seperti hujan. Kadang kita butuh basah dulu untuk tahu arti payung. Dan karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang saat bahagia, tapi siapa yang bertahan saat badai tiba.”

Air mata menetes dari wajah sang ibu. Ia menunduk. Di tangannya, sekuntum mawar merah yang tadi dibawa Rafli ia genggam dengan erat. Duri-durinya menembus kulit, tapi ia tak peduli. Ia tahu, keindahan selalu berdampingan dengan luka.

—

IV

Musim berganti.

Kasus para menantunya perlahan selesai. Dua di antaranya dijatuhi hukuman penjara, satu lagi divonis bebas bersyarat. Namun keluarga itu tidak pernah sama lagi. Harta mereka habis, rumah besar dijual, status sosial lenyap.

Yang tersisa hanyalah Rafli dan Silvi—dua insan yang dulu dianggap kecil, kini justru menjadi sandaran.

Rafli tak banyak bicara, ia hanya berbuat. Ia membantu mengelola keuangan keluarga, mencari pekerjaan baru untuk adik-adik Silvi, dan membangunkan semangat yang sempat patah. Di mata sang ibu, Rafli kini bukan hanya menantu, tapi cahaya kecil di tengah malam yang gelap.

> “Nak Rafli,” kata Nyonya Rukmini suatu malam, “Ibu malu kalau ingat dulu Ibu suruh Silvi menjauh darimu. Padahal, mungkin kamu satu-satunya lelaki yang paling tulus mencintai anak Ibu.”

“Tidak usah malu, Bu. Manusia memang sering tertipu oleh kilau dunia. Tapi Tuhan punya cara indah untuk membuka mata kita.”

Silvi yang duduk di sampingnya hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Rafli erat-erat. Ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya suami, tapi guru kehidupan yang mengajarinya arti kesabaran dan keberanian.

—

V

Beberapa tahun kemudian, Rafli menjadi konsultan keuangan yang sukses. Ia membuka kantor resmi di pusat kota, memiliki beberapa pegawai, tapi tetap hidup sederhana. Ia tak pernah berubah: tetap sopan, tetap rendah hati, tetap setia pada prinsip bahwa rezeki bukan soal cepat atau banyak, tapi soal berkah.

Suatu hari, di acara keluarga, ibu mertua memperkenalkannya pada tamu-tamu yang hadir.

> “Inilah menantu saya, Rafli. Dulu kami kira dia bukan siapa-siapa. Ternyata, dialah seseorang yang tak ternilai.”

Rafli hanya tersenyum malu. Di luar ruangan, hujan turun lagi. Ia berdiri di teras, membuka payung hitam kesayangannya, dan memandangi taman kecil di halaman rumah. Di sana, tumbuh sekuntum mawar merah. Mawar yang ia tanam sendiri, bertahun-tahun lalu, di hari ia pertama kali datang membawa mawar dan makanan untuk mertuanya. Kini mawar itu mekar, indah, dan tetap berduri—seperti cinta yang pernah dilukai tapi tumbuh semakin kokoh.

Silvi menghampiri dari belakang, menggandeng lengannya.

> “Mas, hujan-hujan begini masih saja menatap bunga itu?”

“Iya, karena setiap durinya mengingatkanku, cinta sejati selalu diuji.”

Silvi tersenyum, menunduk di bahunya.

> “Aku bersyukur Tuhan mengujimu, karena dari ujian itu aku belajar siapa lelaki terbaik di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di bawah payung hitam itu, menatap hujan yang turun perlahan. Langit tampak kelabu, tapi di hati mereka, ada cahaya yang lembut: cahaya ketulusan, cahaya kesabaran, cahaya yang lahir dari sekuntum mawar berduri yang tumbuh di tengah badai.

—

Dan di antara rintik hujan sore itu, dunia seakan berbisik pelan:

bahwa tidak semua lelaki baik datang dengan jas mahal,

tidak semua kebahagiaan harus berkilau,

dan tidak semua luka adalah kutukan—

karena kadang, dari luka itulah tumbuh bunga paling indah,

yang disebut cinta sejati. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Next Post

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co