24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
January 24, 2026
in Cerpen
Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman.

Namanya “Waktu & Anak-Anaknya.”

Yang jaga hanya satu orang lelaki tua berjenggot rapi, mengenakan jas cokelat tua dan topi fedora lusuh. Orang-orang memanggilnya Pak Malik. Tak ada yang tahu siapa pemilik aslinya, atau sejak kapan toko itu berdiri. Yang pasti, toko itu tidak menjual jam. Hanya memperbaiki. Jam rusak dari mana pun bisa dibawa ke sana. Jam tangan, jam dinding, bahkan jam antik dari tahun 1800-an. Yang datang ke sana… seringkali bukan orang biasa.

Suatu sore, seorang pria bernama Ari datang membawa jam dinding warisan kakeknya. Jam kayu berdebu, dengan jarum yang macet di angka 3:15.

“Jam ini berhenti tepat waktu Kakek saya meninggal,” katanya.

Pak Malik hanya tersenyum tipis. “Jam tak pernah benar-benar mati, Nak. Ia hanya menunggu seseorang menyambung ceritanya.”

Ari mengernyit. Ia tak paham maksudnya. Tapi ia tinggalkan jam itu dan dijanjikan kembali seminggu lagi. Namun yang mengejutkan, sejak hari itu hidup Ari berubah. Ia mulai bermimpi aneh. Mimpi tentang rumah tua yang belum pernah ia lihat, tentang suara anak kecil memanggil-manggil, “Ayah…” padahal Ari belum pernah menikah. Ia terbangun dengan napas berat dan peluh dingin di kening.

Semula ia pikir itu stres kerja. Tapi ketika ia kembali ke toko seminggu kemudian, Pak Malik justru berkata, “Jamnya belum bisa diperbaiki. Ia… menolak.”

“Menolak?”

“Karena kau belum jujur pada dirimu sendiri.”

Ari mulai kesal. “Saya cuma mau jam itu kembali normal.”

Pak Malik memandangnya lama. “Jam ini menyimpan memori. Tapi kadang, ia juga menyimpan rahasia.”

Malamnya, mimpi itu makin jelas. Ia melihat seorang gadis muda duduk di pojok ruangan, memeluk bayi kecil. Suaranya parau, tangisnya menyesakkan. Dalam mimpi, Ari berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya dari kejauhan, diam, beku. Lalu, ia mendengar dirinya sendiri berkata: “Maaf… aku belum siap.” Ia terbangun. Dada sesak. Dunia seperti bergeser.

Esoknya, ia kembali ke toko. Napasnya pendek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pada Pak Malik.

Pak Malik menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari waktu. “Aku hanya penjaga. Tapi kamu… kamu pernah ke sini sebelumnya. Dua puluh tahun lalu.”

Ari membeku. “Tidak mungkin.”

“Kau datang membawa jam rusak. Sama seperti ini. Tapi waktu itu, kau tidak sendirian.”

Ari menggeleng, wajahnya pucat. “Saya tak ingat.”

“Kau minta satu hal padaku: tolong buat aku melupakan. Dan sebagai gantinya, kau berjanji tak akan pernah kembali ke masa itu.” Pak Malik lalu menyerahkan sebuah catatan tua. Sampulnya kusam, tulisan tangannya pudar. Di halaman pertama tertulis:

“Untuk Ari. Kalau suatu hari kamu ingin mengingat, jam ini akan membantumu.”

Di dalamnya, terselip foto. Seorang remaja lelaki. Wajahnya Ari. Di sebelahnya, seorang gadis muda tersenyum lelah, menggendong bayi mungil. Ari terdiam. Tangannya gemetar. “Itu… bukan aku…” Tapi hatinya tahu. Ia pernah menjadi ayah.

Pak Malik bicara pelan, seperti membedah luka yang telah lama dipendam. “Ia datang padamu. Membawa bayi itu. Meminta kalian membesarkannya bersama. Tapi kau pergi. Katamu hidupmu masih panjang, dan beban itu bukan milikmu.”

Ari menunduk. “Dia… siapa namanya?”

“Sinta. Namanya Sinta.”

Ari merasa namanya menusuk di dada. Lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Atau sengaja menutupnya. “Dan anak itu…?”

Pak Malik membuka laci meja. Mengambil sebuah amplop. Di dalamnya ada surat.

“Ari, kalau suatu hari kau membaca ini, aku ingin kau tahu: aku tak pernah membencimu. Mungkin kau bukan siap untuk menjadi ayah. Tapi anakmu… dia tetap darahmu. Aku sudah memberinya nama: Laras. Dia cantik. Dan pintar. Seperti kamu.”

