6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
January 24, 2026
in Cerpen
Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman.

Namanya “Waktu & Anak-Anaknya.”

Yang jaga hanya satu orang lelaki tua berjenggot rapi, mengenakan jas cokelat tua dan topi fedora lusuh. Orang-orang memanggilnya Pak Malik. Tak ada yang tahu siapa pemilik aslinya, atau sejak kapan toko itu berdiri. Yang pasti, toko itu tidak menjual jam. Hanya memperbaiki. Jam rusak dari mana pun bisa dibawa ke sana. Jam tangan, jam dinding, bahkan jam antik dari tahun 1800-an. Yang datang ke sana… seringkali bukan orang biasa.

Suatu sore, seorang pria bernama Ari datang membawa jam dinding warisan kakeknya. Jam kayu berdebu, dengan jarum yang macet di angka 3:15.

“Jam ini berhenti tepat waktu Kakek saya meninggal,” katanya.

Pak Malik hanya tersenyum tipis. “Jam tak pernah benar-benar mati, Nak. Ia hanya menunggu seseorang menyambung ceritanya.”

Ari mengernyit. Ia tak paham maksudnya. Tapi ia tinggalkan jam itu dan dijanjikan kembali seminggu lagi. Namun yang mengejutkan, sejak hari itu hidup Ari berubah. Ia mulai bermimpi aneh. Mimpi tentang rumah tua yang belum pernah ia lihat, tentang suara anak kecil memanggil-manggil, “Ayah…” padahal Ari belum pernah menikah. Ia terbangun dengan napas berat dan peluh dingin di kening.

Semula ia pikir itu stres kerja. Tapi ketika ia kembali ke toko seminggu kemudian, Pak Malik justru berkata, “Jamnya belum bisa diperbaiki. Ia… menolak.”

“Menolak?”

“Karena kau belum jujur pada dirimu sendiri.”

Ari mulai kesal. “Saya cuma mau jam itu kembali normal.”

Pak Malik memandangnya lama. “Jam ini menyimpan memori. Tapi kadang, ia juga menyimpan rahasia.”

Malamnya, mimpi itu makin jelas. Ia melihat seorang gadis muda duduk di pojok ruangan, memeluk bayi kecil. Suaranya parau, tangisnya menyesakkan. Dalam mimpi, Ari berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya dari kejauhan, diam, beku. Lalu, ia mendengar dirinya sendiri berkata: “Maaf… aku belum siap.” Ia terbangun. Dada sesak. Dunia seperti bergeser.

Esoknya, ia kembali ke toko. Napasnya pendek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pada Pak Malik.

Pak Malik menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari waktu. “Aku hanya penjaga. Tapi kamu… kamu pernah ke sini sebelumnya. Dua puluh tahun lalu.”

Ari membeku. “Tidak mungkin.”

“Kau datang membawa jam rusak. Sama seperti ini. Tapi waktu itu, kau tidak sendirian.”

Ari menggeleng, wajahnya pucat. “Saya tak ingat.”

“Kau minta satu hal padaku: tolong buat aku melupakan. Dan sebagai gantinya, kau berjanji tak akan pernah kembali ke masa itu.” Pak Malik lalu menyerahkan sebuah catatan tua. Sampulnya kusam, tulisan tangannya pudar. Di halaman pertama tertulis:

“Untuk Ari. Kalau suatu hari kamu ingin mengingat, jam ini akan membantumu.”

Di dalamnya, terselip foto. Seorang remaja lelaki. Wajahnya Ari. Di sebelahnya, seorang gadis muda tersenyum lelah, menggendong bayi mungil. Ari terdiam. Tangannya gemetar. “Itu… bukan aku…” Tapi hatinya tahu. Ia pernah menjadi ayah.

Pak Malik bicara pelan, seperti membedah luka yang telah lama dipendam. “Ia datang padamu. Membawa bayi itu. Meminta kalian membesarkannya bersama. Tapi kau pergi. Katamu hidupmu masih panjang, dan beban itu bukan milikmu.”

Ari menunduk. “Dia… siapa namanya?”

“Sinta. Namanya Sinta.”

Ari merasa namanya menusuk di dada. Lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Atau sengaja menutupnya. “Dan anak itu…?”

Pak Malik membuka laci meja. Mengambil sebuah amplop. Di dalamnya ada surat.

“Ari, kalau suatu hari kau membaca ini, aku ingin kau tahu: aku tak pernah membencimu. Mungkin kau bukan siap untuk menjadi ayah. Tapi anakmu… dia tetap darahmu. Aku sudah memberinya nama: Laras. Dia cantik. Dan pintar. Seperti kamu.”

