6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
January 30, 2026
in Ulas Rupa
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis -- a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan kepada para pengguna jalan di Bois de Vincennes, Paris. Tepat 2 hari sebelum sebuah gelaran monumental yang mempertontonkan rupa dan kebudayaan negeri-negeri jajahan serta keangkuhan penjajah bernama Paris Colonial Exposition 1931 dimulai.

Alasan utama para seniman surealis–Aragon, André Breton, René Char, dan Paul Éluard, dkk–dan sekutu komunisnya mengecam pameran tersebut selain memperjuangkan sikap anti kolonialisme, juga disebabkan para koloni imperialis telah menutup rapat kekerasan, kerja paksa, dan perlawanan rakyat jajahan yang terjadi serta mereduksi kehidupan mereka menjadi objek tontonan. Kritik itu berhadapan langsung dengan wajah megah Anjungan yang dibuat oleh koloni Belanda, sebuah paviliun seluas 600m² berarsitektur campuran gonjong Minang yang berpadu dengan ukiran Jawa, lalu dua buah atap Meru yang bertengger di puncak atap, serta sebuah Candi Bentar setinggi 50 meter. Di dalam anjungan tersusun ratusan koleksi pusaka budaya nusantara dan Bali–arca, perhiasan, kain gringsing, lukisan, dan ukiran-ukiran kayu.

Pada malam 28 Juni 1931, bersamaan dengan koleksi yang dipamerkan, Anjungan Belanda terbakar musnah. Pers Prancis heboh, beragam spekulasi tentang penyebabnya bermunculan. Pusaka budaya, tetap hangus tak tergantikan. Meski demikian, dalam waktu singkat paviliun baru berhasil direkonstruksi dengan pinjaman koleksi dari berbagai institusi dan kembali dibuka pada bulan Agustus 1931.

Pembabakan singkat diatas adalah salah satu peristiwa historis yang menyisakan banyak tanda tanya sekaligus titik tolak bagi proses kreatif Agung Pramana. Paris Colonial Exposition 1931, atau bahkan yang lebih awal lagi World Exhibition Paris tahun 1900–menghadirkan koleksi yang dikumpulkan pada masa kolonial oleh pejabat pemerintahan dan misionaris yang kemudian menjadi cikal bakal koleksi Tropenmuseum Amsterdam–sebagai satu tonggak sejarah yang mempromosikan kebudayaan Bali membawa Agung masuk kepada pergulatan tentang klaim identitas, representasi, dan semangat dekolonial untuk membaca ulang sejarah. Jangan salah paham, ia tidak hanya sedang meratapi hilangnya artifak-artifak dalam anjungan megah Belanda itu. Sebagai perupa ia lebih tertarik untuk bertanya, “Bagaimana posisi atau status benda itu di sana? Siapa yang berhak untuk mengklaim kembali? Bagaimana ia harus membaca kembali sejarahnya?”.

Untuk merunut persoalan tersebut, ia memetakan hasil interogasinya melalui sebuah project yang ia namai “Print‑Mapping: Decolonial Axis”. Kata “axis” dalam judul project ini bermakna metaforik sebagai poros konseptual Agung Pramana. Titik temu yang mengaitkan praktik cetak grafis (printmaking) sebagai medium reproduksi dan manipulasi visual dengan upaya mencipta pemetaan ulang sejarah, jalur perpindahan objek, mekanisme administratif, dan cara representasi Bali.

“Menjarah Balik British Museum IV”, Agung Pramana, edition 1/4, screen print, cyanotype, 297mm x 420mm, 2024

Agung mengumpulkan potongan foto pameran lama, denah paviliun, label inventaris, dan foto arca dari arsip digital. Bahan‑bahan itu ‘dimutilasi’, susun ulang, beri layer warna tegas, lalu dicetak berlapis menggunakan teknik screenprint dan cyanotype, tidak jarang pula kombinasi antar keduanya. Alhasil, project ini melahirkan berlembar‑lembar cetak yang berfungsi sebagai “peta”, arsip yang dibuka, dan komentar visual terhadap pembacaan sejarah yang seringkali eurosentrik, meromantisasi kolonialisme dan mengecilkan kekerasan yang menyertainya.