Air mata Ari jatuh tanpa peringatan. “Dia… dia di mana sekarang?”

Pak Malik memandangnya seperti seseorang yang telah lama menunggu jawaban itu keluar dari mulut Ari. “Panti asuhan di daerah Lenteng Agung. Dia sudah 17 tahun sekarang.”

Tiga hari kemudian, Ari berdiri di depan panti itu. Membawa jam kayu yang kini berdetak pelan. Jarumnya telah bergerak. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade lalu, waktu kembali berjalan.

Pukul 3:16.

Di taman belakang, ia melihat seorang gadis membaca buku sendirian. Rambutnya panjang, wajahnya serius, dan dari jauh, ia seperti cermin masa lalu Ari sendiri. Gadis itu Laras menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Ari belum siap bicara. Tapi waktu yang dulu ia tinggalkan, kini berdiri tepat di hadapannya. Dan kali ini, ia tak berniat lari.

Malam harinya, ia kembali ke toko. Namun toko itu… telah tutup. Bukan tutup setengah hari seperti biasa. Tapi tertutup rapat, dan tak ada lagi plang nama”Waktu & Anak-Anaknya.” Hanya pintu kayu tua dengan papan kecil yang menggantung pelan tertulis: “Waktu telah diperbaiki. Sisanya, giliranmu.”

Ari berdiri cukup lama di pagar panti. Dari balik pepohonan, ia mengamati gadis itu membaca dengan tenang, sesekali tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah tengah berbincang dalam diam dengan isi bukunya. Satu detik, dua detik, seolah waktu melambat. Dan di detik ketiga, jantung Ari berdetak lebih keras dari jam kayu yang ia genggam.

Ia menimbang langkah. Maju? Mundur? Ia sudah datang sejauh ini. Tapi rasa takut menahannya. Bukan takut ditolak melainkan takut ia benar-benar telah kehilangan segalanya yang mungkin bisa diperbaiki.

Tiba-tiba Laras berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah dalam. Langkahnya ringan. Lengan kirinya sedikit tergores, dan rambutnya diselipkan asal ke belakang telinga. Ari nyaris memanggil namanya, atau sekadar “Dek…” tapi suara itu lumpuh di kerongkongan.

Ia hanya bisa menggenggam jam di tangan lebih erat. Di bagian belakangnya, terukir inisial kecil: A + S = ? Ukiran itu… dulu ia buat sendiri, saat masih remaja, untuk Sinta. Untuk cinta yang tidak jadi dewasa.

“Maaf, kamu siapa?” tanya seorang suara dari samping. Ari terkejut. Seorang ibu panti berdiri menatap curiga.

“Saya… kenalan lama ibunya Laras,” jawabnya cepat. Jantungnya degup-degup seperti baru tertangkap mencuri waktu.

Ibu itu mengangguk samar. “Dia anak baik. Pintar juga. Tapi suka menyimpan sendiri apa pun yang dia rasakan. Mirip ibunya katanya.” Lalu ibu itu menambahkan pelan, “Sayang, ibunya meninggal waktu Laras umur lima.”

Ari terdiam. Seperti dipukul sunyi yang tak bisa dibalas. Ia mengangguk pelan. “Saya cuma ingin… melihat dia dari jauh.”

Malam harinya, Ari kembali ke apartemennya. Ia duduk di lantai, menatap jam kayu itu. Ditekan tombol kecil di belakangnya dan mendadak jam itu berbunyi lirih. Suara detak yang hangat, seperti degup jantung bayi.

Ia memutar kunci jam perlahan. Ketika jarum menyentuh angka 3:15, jam itu berbunyi: klek! Laci kecil di bagian bawah terbuka dan di dalamnya, ada secarik kertas yang dilipat rapi. Tulisan tangan Sinta. Ari mengenalnya secepat ia mengenali detak rindunya sendiri.

“Kalau kau sudah sejauh ini, berarti kau siap. Maaf, aku menyimpan satu permintaan terakhir. Temui dia. Jangan bilang kau ayahnya. Bilang saja: kamu orang asing yang pernah menyakiti ibunya. Dan ingin memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diulang. Kalau dia mau mendengar, berarti waktumu belum habis. Kalau dia menolak, tetaplah tinggal. Karena menjadi ayah… bukan soal darah. Tapi soal keberanian untuk menetap.” – Sinta

Ari menutup surat itu. Meringkuk. Menangis diam-diam, seperti dulu Sinta pernah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi bukan tentang dirinya. Tapi tentang Laras yang tertawa. Memanggilnya bukan “Ayah,” tapi… “Teman.” Dan itu, mungkin, cukup untuk permulaan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Satria Aditya | Bait-bait Cinta

Next Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co