25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
in Ulas Buku
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi "Memilih Pohon Sebelum Pinangan" pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”,  Mungkin sudut pandang saya sangat jauh dari kedalaman arti dan makna yang ingin disampaikan penulisnya, Made Adnyana Ole.

Di tangan Made Adnyana Ole, kata-kata tidak sekadar ditulis, melainkan ditanam. Buku kumpulan puisi terbarunyaitu, hadir bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai organisme yang bernapas. Ini adalah sebuah biografi batin seorang pengarang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada altar sastra. Ole tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa satu dekade waktu rentang 2015 hingga 2025 yang dipadatkan menjadi lembar-lembar puisi yang berdenyut.

Karya ini adalah monumen personal yang dibangun dengan arsitektur cinta. Ia didedikasikan secara khusyuk untuk buah hatinya, Kayu Hujan dan Putik Padi, serta istri tercintanya, Kadek Sonia Piscayanti, kasih abadi yang menjadi muara dari segala sungai romantisme dalam buku ini. Kehadiran buku ini pun tak lepas dari napas dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali, yang menyadari bahwa karya ini adalah arsip emosi yang perlu dirayakan.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Kita lihat wajah depan buku “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”, sebelum kita mengetuk pintu isinya. Sampul garapan Vincent Chandra ini menyambut kita dengan hening. Dominasi warna putih dengan aksen surealisme bentuk daun dan pohon tidak berusaha mendominasi mata, melainkan menenangkan jiwa. Kesederhanaan yang modern ini tampil apik, seolah Vincent sedang melukiskan kesunyian yang kelak akan riuh oleh kata-kata Ole di dalamnya. Ini adalah kulit yang melindungi daging puisi yang ranum.

Selanjutnya, Ole mencoba unutk menakar kasih, menanam birahi dengan membuka gerbang bukunya dengan “Hari-hari Bahagia”. Di sini, tujuh puisi berbaris rapi. Menurut pembacaan saya, bagian awal ini adalah upaya Ole mentransfer indigenous knowledge, sebuah kitab pengetahuan lokal tentang pohon dan hari-hari baiknya yang mulai kita lupakan.

INFO BUKU:

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Ole menyentil kita dengan halus, kita terlalu sibuk berteriak tentang pelestarian alam, namun luput pada implementasi kasih yang paling purba. Kita lupa bahwa pohon juga punya hari raya dan perasaannya sendiri. Namun sekali lagi Ole mencoba menyadarkan kita yang sedang koma dalam kesadaran yang paling rendah.

Puncak teologis bagian awal ini hadir dalam puisi “Tiga Penyebab Kebahagiaan”. Secara eksplisit, Ole sedang membadankan falsafah Tri Hita Karana. Ia menuliskan postulat sederhana namun menohok, yakni Tuhan maha pengasih, manusia saling mengasihi, dan pohon melimpahkan kasih tanpa pernah menagih terima kasih. Ini adalah gugatan atas hubungan transaksional manusia dengan alam.

Namun, yang paling mencuri detak jantung saya adalah puisi “Berkebun dalam Rumah”. Puisi ini menurut saya nakal sekaligus sakral. Apakah ini sekadar aktivitas menanam bunga, atau sebuah metafora dialog tubuh dan jiwa antara suami istri? Ole membungkus birahi dengan selimut kata-kata yang begitu santun namun menggairahkan. Membacanya seperti mengintip ke dalam kamar tidur penyair yang penuh bunga, romantis, hangat, dan membuat imajinasi liar saya bertanya-tanya tentang batas antara berkebun di tanah dan “berkebun” di tubuh pasangan.

Ini menurut sudut pandang dan keyakinan saya, semoga saja saya keliru, karena mungkin saja saya yang sedang birahi saat membacanya. Namun sepertinya ada benarnya juga, bahwa Ole yang sedang bergemilang spora-spora cinta dalam puisi ini. Ya, sudahlah biarkan saja. Silakan baca puisi itu dan nikmatilah. Semoga Anda bisa menemukan kebirahian itu juga.

Masuk ke bagian kedua, “Memilih Pohon”, saya menemukan jantung dari buku ini. Judul “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” adalah sebuah frasa yang berat. Ini bukan sekadar memilih kayu untuk bangunan, melainkan metafora kedewasaan diri. Sebelum meminang (baik itu pasangan maupun kehidupan), seseorang harus selesai dengan egonya, mampu mengendalikan diri, dan bijak memaknai fungsi pohon. Enam puisi di sini menyimpan romantisme khas Ole: tenang, mengayomi, namun tajam serta pesan moral yang terkandung dalam setiap pemilihan kata dari puisi-puisi bagian ini sungguh menggugah kesadaran saya.

