24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
in Ulas Buku
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

Novel ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’│Foto: Dede

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.”

Demikian salah satu penggalan kutipan dari Ale, tokoh utama dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Novel karya Brian Khrisna yang diterbitkan oleh Penerbit Grasindo pada 2025 ini hadir sebagai refleksi tentang kelelahan hidup dan proses berdamai dengan diri sendiri. Dengan ketebalan 216 halaman, buku ini disambut hangat oleh para pembaca, bahkan pada tahun yang sama sejak terbit, novel ini telah mengalami cetak ulang hingga 68 kali ─ sebuah penanda bahwa kisah Ale menyentuh banyak orang.

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menghadirkan kisah tentang kelelahan hidup, depresi yang sunyi, serta perjalanan batin seorang manusia yang nyaris menyerah pada dunia. Melalui tokoh utama bernama Ale, pembaca diajak menyusuri proses internal seseorang yang merasa terasing dari diri sendiri dan lingkungannya. Brian Khrisna tidak membangun cerita lewat konflik besar atau kejadian spektakuler, melainkan melalui rangkaian pertemuan sederhana yang perlahan mengubah cara pandang tokohnya terhadap hidup.

Brian Khrisna memilih pendekatan yang tenang dan membumi. Ia tidak menyajikan cerita dengan ledakan emosi, melainkan dengan ritme pelan yang mengikuti pikiran Ale. Hasilnya adalah sebuah novel reflektif yang menyoroti kesehatan mental, hubungan antarmanusia, serta makna keberadaan melalui detail-detail kecil kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan alur maju dan sudut pandang orang pertama, membuat novel ini mudah dipahami dan dinikmati berbagai kalangan, terutama oleh pembaca yang tak terbiasa dengan bacaan berat atau alur kompleks.

Di buku ini, pembaca tidak hanya dimanjakan dengan cerita yang mengalir, tetapi juga visual-visual yang membantu menggambarkan keadaan batin tokoh utama. Tata letak halaman dibuat bersih dengan ilustrasi-ilustrasi sederhana yang muncul di beberapa bagian, memperkuat suasana yang dialami Ale. Sampulnya menampilkan nuansa warna yang tenang, selaras dengan tema novel. Namun demikian, novel ini juga memuat cukup banyak kata-kata yang bersifat vulgar dan kasar, sehingga kurang sesuai untuk pembaca di bawah umur.

Sosok Ale digambarkan sebagai pria 37 tahun yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan kantoran. Dari luar, hidupnya tampak biasa: bekerja, pulang, mengulang rutinitas yang sama setiap hari. Namun di dalam dirinya, Ale menyimpan kelelahan mental yang telah lama menumpuk. Ia merasa hampa, tidak berarti, dan tidak memiliki alasan kuat untuk terus bertahan. Tidak ada satu peristiwa besar yang membuatnya ingin mati. Keputusasaan itu muncul dari akumulasi rasa gagal, penghinaan, kesepian, dan tekanan hidup yang tak pernah benar-benar ia bagi kepada siapa pun.

Pada bagian awal novel, Ale bahkan mempertanyakan eksistensinya sendiri melalui ungkapan batin yang jujur: “Kenapa hidup orang-orang begitu terlihat berwarna? Apakah cuma hidupku yang tidak mempunyai warna? Atau, karena mereka pintar mengatur warnanya sendiri?” Kutipan dari bab “SCBD Parking Lot 17” ini menegaskan sejak awal bahwa Ale berada dalam fase mempertanyakan makna hidup dan membandingkan dirinya dengan dunia di sekitarnya. Ia juga selalu teringat saat direndahkan dan dihina oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama di tempat ia bekerja. Bahkan sejak kecil, orang tuanya tak pernah membela jika ia diperlakukan tak baik, justru ia yang dimarahi dan disepelekan oleh orang tuanya.

Dalam kondisi tersebut, Ale pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun sebelum melakukannya, ia ingin memenuhi satu keinginan terakhir, yaitu makan seporsi mie ayam dari gerobak yang biasa mangkal di depan kantornya. Mie ayam itu dijual oleh Pak Jo, seorang penjual sederhana yang selama ini menjadi bagian kecil dari rutinitas Ale. Keinginan ini terdengar sepele, tetapi bagi Ale terasa penting, mie ayam itu menjadi semacam penanda terakhir sebelum ia benar-benar pergi.

Pada titik ini pula, tekad Ale tergambar secara terang-terangan melalui pikirannya sendiri: “Sebelum mati, setidaknya sekali saja aku harus melawan dunia. Rencanaku harus terlaksana.”

