8 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
in Ulas Buku
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi "Memilih Pohon Sebelum Pinangan" pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”,  Mungkin sudut pandang saya sangat jauh dari kedalaman arti dan makna yang ingin disampaikan penulisnya, Made Adnyana Ole.

Di tangan Made Adnyana Ole, kata-kata tidak sekadar ditulis, melainkan ditanam. Buku kumpulan puisi terbarunyaitu, hadir bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai organisme yang bernapas. Ini adalah sebuah biografi batin seorang pengarang yang telah menyerahkan seluruh hidupnya pada altar sastra. Ole tidak datang dengan tangan kosong, ia membawa satu dekade waktu rentang 2015 hingga 2025 yang dipadatkan menjadi lembar-lembar puisi yang berdenyut.

Karya ini adalah monumen personal yang dibangun dengan arsitektur cinta. Ia didedikasikan secara khusyuk untuk buah hatinya, Kayu Hujan dan Putik Padi, serta istri tercintanya, Kadek Sonia Piscayanti, kasih abadi yang menjadi muara dari segala sungai romantisme dalam buku ini. Kehadiran buku ini pun tak lepas dari napas dukungan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV Bali, yang menyadari bahwa karya ini adalah arsip emosi yang perlu dirayakan.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Kita lihat wajah depan buku “Memilih Pohon Sebelum Pinangan”, sebelum kita mengetuk pintu isinya. Sampul garapan Vincent Chandra ini menyambut kita dengan hening. Dominasi warna putih dengan aksen surealisme bentuk daun dan pohon tidak berusaha mendominasi mata, melainkan menenangkan jiwa. Kesederhanaan yang modern ini tampil apik, seolah Vincent sedang melukiskan kesunyian yang kelak akan riuh oleh kata-kata Ole di dalamnya. Ini adalah kulit yang melindungi daging puisi yang ranum.

Selanjutnya, Ole mencoba unutk menakar kasih, menanam birahi dengan membuka gerbang bukunya dengan “Hari-hari Bahagia”. Di sini, tujuh puisi berbaris rapi. Menurut pembacaan saya, bagian awal ini adalah upaya Ole mentransfer indigenous knowledge, sebuah kitab pengetahuan lokal tentang pohon dan hari-hari baiknya yang mulai kita lupakan.

INFO BUKU:

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Ole menyentil kita dengan halus, kita terlalu sibuk berteriak tentang pelestarian alam, namun luput pada implementasi kasih yang paling purba. Kita lupa bahwa pohon juga punya hari raya dan perasaannya sendiri. Namun sekali lagi Ole mencoba menyadarkan kita yang sedang koma dalam kesadaran yang paling rendah.

Puncak teologis bagian awal ini hadir dalam puisi “Tiga Penyebab Kebahagiaan”. Secara eksplisit, Ole sedang membadankan falsafah Tri Hita Karana. Ia menuliskan postulat sederhana namun menohok, yakni Tuhan maha pengasih, manusia saling mengasihi, dan pohon melimpahkan kasih tanpa pernah menagih terima kasih. Ini adalah gugatan atas hubungan transaksional manusia dengan alam.

Namun, yang paling mencuri detak jantung saya adalah puisi “Berkebun dalam Rumah”. Puisi ini menurut saya nakal sekaligus sakral. Apakah ini sekadar aktivitas menanam bunga, atau sebuah metafora dialog tubuh dan jiwa antara suami istri? Ole membungkus birahi dengan selimut kata-kata yang begitu santun namun menggairahkan. Membacanya seperti mengintip ke dalam kamar tidur penyair yang penuh bunga, romantis, hangat, dan membuat imajinasi liar saya bertanya-tanya tentang batas antara berkebun di tanah dan “berkebun” di tubuh pasangan.

Ini menurut sudut pandang dan keyakinan saya, semoga saja saya keliru, karena mungkin saja saya yang sedang birahi saat membacanya. Namun sepertinya ada benarnya juga, bahwa Ole yang sedang bergemilang spora-spora cinta dalam puisi ini. Ya, sudahlah biarkan saja. Silakan baca puisi itu dan nikmatilah. Semoga Anda bisa menemukan kebirahian itu juga.

Masuk ke bagian kedua, “Memilih Pohon”, saya menemukan jantung dari buku ini. Judul “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” adalah sebuah frasa yang berat. Ini bukan sekadar memilih kayu untuk bangunan, melainkan metafora kedewasaan diri. Sebelum meminang (baik itu pasangan maupun kehidupan), seseorang harus selesai dengan egonya, mampu mengendalikan diri, dan bijak memaknai fungsi pohon. Enam puisi di sini menyimpan romantisme khas Ole: tenang, mengayomi, namun tajam serta pesan moral yang terkandung dalam setiap pemilihan kata dari puisi-puisi bagian ini sungguh menggugah kesadaran saya.

