14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 31, 2026
in Cerpen
Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

HUJAN sore itu turun dengan lembut, seperti jemari langit yang sedang mengusap luka bumi. Di bawah rinainya yang bening, seorang lelaki berjalan pelan membawa payung hitam dan sekuntum mawar merah di tangannya. Wajahnya tenang, langkahnya mantap, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam—sebuah kisah yang telah melalui badai kesombongan, ujian, dan cinta yang diuji oleh waktu. Namanya Rafli.

Ia bukan lelaki yang mencolok. Tidak berjas mahal, tidak bersepatu kulit mengilap, dan tidak pula membawa mobil berlogo kuda atau bintang. Tapi di balik kesederhanaan penampilannya, tersimpan otak cemerlang lulusan Sidney University—gelar yang diperoleh dengan kerja keras, bukan karena warisan atau relasi. Ia pulang ke tanah air dengan tekad sederhana: membangun hidup yang jujur dan penuh makna.

Namun sayang, dunia tidak pernah melihat dengan kacamata nurani. Ia datang melamar Silvi, gadis yang ia cintai sepenuh hati, tapi disambut dengan tatapan sinis dari keluarga besar gadis itu.

> “Sidney University? Tapi kerja di mana sekarang?”

“Masih buka konsultan sendiri, Bu. Baru merintis.”

“Oh, jadi belum punya kantor tetap?”

“Masih sewa ruangan kecil, Bu.”

Jawaban itu seolah menjadi batu yang dilempar ke telinganya sendiri. Ia tahu, keluarga Silvi menilai hidup dari kepemilikan, bukan dari nilai. Di mata mereka, lelaki baik adalah yang punya mobil mewah, jabatan, atau rumah dua lantai. Rafli hanyalah lelaki berjaket kain, dengan motor butut dan kesopanan yang dianggap tidak menjanjikan apa-apa.

Silvi, gadis yang lembut dan berwajah sabar itu, berkali-kali diminta sang ibu untuk “memikirkan ulang”.

> “Silvi, kamu cantik, pintar, masa mau nikah sama lelaki yang bahkan rumahnya kontrakan? Banyak yang lebih mapan.”

“Tapi, Bu, Rafli baik. Dia jujur, dan aku merasa tenang bersamanya.”

“Tenang nggak cukup buat hidup, Nak. Lihat abang-abang iparmu, semua sukses.”

Silvi diam, tapi hatinya bergeming. Ia tahu, ketenangan tidak dijual di mall, dan kejujuran tidak dipajang di showroom mobil.

—

I

Tiga bulan setelah itu, Rafli dan Silvi menikah dalam suasana sederhana. Tanpa pesta mewah, tanpa dekorasi mencolok. Hanya akad nikah di masjid kecil, dengan hidangan nasi kotak dan doa-doa yang tulus.

Banyak yang mencibir. Ada yang bilang Silvi menurunkan standar, ada pula yang menuduh Rafli pandai bersilat lidah. Tapi bagi mereka berdua, cinta adalah tentang keberanian berjalan di bawah hujan tanpa takut basah, asal tangan tetap saling menggenggam.

> “Kita nggak kaya, Silvi,” kata Rafli malam itu sambil menatap langit-langit rumah kontrakan mereka yang retak.

“Tapi kita punya arah. Itu lebih penting daripada punya segalanya tapi tersesat.”

Silvi tersenyum, dan malam itu menjadi awal dari perjalanan mereka—perjalanan dua jiwa yang bersekutu melawan pandangan dunia.

—

II

Ujian pertama datang seperti badai yang tiba-tiba.

Kabar itu menyebar cepat: ketiga kakak ipar Silvi ditangkap polisi karena kasus korupsi dan penggelapan dana di perusahaan tempat mereka bekerja. Tiga lelaki yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi headline berita.

Rumah besar keluarga Silvi mendadak sunyi. Telepon tak lagi berdering, para tetangga yang dulu sering berkunjung kini memilih menutup pintu. Di wajah sang ibu, nyonya Rukmini, tampak campuran malu, marah, dan kesedihan yang berat. Ia, yang dulu menilai menantu dari harta, kini tak tahu kepada siapa harus bersandar.

Saat itu, Rafli datang.

Ia datang bukan untuk menertawakan, bukan untuk membalas sindiran masa lalu. Ia datang membawa sekuntum mawar merah dan sebungkus makanan hangat.

> “Bu, ini saya bawakan makan. Saya tahu mungkin belum sempat masak.”

Ibu Rukmini menatapnya, matanya sembab.

> “Kamu masih mau datang ke rumah ini, Nak? Setelah apa yang kami ucapkan dulu?”

Rafli tersenyum.

> “Hujan tidak hanya turun di rumah orang jahat, Bu. Kadang hujan juga datang untuk menguji orang baik. Saya datang bukan karena lupa, tapi karena ingat. Ingat bahwa keluarga ini adalah keluarga istri saya, keluarga saya juga.”

Ucapan itu seperti air yang memadamkan bara di hati sang ibu. Ia menunduk, lalu menangis. Tangannya yang dulu menolak kini menggenggam tangan Rafli erat-erat.

> “Maafkan Ibu, Nak. Ibu dulu buta. Ibu menilai kamu dari dompet, bukan dari dada.”

Rafli hanya menunduk. Di luar, hujan turun deras. Tapi kali ini, payung yang ia bawa bukan untuk melindungi dirinya dari hujan, melainkan untuk melindungi hati orang-orang yang pernah melukainya.

