3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
January 24, 2026
in Cerpen
Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman.

Namanya “Waktu & Anak-Anaknya.”

Yang jaga hanya satu orang lelaki tua berjenggot rapi, mengenakan jas cokelat tua dan topi fedora lusuh. Orang-orang memanggilnya Pak Malik. Tak ada yang tahu siapa pemilik aslinya, atau sejak kapan toko itu berdiri. Yang pasti, toko itu tidak menjual jam. Hanya memperbaiki. Jam rusak dari mana pun bisa dibawa ke sana. Jam tangan, jam dinding, bahkan jam antik dari tahun 1800-an. Yang datang ke sana… seringkali bukan orang biasa.

Suatu sore, seorang pria bernama Ari datang membawa jam dinding warisan kakeknya. Jam kayu berdebu, dengan jarum yang macet di angka 3:15.

“Jam ini berhenti tepat waktu Kakek saya meninggal,” katanya.

Pak Malik hanya tersenyum tipis. “Jam tak pernah benar-benar mati, Nak. Ia hanya menunggu seseorang menyambung ceritanya.”

Ari mengernyit. Ia tak paham maksudnya. Tapi ia tinggalkan jam itu dan dijanjikan kembali seminggu lagi. Namun yang mengejutkan, sejak hari itu hidup Ari berubah. Ia mulai bermimpi aneh. Mimpi tentang rumah tua yang belum pernah ia lihat, tentang suara anak kecil memanggil-manggil, “Ayah…” padahal Ari belum pernah menikah. Ia terbangun dengan napas berat dan peluh dingin di kening.

Semula ia pikir itu stres kerja. Tapi ketika ia kembali ke toko seminggu kemudian, Pak Malik justru berkata, “Jamnya belum bisa diperbaiki. Ia… menolak.”

“Menolak?”

“Karena kau belum jujur pada dirimu sendiri.”

Ari mulai kesal. “Saya cuma mau jam itu kembali normal.”

Pak Malik memandangnya lama. “Jam ini menyimpan memori. Tapi kadang, ia juga menyimpan rahasia.”

Malamnya, mimpi itu makin jelas. Ia melihat seorang gadis muda duduk di pojok ruangan, memeluk bayi kecil. Suaranya parau, tangisnya menyesakkan. Dalam mimpi, Ari berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya dari kejauhan, diam, beku. Lalu, ia mendengar dirinya sendiri berkata: “Maaf… aku belum siap.” Ia terbangun. Dada sesak. Dunia seperti bergeser.

Esoknya, ia kembali ke toko. Napasnya pendek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pada Pak Malik.

Pak Malik menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari waktu. “Aku hanya penjaga. Tapi kamu… kamu pernah ke sini sebelumnya. Dua puluh tahun lalu.”

Ari membeku. “Tidak mungkin.”

“Kau datang membawa jam rusak. Sama seperti ini. Tapi waktu itu, kau tidak sendirian.”

Ari menggeleng, wajahnya pucat. “Saya tak ingat.”

“Kau minta satu hal padaku: tolong buat aku melupakan. Dan sebagai gantinya, kau berjanji tak akan pernah kembali ke masa itu.” Pak Malik lalu menyerahkan sebuah catatan tua. Sampulnya kusam, tulisan tangannya pudar. Di halaman pertama tertulis:

“Untuk Ari. Kalau suatu hari kamu ingin mengingat, jam ini akan membantumu.”

Di dalamnya, terselip foto. Seorang remaja lelaki. Wajahnya Ari. Di sebelahnya, seorang gadis muda tersenyum lelah, menggendong bayi mungil. Ari terdiam. Tangannya gemetar. “Itu… bukan aku…” Tapi hatinya tahu. Ia pernah menjadi ayah.

Pak Malik bicara pelan, seperti membedah luka yang telah lama dipendam. “Ia datang padamu. Membawa bayi itu. Meminta kalian membesarkannya bersama. Tapi kau pergi. Katamu hidupmu masih panjang, dan beban itu bukan milikmu.”

Ari menunduk. “Dia… siapa namanya?”

“Sinta. Namanya Sinta.”

Ari merasa namanya menusuk di dada. Lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Atau sengaja menutupnya. “Dan anak itu…?”

Pak Malik membuka laci meja. Mengambil sebuah amplop. Di dalamnya ada surat.

“Ari, kalau suatu hari kau membaca ini, aku ingin kau tahu: aku tak pernah membencimu. Mungkin kau bukan siap untuk menjadi ayah. Tapi anakmu… dia tetap darahmu. Aku sudah memberinya nama: Laras. Dia cantik. Dan pintar. Seperti kamu.”