Perjalanan rasa berlanjut ke bagian ketiga, “Geguritan Sembilan Buah”. Ole mengajak lidah kita berdansa dengan sembilan puisi yang kenyang. Mulai dari asamnya belimbing wuluh yang menyengat hingga manis-kecut anggur yang mekar di tanah Bali. Namun, di balik deskripsi botani itu, tersimpan kritik sosial yang tajam. Ole memotret bagaimana manusia sering kali terlena oleh hasil dan nikmat wisata dunia, sebuah hedonisme yang sering kali melupakan akar. Meski demikian, di tengah kritik itu, wajah Sonia tetap hadir sebagai penawar.

Cintanya pada sang istri adalah gula yang menetralisir rasa asam dunia. Dimana Ole rela dikutuk jadi lintah pohon, hingga membagi rajanya buah, 6 untukku, 7 untuk istri. Begitu besar kasihnya untuk yang terkasih dalam rasa yang sama, seperti tertulis dalam puisinya: tak lebih banyak, tak lebih sedikit.

Pada bagian “Sepuluh Pupuh Denpasar Raya”, Ole seakan berubah menjadi penyintas waktu. Ia mencoba menghidupkan kembali “pupuh” sajak-sajak penuh arti yang konon ritmenya mulai kalah oleh deru bising, lalu lalang tak berhalang, semuanya seperti siang. Ole menghapal betul tata letak Denpasar, dari Kesiman hingga Pemecutan. Namun, nada yang keluar adalah nada minor. Ada keresahan dan penyesalan mendalam di puisi-puisi yang tertulis pada bagian ini. Denpasar yang dulu magis dan romantis, kini berubah menjadi hiruk pikuk sesak kota. Ole merindukan aura kota yang dulu, dan melalui sepuluh pupuh ini, ia mencoba memanggil pulang roh kota yang telah pergi itu, namun seperti bait puisinya; ini barat, bukan lagi barat yang kau suka.

Perjalanan fisik dan batin berlanjut pada “Lima Menu Jalan Raya Denpasar-Singaraja”. Ole ternyata seorang flâneur (penjelajah) yang lapar. Namun, ia tidak sekadar makan, ia meruwat kenangan. Kuliner legend warisan budaya menjadi pintu masuk untuk bicara soal alam. Keindahan alam di jalur Denpasar-Singaraja dipadukan dengan rasa yang legit di lidah. Bahkan, makanan kera di pinggir jalan pun tak luput dari pengamatan puitisnya. Bagi Ole, memberi makan kera adalah puisi kehilangan jati, hilangnya kepekaan, hingga tak mampu menerka matang atau setengah matang.

“Perjalanan ke Timur”, membawa kita pada dimensi yang lebih spiritual. Lima puisi di sini adalah catatan kaki seorang peziarah. Lengkap dengan risalah pohon, kehidupan sosial, hingga seni yang diinterpretasikan sebagai jalan menuju surga. Puisi “Di Budakeling Menonton Gambuh Masutasoma” menjadi puncak estetik bagian ini sebuah kesaksian bahwa seni tradisi adalah jembatan emas menuju jalan surga.

I Nengah Juliawan mengulas buku puisi “Memilih Pohon Sebelum Pinangan” pada acara peluncuran buku itu di Komunitas Mahima, Rabu, 14 Januari 2026 | Foto: Komunitas Mahima

Bagian akhir Ole menulis resep penyembuhan, Ole menyuguhkan “Virus, Manusia Sunyi dan Pohon Gembira”. Di bagian pamungkas ini, Ole menawarkan obat. Ia memotret realitas pahit virus Corona yang sempat membungkam dunia, namun dengan cerdik ia menyandingkannya dengan “virus cinta”. Baginya, pohon adalah entitas yang paling gembira ketika manusia dipaksa diam dan menyepi. Ada harapan filosofis di sini, bahwa kesunyian manusia adalah pesta bagi alam. Ole ingin mengatakan bahwa pohon-pohon itu memiliki daya sembuh yang luar biasa jika kita mau sejenak berhenti bicara dan mulai mendengar hingga mengerti akan arti “cukup”.

Kumpulan puisi ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah ekosistem kehidupan. Dari kritik sosial, kuliner, birahi, hingga ketuhanan, semuanya tumbuh subur di bawah naungan pohon kata-kata Made Adnyana Ole. Ia mengajarkan kita untuk kembali ke akar, merawat cinta pada keluarga, dan menghormati diamnya pepohonan.

Maka, tidak ada kalimat yang lebih tepat untuk merangkum seluruh denyut nadi buku ini selain sebuah ajaran kuno yang bergema di setiap halamannya. “Sarwa Prani Hitangkara” karena ketika cinta kita pada manusia telah paripurna, dan kasih kita pada pohon tak lagi meminta balas, di sanalah kita menemukan hakikat hidup yang sejati. Berbuat baiklah pada semua makhluk, sebab setiap helai daun yang kau jaga dan setiap jantung yang kau cinta, adalah doa yang paling didengar oleh semesta.[T]

Penulis: I Nengah Juliawan
Editor: Jaswanto

Tags: buku puisilingkunganpohonPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku dan Secangkir Kopi

Next Post

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

I Nengah Juliawan

I Nengah Juliawan

Lahir di Denpasar. Kini dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co