23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

J. Savitri by J. Savitri
December 25, 2025
in Tualang
Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

Bapak Othmane: Belajar Merawat Jauh dari Rumah -- Cerita Perjalanan di Spanyol

AL-ARABI, atau Bapak Othmane (Usman) saya dulu memanggilnya, adalah seorang imigran Maroko yang menetap di Castellon de la Plana, kota kecil di pesisir pantai timur Spanyol. Ia pemilik halal mercado atau toko halal tempat penduduk Muslim kota, terutama yang berasal dari jazirah Arab, bisa menemukan bahan makanan khas daerahnya.

Saya memanggil ingatan samar-samar sepuluh tahun lalu. Toko itu menjadi satu dari banyak hal baru bagi seorang mahasiswa semester akhir yang baru pertama kali pergi ke Eropa. Di selasar toko bagian kanan, sebuah mesin besar dengan penutup kaca menampakkan beberapa ekor ayam matang tergantung pada pipa besi yang berputar perlahan untuk memasaknya dengan teknik pengasapan. Di atas mesin tersebut tertulis pollo asado; dalam Bahasa Indonesia berarti ayam asap. 

Toko itu tidak terlalu luas, sekitar empat hingga lima meter lebarnya, dengan rak memanjang di tengah yang membagi ruang menjadi dua lorong cukup untuk dua orang berpapasan. Rak-rak di sepanjang dinding dipenuhi bahan makanan kering yang asing bagi saya saat itu: kacang-kacangan kaleng, pasta, olahan susu, hingga biji-bijian seperti couscous dan semolina. Di sana pula, untuk pertama kalinya, saya melihat Indomie dengan kemasan berbahasa Inggris dan Arab.

Bersama teman dari Indonesia dan Turki di rumah Al-Arabi (tengah)

Di ujung toko, dua etalase pendingin membentuk sudut L, berisi potongan daging sapi, ayam, dan domba segar, aneka sosis dengan ukuran yang beragam, serta ember-ember acar buah zaitun hijau dan hitam.

Saya dan dua teman masuk dengan ragu dan canggung, masih asing dan belum yakin dapat berkomunikasi dengan pemilik toko. Beberapa hari berada di kota kecil itu sudah cukup untuk menyadarkan kami bahwa mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Di toko Bapak Othmane, interaksi yang diawali salam berbahasa Arab pun segera berlanjut dengan bahasa tubuh.

Saat kami mendekati etalase daging, pemilik toko memulai percakapan dengan bertanya, “Hablas español?” Dengan cepat kami menjawab, “No,” sambil memperagakan berbagai isyarat penolakan; dari melambaikan tangan hingga membentuk huruf X dengan kedua tangan. Kurang dari seminggu berada di sana, belum satu pun dari kami mampu berbicara bahasa Spanyol.

Keberuntungan pun memihak. Putri, teman saya, sedikit menguasai bahasa Arab dari pengalamannya nyantren selama enam tahun. Setelah upaya berbahasa Spanyol gagal, komunikasi akhirnya terjalin berbekal bahasa Arab yang terbatas.

Anak-anak Al-Arabi

Bapak Othmane bertanya dari mana kami berasal dan apa yang kami lakukan di kota itu. Ia mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, seperti seorang ayah mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari perjalanan panjang. Begitulah kami saat itu: lelah oleh perjalanan lintas benua, perubahan cuaca ekstrem, dan proses beradaptasi di tempat asing.

Layaknya seorang ayah, Bapak Othmane tidak membiarkan kami pergi tanpa wejangan. Melalui Putri ia menyampaikan nasihat tentang menjadi seorang Muslim yang baik, menegaskan bahwa sesama Muslim adalah saudara. Ternyata, wejangan itu bukan sekadar kata-kata.