—

III

Hari-hari berikutnya, Rafli sering datang ke rumah itu. Ia membantu menenangkan Silvi yang sedih, menemani ibu mertuanya mengurus urusan hukum, dan menenangkan anak-anak para kakak ipar yang belum mengerti apa itu korupsi.

Di sela semua itu, ia tetap bekerja. Kantor kecilnya yang dulu dianggap remeh kini justru mulai dipercaya banyak klien karena kejujurannya. Ia tak pernah memanfaatkan musibah keluarga mertuanya untuk menaikkan citra. Ia hanya terus berbuat baik, seolah setiap langkahnya adalah bentuk pengabdian pada cinta dan Tuhan.

Sampai suatu sore, ketika ia sedang duduk di teras rumah ibu mertuanya, Nyonya Rukmini datang membawa secangkir teh hangat.

> “Rafli…” suaranya lirih. “Ibu mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Bu.”

“Kenapa kamu tetap datang, padahal kami dulu memandang rendah kamu?”

Rafli menatap langit, hujan mulai turun rintik-rintik. Ia membuka payungnya, memayungi sang ibu.

> “Karena saya tahu, Bu, hidup ini seperti hujan. Kadang kita butuh basah dulu untuk tahu arti payung. Dan karena cinta sejati bukan tentang siapa yang datang saat bahagia, tapi siapa yang bertahan saat badai tiba.”

Air mata menetes dari wajah sang ibu. Ia menunduk. Di tangannya, sekuntum mawar merah yang tadi dibawa Rafli ia genggam dengan erat. Duri-durinya menembus kulit, tapi ia tak peduli. Ia tahu, keindahan selalu berdampingan dengan luka.

—

IV

Musim berganti.

Kasus para menantunya perlahan selesai. Dua di antaranya dijatuhi hukuman penjara, satu lagi divonis bebas bersyarat. Namun keluarga itu tidak pernah sama lagi. Harta mereka habis, rumah besar dijual, status sosial lenyap.

Yang tersisa hanyalah Rafli dan Silvi—dua insan yang dulu dianggap kecil, kini justru menjadi sandaran.

Rafli tak banyak bicara, ia hanya berbuat. Ia membantu mengelola keuangan keluarga, mencari pekerjaan baru untuk adik-adik Silvi, dan membangunkan semangat yang sempat patah. Di mata sang ibu, Rafli kini bukan hanya menantu, tapi cahaya kecil di tengah malam yang gelap.

> “Nak Rafli,” kata Nyonya Rukmini suatu malam, “Ibu malu kalau ingat dulu Ibu suruh Silvi menjauh darimu. Padahal, mungkin kamu satu-satunya lelaki yang paling tulus mencintai anak Ibu.”

“Tidak usah malu, Bu. Manusia memang sering tertipu oleh kilau dunia. Tapi Tuhan punya cara indah untuk membuka mata kita.”

Silvi yang duduk di sampingnya hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Rafli erat-erat. Ia tahu, lelaki di sampingnya bukan hanya suami, tapi guru kehidupan yang mengajarinya arti kesabaran dan keberanian.

—

V

Beberapa tahun kemudian, Rafli menjadi konsultan keuangan yang sukses. Ia membuka kantor resmi di pusat kota, memiliki beberapa pegawai, tapi tetap hidup sederhana. Ia tak pernah berubah: tetap sopan, tetap rendah hati, tetap setia pada prinsip bahwa rezeki bukan soal cepat atau banyak, tapi soal berkah.

Suatu hari, di acara keluarga, ibu mertua memperkenalkannya pada tamu-tamu yang hadir.

> “Inilah menantu saya, Rafli. Dulu kami kira dia bukan siapa-siapa. Ternyata, dialah seseorang yang tak ternilai.”

Rafli hanya tersenyum malu. Di luar ruangan, hujan turun lagi. Ia berdiri di teras, membuka payung hitam kesayangannya, dan memandangi taman kecil di halaman rumah. Di sana, tumbuh sekuntum mawar merah. Mawar yang ia tanam sendiri, bertahun-tahun lalu, di hari ia pertama kali datang membawa mawar dan makanan untuk mertuanya. Kini mawar itu mekar, indah, dan tetap berduri—seperti cinta yang pernah dilukai tapi tumbuh semakin kokoh.

Silvi menghampiri dari belakang, menggandeng lengannya.

> “Mas, hujan-hujan begini masih saja menatap bunga itu?”

“Iya, karena setiap durinya mengingatkanku, cinta sejati selalu diuji.”

Silvi tersenyum, menunduk di bahunya.

> “Aku bersyukur Tuhan mengujimu, karena dari ujian itu aku belajar siapa lelaki terbaik di dunia ini.”

Mereka berdua berdiri di bawah payung hitam itu, menatap hujan yang turun perlahan. Langit tampak kelabu, tapi di hati mereka, ada cahaya yang lembut: cahaya ketulusan, cahaya kesabaran, cahaya yang lahir dari sekuntum mawar berduri yang tumbuh di tengah badai.

—

Dan di antara rintik hujan sore itu, dunia seakan berbisik pelan:

bahwa tidak semua lelaki baik datang dengan jas mahal,

tidak semua kebahagiaan harus berkilau,

dan tidak semua luka adalah kutukan—

karena kadang, dari luka itulah tumbuh bunga paling indah,

yang disebut cinta sejati. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Perempuan yang Belajar Mencintai Pelan-pelan

Next Post

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co