Air mata Ari jatuh tanpa peringatan. “Dia… dia di mana sekarang?”

Pak Malik memandangnya seperti seseorang yang telah lama menunggu jawaban itu keluar dari mulut Ari. “Panti asuhan di daerah Lenteng Agung. Dia sudah 17 tahun sekarang.”

Tiga hari kemudian, Ari berdiri di depan panti itu. Membawa jam kayu yang kini berdetak pelan. Jarumnya telah bergerak. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade lalu, waktu kembali berjalan.

Pukul 3:16.

Di taman belakang, ia melihat seorang gadis membaca buku sendirian. Rambutnya panjang, wajahnya serius, dan dari jauh, ia seperti cermin masa lalu Ari sendiri. Gadis itu Laras menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Ari belum siap bicara. Tapi waktu yang dulu ia tinggalkan, kini berdiri tepat di hadapannya. Dan kali ini, ia tak berniat lari.

Malam harinya, ia kembali ke toko. Namun toko itu… telah tutup. Bukan tutup setengah hari seperti biasa. Tapi tertutup rapat, dan tak ada lagi plang nama”Waktu & Anak-Anaknya.” Hanya pintu kayu tua dengan papan kecil yang menggantung pelan tertulis: “Waktu telah diperbaiki. Sisanya, giliranmu.”

Ari berdiri cukup lama di pagar panti. Dari balik pepohonan, ia mengamati gadis itu membaca dengan tenang, sesekali tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah tengah berbincang dalam diam dengan isi bukunya. Satu detik, dua detik, seolah waktu melambat. Dan di detik ketiga, jantung Ari berdetak lebih keras dari jam kayu yang ia genggam.

Ia menimbang langkah. Maju? Mundur? Ia sudah datang sejauh ini. Tapi rasa takut menahannya. Bukan takut ditolak melainkan takut ia benar-benar telah kehilangan segalanya yang mungkin bisa diperbaiki.

Tiba-tiba Laras berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah dalam. Langkahnya ringan. Lengan kirinya sedikit tergores, dan rambutnya diselipkan asal ke belakang telinga. Ari nyaris memanggil namanya, atau sekadar “Dek…” tapi suara itu lumpuh di kerongkongan.

Ia hanya bisa menggenggam jam di tangan lebih erat. Di bagian belakangnya, terukir inisial kecil: A + S = ? Ukiran itu… dulu ia buat sendiri, saat masih remaja, untuk Sinta. Untuk cinta yang tidak jadi dewasa.

“Maaf, kamu siapa?” tanya seorang suara dari samping. Ari terkejut. Seorang ibu panti berdiri menatap curiga.

“Saya… kenalan lama ibunya Laras,” jawabnya cepat. Jantungnya degup-degup seperti baru tertangkap mencuri waktu.

Ibu itu mengangguk samar. “Dia anak baik. Pintar juga. Tapi suka menyimpan sendiri apa pun yang dia rasakan. Mirip ibunya katanya.” Lalu ibu itu menambahkan pelan, “Sayang, ibunya meninggal waktu Laras umur lima.”

Ari terdiam. Seperti dipukul sunyi yang tak bisa dibalas. Ia mengangguk pelan. “Saya cuma ingin… melihat dia dari jauh.”

Malam harinya, Ari kembali ke apartemennya. Ia duduk di lantai, menatap jam kayu itu. Ditekan tombol kecil di belakangnya dan mendadak jam itu berbunyi lirih. Suara detak yang hangat, seperti degup jantung bayi.

Ia memutar kunci jam perlahan. Ketika jarum menyentuh angka 3:15, jam itu berbunyi: klek! Laci kecil di bagian bawah terbuka dan di dalamnya, ada secarik kertas yang dilipat rapi. Tulisan tangan Sinta. Ari mengenalnya secepat ia mengenali detak rindunya sendiri.

“Kalau kau sudah sejauh ini, berarti kau siap. Maaf, aku menyimpan satu permintaan terakhir. Temui dia. Jangan bilang kau ayahnya. Bilang saja: kamu orang asing yang pernah menyakiti ibunya. Dan ingin memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diulang. Kalau dia mau mendengar, berarti waktumu belum habis. Kalau dia menolak, tetaplah tinggal. Karena menjadi ayah… bukan soal darah. Tapi soal keberanian untuk menetap.” – Sinta

Ari menutup surat itu. Meringkuk. Menangis diam-diam, seperti dulu Sinta pernah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi bukan tentang dirinya. Tapi tentang Laras yang tertawa. Memanggilnya bukan “Ayah,” tapi… “Teman.” Dan itu, mungkin, cukup untuk permulaan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Satria Aditya | Bait-bait Cinta

Next Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co