27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Vincent Chandra by Vincent Chandra
January 30, 2026
in Ulas Rupa
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis -- a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan kepada para pengguna jalan di Bois de Vincennes, Paris. Tepat 2 hari sebelum sebuah gelaran monumental yang mempertontonkan rupa dan kebudayaan negeri-negeri jajahan serta keangkuhan penjajah bernama Paris Colonial Exposition 1931 dimulai.

Alasan utama para seniman surealis–Aragon, André Breton, René Char, dan Paul Éluard, dkk–dan sekutu komunisnya mengecam pameran tersebut selain memperjuangkan sikap anti kolonialisme, juga disebabkan para koloni imperialis telah menutup rapat kekerasan, kerja paksa, dan perlawanan rakyat jajahan yang terjadi serta mereduksi kehidupan mereka menjadi objek tontonan. Kritik itu berhadapan langsung dengan wajah megah Anjungan yang dibuat oleh koloni Belanda, sebuah paviliun seluas 600m² berarsitektur campuran gonjong Minang yang berpadu dengan ukiran Jawa, lalu dua buah atap Meru yang bertengger di puncak atap, serta sebuah Candi Bentar setinggi 50 meter. Di dalam anjungan tersusun ratusan koleksi pusaka budaya nusantara dan Bali–arca, perhiasan, kain gringsing, lukisan, dan ukiran-ukiran kayu.

Pada malam 28 Juni 1931, bersamaan dengan koleksi yang dipamerkan, Anjungan Belanda terbakar musnah. Pers Prancis heboh, beragam spekulasi tentang penyebabnya bermunculan. Pusaka budaya, tetap hangus tak tergantikan. Meski demikian, dalam waktu singkat paviliun baru berhasil direkonstruksi dengan pinjaman koleksi dari berbagai institusi dan kembali dibuka pada bulan Agustus 1931.

Pembabakan singkat diatas adalah salah satu peristiwa historis yang menyisakan banyak tanda tanya sekaligus titik tolak bagi proses kreatif Agung Pramana. Paris Colonial Exposition 1931, atau bahkan yang lebih awal lagi World Exhibition Paris tahun 1900–menghadirkan koleksi yang dikumpulkan pada masa kolonial oleh pejabat pemerintahan dan misionaris yang kemudian menjadi cikal bakal koleksi Tropenmuseum Amsterdam–sebagai satu tonggak sejarah yang mempromosikan kebudayaan Bali membawa Agung masuk kepada pergulatan tentang klaim identitas, representasi, dan semangat dekolonial untuk membaca ulang sejarah. Jangan salah paham, ia tidak hanya sedang meratapi hilangnya artifak-artifak dalam anjungan megah Belanda itu. Sebagai perupa ia lebih tertarik untuk bertanya, “Bagaimana posisi atau status benda itu di sana? Siapa yang berhak untuk mengklaim kembali? Bagaimana ia harus membaca kembali sejarahnya?”.

Untuk merunut persoalan tersebut, ia memetakan hasil interogasinya melalui sebuah project yang ia namai “Print‑Mapping: Decolonial Axis”. Kata “axis” dalam judul project ini bermakna metaforik sebagai poros konseptual Agung Pramana. Titik temu yang mengaitkan praktik cetak grafis (printmaking) sebagai medium reproduksi dan manipulasi visual dengan upaya mencipta pemetaan ulang sejarah, jalur perpindahan objek, mekanisme administratif, dan cara representasi Bali.

“Menjarah Balik British Museum IV”, Agung Pramana, edition 1/4, screen print, cyanotype, 297mm x 420mm, 2024

Agung mengumpulkan potongan foto pameran lama, denah paviliun, label inventaris, dan foto arca dari arsip digital. Bahan‑bahan itu ‘dimutilasi’, susun ulang, beri layer warna tegas, lalu dicetak berlapis menggunakan teknik screenprint dan cyanotype, tidak jarang pula kombinasi antar keduanya. Alhasil, project ini melahirkan berlembar‑lembar cetak yang berfungsi sebagai “peta”, arsip yang dibuka, dan komentar visual terhadap pembacaan sejarah yang seringkali eurosentrik, meromantisasi kolonialisme dan mengecilkan kekerasan yang menyertainya.

