2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Antara Harapan dan Realita

Ni Made Ratminingsih by Ni Made Ratminingsih
January 22, 2026
in Esai
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Ni Made Ratminingsih

BERTEPATAN dengan tanggal 25 Januari 2026 merupakan Hari Gizi Nasional. Sebuah momentum penting yang patut digunakan sebagai ajang refleksi kondisi gizi anak-anak Indonesia. Di tengah peringatan ini, wacana Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi perhatian dan penilaian kita bersama.

 Program ini hadir dengan tujuan utama yaitu memperbaiki status gizi anak, menekan angka stunting, serta meningkatkan konsentrasi dan capaian belajar siswa. Namun, di balik tujuan baik tersebut, muncul pertanyaan mendasar, apakah MBG benar-benar menjawab persoalan gizi secara substansial?

Secara substansi, tidak ada masalah dengan gagasan menyediakan MBG bagi anak-anak sekolah. Program ini bertujuan mulia, sebab asupan gizi yang memadai dapat berkontribusi pada fokus dan kesiapan belajar, kesehatan fisik, dan perkembangan kognitif.  Pun halnya, dalam konteks permasalahan sosial-ekonomi, MBG juga dapat menjadi sebuah alat yang digunakan pemerintah untuk merealisasikan keadilan sosial, yang memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat memperoleh nutrisi yang layak. Dengan cara demikian, sekolah bukan hanya sebagai pusat belajar, tetapi juga tempat memberikan keadilan bagi semua anak untuk tumbuh dan berkembang maksimal.

Namun, realita sering bertolak belakang dari niat baik tersebut. Permasalahan berupa berbagai kasus keracunan makanan telah mewarnai dalam proses realisasinya. Berbagai pihak, orang tua, guru, dan peserta didik mengalami trauma dan menolak MBG karena kasus-kasus keracunan tersebut. Meski demikian, program tersebut masih tetap dijalankan dengan alasan pemecahan masalah gizi bukan masalah instan namun perlu proses panjang dengan pembenahan dalam penanganan proses produksi dan distribusi.

Persoalan gizi tidak sesederhana menyediakan makanan gratis. Gizi adalah masalah multidimensional yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, pola asuh, sanitasi, akses pangan, budaya makan, hingga literasi kesehatan. Masalah gizi tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar seporsi makanan di sekolah, sebab sejatinya anak-anak perlu asupan makanan yang lengkap di rumah.  Pendidikan keluarga dan pola asuh membentuk kebiasaan makan sejak dini. Orang tua hendaknya memiliki literasi kesehatan yang memadai untuk menyediakan nutrisi berkualitas bagi anak-anak. Namun, tidak semua orang tua paham tentang hal ini dan mampu menyediakannya (faktor ekonomi), sehingga program MBG di sekolah dapat berbenturan dengan pola dan budaya makan di rumah. Tanpa pendidikan keluarga yang memadai, Upaya perbaikan gizi bersifat parsial dan kurang optimal. Oleh karena itu, pendidikan keluarga menjadi lebih penting untuk keberlangsungan program.

Selain itu, sanitasi dan akses pangan menentukan efektivitas program gizi anak.  Faktor kebersihan dan akses pangan di beberapa wilayah dapat menjadi tantangan. Anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil dengam lingkungan yang kurang bersih dan susah dijangkau dapat menjadikan program MBG menghadapi tantangan dalam distribusi, sehingga dapat menyebabkan makanan menjadi basi sebelum sampai ke tempat tujuan.  Di lain pihak, budaya makan juga berperan penting. Preferensi keluarga dan anak-anak pada makanan tertentu dapat bertentangan dengan program MBG. Hal ini dapat berpotensi penolakan anak karena makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera mereka.  Akibatnya, tidak sedikit makanan yang terbuang, dikonsumsi setengah hati, atau tidak memberikan manfaat optimal. Gizi sesungguhnya tidak bisa dipaksakan melalui satu resep untuk semua.