Sebelum pulang, ia meminta seorang pegawainya mengambilkan dua ekor pollo asado untuk kami, sementara ia sendiri memasukkan beberapa bungkus kacang arab, lentil, dan pasta. Seolah belum cukup, ia menambahkan beberapa bungkus daging giling. “Pasta enak kalau dimasak dengan ini,” katanya, sambil menunjuk daging giling itu. Semuanya diberikan cuma-cuma. Bapak Othmane membuat kami merasa diperlakukan seperti keluarga.

Belanjaan yang semula hanya dua kantong, beranak-pinak jadi lima kantong penuh. Bapak Othmane hanya meminta satu hal sebagai balasan; doa baik untuk orang tuanya. Semenjak saat itu, kunjungan kami tidak pernah absen dari diskon dan bonus yang seringkali lebih banyak dari barang yang kami bayar. Saya heran, karena seolah dialah yang lebih merasa berterima kasih, hanya karena kehadiran kami. Di saat dunia modern mengajarkan kita untuk mengukur relasi dari untung-rugi, Bapak Othmane mengajarkan bahwa saling jaga, saling peduli, dan saling empati tidak melulu tentang pertukaran materi.

Diselingi makan di luar sekali dua kali seminggu, bekal abon, rendang, dan mi instan dari Indonesia, serta upaya menghemat ala anak rantau lintas benua, kami baru kembali ke toko Bapak Othmane sebulan kemudian. Kami datang tepat setelah menyelesaikan les intensif bahasa Spanyol selama sebulan. Tentu saja, kedatangan kami disambut wajah teduh serta senyum hangat Al-Arabi, nama dari Bapak Othmane.

Dengan bangga kami menyampaikan kabar baik kepada pertemanan baru ini: kami bisa berbahasa Spanyol. “Hablo un poquito de español, ahora,” ujar saya. “Saya bisa berbicara sedikit-sedikit bahasa Spanyol.” Sejak saat itu, percakapan pun mulai mengalir, meski masih terbata-bata.

Pada hari itu pula, saya mendengar untuk pertama kalinya mantra andalan Al-Arabi: “Todos los musulmanes son hermanos.” Semua umat Muslim adalah saudara. Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, di hampir setiap kesempatan.

Istri Al-Arabi mengambil paella (paeya), makanan khas Spanyol

Beberapa tahun kemudian, dari kumpulan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke Maroko, saya mulai memahami bahwa negara ini dikenal dengan keramahan warganya. Di Maroko, bukan hal yang aneh jika seseorang langsung mengundangmu makan di rumahnya, meski baru saja berkenalan.

Tentu saja, undangan untuk makan datang dari Al-Arabi. Kami diajak ikut merayakan ulang tahun Othmane. Masalahnya, rumah mereka berada jauh dari pusat kota. Dibutuhkan perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan mobil untuk kesana. Artinya, demi mengajak kami, Othmane harus menjemput dan mengantar kami kembali.

Kami pergi dan bertemu seluruh keluarga Al-Arabi untuk pertama kalinya. Saat itu juga kami menyaksikan kebaikan yang sama terpancar dari istri dan kelima anaknya.

Sangat terasa bahwa keluarga ini menjamu dengan sepenuh hati. Tidak kurang dari empat kali kami berkunjung ke rumah keluarga Al-Arabi. Pada setiap kunjungan, makanan selalu memenuhi meja. Ada paella (makanan khas Spanyol), salad, berbagai jenis minuman dan kudapan manis. Selesai makan, biasanya kami duduk-duduk di sofa sambil menikmati teh mint khas Maroko. Beberapa kali juga kami diajak jalan-jalan ke kota, pantai, atau pusat keramaian di sekitar.

Suatu hari, saya datang ke toko Al-Arabi bersama dua teman lokal, Cristina dan Mariam. Kami membeli ayam untuk memasak paella (baca: paeya) bersama. Setelah berbelanja, Al-Arabi berbincang dengan Mariam sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Ternyata, ia berpesan, “Temanmu ini sangat jauh dari rumahnya, tolong jaga dia baik-baik.” Ia meminta teman-teman saya untuk ikut “menjaga” saya, sebagaimana selama ini ia lakukan sesuai dengan kapasitasnya. Pesan itu disampaikan dengan tulus dan rendah hati, tanpa paksaan.

