14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Secangkir Kopi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 20, 2026
in Esai
Aku dan Secangkir Kopi

Ahmad Fatoni

Aku meyakini hidup ini dapat diringkas dalam secangkir kopi. Ia tampak sederhana, tetapi menyimpan riwayat panjang: dari biji yang dipetik dengan sabar, disangrai dengan ketelitian, digiling hingga halus, lalu diseduh dengan takaran waktu dan suhu yang tepat. Setiap tahap adalah pelajaran. Setiap aroma yang menguar adalah undangan untuk merenung. Di situlah aku sering memulai hari atau menutup malam dengan secangkir kopi dan sebaris ide yang menunggu dituliskan.

Biji kopi mengajarkanku tentang proses. Ia tidak pernah lahir matang; ia ditempa oleh musim, tanah, hujan, dan panas. Dalam kesenyapan kebun, kopi belajar menjadi kuat. Aku melihat diriku di sana. Ada gagasan-gagasan tidak pernah datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari membaca, mengamati, mendengar denyut kehidupan, dan menyerap peristiwa-peristiwa kecil yang kerap luput dari perhatian. Seperti kopi yang pahitnya bukan kutukan, melainkan karakter, demikian pula tulisan yang tajam sering lahir dari keberanian menatap kenyataan apa adanya, bukan menutupinya dengan gula kepura-puraan.

Proses menyangrai adalah babak paling menentukan. Api mengubah warna, aroma, dan rasa. Terlalu singkat, kopi terasa mentah. Namun jika terlalu lama, ia hangus dan kehilangan kepribadian. Aku belajar menakar “api” dalam menulis; keberanian menyuarakan kritik, ketajaman analisis, sekaligus kehati-hatian agar tidak membakar empati. Tulisan tentang sosial menuntut kepekaan, persoalan politik memerlukan keberanian dan kejernihan, urusan agama membutuhkan kerendahan hati, dan diskusi budaya menghendaki kelembutan rasa. 

Pada sela-sela kursi kayu warung kopi, aku sering menemukan rumah kedua. Ketika denting sendok beradu dengan cangkir, tempat itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan tulisanku dari paragraf pertama yang ragu-ragu hingga esai-esai yang berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Aku coba menuliskan keresahan tentang kemiskinan yang tak kunjung reda, kegaduhan politik yang kadang terasa seperti sandiwara, pertarungan tafsir agama yang memerlukan kejernihan, hingga denyut budaya lokal yang sering terpinggirkan oleh arus global.

Kopi yang kuminum di warung bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan teman pergulatan batin. Kadang aku berbincang ringan dengan kawan tentang aroma tanah yang basah oleh hujan, harga cabai yang melonjak, atau kabar anak-anak yang mulai belajar membaca. Di lain waktu, obrolan merambat menjadi lebih berat; tentang keadilan yang timpang, kebebasan yang dipasung, atau masa depan generasi yang tersandra oleh kebisingan digital. Dari percakapan-percakapan itulah ide-ide menemukan bentuknya. Aku menyadari bahwa tulisan yang bernyawa tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari denyut keseharian yang nyata.

Air panas yang menyentuh bubuk kopi selalu mengingatkanku pada pertemuan antara ide dan kenyataan. Seduhan kopi adalah momen transformasi aroma yang mewangi, warna yang menggelap, dan rasa yang mengembara. Di situlah napas kreativitasku bekerja. Kalimat demi kalimat mengalir, kadang deras, kadang tersendat. Ada hari ketika tulisan terasa pahit dan keras, ada pula saat ia lembut dan menenangkan. Namun aku percaya, sebagaimana kopi yang baik tidak menipu lidah, tulisan yang baik tidak membohongi nurani.

Secangkir kopi juga mengajarkanku tentang kesabaran. Tidak semua rasa bisa dinikmati tergesa-gesa. Ada jeda yang perlu diapresiasi, ada waktu yang mesti dihormati. Dalam menulis, kesabaran itu hadir dalam riset, perenungan, revisi, dan keberanian menekan ego. Kadang aku membiarkan tulisan “mengendap” semalam, seperti ampas kopi yang perlahan turun ke dasar cangkir, agar esok hari aku dapat membacanya dengan mata batin yang lebih jernih.

Di antara hiruk-pikuk dunia yang bergerak serba gegas, secangkir kopi memberiku ruang untuk melambat. Ia mengajakku berdamai dengan waktu, menyusun pikiran, dan menajamkan empati. Dari warung kopi sederhana hingga kedai kafe yang sedikit mewah, setiap tempat meninggalkan jejak cerita. Aku menulis bukan hanya untuk merekam peristiwa, tetapi untuk menginsyafkan kesadaran bahwa hidup, seperti kopi, perlu dirayakan dengan kesungguhan, kejujuran, dan keberanian mencicipi pahitnya.

Di tengah budaya serba instan yang mengagungkan viralitas, kopi manual mengajarkanku untuk tidak tergesa-gesa menilai. Menyeduh perlahan berarti memberi ruang pada makna agar matang, tidak mentah dalam argumentasi. Sebagaimana tulisan, ia menuntut mata yang jeli membaca realitas, hati yang bersih menimbang kebenaran, dan akal yang jujur merumuskan sikap.

Maka setiap tegukan kopi adalah latihan mengatur pola berpikir. Ia mengingatkanku agar setia pada proses, tidak silau sensasi, dan berani menanggung pahit demi kejujuran rasa. Dari secangkir kopi itu, aku belajar bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan tanggung jawab. Ia bisa menghangatkan kesadaran atau membakar nurani, tergantung bagaimana ia diseduh dan disajikan.

Tak pelak, setiap kali aku mengangkat secangkir kopi, aku seolah meneguk ulang komitmen sebagai penulis dengan menjaga integritas rasa, merawat kejernihan pikiran, dan terus menyeduh kata-kata agar tetap aktual dan tajam. Saat uap kopi perlahan menghilang, aku semakin menemukan diriku sebagai penggila aksara dan peziarah makna yang menempuh perjalanan panjang, seteguk demi seteguk, kalimat demi kalimat. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofigaya hidupkopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

Next Post

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Risalah Rindu dan Ranting -- Membaca Buku Puisi 'Memilih Pohon Sebelum Pinangan' karya Made Adnyana Ole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co