Namun ketika Ale datang ke tempat biasa gerobak itu berada, ia mendapati kenyataan bahwa Pak Jo telah meninggal dunia setelah ia mencari kediaman Pak Jo demi mendapatkan seporsi mie ayam. Kekosongan itu menunda langkah terakhir Ale. Ia malah terjebak ikut membantu prosesi pemakaman Pak Jo, sebuah peristiwa yang secara tidak langsung mengikatnya kembali dengan kehidupan sosial. Seusai pemakaman, Ale membeli rokok di sebuah warkop. Tanpa ia ketahui, penjaga warkop tersebut merupakan intel yang tengah mengincar target tertentu. Ale secara tidak sengaja menemukan bungkusan berisi bubuk putih (narkoba) dan seketika disangka sebagai orang yang sedang diburu. Kesalahpahaman ini berujung pada penangkapan Ale.

Peristiwa salah tangkap tersebut membawa Ale ke penjara, sebuah ruang yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di balik jeruji besi itulah Ale bertemu Murad, narapidana yang dikenal keras dan kerap keluar-masuk penjara, namun juga memiliki ‘permainan’ dengan pihak kepolisian. Murad bukan sosok yang ramah atau penuh empati. Cara bicaranya kasar, tindakannya lugas, dan dunianya lekat dengan kekerasan. Namun justru di hadapan Murad, Ale untuk pertama kalinya merasa diperlakukan sebagai manusia yang setara.

Singkat cerita, setelah mereka bebas, Murad mengajak Ale menjadi tangan kanannya. Tawaran itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan pintu masuk ke dunia baru yang keras dan abu-abu. Perlakuan Murad terhadap Ale sering kali terkesan kasar, tetapi di sanalah Ale mulai kembali merasakan denyut hidup. Ia merasa dibutuhkan, diberi peran, dan dipercaya. Murad, dengan segala kekurangannya, menjadi figur yang memperkenalkan Ale pada realitas lain tentang kekuasaan, loyalitas, dan harga diri.

Murad kerap membawa obat-obatan terlarang ke sebuah bar milik Mami Louisse. Bar tersebut bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang pelarian bagi banyak orang yang lelah dengan hidupnya masing-masing. Mami Louisse sebagai pemilik bar sekaligus muncikari digambarkan sebagai perempuan yang tegas dan penuh perhitungan. Ia menyediakan ruang bagi transaksi gelap sekaligus pelampiasan nafsu lelaki melalui para pelacur yang bekerja di sana. Meski terlibat dalam dunia gelap, Mami Louisse memiliki sisi manusiawi yang tidak sepenuhnya hitam-putih.

Salah satu pekerja di bar itu adalah Juleha, pelacur yang tampil blakblakan dan keras di permukaan, tetapi menyimpan kerentanan yang dalam. Juleha menjadi representasi perempuan di ruang marjinal kota ─ hidup di antara pilihan-pilihan sempit dan tuntutan ekonomi. Interaksinya dengan Ale membuka lapisan lain tentang luka yang dipikul manusia, sekaligus mempertegas bahwa setiap orang membawa beban hidupnya sendiri, meskipun cara mereka menyembunyikannya berbeda.

Di bar yang sama, Ale kembali bertemu Ipul, mantan office boy di kantornya dulu. Ipul bekerja sebagai tukang bersih-bersih di bar Mami Louisse demi menambah penghasilan. Ipul menjadi penghubung Ale dengan kehidupan lamanya ─ pengingat bahwa dunia kantor yang rapi dan dunia malam yang keras ternyata bisa bersinggungan melalui nasib orang-orang kecil yang berjuang bertahan.

Melalui Ipul pula Ale mengenal Bu Murni, ibu dari teman Ipul yang telah lama pergi meninggalkannya. Dahulu, anak Bu Murni merasa disepelekan, dikekang, dan dituntut banyak, hingga memilih menjauh. Kisah ini memiliki gema emosional bagi Ale, yang juga pernah merasa tertekan oleh perlakuan orang tuanya. Bu Murni melihat kehadiran Ale seperti kepulangan anaknya sendiri. Dari Bu Murni, Ale merasakan kehangatan yang tidak menghakimi, melainkan sebuah bentuk penerimaan yang pelan-pelan menambal kekosongan batinnya.

Tokoh lain yang tak kalah penting adalah Pak Uju, penjual layangan yang memiliki utang kepada Murad. Ketika utang itu jatuh tempo, Murad menagih dengan cara semena-mena. Ale berdiri di antara mereka dan mencegah tindakan tersebut. Sejak saat itu, Pak Uju merasa berutang budi pada Ale. Mereka kemudian beberapa kali bertemu, saling berbagi cerita, dan bertukar nasihat. Dari Pak Uju, Ale belajar filosofi hidup seperti layangan, bisa terangkat tinggi, jatuh terseret angin, atau tersangkut, tetapi selalu memiliki peluang untuk kembali terbang.

