TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman.
Namanya “Waktu & Anak-Anaknya.”
Yang jaga hanya satu orang lelaki tua berjenggot rapi, mengenakan jas cokelat tua dan topi fedora lusuh. Orang-orang memanggilnya Pak Malik. Tak ada yang tahu siapa pemilik aslinya, atau sejak kapan toko itu berdiri. Yang pasti, toko itu tidak menjual jam. Hanya memperbaiki. Jam rusak dari mana pun bisa dibawa ke sana. Jam tangan, jam dinding, bahkan jam antik dari tahun 1800-an. Yang datang ke sana… seringkali bukan orang biasa.
Suatu sore, seorang pria bernama Ari datang membawa jam dinding warisan kakeknya. Jam kayu berdebu, dengan jarum yang macet di angka 3:15.
“Jam ini berhenti tepat waktu Kakek saya meninggal,” katanya.
Pak Malik hanya tersenyum tipis. “Jam tak pernah benar-benar mati, Nak. Ia hanya menunggu seseorang menyambung ceritanya.”
Ari mengernyit. Ia tak paham maksudnya. Tapi ia tinggalkan jam itu dan dijanjikan kembali seminggu lagi. Namun yang mengejutkan, sejak hari itu hidup Ari berubah. Ia mulai bermimpi aneh. Mimpi tentang rumah tua yang belum pernah ia lihat, tentang suara anak kecil memanggil-manggil, “Ayah…” padahal Ari belum pernah menikah. Ia terbangun dengan napas berat dan peluh dingin di kening.
Semula ia pikir itu stres kerja. Tapi ketika ia kembali ke toko seminggu kemudian, Pak Malik justru berkata, “Jamnya belum bisa diperbaiki. Ia… menolak.”
“Menolak?”
“Karena kau belum jujur pada dirimu sendiri.”
Ari mulai kesal. “Saya cuma mau jam itu kembali normal.”
Pak Malik memandangnya lama. “Jam ini menyimpan memori. Tapi kadang, ia juga menyimpan rahasia.”
Malamnya, mimpi itu makin jelas. Ia melihat seorang gadis muda duduk di pojok ruangan, memeluk bayi kecil. Suaranya parau, tangisnya menyesakkan. Dalam mimpi, Ari berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya dari kejauhan, diam, beku. Lalu, ia mendengar dirinya sendiri berkata: “Maaf… aku belum siap.” Ia terbangun. Dada sesak. Dunia seperti bergeser.
Esoknya, ia kembali ke toko. Napasnya pendek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pada Pak Malik.
Pak Malik menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari waktu. “Aku hanya penjaga. Tapi kamu… kamu pernah ke sini sebelumnya. Dua puluh tahun lalu.”
Ari membeku. “Tidak mungkin.”
“Kau datang membawa jam rusak. Sama seperti ini. Tapi waktu itu, kau tidak sendirian.”
Ari menggeleng, wajahnya pucat. “Saya tak ingat.”
“Kau minta satu hal padaku: tolong buat aku melupakan. Dan sebagai gantinya, kau berjanji tak akan pernah kembali ke masa itu.” Pak Malik lalu menyerahkan sebuah catatan tua. Sampulnya kusam, tulisan tangannya pudar. Di halaman pertama tertulis:
“Untuk Ari. Kalau suatu hari kamu ingin mengingat, jam ini akan membantumu.”
Di dalamnya, terselip foto. Seorang remaja lelaki. Wajahnya Ari. Di sebelahnya, seorang gadis muda tersenyum lelah, menggendong bayi mungil. Ari terdiam. Tangannya gemetar. “Itu… bukan aku…” Tapi hatinya tahu. Ia pernah menjadi ayah.
Pak Malik bicara pelan, seperti membedah luka yang telah lama dipendam. “Ia datang padamu. Membawa bayi itu. Meminta kalian membesarkannya bersama. Tapi kau pergi. Katamu hidupmu masih panjang, dan beban itu bukan milikmu.”
Ari menunduk. “Dia… siapa namanya?”
“Sinta. Namanya Sinta.”
Ari merasa namanya menusuk di dada. Lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Atau sengaja menutupnya. “Dan anak itu…?”
Pak Malik membuka laci meja. Mengambil sebuah amplop. Di dalamnya ada surat.
“Ari, kalau suatu hari kau membaca ini, aku ingin kau tahu: aku tak pernah membencimu. Mungkin kau bukan siap untuk menjadi ayah. Tapi anakmu… dia tetap darahmu. Aku sudah memberinya nama: Laras. Dia cantik. Dan pintar. Seperti kamu.”
Air mata Ari jatuh tanpa peringatan. “Dia… dia di mana sekarang?”