Dalam praktiknya ini, Agung bertindak sebagai pembaca ulang yang menyingkap narasi yang tersembunyi dan jarang diangkat, serta membalikkan hierarki pusat‑pinggiran dengan menempatkan pengalaman dan konteks lokal sebagai sumber tafsir yang sah.

Agung Pramana (b.1998), memulai studinya pada seni cetak grafis secara otodidak, lalu secara konseptual dikembangkan di kampus, hingga akhirnya berkarir secara profesional setelah bergabung dengan DEVFTO Printmaking Institute (2021 – sekarang) yang turut membentuk metode praktiknya yang sarat teknis sekaligus berbasis riset. Sejak awal berkarya, ia banyak menaruh perhatiannya pada persoalan perspektif historis, relasi antarbudaya, dampak pariwisata, dan konsekuensi kolonialisasi terhadap kesenian dan masyarakat. Secara formal ia tertarik untuk menggabungkan nilai estetika ‘pop art’ dengan estetika tradisional yang melekat pada visual Bali.

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Ide-ide tentang identitas ke-Bali-annya serta kompleksitas sejarah yang ia minati sesungguhnya sudah lama berputar di kepalanya. Bermuara pada tahun 2024 lalu, keresahannya yang paling dalam terhadap praktik kolonial yang ia anggap menciderai status heritage Bali akhirnya mewujud dalam 6 seri karya yang ia namai “Looting Back from British Museum”. Empat seri diantaranya kemudian mendapatkan respon baik dari seorang kurator Prancis yang memamerkannya di Tali Art Gallery Malaysia, bersama dengan sejumlah seniman Internasional.

Sebagai catatan kaki: seorang arkeolog kontemporer eropa sendiri, Dan Hicks, pernah menulis refleksi tentang praktik penjarahan yang melibatkan British Museum. Ia menyatakan, “kita harus serius memandang penjarahan… bukan sekadar sebagai efek samping dari imperium, tetapi sebagai teknologi sentral kolonialisme yang mengeksploitasi sumber daya dan menggunakan kekuatan militer… Museum-museum besar yang menyebut diri “museum kebudayaan dunia” sering terlibat dalam kekejaman ini, dan keterlibatan itu belum sepenuhnya berakhir hingga sekarang, baik lewat koleksi maupun praktik perolehan barang. Pemahaman kita tentang perampasan perlu diubah: jangan lagi memisahkan secara kaku antara benda bergerak seperti patung atau perhiasan dan tanah yang dianggap “tidak bisa dipindahkan.”

Seri “Looting Back from British Museum” ini menurut saya menjadi seri penting dalam perkembangan gagasan Agung hari ini.

Meskipun pada akhirnya setelah melalui berbagai proses diskusi dengan rekan perupa sejawatnya, Agung kemudian memilih untuk menahan kebanalannya dalam memberi pernyataan. Namun dalam karya-karyanya saat ini kita masih bisa melihat spirit dan konsistensinya pada pemberontakan terhadap narasi sejarah yang eurosentrik tadi. Sehingga korpus karya yang ia hadirkan dalam project tunggalnya kali ini saja, kita bisa melihat bagaimana sikap Agung semakin dewasa dalam melihat dan menata masa lalu.

“Restructuring Singaraja Statue”, Agung Pramana, edition 1-6, screen print, cyanotype, 300mm x 300mm, 2025

Secara visual, saya membaca karya-karya Agung bekerja pada dua level yang kemudian secara organik membentuk pola kerjanya.

Pertama, pemenggalan gambaran semisal arca dewa-dewi, wayang, keris, atau pusaka budaya Bali lainnya yang masih dapat dikenali bentuknya. Umumnya fragmen-fragmen itu dikomposisikan baik dengan mengutak-atik orientasi, duplikasi, atau diberi efek visual distorsi melalui kerja manipulasi digital. Teknik ini dapat dibaca sengaja digunakan Agung untuk menunjukkan bahwa benda-benda tersebut telah mengalami transformasi bentuk dan makna yang kompleks. Katakanlah posisi objek itu sendiri, yang bergeser dari konteks ritual ke konteks profan, dari tanda sakral ke tanda estetis.

