24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 31, 2026
in Cerpen
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN sore itu turun dengan lembut, seperti jemari langit yang sedang mengusap luka bumi. Di bawah rinainya yang bening, seorang lelaki berjalan pelan membawa payung hitam dan sekuntum mawar merah di tangannya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam—sebuah kisah yang telah melalui badai kesombongan, ujian, dan cinta yang diuji oleh waktu. Namanya Rafli.

Ia bukan lelaki yang mencolok. Tidak berjas mahal, tidak bersepatu kulit mengilap, dan tidak pula membawa mobil berlogo kuda atau bintang. Tapi di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan otak cemerlang lulusan Sidney University—gelar yang diperoleh dengan kerja keras, bukan karena warisan atau relasi. Ia pulang ke tanah air dengan tekad sederhana: membangun hidup yang jujur dan penuh makna.

Namun sayang, dunia tidak pernah melihat dengan kacamata nurani. Ia datang melamar Silvi, gadis yang ia cintai sepenuh hati, tapi disambut dengan tatapan sinis dari keluarga besar gadis itu.

> “Sidney University? Tapi kerja di mana sekarang?”

“Masih buka konsultan sendiri, Bu. Baru merintis.”

“Oh, jadi belum punya kantor tetap?”

“Masih sewa ruangan kecil, Bu.”

Jawaban itu seolah menjadi batu yang dilempar ke telinganya sendiri. Ia tahu, keluarga Silvi menilai hidup dari kepemilikan, bukan dari nilai. Di mata mereka, lelaki baik adalah yang punya mobil mewah, jabatan, atau rumah dua lantai. Rafli hanyalah lelaki berjaket kain, dengan motor butut dan kesopanan yang dianggap tidak menjanjikan apa-apa.

Silvi, gadis yang lembut dan berwajah sabar itu, berkali-kali diminta sang ibu untuk “memikirkan ulang”.

> “Silvi, kamu cantik, pintar, masa mau nikah sama lelaki yang bahkan rumahnya kontrakan? Banyak yang lebih mapan.”

“Tapi, Bu, Rafli baik. Dia jujur, dan aku merasa tenang bersamanya.”

“Tenang nggak cukup buat hidup, Nak. Lihat abang-abang iparmu, semua sukses.”

Silvi diam, tapi hatinya bergeming. Ia tahu, ketenangan tidak dijual di mall, dan kejujuran tidak dipajang di showroom mobil.

—

I

Tiga bulan setelah itu, Rafli dan Silvi menikah dalam suasana sederhana. Tanpa pesta mewah, tanpa dekorasi mencolok. Hanya akad nikah di masjid kecil, dengan hidangan nasi kotak dan doa-doa yang tulus.

Banyak yang mencibir. Ada yang bilang Silvi menurunkan standar, ada pula yang menuduh Rafli pandai bersilat lidah. Tapi bagi mereka berdua, cinta adalah tentang keberanian berjalan di bawah hujan tanpa takut basah, asal tangan tetap saling menggenggam.

> “Kita nggak kaya, Silvi,” kata Rafli malam itu sambil menatap langit-langit rumah kontrakan mereka yang retak.

“Tapi kita punya arah. Itu lebih penting daripada punya segalanya tapi tersesat.”

Silvi tersenyum, dan malam itu menjadi awal dari perjalanan mereka—perjalanan dua jiwa yang bersekutu melawan pandangan dunia.

—

II

Ujian pertama datang seperti badai yang tiba-tiba.

Kabar itu menyebar cepat: ketiga kakak ipar Silvi ditangkap polisi karena kasus korupsi dan penggelapan dana di perusahaan tempat mereka bekerja. Tiga lelaki yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi headline berita.

Rumah besar keluarga Silvi mendadak sunyi. Telepon tak lagi berdering, para tetangga yang dulu sering berkunjung kini memilih menutup pintu. Di wajah sang ibu, nyonya Rukmini, tampak campuran malu, marah, dan kesedihan yang berat. Ia, yang dulu menilai menantu dari harta, kini tak tahu kepada siapa harus bersandar.

Saat itu, Rafli datang.

Ia datang bukan untuk menertawakan, bukan untuk membalas sindiran masa lalu. Ia datang membawa sekuntum mawar merah dan sebungkus makanan hangat.

> “Bu, ini saya bawakan makan. Saya tahu mungkin belum sempat masak.”

Ibu Rukmini menatapnya, matanya sembab.

> “Kamu masih mau datang ke rumah ini, Nak? Setelah apa yang kami ucapkan dulu?”

Rafli tersenyum.

> “Hujan tidak hanya turun di rumah orang jahat, Bu. Kadang hujan juga datang untuk menguji orang baik. Saya datang bukan karena lupa, tapi karena ingat. Ingat bahwa keluarga ini adalah keluarga istri saya, keluarga saya juga.”

Ucapan itu seperti air yang memadamkan bara di hati sang ibu. Ia menunduk, lalu menangis. Tangannya yang dulu menolak kini menggenggam tangan Rafli erat-erat.

> “Maafkan Ibu, Nak. Ibu dulu buta. Ibu menilai kamu dari dompet, bukan dari dada.”

Rafli hanya menunduk. Di luar, hujan turun deras. Tapi kali ini, payung yang ia bawa bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk melindungi hati orang-orang yang pernah melukainya.

