31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
in Ulas Buku
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi "Memilih Pohon Sebelum Pinangan" pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”,  Mungkin sudut pandang saya sangat jauh dari kedalaman arti dan makna yang ingin disampaikan penulisnya, Made Adnyana Ole.

Di tangan Made Adnyana Ole, kata-kata tidak sekadar ditulis, melainkan ditanam. Buku kumpulan puisi terbarunyaitu, hadir bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai organisme yang bernapas. Ini adalah sebuah biografi batin seorang pengarang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada altar sastra. Ole tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa satu dekade waktu rentang 2015 hingga 2025 yang dipadatkan menjadi lembar-lembar puisi yang berdenyut.

Karya ini adalah monumen personal yang dibangun dengan arsitektur cinta. Ia didedikasikan secara khusyuk untuk buah hatinya, Kayu Hujan dan Putik Padi, serta istri tercintanya, Kadek Sonia Piscayanti, kasih abadi yang menjadi muara dari segala sungai romantisme dalam buku ini. Kehadiran buku ini pun tak lepas dari napas dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali, yang menyadari bahwa karya ini adalah arsip emosi yang perlu dirayakan.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Kita lihat wajah depan buku “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”, sebelum kita mengetuk pintu isinya. Sampul garapan Vincent Chandra ini menyambut kita dengan hening. Dominasi warna putih dengan aksen surealisme bentuk daun dan pohon tidak berusaha mendominasi mata, melainkan menenangkan jiwa. Kesederhanaan yang modern ini tampil apik, seolah Vincent sedang melukiskan kesunyian yang kelak akan riuh oleh kata-kata Ole di dalamnya. Ini adalah kulit yang melindungi daging puisi yang ranum.

Selanjutnya, Ole mencoba unutk menakar kasih, menanam birahi dengan membuka gerbang bukunya dengan “Hari-hari Bahagia”. Di sini, tujuh puisi berbaris rapi. Menurut pembacaan saya, bagian awal ini adalah upaya Ole mentransfer indigenous knowledge, sebuah kitab pengetahuan lokal tentang pohon dan hari-hari baiknya yang mulai kita lupakan.

INFO BUKU:

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Ole menyentil kita dengan halus, kita terlalu sibuk berteriak tentang pelestarian alam, namun luput pada implementasi kasih yang paling purba. Kita lupa bahwa pohon juga punya hari raya dan perasaannya sendiri. Namun sekali lagi Ole mencoba menyadarkan kita yang sedang koma dalam kesadaran yang paling rendah.

Puncak teologis bagian awal ini hadir dalam puisi “Tiga Penyebab Kebahagiaan”. Secara eksplisit, Ole sedang membadankan falsafah Tri Hita Karana. Ia menuliskan postulat sederhana namun menohok, yakni Tuhan maha pengasih, manusia saling mengasihi, dan pohon melimpahkan kasih tanpa pernah menagih terima kasih. Ini adalah gugatan atas hubungan transaksional manusia dengan alam.

Namun, yang paling mencuri detak jantung saya adalah puisi “Berkebun dalam Rumah”. Puisi ini menurut saya nakal sekaligus sakral. Apakah ini sekadar aktivitas menanam bunga, atau sebuah metafora dialog tubuh dan jiwa antara suami istri? Ole membungkus birahi dengan selimut kata-kata yang begitu santun namun menggairahkan. Membacanya seperti mengintip ke dalam kamar tidur penyair yang penuh bunga, romantis, hangat, dan membuat imajinasi liar saya bertanya-tanya tentang batas antara berkebun di tanah dan “berkebun” di tubuh pasangan.

Ini menurut sudut pandang dan keyakinan saya, semoga saja saya keliru, karena mungkin saja saya yang sedang birahi saat membacanya. Namun sepertinya ada benarnya juga, bahwa Ole yang sedang bergemilang spora-spora cinta dalam puisi ini. Ya, sudahlah biarkan saja. Silakan baca puisi itu dan nikmatilah. Semoga Anda bisa menemukan kebirahian itu juga.

Masuk ke bagian kedua, “Memilih Pohon”, saya menemukan jantung dari buku ini. Judul “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” adalah sebuah frasa yang berat. Ini bukan sekadar memilih kayu untuk bangunan, melainkan metafora kedewasaan diri. Sebelum meminang (baik itu pasangan maupun kehidupan), seseorang harus selesai dengan egonya, mampu mengendalikan diri, dan bijak memaknai fungsi pohon. Enam puisi di sini menyimpan romantisme khas Ole: tenang, mengayomi, namun tajam serta pesan moral yang terkandung dalam setiap pemilihan kata dari puisi-puisi bagian ini sungguh menggugah kesadaran saya.