Lalu level yang kedua, Agung tampak selalu menempatkan fragmen objek tersebut diatas tampilan grafis yang sifatnya terstruktur. Ia bisa berupa grid, floor plan, motif halftone, dan potongan stempel yang sengaja dikaburkan hingga menjelma sebagai latar karya. Kehadiran elemen-elemen tersebut bisa dimaknai untuk menegaskan bahwa kehadiran artifak yang ia sorot selalu disertai catatan dan prosedur yang menentukan statusnya.

Marlowe Bandem (kiri) yang meresmikan pameran dan penulis

Soal teknik dan warna, yang menyita perhatian ialah pilihan Agung memadukan cyanotype dengan cetak sablon yang menghasilkan warna‑warna mencolok—magenta, oranye, hijau neon, biru pekat—yang dapat dimaknai sebagai upaya memberontak pembacaan khas “museum” yang tenang dan netral. Alih‑alih netral, palet warna yang ia gunakan sendiri telah menegaskan adanya upaya Agung dalam melakukan kritik secara sublim. Penggabungan manipulasi digital dengan keahlian cetak manual misal pemisahan warna, kepresisian, serta kompleksitas lapisan saring, menunjukkan bagaimana medium cetak dapat menjadi alat kritik. Tidak hanya sekadar mereproduksi arsip, tetapi membuka retakan cerita di dalamnya.

Namun bila menyoal kreativitas gagasannya, hati kecil saya menyimpan kekhawatiran bahwa praktik Agung berisiko terjebak dalam pengulangan metode yang, jika tak disubversi, bisa berujung pada kebuntuan konseptual. Mengandalkan arsip digital memang akan memudahkan akses, tetapi sekaligus menimbulkan keterbatasan. Foto tanpa metadata, label tanpa konteks, atau jejak pamer tanpa catatan provenance seringkali dapat menyesatkan.

Agung Pramana dan Marlowe Bandem

Tampilan karya-karya Agung Pramana pada malam opening pameran, di Sika Gallery

Oleh karena itu tantangan yang perlu diakui Agung sendiri adalah memperdalam kerja arsip melalui penelusuran sumber gambar, verifikasi catatan inventaris, dan mempertanyakan praktik institusi yang mengoleksi dan memamerkan. Menggeser posisi dari ‘pengguna arsip’ menjadi ‘arsiparis’ bukan hanya menambah akurasi sejarah, ia juga memberi legitimasi etis pada karya yang mengangkat pertanyaan berat tentang hak, kepemilikan, dan tanggung jawab.

Pada akhirnya dalam pameran ini, karya-karya Agung secara konsisten ingin mengusulkan sebuah praktik sederhana nan penting. Yakni bagaimana kita melihat arsip bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai medan kerja yang bisa dibaca ulang, digugat, dan dipetakan ulang. Saya jadi berandai-andai. Jika Aragon dan kawan-kawan surealis hidup sezaman dengan Agung sekarang, mungkin ia akan mengajak mereka berdiri di depan jalan Sanggingan sambil membawa selebaran dengan semboyan: “De ngugu pencoleng mebaju gagah!” (jangan percaya pada pencuri berbaju gagah!), sebagai ajakan untuk bebas dari imperialisme dan mental-mental terjajah.

Jimbaran, Desember 2025

Daftar Bacaan:

  • Monumen Palais de la Porte Deere

https://monument.palais-portedoree.fr/en/the-colonial-context/the

-colonial-exposition-of-1931

  • Historia

https://www.historia.id/article/memamerkan-negeri-jajahan-pn27 p

  • Biografi Agung Pramana https://taliartgallery.com/index.php/agung-pramana/
  • Dan Hicks, The Brutish Museums, The Benin Bronzes, Colonial Violence, and Cultural Restitution, Pluto Press, 2020
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Next Post

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat ‘Tetaman’ ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Ketika Yudha, Made Jaya, dan Dewa Dwipayana Mengajak Pulang ke Alam lewat 'Tetaman' ─ Dari Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa UPMI Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co