Dalam praktiknya ini, Agung bertindak sebagai pembaca ulang yang menyingkap narasi yang tersembunyi dan jarang diangkat, serta membalikkan hierarki pusat‑pinggiran dengan menempatkan pengalaman dan konteks lokal sebagai sumber tafsir yang sah.

Agung Pramana (b.1998), memulai studinya pada seni cetak grafis secara otodidak, lalu secara konseptual dikembangkan di kampus, hingga akhirnya berkarir secara profesional setelah bergabung dengan DEVFTO Printmaking Institute (2021 – sekarang) yang turut membentuk metode praktiknya yang sarat teknis sekaligus berbasis riset. Sejak awal berkarya, ia banyak menaruh perhatiannya pada persoalan perspektif historis, relasi antarbudaya, dampak pariwisata, dan konsekuensi kolonialisasi terhadap kesenian dan masyarakat. Secara formal ia tertarik untuk menggabungkan nilai estetika ‘pop art’ dengan estetika tradisional yang melekat pada visual Bali.

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Ide-ide tentang identitas ke-Bali-annya serta kompleksitas sejarah yang ia minati sesungguhnya sudah lama berputar di kepalanya. Bermuara pada tahun 2024 lalu, keresahannya yang paling dalam terhadap praktik kolonial yang ia anggap menciderai status heritage Bali akhirnya mewujud dalam 6 seri karya yang ia namai “Looting Back from British Museum”. Empat seri diantaranya kemudian mendapatkan respon baik dari seorang kurator Prancis yang memamerkannya di Tali Art Gallery Malaysia, bersama dengan sejumlah seniman Internasional.

Sebagai catatan kaki: seorang arkeolog kontemporer eropa sendiri, Dan Hicks, pernah menulis refleksi tentang praktik penjarahan yang melibatkan British Museum. Ia menyatakan, “kita harus serius memandang penjarahan… bukan sekadar sebagai efek samping dari imperium, tetapi sebagai teknologi sentral kolonialisme yang mengeksploitasi sumber daya dan menggunakan kekuatan militer… Museum-museum besar yang menyebut diri “museum kebudayaan dunia” sering terlibat dalam kekejaman ini, dan keterlibatan itu belum sepenuhnya berakhir hingga sekarang, baik lewat koleksi maupun praktik perolehan barang. Pemahaman kita tentang perampasan perlu diubah: jangan lagi memisahkan secara kaku antara benda bergerak seperti patung atau perhiasan dan tanah yang dianggap “tidak bisa dipindahkan.”

Seri “Looting Back from British Museum” ini menurut saya menjadi seri penting dalam perkembangan gagasan Agung hari ini.

Meskipun pada akhirnya setelah melalui berbagai proses diskusi dengan rekan perupa sejawatnya, Agung kemudian memilih untuk menahan kebanalannya dalam memberi pernyataan. Namun dalam karya-karyanya saat ini kita masih bisa melihat spirit dan konsistensinya pada pemberontakan terhadap narasi sejarah yang eurosentrik tadi. Sehingga korpus karya yang ia hadirkan dalam project tunggalnya kali ini saja, kita bisa melihat bagaimana sikap Agung semakin dewasa dalam melihat dan menata masa lalu.

“Restructuring Singaraja Statue”, Agung Pramana, edition 1-6, screen print, cyanotype, 300mm x 300mm, 2025

Secara visual, saya membaca karya-karya Agung bekerja pada dua level yang kemudian secara organik membentuk pola kerjanya.

Pertama, pemenggalan gambaran semisal arca dewa-dewi, wayang, keris, atau pusaka budaya Bali lainnya yang masih dapat dikenali bentuknya. Umumnya fragmen-fragmen itu dikomposisikan baik dengan mengutak-atik orientasi, duplikasi, atau diberi efek visual distorsi melalui kerja manipulasi digital. Teknik ini dapat dibaca sengaja digunakan Agung untuk menunjukkan bahwa benda-benda tersebut telah mengalami transformasi bentuk dan makna yang kompleks. Katakanlah posisi objek itu sendiri, yang bergeser dari konteks ritual ke konteks profan, dari tanda sakral ke tanda estetis.

