12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
January 24, 2026
in Cerpen
Toko Jam Tua di Jalan Salemba | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman.

Namanya “Waktu & Anak-Anaknya.”

Yang jaga hanya satu orang lelaki tua berjenggot rapi, mengenakan jas cokelat tua dan topi fedora lusuh. Orang-orang memanggilnya Pak Malik. Tak ada yang tahu siapa pemilik aslinya, atau sejak kapan toko itu berdiri. Yang pasti, toko itu tidak menjual jam. Hanya memperbaiki. Jam rusak dari mana pun bisa dibawa ke sana. Jam tangan, jam dinding, bahkan jam antik dari tahun 1800-an. Yang datang ke sana… seringkali bukan orang biasa.

Suatu sore, seorang pria bernama Ari datang membawa jam dinding warisan kakeknya. Jam kayu berdebu, dengan jarum yang macet di angka 3:15.

“Jam ini berhenti tepat waktu Kakek saya meninggal,” katanya.

Pak Malik hanya tersenyum tipis. “Jam tak pernah benar-benar mati, Nak. Ia hanya menunggu seseorang menyambung ceritanya.”

Ari mengernyit. Ia tak paham maksudnya. Tapi ia tinggalkan jam itu dan dijanjikan kembali seminggu lagi. Namun yang mengejutkan, sejak hari itu hidup Ari berubah. Ia mulai bermimpi aneh. Mimpi tentang rumah tua yang belum pernah ia lihat, tentang suara anak kecil memanggil-manggil, “Ayah…” padahal Ari belum pernah menikah. Ia terbangun dengan napas berat dan peluh dingin di kening.

Semula ia pikir itu stres kerja. Tapi ketika ia kembali ke toko seminggu kemudian, Pak Malik justru berkata, “Jamnya belum bisa diperbaiki. Ia… menolak.”

“Menolak?”

“Karena kau belum jujur pada dirimu sendiri.”

Ari mulai kesal. “Saya cuma mau jam itu kembali normal.”

Pak Malik memandangnya lama. “Jam ini menyimpan memori. Tapi kadang, ia juga menyimpan rahasia.”

Malamnya, mimpi itu makin jelas. Ia melihat seorang gadis muda duduk di pojok ruangan, memeluk bayi kecil. Suaranya parau, tangisnya menyesakkan. Dalam mimpi, Ari berdiri di sudut ruangan, menatap keduanya dari kejauhan, diam, beku. Lalu, ia mendengar dirinya sendiri berkata: “Maaf… aku belum siap.” Ia terbangun. Dada sesak. Dunia seperti bergeser.

Esoknya, ia kembali ke toko. Napasnya pendek. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pada Pak Malik.

Pak Malik menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam dari waktu. “Aku hanya penjaga. Tapi kamu… kamu pernah ke sini sebelumnya. Dua puluh tahun lalu.”

Ari membeku. “Tidak mungkin.”

“Kau datang membawa jam rusak. Sama seperti ini. Tapi waktu itu, kau tidak sendirian.”

Ari menggeleng, wajahnya pucat. “Saya tak ingat.”

“Kau minta satu hal padaku: tolong buat aku melupakan. Dan sebagai gantinya, kau berjanji tak akan pernah kembali ke masa itu.” Pak Malik lalu menyerahkan sebuah catatan tua. Sampulnya kusam, tulisan tangannya pudar. Di halaman pertama tertulis:

“Untuk Ari. Kalau suatu hari kamu ingin mengingat, jam ini akan membantumu.”

Di dalamnya, terselip foto. Seorang remaja lelaki. Wajahnya Ari. Di sebelahnya, seorang gadis muda tersenyum lelah, menggendong bayi mungil. Ari terdiam. Tangannya gemetar. “Itu… bukan aku…” Tapi hatinya tahu. Ia pernah menjadi ayah.

Pak Malik bicara pelan, seperti membedah luka yang telah lama dipendam. “Ia datang padamu. Membawa bayi itu. Meminta kalian membesarkannya bersama. Tapi kau pergi. Katamu hidupmu masih panjang, dan beban itu bukan milikmu.”

Ari menunduk. “Dia… siapa namanya?”

“Sinta. Namanya Sinta.”

Ari merasa namanya menusuk di dada. Lama sekali ia tidak mendengar nama itu. Atau sengaja menutupnya. “Dan anak itu…?”

Pak Malik membuka laci meja. Mengambil sebuah amplop. Di dalamnya ada surat.

“Ari, kalau suatu hari kau membaca ini, aku ingin kau tahu: aku tak pernah membencimu. Mungkin kau bukan siap untuk menjadi ayah. Tapi anakmu… dia tetap darahmu. Aku sudah memberinya nama: Laras. Dia cantik. Dan pintar. Seperti kamu.”

Air mata Ari jatuh tanpa peringatan. “Dia… dia di mana sekarang?”

