“Kamu nggak lupa jas hujan kan?” tanyaku.
Dengan gaya khasnya yang tergesa-gesa, Satria mengambil dua jas hujan, warna biru untuknya, yang warna pink untukku. Di seberang, nampak dua orang pria wanita, mungkin adik-kakak, mungkin suami-istri, dan kucing gemuk yang cepat-cepat mereka terlantarkan.
Mereka bertindak gesit sekali, tak lebih dari 10 detik. Si kucing gemuk itu bergeming, dan entah kenapa ia menatap kami dengan tajam. Kami saling memandang, tapi aku tidak lagi berpikir panjang, Si gemuk itu aku angkut, aku mengangguk ke Satria, ia membalas anggukanku.
Sebenarnya bulan lalu kami sudah berencana mengadopsi anabul, namun karena bukan suatu prioritas, wishlist itu selalu kami tunda. Sekarang, kami resmi mengadopsi anabul gemuk ini. Setelah beres-beres, kami keringkan Si Gemuk. Sudah sebulan hanya kami yang meramaikan rumah ini, sekarang kami punya anggota keluarga baru.
Aku berterima kasih pada kucing ini karena ia bisa dijadikan alasan menunda punya momongan. “Kita bisa latihan mengasuh anak kucing dulu kan?” kataku.
“Aku ikut saja!” Satria membalas dengan santai, sambil mengambil cemilan yang kami beli tadi dan membuatkanku teh untuk bertarung dengan dinginnya malam.
Walau terlihat seperti kucing ras mahal, tingkahnya berkata sebaliknya. Ia susah sekali diatur, kadang ia bermain dengan bola kesayangannya di sofa, kadang ia ke sana kemari mencari tikus. Untungnya, ia tak pernah keluar rumah, Aku merasa tak perlu khawatir dan fokus dengan kerjaan mendesain yang banyak revisinya. Biasanya aku merasa kesepian bekerja di rumah dan tak sabar ketika jam sudah hampir mendekati jam 4, ketika Satria membuka pintu dan memberi kecupan singkat.
Oh iya, aku lupa memberikan si kucing ini nama, kesabaranku bertemu Satria jadi lebih menipis karena ada hal yang perlu kita bicarakan. Untung saja hari ini lebih banyak revisi yang masuk, sehingga waktu berjalan jauh lebih cepat. Sejenak aku pantau Si Gemuk tertidur pulas di atas sofa, kami juga akan membicarakan rencana membelikan Si Gemuk tempat tidur besar, yang bisa cukup muat untuk badannya berbaring bersama bola kesayangannya.
Satria mengetuk pintu, dan segera membuka pintu, aku mengecup pipinya dan membantu membawakan barang-barang. Sekilas kuintip isi tas, lega karena Satria tak lupa membeli makanan kucing.
“Aku punya hadiah nih, kamu bisa nebak apa?” tanya Satria sambil membuka isi tasnya.
“Es krim!?” Kali ini aku pasti benar.
Seperti biasa, tiap hari Jumat kami menyempatkan menonton film. Aku hanya ikut saja, Kurasa memilih film adalah satu-satunya hal ketika Satria mengambil keputusan sendiri, sisanya ia selalu melibatkanku. Malam ini kami habiskan di film. Lagi-lagi kami melupakan menamai Si Gemuk.
Terakhir aku lihat bola kesayangan Si Gemuk masih terlihat seperti bola, sekarang entah seperti apa bentuknya, lebih seperti rempeyek karena terlalu sering digigitnya. Tak terbayang kalau harus menyetok bola tiap minggunya. Hari ini mungkin menjadi hari ter-hectic-ku karena ada 4 desain sekaligus, biasanya aku mendapatkan 1-2 tiap hari. Salah satunya membuat design system untuk brand makanan anjing.
Mata dan jari-jemariku seolah tak perlu berkoordinasi, mereka sudah otomatis bergerak satu sama lain. Kali ini, aku mendesainnya dengan tersenyum karena foto-foto anabul di layar. Oh iya, aku lupa memberikan Si Gemuk nama. Padahal kami sudah merencanakan dan mencoba memberikannya nama, namun belum ada kata sepakat.
Seperti biasanya, selalu ada terbesit rasa muak menunggu Satria pulang. Anabul kami yang tak kunjung mempunyai nama mengingatkanku pada Satria, ia selalu punya cara membuatku nyaman dan aman. Aku sayang seutuhnya, yang berarti aku juga akan selalu menerima betapa payahnya ia mengambil keputusan. Kata keterlibatan sudah menjadi mantra baginya. Ia selalu menceramahiku pentingnya melibatkanku dalam hal apapun. Namun aku juga sudah kadung percaya, jadi aku ingin juga merasa dipaksa memilih pilihannya. Itu juga yang membuatnya susahnya kami menentukan nama untuk Si Gemuk. Ia membuka ruang diskusi seluasnya, sedangkan aku menunggu apapun pilihannya.
Hembusan angin yang kencang di luar diikuti sedikit gerimis sukses membuat malam ini lebih terasa dramatis. Di dapur, aku menyiapkan makan malam. Satria asyik menonton acara kompetisi memasak kesukaannya.
Seketika Satria berdiri dan menengok ke jendela. “Kenapa ya banyak anjing menggonggong di luar?”
Aku juga bertanya yang sama. Makan malam sudah siap, kami makan bersama di ruang tamu.
“Aku belum sempat lihat Si Gemuk, di mana dia?” Satria bertanya, matanya terpaku ke TV.
“Mungkin di halaman belakang, lagi bermain,” sahutku.
Satria bergegas mencari Si Gemuk, tadi siang aku kabari kalau ia sudah dimandikan, Satria pasti tak sabar mencium wangi Si Gemuk. Aku juga mencarinya setelah beres-beres karena aku kalah suit dengan Satria.
Suara kucing samar-samar terdengar di luar, seberang rumah. Kami dengan tergesa-gesa melihat apa yang terjadi. Jangan-jangan anjing di luar menggonggong karena kehadiran Si Gemuk.
Kami berdua kaget setengah mati karena Si Gemuk ternyata di atas genteng rumah tetangga sebelah. 3-4 anjing memaku pandangannya ke Si Gemuk.
“Ayo, sini turun!” teriakku, ditimpali dengan Satria. Suasananya kikuk, memanggil tanpa nama, kadang kami menggunakan nama serampangan yang berbeda-beda.
Kami berdua berteriak memanggil Si Gemuk. Si Gemuk bergeming, melihat sebentar ke arah kami dan memalingkan pandangannya ke anjing-anjing. Ia pasti ngambek karena belum juga punya nama.
Si Gemuk seketika hilang dari pandangan, anjing-anjing perlahan pergi kebingungan mencari Si Gemuk. Ditemani senter, kami mencari-cari Si Gemuk. Seketika naluriku menuntun untuk melihat ke atas genteng kami. Benar saja, ia duduk santai sambil menjilat-jilat badannya, dari gerak-geriknya aku tahu ia pasti meledek kami.
Di antara gerimis, kami saling menatap. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Satria saat ini. Sambil menatap Si Gemuk yang tiba-tiba jadi rebel itu, aku berharap ia segera punya nama, nama yang datang dari ketegasan Satria. [T]
Penulis: I Made Dwipayana
Editor: Adnyana Ole



