Lalu level yang kedua, Agung tampak selalu menempatkan fragmen objek tersebut diatas tampilan grafis yang sifatnya terstruktur. Ia bisa berupa grid, floor plan, motif halftone, dan potongan stempel yang sengaja dikaburkan hingga menjelma sebagai latar karya. Kehadiran elemen-elemen tersebut bisa dimaknai untuk menegaskan bahwa kehadiran artifak yang ia sorot selalu disertai catatan dan prosedur yang menentukan statusnya.

Marlowe Bandem (kiri) yang meresmikan pameran dan penulis

Soal teknik dan warna, yang menyita perhatian ialah pilihan Agung memadukan cyanotype dengan cetak sablon yang menghasilkan warna‑warna mencolok—magenta, oranye, hijau neon, biru pekat—yang dapat dimaknai sebagai upaya memberontak pembacaan khas “museum” yang tenang dan netral. Alih‑alih netral, palet warna yang ia gunakan sendiri telah menegaskan adanya upaya Agung dalam melakukan kritik secara sublim. Penggabungan manipulasi digital dengan keahlian cetak manual misal pemisahan warna, kepresisian, serta kompleksitas lapisan saring, menunjukkan bagaimana medium cetak dapat menjadi alat kritik. Tidak hanya sekadar mereproduksi arsip, tetapi membuka retakan cerita di dalamnya.

Namun bila menyoal kreativitas gagasannya, hati kecil saya menyimpan kekhawatiran bahwa praktik Agung berisiko terjebak dalam pengulangan metode yang, jika tak disubversi, bisa berujung pada kebuntuan konseptual. Mengandalkan arsip digital memang akan memudahkan akses, tetapi sekaligus menimbulkan keterbatasan. Foto tanpa metadata, label tanpa konteks, atau jejak pamer tanpa catatan provenance seringkali dapat menyesatkan.

Agung Pramana dan Marlowe Bandem

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Oleh karena itu tantangan yang perlu diakui Agung sendiri adalah memperdalam kerja arsip melalui penelusuran sumber gambar, verifikasi catatan inventaris, dan mempertanyakan praktik institusi yang mengoleksi dan memamerkan. Menggeser posisi dari ‘pengguna arsip’ menjadi ‘arsiparis’ bukan hanya menambah akurasi sejarah, ia juga memberi legitimasi etis pada karya yang mengangkat pertanyaan berat tentang hak, kepemilikan, dan tanggung jawab.

Pada akhirnya dalam pameran ini, karya-karya Agung secara konsisten ingin mengusulkan sebuah praktik sederhana nan penting. Yakni bagaimana kita melihat arsip bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai medan kerja yang bisa dibaca ulang, digugat, dan dipetakan ulang. Saya jadi berandai-andai. Jika Aragon dan kawan-kawan surealis hidup sezaman dengan Agung sekarang, mungkin ia akan mengajak mereka berdiri di depan jalan Sanggingan sambil membawa selebaran dengan semboyan: “De ngugu pencoleng mebaju gagah!” (jangan percaya pada pencuri berbaju gagah!), sebagai ajakan untuk bebas dari imperialisme dan mental-mental terjajah.

Jimbaran, Desember 2025

Daftar Bacaan:

  • Monumen Palais de la Porte Deere

https://monument.palais-portedoree.fr/en/the-colonial-context/the

-colonial-exposition-of-1931

  • Historia

https://www.historia.id/article/memamerkan-negeri-jajahan-pn27 p

  • Biografi Agung Pramana https://taliartgallery.com/index.php/agung-pramana/
  • Dan Hicks, The Brutish Museums, The Benin Bronzes, Colonial Violence, and Cultural Restitution, Pluto Press, 2020
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Next Post

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

by Hartanto
January 6, 2026
0
Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

DI penghujung tahun 2025, tepatnya tanggal 21 Desember 2025, digelar pameran tunggal karya Ricky Bambang Sudibjo Salim. Dia menggelar karya...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat 'Tetaman' ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co