3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 22, 2026
in Esai
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

NEGARA memegang mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di ranah digital, tanggung jawab ini harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret.

Membangun karakter bangsa di era digital bukan hanya tugas guru atau orang tua, tapi sebuah orkestrasi besar di mana Negara bertindak sebagai konduktornya. Apakah negara mampu membangun generasi masa depan yang fasih teknologi sekaligus melek nurani?

Media sosial adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi alat asah karakter, namun bisa juga menjadi perusak mentalitas secara masif.

Sisi Positif: Ruang Kolaborasi dan Kreativitas

Jika digunakan dengan bijak, media sosial adalah katalisator pembangunan karakter yang luar biasa. Kita melihat:

  • Gotong Royong Digital: Aksi solidaritas dan penggalangan dana yang bergerak kilat menunjukkan nilai luhur kita masih hidup.
  • Demokratisasi Pengetahuan: Anak muda di pelosok bisa mengakses literasi yang sama dengan mereka di kota besar, memupuk karakter pembelajar.
  • Kebanggaan Identitas: Konten budaya dan pariwisata yang viral menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi Z dan Alpha.

Sisi Negatif: Degradasi Moral dan Polarisasi

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada lubang hitamnya:

  • Individualisme dan Narsisme: Pengejaran likes seringkali mengikis empati dan kejujuran.
  • Normalisasi Kekerasan Verbal: Komentar kasar dan cyberbullying seolah menjadi hal lumrah, menjauhkan kita dari karakter bangsa yang santun.
  • Post-Truth: Banjir hoaks mengaburkan kebenaran, membuat masyarakat mudah terpolarisasi dan kehilangan daya kritis. Kesalahan yang (sengaja) dibiasakan dengan gencar dan berulang-ulang menjadi kebenaran.

Peran Negara: Antisipatif atau Keteteran?

Sejauh ini, pemerintah telah berupaya melalui instrumen hukum seperti UU ITE serta berbagai regulasi turunan mengenai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Namun, jujur saja, jika kita bedah lebih dalam: Negara masih sering terlihat keteteran.

Regulasi kita cenderung bersifat reaktif, bukan preventif. Kita sibuk memadamkan api setelah kebakaran (menindak konten negatif atau pemblokiran), namun seringkali gagap dalam membangun “sistem proteksi kebakaran” di hulu, yaitu penguatan karakter pengguna sejak dini.

Pemerintah tampak kesulitan mengimbangi kecepatan algoritma platform global yang lebih mengutamakan engagement (seringkali konten kontroversial) daripada nilai edukasi. Akibatnya, kebijakan seringkali terasa seperti tambal sulam yang hanya menyentuh permukaan hukum, tanpa menyentuh akar budaya.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh hanya “asyik sendiri” dengan masalah kita. Penting bagi kita untuk melirik bagaimana negara lain memasang “pagar” untuk melindungi karakter bangsanya dari arus liar media sosial.

Di Mana Posisi Indonesia?

Jika kita membandingkan diri dengan negara lain, kita akan melihat kontras yang cukup tajam antara gaya “pemadam kebakaran” kita dengan gaya “arsitek ekosistem” yang diterapkan beberapa negara maju.

1. Uni Eropa: Menjaga Kedaulatan Mental Sejak Dini

Eropa tidak main-main. Melalui Digital Services Act (DSA) dan turunannya, mereka memiliki standar perlindungan data dan konten yang sangat ketat.

  • Veto Orang Tua: Negara-negara seperti Prancis dan Denmark sedang bergerak menuju aturan tegas: melarang anak di bawah usia 15 tahun menggunakan media sosial tanpa izin tertulis orang tua.
  • Sanksi Tanpa Ampun: Uni Eropa berani mendenda raksasa teknologi hingga miliaran Euro jika terbukti membiarkan konten berbahaya merusak kesehatan mental remaja mereka. Di sana, Negara hadir sebagai pelindung yang berwibawa, bukan sekadar pengimbau.

2. Taiwan: Literasi sebagai Senjata Melawan Disinformasi

Taiwan punya pendekatan yang sangat elegan, yakni “Digital Governance with Digital Civility”. Apa itu? Ringkasnya seperti ini:

  • Kolaborasi Radikal: Pemerintah Taiwan tidak bekerja sendirian. Mereka berkolaborasi dengan komunitas sipil untuk melakukan fact-checking secara real-time.
  • Karakter Kritis: Sejak sekolah dasar, siswa di Taiwan diajarkan bukan sekadar “cara memakai komputer”, tapi bagaimana mendeteksi manipulasi informasi. Karakter yang dibangun adalah karakter “warga digital yang skeptis namun bertanggung jawab”, sehingga hoaks tidak lantas memecah belah bangsa mereka.

3. Tiongkok: Kontrol Ketat demi Nilai Kolektif

Meski pendekatannya sangat restriktif, kita bisa melihat satu poin penting: Tiongkok memaksa platform seperti TikTok (Douyin di sana) untuk membatasi waktu layar bagi anak-anak dan mewajibkan algoritma menampilkan konten edukasi dan sains pada jam-jam tertentu. Mereka secara sadar mengarahkan media sosial untuk membentuk karakter generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, bukan sekadar generasi yang jago berjoget di depan kamera.

Dibandingkan dengan negara-negara di atas, regulasi kita masih memiliki beberapa celah:

  • Kekuatan Sanksi: Sanksi di Indonesia seringkali tajam ke individu (melalui UU ITE), namun relatif tumpul terhadap platform global (Big Tech).
  • Fokus Pendidikan: Di Eropa dan Taiwan, fokusnya adalah pada pemberdayaan pengguna (pendidikan karakter digital). Di Indonesia, fokus kita masih pada penindakan konten (penyensoran). Kita lebih sibuk memotong rumput yang liar daripada memperbaiki kualitas tanahnya.

Menurut saya, tanggung jawab Negara dalam membangun karakter bangsa di ranah digital harus ditingkatkan ke level strategis-antisipatif:

  1. Standar Keamanan Digital untuk Anak (Age-Appropriate Design Code): Negara harus mewajibkan platform media sosial memiliki fitur perlindungan anak yang aktif secara otomatis (default), mengikuti jejak Inggris dan Uni Eropa.
  2. Kemandirian Literasi: Mengadopsi model Taiwan dalam membangun gerakan literasi akar rumput. Jangan biarkan pemerintah menjadi satu-satunya wasit kebenaran; berdayakan masyarakat untuk memiliki daya kritis terhadap informasi.
  3. Diplomasi Digital yang Tegas: Negara harus berani menekan platform global agar mematuhi nilai-nilai budaya Indonesia. Jika algoritma mereka merusak moralitas bangsa, Negara punya hak untuk menuntut perubahan.

Kita sedang berada di persimpangan. Mau menjadi bangsa yang sekadar menjadi objek algoritma asing, atau menjadi bangsa berdaulat yang mampu menjinakkan teknologi demi kemajuan karakter? Pilihan ada di tangan kita, dan langkah pertamanya dimulai dari ketegasan Negara dalam mengatur rimba digital ini. Atau malah ikut joget “klejang-klejing” saja di depan kamera?

Ampura!

Prambanan, 22/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MBG: Antara Harapan dan Realita

Next Post

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co