Pak Malik memandangnya seperti seseorang yang telah lama menunggu jawaban itu keluar dari mulut Ari. “Panti asuhan di daerah Lenteng Agung. Dia sudah 17 tahun sekarang.”

Tiga hari kemudian, Ari berdiri di depan panti itu. Membawa jam kayu yang kini berdetak pelan. Jarumnya telah bergerak. Untuk pertama kalinya sejak dua dekade lalu, waktu kembali berjalan.

Pukul 3:16.

Di taman belakang, ia melihat seorang gadis membaca buku sendirian. Rambutnya panjang, wajahnya serius, dan dari jauh, ia seperti cermin masa lalu Ari sendiri. Gadis itu Laras menoleh. Mata mereka bertemu sejenak. Ari belum siap bicara. Tapi waktu yang dulu ia tinggalkan, kini berdiri tepat di hadapannya. Dan kali ini, ia tak berniat lari.

Malam harinya, ia kembali ke toko. Namun toko itu… telah tutup. Bukan tutup setengah hari seperti biasa. Tapi tertutup rapat, dan tak ada lagi plang nama”Waktu & Anak-Anaknya.” Hanya pintu kayu tua dengan papan kecil yang menggantung pelan tertulis: “Waktu telah diperbaiki. Sisanya, giliranmu.”

Ari berdiri cukup lama di pagar panti. Dari balik pepohonan, ia mengamati gadis itu membaca dengan tenang, sesekali tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seolah tengah berbincang dalam diam dengan isi bukunya. Satu detik, dua detik, seolah waktu melambat. Dan di detik ketiga, jantung Ari berdetak lebih keras dari jam kayu yang ia genggam.

Ia menimbang langkah. Maju? Mundur? Ia sudah datang sejauh ini. Tapi rasa takut menahannya. Bukan takut ditolak melainkan takut ia benar-benar telah kehilangan segalanya yang mungkin bisa diperbaiki.

Tiba-tiba Laras berdiri, mengambil tas, lalu berjalan ke arah dalam. Langkahnya ringan. Lengan kirinya sedikit tergores, dan rambutnya diselipkan asal ke belakang telinga. Ari nyaris memanggil namanya, atau sekadar “Dek…” tapi suara itu lumpuh di kerongkongan.

Ia hanya bisa menggenggam jam di tangan lebih erat. Di bagian belakangnya, terukir inisial kecil: A + S = ? Ukiran itu… dulu ia buat sendiri, saat masih remaja, untuk Sinta. Untuk cinta yang tidak jadi dewasa.

“Maaf, kamu siapa?” tanya seorang suara dari samping. Ari terkejut. Seorang ibu panti berdiri menatap curiga.

“Saya… kenalan lama ibunya Laras,” jawabnya cepat. Jantungnya degup-degup seperti baru tertangkap mencuri waktu.

Ibu itu mengangguk samar. “Dia anak baik. Pintar juga. Tapi suka menyimpan sendiri apa pun yang dia rasakan. Mirip ibunya katanya.” Lalu ibu itu menambahkan pelan, “Sayang, ibunya meninggal waktu Laras umur lima.”

Ari terdiam. Seperti dipukul sunyi yang tak bisa dibalas. Ia mengangguk pelan. “Saya cuma ingin… melihat dia dari jauh.”

Malam harinya, Ari kembali ke apartemennya. Ia duduk di lantai, menatap jam kayu itu. Ditekan tombol kecil di belakangnya dan mendadak jam itu berbunyi lirih. Suara detak yang hangat, seperti degup jantung bayi.

Ia memutar kunci jam perlahan. Ketika jarum menyentuh angka 3:15, jam itu berbunyi: klek! Laci kecil di bagian bawah terbuka dan di dalamnya, ada secarik kertas yang dilipat rapi. Tulisan tangan Sinta. Ari mengenalnya secepat ia mengenali detak rindunya sendiri.

“Kalau kau sudah sejauh ini, berarti kau siap. Maaf, aku menyimpan satu permintaan terakhir. Temui dia. Jangan bilang kau ayahnya. Bilang saja: kamu orang asing yang pernah menyakiti ibunya. Dan ingin memperbaiki sesuatu yang tidak bisa diulang. Kalau dia mau mendengar, berarti waktumu belum habis. Kalau dia menolak, tetaplah tinggal. Karena menjadi ayah… bukan soal darah. Tapi soal keberanian untuk menetap.” – Sinta

Ari menutup surat itu. Meringkuk. Menangis diam-diam, seperti dulu Sinta pernah. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia bermimpi bukan tentang dirinya. Tapi tentang Laras yang tertawa. Memanggilnya bukan “Ayah,” tapi… “Teman.” Dan itu, mungkin, cukup untuk permulaan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Satria Aditya | Bait-bait Cinta

Next Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co