23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Arief Rahzen by Arief Rahzen
January 20, 2026
in Esai
Meme Coin: Spekulasi, Nihilisme, dan Ritual Ekonomi Anak Muda

Ilustrasi dari penulis

DI balik pendar layar gawai yang menerangi kamar-kamar kos sempit di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya atau Bali pada pukul dua pagi, sebuah ritual baru sedang berlangsung. Bukan doa malam, bukan pula sekadar scrolling media sosial tanpa arah. Ribuan anak muda Indonesia sedang menatap grafik lilin (candlestick chart) yang bergerak liar, mempertaruhkan uang saku mereka pada aset yang logonya bukan wajah negarawan atau gedung bank sentral, melainkan anjing Shiba Inu yang menyeringai atau kodok Pepe yang melankolis.

Inilah era Meme Coin. Sebuah fenomena di mana lelucon internet bermutasi menjadi aset bernilai miliaran dolar. Bagi pengamat ekonomi ortodoks, ini gelembung spekulasi yang irasional. Namun, jika kita meletakkan fenomena ini di bawah kacamata budaya, kita akan melihat sesuatu yang kompleks. Ada pemberontakan nihilistik terhadap kemapanan ekonomi. Ada pula jeritan putus asa akan mobilitas sosial yang kian macet.

Secara historis, uang selalu disandarkan pada narasi otoritas (emas, perak, atau fiat). Namun, Jean Baudrillard, filsuf Prancis yang banyak mengulas tentang simulakra, mungkin akan tersenyum kecut melihat meme coin. Dalam ekosistem ini, nilai tukar tidak lagi berbasis pada utilitas atau fundamental ekonomi (seperti dalam saham atau komoditas), melainkan berbasis pada atensi dan tawa. Meme coin merupakan manifestasi ekonomi dari budaya viral. Koin ini ialah uang yang tidak berpura-pura serius. Ketika institusi keuangan tradisional dianggap kaku dan eksklusif, anak muda dunia (juga Indonesia) memilih instrumen yang berbicara dengan bahasa mereka: bahasa ironi.

Generasi muda Indonesia, yang tumbuh di tengah janji pembangunan namun terbentur realitas lapangan kerja yang rentan, mulai meragukan narasi “kerja keras pangkal kaya”. Ketika menabung untuk membeli rumah di pinggiran Jakarta terasa seperti mimpi di siang bolong, maka rasionalitas ekonomi bergeser.

Membeli koin crypto bergambar anjing (Doge) bukan lagi sekadar investasi. Itu aksi akuisisi tiket lotre kultural. Ada harapan bahwa di tengah ketidakpastian, absurditas pasar mungkin berpihak pada mereka, bukan pada para konglomerat tua.

Istilah “Degen” (dari kata degenerate: kemerosotan) sering dipakai dengan bangga oleh para pelaku pasar crypto garis keras. Di Indonesia, fenomena ini mengubah lanskap perilaku ekonomi anak muda secara drastis. Ada tiga pergeseran perilaku fundamental yang dapat kita amati:

Pertama, Gamifikasi Harapan. Disini investasi yang dulunya adalah aktivitas sunyi, lambat, dan membosankan, kini berubah menjadi dopamine-rush yang instan. Tampilan aplikasi pertukaran crypto lebih mirip game online daripada bursa efek. Kemudian anak muda tidak lagi sabar dengan bunga deposito 4% per tahun. Mereka mencari keuntungan 1000% dalam semalam (To The Moon). Kesabaran, kebajikan lama budaya leluhur (alon-alon waton kelakon), digerus oleh mantra baru: FOMO (Fear of Missing Out).


Kedua, Komunitas sebagai “Pos Ronda” Digital. Berbeda dengan investor saham konvensional yang individualis, pemegang meme coin membentuk suku-suku digital (digital tribes). Grup Telegram dan Discord menjadi pos ronda baru. Kemudian ada solidaritas semu. Di sana, mereka saling menguatkan saat harga jatuh dan merayakan euforia saat harga naik. Ada rasa kepemilikan komunal yang kuat. “Kita vs Mereka” (Pemegang Koin vs Pasar/FUDder). Ini memenuhi kebutuhan sosiologis akan komunitas di tengah masyarakat urban yang kian teralienasi.


Dan ketiga, Nihilisme yang Dirayakan. Ada nuansa menertawakan nasib dalam perilaku ini. Ketika mereka rugi (rug pull), responnya seringkali bukan kemarahan, melainkan pembuatan meme baru yang lebih sarkas. Inilah bentuk mekanisme pertahanan diri. Jika sistem ekonomi dianggap sudah rusak (rigged), maka satu-satunya cara untuk bertahan waras ialah dengan menganggap uang itu sendiri sebagai lelucon.

Jebakan Kelas Menengah Digital

Mengapa fenomena ini begitu riuh di Indonesia? Kita tidak bisa melepaskannya dari konteks demografi. Indonesia sedang mengalami “Bonus Demografi”, namun seringkali bonus ini terasa sebagai beban bagi mereka yang menjalaninya.

Generasi Z dan Milenial akhir di Indonesia ialah digital native, tetapi seringkali economic migrant di negeri sendiri. Mereka terhubung dengan gaya hidup global melalui Instagram dan TikTok, dan jejaring sosial lainnya. Disana mereka melihat kemewahan yang dipamerkan, namun dompet mereka masih terikat pada UMR lokal yang stagnan.

Meme coin menawarkan jalan pintas. Atau ilusi jalan pintas. Ini jembatan goyah yang menghubungkan realitas ekonomi Indonesia yang keras dengan fantasi kekayaan global yang likuid.

Perilaku “menambang” koin atau berburu airdrop dari rumah atau coffee shop jadi bentuk kerja digital baru. Batas antara bermain-main, judi, dan kerja menjadi kabur. Bagi seorang pemuda di kota lapis kedua di Jawa, mendapatkan keuntungan $100 dari meme coin terasa lebih nyata dan membebaskan daripada sebulan bekerja sebagai buruh lepas.

Kegandrungan anak muda Indonesia terhadap meme coin ialah cermin dari zeitgeist (jiwa zaman) kita. Inilah cerita tentang ketidakpercayaan terhadap institusi lama, pencarian identitas melalui komunitas digital, dan upaya meretas mobilitas sosial. Apakah ini berbahaya? Secara finansial, sangat mungkin. Banyak yang akan terluka ketika musik berhenti dan lampu pesta padam. Namun, secara budaya, ini penanda penting.

Meme coin mengajarkan kita bahwa di era digital ini, narasi ialah raja. Dan bagi anak muda Indonesia, jika realitas terlalu pahit untuk ditelan, mereka akan menciptakan mata uang mereka sendiri. Mata uang yang dicetak dari piksel, harapan, dan gelak tawa di tengah ketidakpastian.

Di balik grafik harga meme coin yang naik-turun, terdapat manusia-manusia yang sedang mencari makna dan keamanan di dunia yang semakin cair (liquid modernity). [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak mudaekonomi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Next Post

Indonesia dan Minikino di Vilnius Short Film Festival 2026

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia dan Minikino di Vilnius Short Film Festival 2026

Indonesia dan Minikino di Vilnius Short Film Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co