23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Secangkir Kopi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 20, 2026
in Esai
Aku dan Secangkir Kopi

Ahmad Fatoni

Aku meyakini hidup ini dapat diringkas dalam secangkir kopi. Ia tampak sederhana, tetapi menyimpan riwayat panjang: dari biji yang dipetik dengan sabar, disangrai dengan ketelitian, digiling hingga halus, lalu diseduh dengan takaran waktu dan suhu yang tepat. Setiap tahap adalah pelajaran. Setiap aroma yang menguar adalah undangan untuk merenung. Di situlah aku sering memulai hari atau menutup malam dengan secangkir kopi dan sebaris ide yang menunggu dituliskan.

Biji kopi mengajarkanku tentang proses. Ia tidak pernah lahir matang; ia ditempa oleh musim, tanah, hujan, dan panas. Dalam kesenyapan kebun, kopi belajar menjadi kuat. Aku melihat diriku di sana. Ada gagasan-gagasan tidak pernah datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari membaca, mengamati, mendengar denyut kehidupan, dan menyerap peristiwa-peristiwa kecil yang kerap luput dari perhatian. Seperti kopi yang pahitnya bukan kutukan, melainkan karakter, demikian pula tulisan yang tajam sering lahir dari keberanian menatap kenyataan apa adanya, bukan menutupinya dengan gula kepura-puraan.

Proses menyangrai adalah babak paling menentukan. Api mengubah warna, aroma, dan rasa. Terlalu singkat, kopi terasa mentah. Namun jika terlalu lama, ia hangus dan kehilangan kepribadian. Aku belajar menakar “api” dalam menulis; keberanian menyuarakan kritik, ketajaman analisis, sekaligus kehati-hatian agar tidak membakar empati. Tulisan tentang sosial menuntut kepekaan, persoalan politik memerlukan keberanian dan kejernihan, urusan agama membutuhkan kerendahan hati, dan diskusi budaya menghendaki kelembutan rasa. 

Pada sela-sela kursi kayu warung kopi, aku sering menemukan rumah kedua. Ketika denting sendok beradu dengan cangkir, tempat itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan tulisanku dari paragraf pertama yang ragu-ragu hingga esai-esai yang berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Aku coba menuliskan keresahan tentang kemiskinan yang tak kunjung reda, kegaduhan politik yang kadang terasa seperti sandiwara, pertarungan tafsir agama yang memerlukan kejernihan, hingga denyut budaya lokal yang sering terpinggirkan oleh arus global.

Kopi yang kuminum di warung bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan teman pergulatan batin. Kadang aku berbincang ringan dengan kawan tentang aroma tanah yang basah oleh hujan, harga cabai yang melonjak, atau kabar anak-anak yang mulai belajar membaca. Di lain waktu, obrolan merambat menjadi lebih berat; tentang keadilan yang timpang, kebebasan yang dipasung, atau masa depan generasi yang tersandra oleh kebisingan digital. Dari percakapan-percakapan itulah ide-ide menemukan bentuknya. Aku menyadari bahwa tulisan yang bernyawa tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari denyut keseharian yang nyata.

Air panas yang menyentuh bubuk kopi selalu mengingatkanku pada pertemuan antara ide dan kenyataan. Seduhan kopi adalah momen transformasi aroma yang mewangi, warna yang menggelap, dan rasa yang mengembara. Di situlah napas kreativitasku bekerja. Kalimat demi kalimat mengalir, kadang deras, kadang tersendat. Ada hari ketika tulisan terasa pahit dan keras, ada pula saat ia lembut dan menenangkan. Namun aku percaya, sebagaimana kopi yang baik tidak menipu lidah, tulisan yang baik tidak membohongi nurani.

Secangkir kopi juga mengajarkanku tentang kesabaran. Tidak semua rasa bisa dinikmati tergesa-gesa. Ada jeda yang perlu diapresiasi, ada waktu yang mesti dihormati. Dalam menulis, kesabaran itu hadir dalam riset, perenungan, revisi, dan keberanian menekan ego. Kadang aku membiarkan tulisan “mengendap” semalam, seperti ampas kopi yang perlahan turun ke dasar cangkir, agar esok hari aku dapat membacanya dengan mata batin yang lebih jernih.

Di antara hiruk-pikuk dunia yang bergerak serba gegas, secangkir kopi memberiku ruang untuk melambat. Ia mengajakku berdamai dengan waktu, menyusun pikiran, dan menajamkan empati. Dari warung kopi sederhana hingga kedai kafe yang sedikit mewah, setiap tempat meninggalkan jejak cerita. Aku menulis bukan hanya untuk merekam peristiwa, tetapi untuk menginsyafkan kesadaran bahwa hidup, seperti kopi, perlu dirayakan dengan kesungguhan, kejujuran, dan keberanian mencicipi pahitnya.

Di tengah budaya serba instan yang mengagungkan viralitas, kopi manual mengajarkanku untuk tidak tergesa-gesa menilai. Menyeduh perlahan berarti memberi ruang pada makna agar matang, tidak mentah dalam argumentasi. Sebagaimana tulisan, ia menuntut mata yang jeli membaca realitas, hati yang bersih menimbang kebenaran, dan akal yang jujur merumuskan sikap.

Maka setiap tegukan kopi adalah latihan mengatur pola berpikir. Ia mengingatkanku agar setia pada proses, tidak silau sensasi, dan berani menanggung pahit demi kejujuran rasa. Dari secangkir kopi itu, aku belajar bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan tanggung jawab. Ia bisa menghangatkan kesadaran atau membakar nurani, tergantung bagaimana ia diseduh dan disajikan.

Tak pelak, setiap kali aku mengangkat secangkir kopi, aku seolah meneguk ulang komitmen sebagai penulis dengan menjaga integritas rasa, merawat kejernihan pikiran, dan terus menyeduh kata-kata agar tetap aktual dan tajam. Saat uap kopi perlahan menghilang, aku semakin menemukan diriku sebagai penggila aksara dan peziarah makna yang menempuh perjalanan panjang, seteguk demi seteguk, kalimat demi kalimat. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: filosofigaya hidupkopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

Next Post

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Risalah Rindu dan Ranting -- Membaca Buku Puisi 'Memilih Pohon Sebelum Pinangan' karya Made Adnyana Ole

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co