Air mata Ari jatuh tanpa peringatan. “Dia… dia di mana sekarang?”

Pak Malik memandangnya seperti seseorang yang telah lama menunggu jawaban itu keluar dari mulut Ari. “Panti asuhan di daerah Lenteng Agung. Dia sudah 17 tahun sekarang.”

Tiga hari kemudian, Ari berdiri di depan panti itu. Membawa jam kayu yang kini berdetak pelan. Jarumnya telah bergerak. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade lalu, waktu kembali berjalan.

Pukul 3:16.

Di taman belakang, ia melihat seorang gadis membaca buku sendirian. Rambutnya panjang, wajahnya serius, dan dari jauh, ia seperti cermin masa lalu Ari sendiri. Gadis itu Laras menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Ari belum siap bicara. Tapi waktu yang dulu ia tinggalkan, kini berdiri tepat di hadapannya. Dan kali ini, ia tak berniat lari.

Malam harinya, ia kembali ke toko. Namun toko itu… telah tutup. Bukan tutup setengah hari seperti biasa. Tapi tertutup rapat, dan tak ada lagi plang nama”Waktu & Anak-Anaknya.” Hanya pintu kayu tua dengan papan kecil yang menggantung pelan tertulis: “Waktu telah diperbaiki. Sisanya, giliranmu.”

Ari berdiri cukup lama di pagar panti. Dari balik pepohonan, ia mengamati gadis itu membaca dengan tenang, sesekali tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah tengah berbincang dalam diam dengan isi bukunya. Satu detik, dua detik, seolah waktu melambat. Dan di detik ketiga, jantung Ari berdetak lebih keras dari jam kayu yang ia genggam.

Ia menimbang langkah. Maju? Mundur? Ia sudah datang sejauh ini. Tapi rasa takut menahannya. Bukan takut ditolak melainkan takut ia benar-benar telah kehilangan segalanya yang mungkin bisa diperbaiki.

Tiba-tiba Laras berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah dalam. Langkahnya ringan. Lengan kirinya sedikit tergores, dan rambutnya diselipkan asal ke belakang telinga. Ari nyaris memanggil namanya, atau sekadar “Dek…” tapi suara itu lumpuh di kerongkongan.

Ia hanya bisa menggenggam jam di tangan lebih erat. Di bagian belakangnya, terukir inisial kecil: A + S = ? Ukiran itu… dulu ia buat sendiri, saat masih remaja, untuk Sinta. Untuk cinta yang tidak jadi dewasa.

“Maaf, kamu siapa?” tanya seorang suara dari samping. Ari terkejut. Seorang ibu panti berdiri menatap curiga.

“Saya… kenalan lama ibunya Laras,” jawabnya cepat. Jantungnya degup-degup seperti baru tertangkap mencuri waktu.

Ibu itu mengangguk samar. “Dia anak baik. Pintar juga. Tapi suka menyimpan sendiri apa pun yang dia rasakan. Mirip ibunya katanya.” Lalu ibu itu menambahkan pelan, “Sayang, ibunya meninggal waktu Laras umur lima.”

Ari terdiam. Seperti dipukul sunyi yang tak bisa dibalas. Ia mengangguk pelan. “Saya cuma ingin… melihat dia dari jauh.”

Malam harinya, Ari kembali ke apartemennya. Ia duduk di lantai, menatap jam kayu itu. Ditekan tombol kecil di belakangnya dan mendadak jam itu berbunyi lirih. Suara detak yang hangat, seperti degup jantung bayi.

Ia memutar kunci jam perlahan. Ketika jarum menyentuh angka 3:15, jam itu berbunyi: klek! Laci kecil di bagian bawah terbuka dan di dalamnya, ada secarik kertas yang dilipat rapi. Tulisan tangan Sinta. Ari mengenalnya secepat ia mengenali detak rindunya sendiri.

“Kalau kau sudah sejauh ini, berarti kau siap. Maaf, aku menyimpan satu permintaan terakhir. Temui dia. Jangan bilang kau ayahnya. Bilang saja: kamu orang asing yang pernah menyakiti ibunya. Dan ingin memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diulang. Kalau dia mau mendengar, berarti waktumu belum habis. Kalau dia menolak, tetaplah tinggal. Karena menjadi ayah… bukan soal darah. Tapi soal keberanian untuk menetap.” – Sinta

Ari menutup surat itu. Meringkuk. Menangis diam-diam, seperti dulu Sinta pernah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi bukan tentang dirinya. Tapi tentang Laras yang tertawa. Memanggilnya bukan “Ayah,” tapi… “Teman.” Dan itu, mungkin, cukup untuk permulaan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Satria Aditya | Bait-bait Cinta

Next Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co