Pak Malik memandangnya seperti seseorang yang telah lama menunggu jawaban itu keluar dari mulut Ari. “Panti asuhan di daerah Lenteng Agung. Dia sudah 17 tahun sekarang.”
Tiga hari kemudian, Ari berdiri di depan panti itu. Membawa jam kayu yang kini berdetak pelan. Jarumnya telah bergerak. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade lalu, waktu kembali berjalan.
Pukul 3:16.
Di taman belakang, ia melihat seorang gadis membaca buku sendirian. Rambutnya panjang, wajahnya serius, dan dari jauh, ia seperti cermin masa lalu Ari sendiri. Gadis itu Laras menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Ari belum siap bicara. Tapi waktu yang dulu ia tinggalkan, kini berdiri tepat di hadapannya. Dan kali ini, ia tak berniat lari.
Malam harinya, ia kembali ke toko. Namun toko itu… telah tutup. Bukan tutup setengah hari seperti biasa. Tapi tertutup rapat, dan tak ada lagi plang nama”Waktu & Anak-Anaknya.” Hanya pintu kayu tua dengan papan kecil yang menggantung pelan tertulis: “Waktu telah diperbaiki. Sisanya, giliranmu.”
Ari berdiri cukup lama di pagar panti. Dari balik pepohonan, ia mengamati gadis itu membaca dengan tenang, sesekali tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah tengah berbincang dalam diam dengan isi bukunya. Satu detik, dua detik, seolah waktu melambat. Dan di detik ketiga, jantung Ari berdetak lebih keras dari jam kayu yang ia genggam.
Ia menimbang langkah. Maju? Mundur? Ia sudah datang sejauh ini. Tapi rasa takut menahannya. Bukan takut ditolak melainkan takut ia benar-benar telah kehilangan segalanya yang mungkin bisa diperbaiki.
Tiba-tiba Laras berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah dalam. Langkahnya ringan. Lengan kirinya sedikit tergores, dan rambutnya diselipkan asal ke belakang telinga. Ari nyaris memanggil namanya, atau sekadar “Dek…” tapi suara itu lumpuh di kerongkongan.
Ia hanya bisa menggenggam jam di tangan lebih erat. Di bagian belakangnya, terukir inisial kecil: A + S = ? Ukiran itu… dulu ia buat sendiri, saat masih remaja, untuk Sinta. Untuk cinta yang tidak jadi dewasa.
“Maaf, kamu siapa?” tanya seorang suara dari samping. Ari terkejut. Seorang ibu panti berdiri menatap curiga.
“Saya… kenalan lama ibunya Laras,” jawabnya cepat. Jantungnya degup-degup seperti baru tertangkap mencuri waktu.
Ibu itu mengangguk samar. “Dia anak baik. Pintar juga. Tapi suka menyimpan sendiri apa pun yang dia rasakan. Mirip ibunya katanya.” Lalu ibu itu menambahkan pelan, “Sayang, ibunya meninggal waktu Laras umur lima.”
Ari terdiam. Seperti dipukul sunyi yang tak bisa dibalas. Ia mengangguk pelan. “Saya cuma ingin… melihat dia dari jauh.”
Malam harinya, Ari kembali ke apartemennya. Ia duduk di lantai, menatap jam kayu itu. Ditekan tombol kecil di belakangnya dan mendadak jam itu berbunyi lirih. Suara detak yang hangat, seperti degup jantung bayi.
Ia memutar kunci jam perlahan. Ketika jarum menyentuh angka 3:15, jam itu berbunyi: klek! Laci kecil di bagian bawah terbuka dan di dalamnya, ada secarik kertas yang dilipat rapi. Tulisan tangan Sinta. Ari mengenalnya secepat ia mengenali detak rindunya sendiri.
“Kalau kau sudah sejauh ini, berarti kau siap. Maaf, aku menyimpan satu permintaan terakhir. Temui dia. Jangan bilang kau ayahnya. Bilang saja: kamu orang asing yang pernah menyakiti ibunya. Dan ingin memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diulang. Kalau dia mau mendengar, berarti waktumu belum habis. Kalau dia menolak, tetaplah tinggal. Karena menjadi ayah… bukan soal darah. Tapi soal keberanian untuk menetap.” – Sinta
Ari menutup surat itu. Meringkuk. Menangis diam-diam, seperti dulu Sinta pernah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi bukan tentang dirinya. Tapi tentang Laras yang tertawa. Memanggilnya bukan “Ayah,” tapi… “Teman.” Dan itu, mungkin, cukup untuk permulaan. [T]
Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole



