Literasi kesehatan menjadi fondasi dari kesuksesan sebuah upaya untuk menyehatkan anak bangsa, Literasi kesehatan bukan sekadar pengetahuan tentang gizi, tetapi juga kemampuan memahami dan menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kemampuan pemahaman dan penerapan ini, program MBG tidak akan berjalan optimal, bila tidak dibarengi dengan penanaman pemahaman yang memadai kepada anak-anak dan juga orang tua.  Mereka perlu diberikan penjelasan dan pemahaman tentang apa yang dimakan dan apa manfaatnya, bukan sekadar makan untuk mengenyangkan. Oleh karena itu, MBG berkelanjutan hendaknya lebih menekankan pada pembentukan kesadaran, kebiasaan, dan tanggung jawab antara sekolah dan orang tua dalam membangun pemahaman dan penerapan makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak-anak yang menjadi generasi penerus dan SDM Indonesia ke depan.

Peran guru menjadi krusial dalam program MBG. Guru bukan hanya sebagai pembantu mendistribusikan makanan kepada anak-anak di kelas, namun guru perlu dibekali pelatihan untuk mengintegrasikan MBG dalam aktivitas pembelajaran terkait dengan edukasi gizi dalam setiap makanan yang didistribusikan, Dengan demikian, guru dapat memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak-anak tentang asupan gizi pada makanan yang dikonsumsi mereka. Dengan cara edukatif ini, diharapkan akan ada perubahan pola dan perilaku makan pada anak, karena didukung oleh proses pembelajaran tentang literasi kesehatan yang bermakna. Demikian juga pada orang tua, mereka perlu mendapatkan sosialisasi tentang literasi kesehatan yang menunjang keberhasilan program dalam jangka panjang.

Dengan momentum Hari Gizi Nasional, program MBG yang telah berjalan perlu direfleksikan apakah memang masih perlu dilanjutkan atau distop. Ini semua tergantung pada bagaimana impelemntasinya ke depan. Bila hanya masalah bagi-bagi makanan gratis saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan literasi kesehatan, mungkin keberhasilannya kurang atau tidak optimal, sehingga program MBG perlu distop, karena kesehatan anak-anak seutuhnya lebih banyak ditentukan dari keluarga di rumah melalui pemahaman dan kesadaran diri untuk hidup sehat. Sebaliknya, MBG bisa dilakukan berkelanjutan bila program diperkuat dan dibarengi dengan edukasi literasi kesehatan. Dalam konteks ini, MBG diintegrasikan dengan pendidikan literasi kesehatan, bukan sebagai sebuah solusi tunggal dari semua masalah kompleks seperti kesiapan dan fokus belajar, perkembangan fisik, dan kognitif siswa,

Integrasi menjadi kata kunci. MBG perlu disinergikan dengan edukasi literasi kesehatan, yang melibatkan bukan hanya anak-anak, para guru, tetapi juga orang tua. Dengan demikian, anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga membangun pengetahuan, sikap, dan kebiasaan hidup sehat. Tanpa itu, MBG hanyalah menjadi kebijakan politis taktis yang tampaknya mengesankan di awal, tetapi kehilangan makna dan dampak dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, harapan besar MBG harus diimbangi dengan realita lapangan. Niat baik pemerintah patut diapresiasi, namun niat tersebut harus direalisasikan dengan usaha yang maksimal. Gizi anak adalah sebuah investasi masa depan suatu negara yang memerlukan penanganan komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis pendidikan. Di Hari Gizi Nasional ini, sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita resapi bersama bukanlah pada seberapa banyak porsi yang telah mereka konsumsi, namun sejauh mana mereka telah paham dan menerapkan pola hidup sehat. [T]

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pasca Forum: Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia 2025

Next Post

‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

Ni Made Ratminingsih

Ni Made Ratminingsih

Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
‘Darurat Medsos’ untuk Indonesia

'Darurat Medsos' untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co