Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti program pertukaran klinis IFMSA SCOPE di Katowice, Polandia. Sejujurnya, saya tidak tahu persis harus berekspektasi apa ketika pertama kali mendaftar, namun ternyata menjadi pengalaman paling berkesan yang pernah saya alami.
Mengapa Polandia?Banyak orang menanyakan hal itu kepada saya. Selain karena faktor keamanan, reputasi layanan kesehatan yang solid, dan biaya hidup yang lebih murah dibandingkan negara Eropa lainnya, alasan sebenarnya adalah karena saya menginginkan tempat di mana saya bisa belajar ilmu kedokteran sekaligus bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia.
Saya mendengar bahwa Polandia memiliki banyak mahasiswa internasional, jadi saya berpikir, “Oke, di sinilah saya akan mendapatkan pengalaman klinis dan budaya yang saya cari.” Dan dugaan saya ternyata benar. Selama di Polandia, saya ditempatkan di sebuah kota kecil bernama Katowice, sekitar 3 jam perjalanan dengan kereta api dari Ibu Kota Warsawa. Untungnya saya tidak ditempatkan sendirian, tetapi bersama seorang teman dari FK UGM.
Pengalaman di Rumah Sakit
Selama di Katowice, saya satu kamar dengan teman dari Portugal. Tidak terbayang sebelumnya bagaimana jika harus berbagi kamar dengan orang asing. Ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Teman sekamar saya ramah dan periang, mencairkan suasana dalam sekejap ketika kami pertama bertemu.
Setiap hari, saya bangun jam 6 pagi untuk bersiap-siap dan mengejar bus satu jam kemudian. Meskipun persis di depan asrama terdapat halte bus, saya lebih memilih halte yang berjarak sekitar 1 km karena saya menikmati berjalan di tengah dinginnya embun pagi. Tiket bus dari asrama ke rumah sakit sekitar 2,10 złoty (Rp10.000,-) sekali jalan.
Tiket bus bulanan bisa dibeli dengan harga yang lebih murah melalui aplikasi atau di mesin tiket yang tersedia di halte. Bicara soal cuaca, meskipun sedang musim panas, suasana selalu terasa dingin dan berangin sehingga meski berjalan kaki agak jauh badan tetap tidak berkeringat.


Saya ditempatkan di Departemen Bedah Vaskular di Górnośląskie Centrum Medyczne Ochojec, sebuah rumah sakit pendidikan di Katowice yang juga merupakan pusat rujukan nasional untuk bedah kardiovaskular. Para dokter di sana sangat sibuk, tetapi mereka cukup baik hati membiarkan saya mengamati berbagai prosedur, seperti: Endovascular Abdominal Aortic Aneurysm Repair (EVAR), embolisasi koil pada arteri iliaka interna, pemasangan stent arteri karotis, dan banyak lagi. Kasus yang paling tidak terlupakan adalah Arteriovenous Malformation (AVM).
Para dokter memberi tahu saya bahwa kasus ini sangat jarang, bahkan hanya muncul sekali dalam sekitar sepuluh tahun. Yang lebih luar biasa lagi, kasus ini membutuhkan kolaborasi antara ahli bedah vaskular dan ahli bedah saraf. Menyaksikan dua spesialisasi bekerja berdampingan dalam satu operasi benar-benar menginspirasi saya. Saya tidak hanya belajar dari para dokter, tetapi juga dari tenaga kesehatan lain seperti perawat dan paramedis.


Pengalaman Budaya dan Sosial
Di luar rumah sakit, pengalaman pertukaran ini pun tak kalah istimewanya. Berbagai kegiatan, seperti mengunjungi kota-kota tetangga, kunjungan ke museum sejarah, bahkan workshop menjahit luka (suturing), pemasangan gips, dan lain-lain menjadi aktivitas yang sangat mengasyikkan. Suatu kali, seorang teman dari Portugal mengadakan workshop memasak. Kami membuat hidangan tradisional Portugal bernama Pastel de Nata, sejenis hidangan penutup egg tart. Rasanya enak sekali!
Momen lain yang sangat berkesan bagi saya adalah National Food and Drink Party, di mana setiap orang membawa makanan dari negara asal mereka. Bersama dengan teman dari Indonesia, saya memasak nasi goreng dan es teh manis. Mendengar betapa teman-teman dari berbagai negara menikmati makanan kami membuat kami merasa bangga dan senang bisa berbagi makanan rumah dengan mereka. Di saat yang sama, saya juga mencoba makanan dari negara-negara yang bahkan belum pernah saya kunjungi. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan!


Hal kecil namun bermakna adalah kafetaria di dekat asrama tempat saya makan siang setiap hari. Kedengarannya mungkin sepele, tetapi jujur saja, makanan hangat, lezat, terlebih duduk bersama teman-teman untuk makan siang menjadi bagian dari rutinitas yang selalu saya nantikan.
Pelajaran Berharga
Selain ilmu kedokteran yang saya dapatkan di rumah sakit, banyak pelajaran sangat berharga yang bersifat lebih personal. Ini adalah pertama kalinya saya tinggal sendirian, terlebih di luar negeri, jadi petualangan ini bukanlah tanpa tantangan. Tidak banyak warga lokal yang bisa berbahasa Inggris sehingga saya terbiasa menggunakan aplikasi penerjemah ke mana pun saya pergi.
Selain itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya memiliki roommate. Saya belajar cara berbagi ruang dan menemukan keseimbangan antara kenyamanan pribadi saya dan orang lain. Awalnya terasa aneh, tetapi pada akhirnya, hal tersebut menjadi salah satu bagian paling berharga dari pengalaman ini.
Yang jelas, saya pulang membawa persahabatan dan kenangan yang saya yakin akan selalu saya simpan untuk waktu yang lama. Jadi, terima kasih Katowice. Terima kasih Polandia! [T]
Penulis: Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
Editor: Adnyana Ole



























