24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

J. Savitri by J. Savitri
December 25, 2025
in Tualang
Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

Bapak Othmane: Belajar Merawat Jauh dari Rumah -- Cerita Perjalanan di Spanyol

AL-ARABI, atau Bapak Othmane (Usman) saya dulu memanggilnya, adalah seorang imigran Maroko yang menetap di Castellon de la Plana, kota kecil di pesisir pantai timur Spanyol. Ia pemilik halal mercado atau toko halal tempat penduduk Muslim kota, terutama yang berasal dari jazirah Arab, bisa menemukan bahan makanan khas daerahnya.

Saya memanggil ingatan samar-samar sepuluh tahun lalu. Toko itu menjadi satu dari banyak hal baru bagi seorang mahasiswa semester akhir yang baru pertama kali pergi ke Eropa. Di selasar toko bagian kanan, sebuah mesin besar dengan penutup kaca menampakkan beberapa ekor ayam matang tergantung pada pipa besi yang berputar perlahan untuk memasaknya dengan teknik pengasapan. Di atas mesin tersebut tertulis pollo asado; dalam Bahasa Indonesia berarti ayam asap. 

Toko itu tidak terlalu luas, sekitar empat hingga lima meter lebarnya, dengan rak memanjang di tengah yang membagi ruang menjadi dua lorong cukup untuk dua orang berpapasan. Rak-rak di sepanjang dinding dipenuhi bahan makanan kering yang asing bagi saya saat itu: kacang-kacangan kaleng, pasta, olahan susu, hingga biji-bijian seperti couscous dan semolina. Di sana pula, untuk pertama kalinya, saya melihat Indomie dengan kemasan berbahasa Inggris dan Arab.

Bersama teman dari Indonesia dan Turki di rumah Al-Arabi (tengah)

Di ujung toko, dua etalase pendingin membentuk sudut L, berisi potongan daging sapi, ayam, dan domba segar, aneka sosis dengan ukuran yang beragam, serta ember-ember acar buah zaitun hijau dan hitam.

Saya dan dua teman masuk dengan ragu dan canggung, masih asing dan belum yakin dapat berkomunikasi dengan pemilik toko. Beberapa hari berada di kota kecil itu sudah cukup untuk menyadarkan kami bahwa mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Di toko Bapak Othmane, interaksi yang diawali salam berbahasa Arab pun segera berlanjut dengan bahasa tubuh.

Saat kami mendekati etalase daging, pemilik toko memulai percakapan dengan bertanya, “Hablas español?” Dengan cepat kami menjawab, “No,” sambil memperagakan berbagai isyarat penolakan; dari melambaikan tangan hingga membentuk huruf X dengan kedua tangan. Kurang dari seminggu berada di sana, belum satu pun dari kami mampu berbicara bahasa Spanyol.

Keberuntungan pun memihak. Putri, teman saya, sedikit menguasai bahasa Arab dari pengalamannya nyantren selama enam tahun. Setelah upaya berbahasa Spanyol gagal, komunikasi akhirnya terjalin berbekal bahasa Arab yang terbatas.

Anak-anak Al-Arabi

Bapak Othmane bertanya dari mana kami berasal dan apa yang kami lakukan di kota itu. Ia mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, seperti seorang ayah mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari perjalanan panjang. Begitulah kami saat itu: lelah oleh perjalanan lintas benua, perubahan cuaca ekstrem, dan proses beradaptasi di tempat asing.

Layaknya seorang ayah, Bapak Othmane tidak membiarkan kami pergi tanpa wejangan. Melalui Putri ia menyampaikan nasihat tentang menjadi seorang Muslim yang baik, menegaskan bahwa sesama Muslim adalah saudara. Ternyata, wejangan itu bukan sekadar kata-kata.

Sebelum pulang, ia meminta seorang pegawainya mengambilkan dua ekor pollo asado untuk kami, sementara ia sendiri memasukkan beberapa bungkus kacang arab, lentil, dan pasta. Seolah belum cukup, ia menambahkan beberapa bungkus daging giling. “Pasta enak kalau dimasak dengan ini,” katanya, sambil menunjuk daging giling itu. Semuanya diberikan cuma-cuma. Bapak Othmane membuat kami merasa diperlakukan seperti keluarga.