Perjalanan rasa berlanjut ke bagian ketiga, “Geguritan Sembilan Buah”. Ole mengajak lidah kita berdansa dengan sembilan puisi yang kenyang. Mulai dari asamnya belimbing wuluh yang menyengat hingga manis-kecut anggur yang mekar di tanah Bali. Namun, di balik deskripsi botani itu, tersimpan kritik sosial yang tajam. Ole memotret bagaimana manusia sering kali terlena oleh hasil dan nikmat wisata dunia, sebuah hedonisme yang sering kali melupakan akar. Meski demikian, di tengah kritik itu, wajah Sonia tetap hadir sebagai penawar.

Cintanya pada sang istri adalah gula yang menetralisir rasa asam dunia. Dimana Ole rela dikutuk jadi lintah pohon, hingga membagi rajanya buah, 6 untukku, 7 untuk istri. Begitu besar kasihnya untuk yang terkasih dalam rasa yang sama, seperti tertulis dalam puisinya: tak lebih banyak, tak lebih sedikit.

Pada bagian “Sepuluh Pupuh Denpasar Raya”, Ole seakan berubah menjadi penyintas waktu. Ia mencoba menghidupkan kembali “pupuh” sajak-sajak penuh arti yang konon ritmenya mulai kalah oleh deru bising, lalu lalang tak berhalang, semuanya seperti siang. Ole menghapal betul tata letak Denpasar, dari Kesiman hingga Pemecutan. Namun, nada yang keluar adalah nada minor. Ada keresahan dan penyesalan mendalam di puisi-puisi yang tertulis pada bagian ini. Denpasar yang dulu magis dan romantis, kini berubah menjadi hiruk pikuk sesak kota. Ole merindukan aura kota yang dulu, dan melalui sepuluh pupuh ini, ia mencoba memanggil pulang roh kota yang telah pergi itu, namun seperti bait puisinya; ini barat, bukan lagi barat yang kau suka.

Perjalanan fisik dan batin berlanjut pada “Lima Menu Jalan Raya Denpasar-Singaraja”. Ole ternyata seorang flâneur (penjelajah) yang lapar. Namun, ia tidak sekadar makan, ia meruwat kenangan. Kuliner legend warisan budaya menjadi pintu masuk untuk bicara soal alam. Keindahan alam di jalur Denpasar-Singaraja dipadukan dengan rasa yang legit di lidah. Bahkan, makanan kera di pinggir jalan pun tak luput dari pengamatan puitisnya. Bagi Ole, memberi makan kera adalah puisi kehilangan jati, hilangnya kepekaan, hingga tak mampu menerka matang atau setengah matang.

“Perjalanan ke Timur”, membawa kita pada dimensi yang lebih spiritual. Lima puisi di sini adalah catatan kaki seorang peziarah. Lengkap dengan risalah pohon, kehidupan sosial, hingga seni yang diinterpretasikan sebagai jalan menuju surga. Puisi “Di Budakeling Menonton Gambuh Masutasoma” menjadi puncak estetik bagian ini sebuah kesaksian bahwa seni tradisi adalah jembatan emas menuju jalan surga.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Bagian akhir Ole menulis resep penyembuhan, Ole menyuguhkan “Virus, Manusia Sunyi dan Pohon Gembira”. Di bagian pamungkas ini, Ole menawarkan obat. Ia memotret realitas pahit virus Corona yang sempat membungkam dunia, namun dengan cerdik ia menyandingkannya dengan “virus cinta”. Baginya, pohon adalah entitas yang paling gembira ketika manusia dipaksa diam dan menyepi. Ada harapan filosofis di sini, bahwa kesunyian manusia adalah pesta bagi alam. Ole ingin mengatakan bahwa pohon-pohon itu memiliki daya sembuh yang luar biasa jika kita mau sejenak berhenti bicara dan mulai mendengar hingga mengerti akan arti “cukup”.

Kumpulan puisi ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan. Dari kritik sosial, kuliner, birahi, hingga ketuhanan, semuanya tumbuh subur di bawah naungan pohon kata-kata Made Adnyana Ole. Ia mengajarkan kita untuk kembali ke akar, merawat cinta pada keluarga, dan menghormati diamnya pepohonan.

Maka, tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk merangkum seluruh denyut nadi buku ini selain sebuah ajaran kuno yang bergema di setiap halamannya. “Sarwa Prani Hitangkara” karena ketika cinta kita pada manusia telah paripurna, dan kasih kita pada pohon tak lagi meminta balas, di sanalah kita menemukan hakikat hidup yang sejati. Berbuat baiklah pada semua makhluk, sebab setiap helai daun yang kau jaga dan setiap jantung yang kau cinta, adalah doa yang paling didengar oleh semesta.[T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Jaswanto

Tags: buku puisilingkunganpohonPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku dan Secangkir Kopi

Next Post

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co