23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Antara Harapan dan Realita

Ni Made Ratminingsih by Ni Made Ratminingsih
January 22, 2026
in Esai
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Ni Made Ratminingsih

BERTEPATAN dengan tanggal 25 Januari 2026 merupakan Hari Gizi Nasional. Sebuah momentum penting yang patut digunakan sebagai ajang refleksi kondisi gizi anak-anak Indonesia. Di tengah peringatan ini, wacana Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi perhatian dan penilaian kita bersama.

 Program ini hadir dengan tujuan utama yaitu memperbaiki status gizi anak, menekan angka stunting, serta meningkatkan konsentrasi dan capaian belajar siswa. Namun, di balik tujuan baik tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah MBG benar-benar menjawab persoalan gizi secara substansial?

Secara substansi, tidak ada masalah dengan gagasan menyediakan MBG bagi anak-anak sekolah. Program ini bertujuan mulia, sebab asupan gizi yang memadai dapat berkontribusi pada fokus dan kesiapan belajar, kesehatan fisik, dan perkembangan kognitif.  Pun halnya, dalam konteks permasalahan sosial-ekonomi, MBG juga dapat menjadi sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk merealisasikan keadilan sosial, yang memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh nutrisi yang layak. Dengan cara demikian, sekolah bukan hanya sebagai pusat belajar, tetapi juga tempat memberikan keadilan bagi semua anak untuk tumbuh dan berkembang maksimal.

Namun, realita sering bertolak belakang dari niat baik tersebut. Permasalahan berupa berbagai kasus keracunan makanan telah mewarnai dalam proses realisasinya. Berbagai pihak, orang tua, guru, dan peserta didik mengalami trauma dan menolak MBG karena kasus-kasus keracunan tersebut. Meski demikian, program tersebut masih tetap dijalankan dengan alasan pemecahan masalah gizi bukan masalah instan namun perlu proses panjang dengan pembenahan dalam penanganan proses produksi dan distribusi.

Persoalan gizi tidak sesederhana menyediakan makanan gratis. Gizi adalah masalah multidimensional yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, pola asuh, sanitasi, akses pangan, budaya makan, hingga literasi kesehatan. Masalah gizi tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar seporsi makanan di sekolah, sebab sejatinya anak-anak perlu asupan makanan yang lengkap di rumah.  Pendidikan keluarga dan pola asuh membentuk kebiasaan makan sejak dini. Orang tua hendaknya memiliki literasi kesehatan yang memadai untuk menyediakan nutrisi berkualitas bagi anak-anak. Namun, tidak semua orang tua paham tentang hal ini dan mampu menyediakannya (faktor ekonomi), sehingga program MBG di sekolah dapat berbenturan dengan pola dan budaya makan di rumah. Tanpa pendidikan keluarga yang memadai, Upaya perbaikan gizi bersifat parsial dan kurang optimal. Oleh karena itu, pendidikan keluarga menjadi lebih penting untuk keberlangsungan program.

Selain itu, sanitasi dan akses pangan menentukan efektivitas program gizi anak.  Faktor kebersihan dan akses pangan di beberapa wilayah dapat menjadi tantangan. Anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil dengam lingkungan yang kurang bersih dan susah dijangkau dapat menjadikan program MBG menghadapi tantangan dalam distribusi, sehingga dapat menyebabkan makanan menjadi basi sebelum sampai ke tempat tujuan.  Di lain pihak, budaya makan juga berperan penting. Preferensi keluarga dan anak-anak pada makanan tertentu dapat bertentangan dengan program MBG. Hal ini dapat berpotensi penolakan anak karena makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka.  Akibatnya, tidak sedikit makanan yang terbuang, dikonsumsi setengah hati, atau tidak memberikan manfaat optimal. Gizi sesungguhnya tidak bisa dipaksakan melalui satu resep untuk semua.

Literasi kesehatan menjadi fondasi dari kesuksesan sebuah upaya untuk menyehatkan anak bangsa, Literasi kesehatan bukan sekadar pengetahuan tentang gizi, tetapi juga kemampuan memahami dan menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kemampuan pemahaman dan penerapan ini, program MBG tidak akan berjalan optimal, bila tidak dibarengi dengan penanaman pemahaman yang memadai kepada anak-anak dan juga orang tua.  Mereka perlu diberikan penjelasan dan pemahaman tentang apa yang dimakan dan apa manfaatnya, bukan sekadar makan untuk mengenyangkan. Oleh karena itu, MBG berkelanjutan hendaknya lebih menekankan pada pembentukan kesadaran, kebiasaan, dan tanggung jawab antara sekolah dan orang tua dalam membangun pemahaman dan penerapan makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak-anak yang menjadi generasi penerus dan SDM Indonesia ke depan.

Peran guru menjadi krusial dalam program MBG. Guru bukan hanya sebagai pembantu mendistribusikan makanan kepada anak-anak di kelas, namun guru perlu dibekali pelatihan untuk mengintegrasikan MBG dalam aktivitas pembelajaran terkait dengan edukasi gizi dalam setiap makanan yang didistribusikan, Dengan demikian, guru dapat memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak-anak tentang asupan gizi pada makanan yang dikonsumsi mereka. Dengan cara edukatif ini, diharapkan akan ada perubahan pola dan perilaku makan pada anak, karena didukung oleh proses pembelajaran tentang literasi kesehatan yang bermakna. Demikian juga pada orang tua, mereka perlu mendapatkan sosialisasi tentang literasi kesehatan yang menunjang keberhasilan program dalam jangka panjang.

Dengan momentum Hari Gizi Nasional, program MBG yang telah berjalan perlu direfleksikan apakah memang masih perlu dilanjutkan atau distop. Ini semua tergantung pada bagaimana impelemntasinya ke depan. Bila hanya masalah bagi-bagi makanan gratis saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan literasi kesehatan, mungkin keberhasilannya kurang atau tidak optimal, sehingga program MBG perlu distop, karena kesehatan anak-anak seutuhnya lebih banyak ditentukan dari keluarga di rumah melalui pemahaman dan kesadaran diri untuk hidup sehat. Sebaliknya, MBG bisa dilakukan berkelanjutan bila program diperkuat dan dibarengi dengan edukasi literasi kesehatan. Dalam konteks ini, MBG diintegrasikan dengan pendidikan literasi kesehatan, bukan sebagai sebuah solusi tunggal dari semua masalah kompleks seperti kesiapan dan fokus belajar, perkembangan fisik, dan kognitif siswa,

Integrasi menjadi kata kunci. MBG perlu disinergikan dengan edukasi literasi kesehatan, yang melibatkan bukan hanya anak-anak, para guru, tetapi juga orang tua. Dengan demikian, anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga membangun pengetahuan, sikap, dan kebiasaan hidup sehat. Tanpa itu, MBG hanyalah menjadi kebijakan politis taktis yang tampaknya mengesankan di awal, tetapi kehilangan makna dan dampak dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, harapan besar MBG harus diimbangi dengan realita lapangan. Niat baik pemerintah patut diapresiasi, namun niat tersebut harus direalisasikan dengan usaha yang maksimal. Gizi anak adalah sebuah investasi masa depan suatu negara yang memerlukan penanganan komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis pendidikan. Di Hari Gizi Nasional ini, sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita resapi bersama bukanlah pada seberapa banyak porsi yang telah mereka konsumsi, namun sejauh mana mereka telah paham dan menerapkan pola hidup sehat. [T]

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pasca Forum: Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia 2025

Next Post

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

Ni Made Ratminingsih

Ni Made Ratminingsih

Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

'Darurat Medsos' untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co