Dalam perjalanannya, Ale juga bertemu Pak Jipren, penjual kerupuk tunanetra. Pak Jipren menjalani hidup dengan keterbatasan penglihatan, namun justru memiliki pandangan yang jernih tentang makna bertahan. Pertemuan ini menyadarkan Ale bahwa keterbatasan fisik tidak selalu berarti keterbatasan cara melihat dunia. Bahkan seseorang yang tidak bisa melihat secara harfiah pun masih mampu memandang hidup dengan kebijaksanaan. Pak Jipren menjadi salah satu tokoh kunci yang akhirnya menyadarkan Ale, hingga mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

Melalui rangkaian pertemuan dengan Murad, Mami Louise, Juleha, Ipul, Bu Murni, Pak Uju, dan Pak Jipren, Brian Khrisna membangun mosaik pengalaman manusia yang saling bersinggungan. Tidak satu pun dari mereka hadir sebagai penyelamat mutlak. Mereka hanyalah manusia biasa dengan latar hidup yang rumit. Namun justru dari fragmen-fragmen kecil inilah Ale perlahan menemukan kembali hubungan dengan dunia.

Tema utama novel ini adalah depresi dan kelelahan emosional. Brian Khrisna tidak mengemas depresi sebagai sesuatu yang sensasional. Ia hadir sebagai kesenyapan, sebagai rasa kosong yang sulit dijelaskan, sebagai rutinitas yang kehilangan makna. Ale tidak digambarkan menangis histeris atau melakukan tindakan ekstrem sepanjang cerita. Sebaliknya, pembaca diajak menyelami pikirannya yang berputar-putar dan keinginannya untuk berhenti melangkah ─ sebuah potret yang terasa dekat dengan realitas banyak orang dewasa masa kini.

Sebagai bagian dari proses refleksi tersebut, Ale sampai pada kesadaran baru tentang hidupnya: “Selama ini aku selalu mencari jawaban dari tempat-tempat yang jauh, padahal Tuhan meletakkan jawaban itu begitu dekat denganku. Yang kubutuh hanya melihat lebih luas dan lebih bijaksana.” Kutipan dari bab “Seporsi Mie Ayam yang Terakhir” ini menandai perubahan sudut pandang Ale tentang hidupnya.

Novel ini menekankan pentingnya kebaikan kecil. Penjual kerupuk Pak Jipren, obrolan dengan Pak Uju, perhatian Bu Murni, hingga kehadiran Ipul, semuanya tampak remeh, tetapi memberi dampak besar. Brian Khrisna seolah ingin mengatakan bahwa perubahan hidup jarang datang dalam bentuk peristiwa besar, ia lebih sering hadir melalui pertemuan singkat dan obrolan sederhana.

Menjelang akhir cerita, janji lama kembali muncul. Pram, anak Pak Jo, akhirnya membuatkan Ale seporsi mie ayam ─ janji yang sempat tertunda karena Ale terjebak di penjara. Namun Ale tidak memakan mie ayam itu, ia justru membiarkannya, ia berpikir “Masih ada hari esok untuk makan.” Momen ini menjadi penutup yang apik dan simbolis: lingkaran perjalanan Ale kembali ke titik awal, namun dengan kesadaran yang berbeda.

Pada bagian penutup perjalanannya, Ale mengungkapkan keputusan terpenting dalam hidupnya: “Aku tidak tahu sudah berapa kali aku memutuskan untuk mati dan mencoba bunuh diri selama 37 tahun aku hidup. Namun sekarang, aku telah memutuskan untuk tidak membiarkan kematian menghampiriku lebih dulu.”

Secara keseluruhan, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah novel tentang manusia yang hampir menyerah, tetapi tertahan oleh hal-hal kecil yang tidak ia rencanakan. Ini bukan kisah heroik, bukan pula cerita tentang kesembuhan instan. Brian Khrisna menyajikan proses yang pelan dan sangat manusiawi. Ale tidak tiba-tiba menjadi sosok baru, ia hanya mulai melihat hidup dari sudut yang sedikit berbeda.

Dalam kesederhanaannya, novel ini menawarkan refleksi tentang rapuhnya manusia sekaligus daya tahannya. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, memperhatikan sekitar, dan mungkin menemukan bahwa alasan untuk bertahan bisa datang dari hal yang paling tidak disangka, bahkan dari seporsi mie ayam. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Brian KhrisnaBukunovelUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujan, Payung, dan Sekuntum Mawar Berduri | Cerpen Khairul A. El Maliky

Next Post

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Bulan Bahasa Bali 2026 Akan Dibuka dengan Garapan Kreatif Proses Kelahiran Kupu-Kupu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co