—

III

Hari-hari berikutnya, Rafli sering datang ke rumah itu. Ia membantu menenangkan Silvi yang sedih, menemani ibu mertuanya mengurus urusan hukum, dan menenangkan anak-anak para kakak ipar yang belum mengerti apa itu korupsi.

Di sela semua itu, ia tetap bekerja. Kantor kecilnya yang dulu dianggap remeh kini justru mulai dipercaya banyak klien karena kejujurannya. Ia tak pernah memanfaatkan musibah keluarga mertuanya untuk menaikkan citra. Ia hanya terus berbuat baik, seolah setiap langkahnya adalah bentuk pengabdian pada cinta dan Tuhan.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras rumah ibu mertuanya, Nyonya Rukmini datang membawa secangkir teh hangat.

> “Rafli…” suaranya lirih. “Ibu mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Bu.”

“Kenapa kamu tetap datang, padahal kami dulu memandang rendah kamu?”

Rafli menatap langit, hujan mulai turun rintik-rintik. Ia membuka payungnya, memayungi sang ibu.

> “Karena saya tahu, Bu, hidup ini seperti hujan. Kadang kita butuh basah dulu untuk tahu arti payung. Dan karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang saat bahagia, tapi siapa yang bertahan saat badai tiba.”

Air mata menetes dari wajah sang ibu. Ia menunduk. Di tangannya, sekuntum mawar merah yang tadi dibawa Rafli ia genggam dengan erat. Duri-durinya menembus kulit, tapi ia tak peduli. Ia tahu, keindahan selalu berdampingan dengan luka.

—

IV

Musim berganti.

Kasus para menantunya perlahan selesai. Dua di antaranya dijatuhi hukuman penjara, satu lagi divonis bebas bersyarat. Namun keluarga itu tidak pernah sama lagi. Harta mereka habis, rumah besar dijual, status sosial lenyap.

Yang tersisa hanyalah Rafli dan Silvi—dua insan yang dulu dianggap kecil, kini justru menjadi sandaran.

Rafli tak banyak bicara, ia hanya berbuat. Ia membantu mengelola keuangan keluarga, mencari pekerjaan baru untuk adik-adik Silvi, dan membangunkan semangat yang sempat patah. Di mata sang ibu, Rafli kini bukan hanya menantu, tapi cahaya kecil di tengah malam yang gelap.

> “Nak Rafli,” kata Nyonya Rukmini suatu malam, “Ibu malu kalau ingat dulu Ibu suruh Silvi menjauh darimu. Padahal, mungkin kamu satu-satunya lelaki yang paling tulus mencintai anak Ibu.”

“Tidak usah malu, Bu. Manusia memang sering tertipu oleh kilau dunia. Tapi Tuhan punya cara indah untuk membuka mata kita.”

Silvi yang duduk di sampingnya hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Rafli erat-erat. Ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya suami, tapi guru kehidupan yang mengajarinya arti kesabaran dan keberanian.

—

V

Beberapa tahun kemudian, Rafli menjadi konsultan keuangan yang sukses. Ia membuka kantor resmi di pusat kota, memiliki beberapa pegawai, tapi tetap hidup sederhana. Ia tak pernah berubah: tetap sopan, tetap rendah hati, tetap setia pada prinsip bahwa rezeki bukan soal cepat atau banyak, tapi soal berkah.

Suatu hari, di acara keluarga, ibu mertua memperkenalkannya pada tamu-tamu yang hadir.

> “Inilah menantu saya, Rafli. Dulu kami kira dia bukan siapa-siapa. Ternyata, dialah seseorang yang tak ternilai.”

Rafli hanya tersenyum malu. Di luar ruangan, hujan turun lagi. Ia berdiri di teras, membuka payung hitam kesayangannya, dan memandangi taman kecil di halaman rumah. Di sana, tumbuh sekuntum mawar merah. Mawar yang ia tanam sendiri, bertahun-tahun lalu, di hari ia pertama kali datang membawa mawar dan makanan untuk mertuanya. Kini mawar itu mekar, indah, dan tetap berduri—seperti cinta yang pernah dilukai tapi tumbuh semakin kokoh.

Silvi menghampiri dari belakang, menggandeng lengannya.

> “Mas, hujan-hujan begini masih saja menatap bunga itu?”

“Iya, karena setiap durinya mengingatkanku, cinta sejati selalu diuji.”

Silvi tersenyum, menunduk di bahunya.

> “Aku bersyukur Tuhan mengujimu, karena dari ujian itu aku belajar siapa lelaki terbaik di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di bawah payung hitam itu, menatap hujan yang turun perlahan. Langit tampak kelabu, tapi di hati mereka, ada cahaya yang lembut: cahaya ketulusan, cahaya kesabaran, cahaya yang lahir dari sekuntum mawar berduri yang tumbuh di tengah badai.

—

Dan di antara rintik hujan sore itu, dunia seakan berbisik pelan:

bahwa tidak semua lelaki baik datang dengan jas mahal,

tidak semua kebahagiaan harus berkilau,

dan tidak semua luka adalah kutukan—

karena kadang, dari luka itulah tumbuh bunga paling indah,

yang disebut cinta sejati. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Next Post

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co