Perjalanan rasa berlanjut ke bagian ketiga, “Geguritan Sembilan Buah”. Ole mengajak lidah kita berdansa dengan sembilan puisi yang kenyang. Mulai dari asamnya belimbing wuluh yang menyengat hingga manis-kecut anggur yang mekar di tanah Bali. Namun, di balik deskripsi botani itu, tersimpan kritik sosial yang tajam. Ole memotret bagaimana manusia sering kali terlena oleh hasil dan nikmat wisata dunia, sebuah hedonisme yang sering kali melupakan akar. Meski demikian, di tengah kritik itu, wajah Sonia tetap hadir sebagai penawar.

Cintanya pada sang istri adalah gula yang menetralisir rasa asam dunia. Dimana Ole rela dikutuk jadi lintah pohon, hingga membagi rajanya buah, 6 untukku, 7 untuk istri. Begitu besar kasihnya untuk yang terkasih dalam rasa yang sama, seperti tertulis dalam puisinya: tak lebih banyak, tak lebih sedikit.

Pada bagian “Sepuluh Pupuh Denpasar Raya”, Ole seakan berubah menjadi penyintas waktu. Ia mencoba menghidupkan kembali “pupuh” sajak-sajak penuh arti yang konon ritmenya mulai kalah oleh deru bising, lalu lalang tak berhalang, semuanya seperti siang. Ole menghapal betul tata letak Denpasar, dari Kesiman hingga Pemecutan. Namun, nada yang keluar adalah nada minor. Ada keresahan dan penyesalan mendalam di puisi-puisi yang tertulis pada bagian ini. Denpasar yang dulu magis dan romantis, kini berubah menjadi hiruk pikuk sesak kota. Ole merindukan aura kota yang dulu, dan melalui sepuluh pupuh ini, ia mencoba memanggil pulang roh kota yang telah pergi itu, namun seperti bait puisinya; ini barat, bukan lagi barat yang kau suka.

Perjalanan fisik dan batin berlanjut pada “Lima Menu Jalan Raya Denpasar-Singaraja”. Ole ternyata seorang flâneur (penjelajah) yang lapar. Namun, ia tidak sekadar makan, ia meruwat kenangan. Kuliner legend warisan budaya menjadi pintu masuk untuk bicara soal alam. Keindahan alam di jalur Denpasar-Singaraja dipadukan dengan rasa yang legit di lidah. Bahkan, makanan kera di pinggir jalan pun tak luput dari pengamatan puitisnya. Bagi Ole, memberi makan kera adalah puisi kehilangan jati, hilangnya kepekaan, hingga tak mampu menerka matang atau setengah matang.

“Perjalanan ke Timur”, membawa kita pada dimensi yang lebih spiritual. Lima puisi di sini adalah catatan kaki seorang peziarah. Lengkap dengan risalah pohon, kehidupan sosial, hingga seni yang diinterpretasikan sebagai jalan menuju surga. Puisi “Di Budakeling Menonton Gambuh Masutasoma” menjadi puncak estetik bagian ini sebuah kesaksian bahwa seni tradisi adalah jembatan emas menuju jalan surga.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Bagian akhir Ole menulis resep penyembuhan, Ole menyuguhkan “Virus, Manusia Sunyi dan Pohon Gembira”. Di bagian pamungkas ini, Ole menawarkan obat. Ia memotret realitas pahit virus Corona yang sempat membungkam dunia, namun dengan cerdik ia menyandingkannya dengan “virus cinta”. Baginya, pohon adalah entitas yang paling gembira ketika manusia dipaksa diam dan menyepi. Ada harapan filosofis di sini, bahwa kesunyian manusia adalah pesta bagi alam. Ole ingin mengatakan bahwa pohon-pohon itu memiliki daya sembuh yang luar biasa jika kita mau sejenak berhenti bicara dan mulai mendengar hingga mengerti akan arti “cukup”.

Kumpulan puisi ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan. Dari kritik sosial, kuliner, birahi, hingga ketuhanan, semuanya tumbuh subur di bawah naungan pohon kata-kata Made Adnyana Ole. Ia mengajarkan kita untuk kembali ke akar, merawat cinta pada keluarga, dan menghormati diamnya pepohonan.

Maka, tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk merangkum seluruh denyut nadi buku ini selain sebuah ajaran kuno yang bergema di setiap halamannya. “Sarwa Prani Hitangkara” karena ketika cinta kita pada manusia telah paripurna, dan kasih kita pada pohon tak lagi meminta balas, di sanalah kita menemukan hakikat hidup yang sejati. Berbuat baiklah pada semua makhluk, sebab setiap helai daun yang kau jaga dan setiap jantung yang kau cinta, adalah doa yang paling didengar oleh semesta.[T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Jaswanto

Tags: buku puisilingkunganpohonPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku dan Secangkir Kopi

Next Post

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co