14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 22, 2026
in Esai
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

NEGARA memegang mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di ranah digital, tanggung jawab ini harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret.

Membangun karakter bangsa di era digital bukan hanya tugas guru atau orang tua, tapi sebuah orkestrasi besar di mana Negara bertindak sebagai konduktornya. Apakah negara mampu membangun generasi masa depan yang fasih teknologi sekaligus melek nurani?

Media sosial adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi alat asah karakter, namun bisa juga menjadi perusak mentalitas secara masif.

Sisi Positif: Ruang Kolaborasi dan Kreativitas

Jika digunakan dengan bijak, media sosial adalah katalisator pembangunan karakter yang luar biasa. Kita melihat:

  • Gotong Royong Digital: Aksi solidaritas dan penggalangan dana yang bergerak kilat menunjukkan nilai luhur kita masih hidup.
  • Demokratisasi Pengetahuan: Anak muda di pelosok bisa mengakses literasi yang sama dengan mereka di kota besar, memupuk karakter pembelajar.
  • Kebanggaan Identitas: Konten budaya dan pariwisata yang viral menumbuhkan rasa cinta tanah air pada generasi Z dan Alpha.

Sisi Negatif: Degradasi Moral dan Polarisasi

Namun, kita tidak boleh menutup mata pada lubang hitamnya:

  • Individualisme dan Narsisme: Pengejaran likes seringkali mengikis empati dan kejujuran.
  • Normalisasi Kekerasan Verbal: Komentar kasar dan cyberbullying seolah menjadi hal lumrah, menjauhkan kita dari karakter bangsa yang santun.
  • Post-Truth: Banjir hoaks mengaburkan kebenaran, membuat masyarakat mudah terpolarisasi dan kehilangan daya kritis. Kesalahan yang (sengaja) dibiasakan dengan gencar dan berulang-ulang menjadi kebenaran.

Peran Negara: Antisipatif atau Keteteran?

Sejauh ini, pemerintah telah berupaya melalui instrumen hukum seperti UU ITE serta berbagai regulasi turunan mengenai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Namun, jujur saja, jika kita bedah lebih dalam: Negara masih sering terlihat keteteran.

Regulasi kita cenderung bersifat reaktif, bukan preventif. Kita sibuk memadamkan api setelah kebakaran (menindak konten negatif atau pemblokiran), namun seringkali gagap dalam membangun “sistem proteksi kebakaran” di hulu, yaitu penguatan karakter pengguna sejak dini.

Pemerintah tampak kesulitan mengimbangi kecepatan algoritma platform global yang lebih mengutamakan engagement (seringkali konten kontroversial) daripada nilai edukasi. Akibatnya, kebijakan seringkali terasa seperti tambal sulam yang hanya menyentuh permukaan hukum, tanpa menyentuh akar budaya.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh hanya “asyik sendiri” dengan masalah kita. Penting bagi kita untuk melirik bagaimana negara lain memasang “pagar” untuk melindungi karakter bangsanya dari arus liar media sosial.

Di Mana Posisi Indonesia?

Jika kita membandingkan diri dengan negara lain, kita akan melihat kontras yang cukup tajam antara gaya “pemadam kebakaran” kita dengan gaya “arsitek ekosistem” yang diterapkan beberapa negara maju.

1. Uni Eropa: Menjaga Kedaulatan Mental Sejak Dini

Eropa tidak main-main. Melalui Digital Services Act (DSA) dan turunannya, mereka memiliki standar perlindungan data dan konten yang sangat ketat.

  • Veto Orang Tua: Negara-negara seperti Prancis dan Denmark sedang bergerak menuju aturan tegas: melarang anak di bawah usia 15 tahun menggunakan media sosial tanpa izin tertulis orang tua.
  • Sanksi Tanpa Ampun: Uni Eropa berani mendenda raksasa teknologi hingga miliaran Euro jika terbukti membiarkan konten berbahaya merusak kesehatan mental remaja mereka. Di sana, Negara hadir sebagai pelindung yang berwibawa, bukan sekadar pengimbau.

2. Taiwan: Literasi sebagai Senjata Melawan Disinformasi

Taiwan punya pendekatan yang sangat elegan, yakni “Digital Governance with Digital Civility”. Apa itu? Ringkasnya seperti ini:

  • Kolaborasi Radikal: Pemerintah Taiwan tidak bekerja sendirian. Mereka berkolaborasi dengan komunitas sipil untuk melakukan fact-checking secara real-time.
  • Karakter Kritis: Sejak sekolah dasar, siswa di Taiwan diajarkan bukan sekadar “cara memakai komputer”, tapi bagaimana mendeteksi manipulasi informasi. Karakter yang dibangun adalah karakter “warga digital yang skeptis namun bertanggung jawab”, sehingga hoaks tidak lantas memecah belah bangsa mereka.

3. Tiongkok: Kontrol Ketat demi Nilai Kolektif

Meski pendekatannya sangat restriktif, kita bisa melihat satu poin penting: Tiongkok memaksa platform seperti TikTok (Douyin di sana) untuk membatasi waktu layar bagi anak-anak dan mewajibkan algoritma menampilkan konten edukasi dan sains pada jam-jam tertentu. Mereka secara sadar mengarahkan media sosial untuk membentuk karakter generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, bukan sekadar generasi yang jago berjoget di depan kamera.

Dibandingkan dengan negara-negara di atas, regulasi kita masih memiliki beberapa celah:

  • Kekuatan Sanksi: Sanksi di Indonesia seringkali tajam ke individu (melalui UU ITE), namun relatif tumpul terhadap platform global (Big Tech).
  • Fokus Pendidikan: Di Eropa dan Taiwan, fokusnya adalah pada pemberdayaan pengguna (pendidikan karakter digital). Di Indonesia, fokus kita masih pada penindakan konten (penyensoran). Kita lebih sibuk memotong rumput yang liar daripada memperbaiki kualitas tanahnya.

Menurut saya, tanggung jawab Negara dalam membangun karakter bangsa di ranah digital harus ditingkatkan ke level strategis-antisipatif:

  1. Standar Keamanan Digital untuk Anak (Age-Appropriate Design Code): Negara harus mewajibkan platform media sosial memiliki fitur perlindungan anak yang aktif secara otomatis (default), mengikuti jejak Inggris dan Uni Eropa.
  2. Kemandirian Literasi: Mengadopsi model Taiwan dalam membangun gerakan literasi akar rumput. Jangan biarkan pemerintah menjadi satu-satunya wasit kebenaran; berdayakan masyarakat untuk memiliki daya kritis terhadap informasi.
  3. Diplomasi Digital yang Tegas: Negara harus berani menekan platform global agar mematuhi nilai-nilai budaya Indonesia. Jika algoritma mereka merusak moralitas bangsa, Negara punya hak untuk menuntut perubahan.

Kita sedang berada di persimpangan. Mau menjadi bangsa yang sekadar menjadi objek algoritma asing, atau menjadi bangsa berdaulat yang mampu menjinakkan teknologi demi kemajuan karakter? Pilihan ada di tangan kita, dan langkah pertamanya dimulai dari ketegasan Negara dalam mengatur rimba digital ini. Atau malah ikut joget “klejang-klejing” saja di depan kamera?

Ampura!

Prambanan, 22/01/2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MBG: Antara Harapan dan Realita

Next Post

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co