2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 22, 2026
in Esai
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

NEGARA memegang mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di ranah digital, tanggung jawab ini harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret.

Membangun karakter bangsa di era digital bukan hanya tugas guru atau orang tua, tapi sebuah orkestrasi besar di mana Negara bertindak sebagai konduktornya. Apakah negara mampu membangun generasi masa depan yang fasih teknologi sekaligus melek nurani?

Media sosial adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi alat asah karakter, namun bisa juga menjadi perusak mentalitas secara masif.

Sisi Positif: Ruang Kolaborasi dan Kreativitas

Jika digunakan dengan bijak, media sosial adalah katalisator pembangunan karakter yang luar biasa. Kita melihat:

  • Gotong Royong Digital: Aksi solidaritas dan penggalangan dana yang bergerak kilat menunjukkan nilai luhur kita masih hidup.
  • Demokratisasi Pengetahuan: Anak muda di pelosok bisa mengakses literasi yang sama dengan mereka di kota besar, memupuk karakter pembelajar.
  • Kebanggaan Identitas: Konten budaya dan pariwisata yang viral menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi Z dan Alpha.

Sisi Negatif: Degradasi Moral dan Polarisasi

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada lubang hitamnya:

  • Individualisme dan Narsisme: Pengejaran likes seringkali mengikis empati dan kejujuran.
  • Normalisasi Kekerasan Verbal: Komentar kasar dan cyberbullying seolah menjadi hal lumrah, menjauhkan kita dari karakter bangsa yang santun.
  • Post-Truth: Banjir hoaks mengaburkan kebenaran, membuat masyarakat mudah terpolarisasi dan kehilangan daya kritis. Kesalahan yang (sengaja) dibiasakan dengan gencar dan berulang-ulang menjadi kebenaran.

Peran Negara: Antisipatif atau Keteteran?

Sejauh ini, pemerintah telah berupaya melalui instrumen hukum seperti UU ITE serta berbagai regulasi turunan mengenai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Namun, jujur saja, jika kita bedah lebih dalam: Negara masih sering terlihat keteteran.

Regulasi kita cenderung bersifat reaktif, bukan preventif. Kita sibuk memadamkan api setelah kebakaran (menindak konten negatif atau pemblokiran), namun seringkali gagap dalam membangun “sistem proteksi kebakaran” di hulu, yaitu penguatan karakter pengguna sejak dini.

Pemerintah tampak kesulitan mengimbangi kecepatan algoritma platform global yang lebih mengutamakan engagement (seringkali konten kontroversial) daripada nilai edukasi. Akibatnya, kebijakan seringkali terasa seperti tambal sulam yang hanya menyentuh permukaan hukum, tanpa menyentuh akar budaya.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh hanya “asyik sendiri” dengan masalah kita. Penting bagi kita untuk melirik bagaimana negara lain memasang “pagar” untuk melindungi karakter bangsanya dari arus liar media sosial.

Di Mana Posisi Indonesia?

Jika kita membandingkan diri dengan negara lain, kita akan melihat kontras yang cukup tajam antara gaya “pemadam kebakaran” kita dengan gaya “arsitek ekosistem” yang diterapkan beberapa negara maju.

1. Uni Eropa: Menjaga Kedaulatan Mental Sejak Dini

Eropa tidak main-main. Melalui Digital Services Act (DSA) dan turunannya, mereka memiliki standar perlindungan data dan konten yang sangat ketat.

  • Veto Orang Tua: Negara-negara seperti Prancis dan Denmark sedang bergerak menuju aturan tegas: melarang anak di bawah usia 15 tahun menggunakan media sosial tanpa izin tertulis orang tua.
  • Sanksi Tanpa Ampun: Uni Eropa berani mendenda raksasa teknologi hingga miliaran Euro jika terbukti membiarkan konten berbahaya merusak kesehatan mental remaja mereka. Di sana, Negara hadir sebagai pelindung yang berwibawa, bukan sekadar pengimbau.

2. Taiwan: Literasi sebagai Senjata Melawan Disinformasi

Taiwan punya pendekatan yang sangat elegan, yakni “Digital Governance with Digital Civility”. Apa itu? Ringkasnya seperti ini:

  • Kolaborasi Radikal: Pemerintah Taiwan tidak bekerja sendirian. Mereka berkolaborasi dengan komunitas sipil untuk melakukan fact-checking secara real-time.
  • Karakter Kritis: Sejak sekolah dasar, siswa di Taiwan diajarkan bukan sekadar “cara memakai komputer”, tapi bagaimana mendeteksi manipulasi informasi. Karakter yang dibangun adalah karakter “warga digital yang skeptis namun bertanggung jawab”, sehingga hoaks tidak lantas memecah belah bangsa mereka.

3. Tiongkok: Kontrol Ketat demi Nilai Kolektif

Meski pendekatannya sangat restriktif, kita bisa melihat satu poin penting: Tiongkok memaksa platform seperti TikTok (Douyin di sana) untuk membatasi waktu layar bagi anak-anak dan mewajibkan algoritma menampilkan konten edukasi dan sains pada jam-jam tertentu. Mereka secara sadar mengarahkan media sosial untuk membentuk karakter generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, bukan sekadar generasi yang jago berjoget di depan kamera.

Dibandingkan dengan negara-negara di atas, regulasi kita masih memiliki beberapa celah:

  • Kekuatan Sanksi: Sanksi di Indonesia seringkali tajam ke individu (melalui UU ITE), namun relatif tumpul terhadap platform global (Big Tech).
  • Fokus Pendidikan: Di Eropa dan Taiwan, fokusnya adalah pada pemberdayaan pengguna (pendidikan karakter digital). Di Indonesia, fokus kita masih pada penindakan konten (penyensoran). Kita lebih sibuk memotong rumput yang liar daripada memperbaiki kualitas tanahnya.

Menurut saya, tanggung jawab Negara dalam membangun karakter bangsa di ranah digital harus ditingkatkan ke level strategis-antisipatif:

  1. Standar Keamanan Digital untuk Anak (Age-Appropriate Design Code): Negara harus mewajibkan platform media sosial memiliki fitur perlindungan anak yang aktif secara otomatis (default), mengikuti jejak Inggris dan Uni Eropa.
  2. Kemandirian Literasi: Mengadopsi model Taiwan dalam membangun gerakan literasi akar rumput. Jangan biarkan pemerintah menjadi satu-satunya wasit kebenaran; berdayakan masyarakat untuk memiliki daya kritis terhadap informasi.
  3. Diplomasi Digital yang Tegas: Negara harus berani menekan platform global agar mematuhi nilai-nilai budaya Indonesia. Jika algoritma mereka merusak moralitas bangsa, Negara punya hak untuk menuntut perubahan.

Kita sedang berada di persimpangan. Mau menjadi bangsa yang sekadar menjadi objek algoritma asing, atau menjadi bangsa berdaulat yang mampu menjinakkan teknologi demi kemajuan karakter? Pilihan ada di tangan kita, dan langkah pertamanya dimulai dari ketegasan Negara dalam mengatur rimba digital ini. Atau malah ikut joget “klejang-klejing” saja di depan kamera?

Ampura!

Prambanan, 22/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MBG: Antara Harapan dan Realita

Next Post

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co