Jauh sebelum mengenalnya melalui teori, Al-Arabi dan keluarganya telah lebih dulu mengajarkan saya tentang nilai-nilai perawatan, tentang saling menjaga. Pada suatu kesempatan ketika sedang menginap di rumahnya, Al-Arabi sempat mengatakan bahwa ia telah menganggap saya seperti anaknya sendiri, sehingga saya tak perlu sungkan meminta bantuan. “Eres como mi hija. Si necesitas algo, dime,” begitu katanya.

Al-Arabi adalah bagian dari komunitas yang terbentuk ketika saya dan empat orang teman dari Indonesia hidup di Spanyol selama enam bulan sebagai mahasiswa pertukaran. Dalam perjalanannya, kami saling membantu dan dibantu, berbagi sumber daya ketika ada yang membutuhkan. Kami membangun ruang aman; menumbuhkan empati dan solidaritas kepada satu sama lain.

Bersama anak bungsu Al-Arabi

Saya kemudian menyadari bahwa jauh sebelum pertemuan dengan keluarga Al-Arabi, nilai-nilai perawatan itu telah lebih dahulu diajarkan oleh orang-orang dewasa di sekitar saya sejak masa tumbuh dan dibesarkan. Nilai-nilai itu hadir melalui tetangga yang setiap hari membuka rumahnya bagi anak-anak untuk bermain di halaman atau sekadar menonton televisi bersama; melalui tetangga yang mengajarkan saya memasak untuk pertama kalinya saat kelas empat SD; melalui tetangga yang mengasuh adik saya ketika masih balita karena orang tuanya bekerja dan kakak-kakaknya bersekolah; melalui tetangga yang menanam pohon salam di depan rumah sehingga siapa pun boleh memetiknya saat membutuhkan; hingga ibu-ibu yang memasak kue kering Lebaran bersama untuk berbagi alat, tenaga, dan waktu.

Ada pepatah Barat yang mengatakan: “It takes a village to raise a child.” Dibutuhkan satu “desa” untuk membesarkan seorang anak. Kini, desa itu seolah telah hilang, digantikan oleh “kota-kota” modern dimana kepemilikan pribadi atas kebutuhan sehari-hari memberi kemudahan tetapi sekaligus menciptakan jarak dan mengisolasi. Secara administratif, desa mungkin masih ada; namun kehidupan ala desa lah yang perlahan menghilang.

Walau begitu, nilai-nilai perawatan kolektif sejatinya tidak pernah benar-benar lenyap. Nilai-nilai itu tetap hidup sebagai ingatan yang mengalir dalam tubuh. Hal ini tercermin dari solidaritas yang terbangun, baik kepada saudara di Sumatera atau kepada mereka yang ditangkap karena menyuarakan keadilan.

Kita mungkin tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Namun, kita bisa berupaya melatih kembali refleks terhadap nilai-nilai perawatan; membangun kembali empati dan solidaritas kolektif. Sudah banyak kelompok, dari skala kecil hingga besar, yang memulainya: membangun kebun kolektif, mengadakan kantin sehat bagi anak-anak sekolah, menghidupkan rumah baca dan komunitas literasi, menggunakan kesenian sebagai cara merawat ingatan, mendirikan sekolah alternatif, hingga membangun usaha bersama melalui skema koperasi.

Bersama Mariam dan Cristina sebelum pergi membeli ayam di halal mercado

Bagi saya, Al-Arabi bukan sekedar sosok dari masa lalu ketika dalam perantauan. Ia adalah pengingat bahwa nilai-nilai perawatan akan selalu menemukan jalannya, bahkan jauh dari rumah. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: arabcatatan perjalananMuslimspanyol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Next Post

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails
Next Post
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co