Belanjaan yang semula hanya dua kantong, beranak-pinak jadi lima kantong penuh. Bapak Othmane hanya meminta satu hal sebagai balasan; doa baik untuk orang tuanya. Semenjak saat itu, kunjungan kami tidak pernah absen dari diskon dan bonus yang seringkali lebih banyak dari barang yang kami bayar. Saya heran, karena seolah dialah yang lebih merasa berterima kasih, hanya karena kehadiran kami. Di saat dunia modern mengajarkan kita untuk mengukur relasi dari untung-rugi, Bapak Othmane mengajarkan bahwa saling jaga, saling peduli, dan saling empati tidak melulu tentang pertukaran materi.

Diselingi makan di luar sekali dua kali seminggu, bekal abon, rendang, dan mi instan dari Indonesia, serta upaya menghemat ala anak rantau lintas benua, kami baru kembali ke toko Bapak Othmane sebulan kemudian. Kami datang tepat setelah menyelesaikan les intensif bahasa Spanyol selama sebulan. Tentu saja, kedatangan kami disambut wajah teduh serta senyum hangat Al-Arabi, nama dari Bapak Othmane.

Dengan bangga kami menyampaikan kabar baik kepada pertemanan baru ini: kami bisa berbahasa Spanyol. “Hablo un poquito de español, ahora,” ujar saya. “Saya bisa berbicara sedikit-sedikit bahasa Spanyol.” Sejak saat itu, percakapan pun mulai mengalir, meski masih terbata-bata.

Pada hari itu pula, saya mendengar untuk pertama kalinya mantra andalan Al-Arabi: “Todos los musulmanes son hermanos.” Semua umat Muslim adalah saudara. Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, di hampir setiap kesempatan.

Istri Al-Arabi mengambil paella (paeya), makanan khas Spanyol

Beberapa tahun kemudian, dari kumpulan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke Maroko, saya mulai memahami bahwa negara ini dikenal dengan keramahan warganya. Di Maroko, bukan hal yang aneh jika seseorang langsung mengundangmu makan di rumahnya, meski baru saja berkenalan.

Tentu saja, undangan untuk makan datang dari Al-Arabi. Kami diajak ikut merayakan ulang tahun Othmane. Masalahnya, rumah mereka berada jauh dari pusat kota. Dibutuhkan perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan mobil untuk kesana. Artinya, demi mengajak kami, Othmane harus menjemput dan mengantar kami kembali.

Kami pergi dan bertemu seluruh keluarga Al-Arabi untuk pertama kalinya. Saat itu juga kami menyaksikan kebaikan yang sama terpancar dari istri dan kelima anaknya.

Sangat terasa bahwa keluarga ini menjamu dengan sepenuh hati. Tidak kurang dari empat kali kami berkunjung ke rumah keluarga Al-Arabi. Pada setiap kunjungan, makanan selalu memenuhi meja. Ada paella (makanan khas Spanyol), salad, berbagai jenis minuman dan kudapan manis. Selesai makan, biasanya kami duduk-duduk di sofa sambil menikmati teh mint khas Maroko. Beberapa kali juga kami diajak jalan-jalan ke kota, pantai, atau pusat keramaian di sekitar.

Suatu hari, saya datang ke toko Al-Arabi bersama dua teman lokal, Cristina dan Mariam. Kami membeli ayam untuk memasak paella (baca: paeya) bersama. Setelah berbelanja, Al-Arabi berbincang dengan Mariam sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Ternyata, ia berpesan, “Temanmu ini sangat jauh dari rumahnya, tolong jaga dia baik-baik.” Ia meminta teman-teman saya untuk ikut “menjaga” saya, sebagaimana selama ini ia lakukan sesuai dengan kapasitasnya. Pesan itu disampaikan dengan tulus dan rendah hati, tanpa paksaan.

Jauh sebelum mengenalnya melalui teori, Al-Arabi dan keluarganya telah lebih dulu mengajarkan saya tentang nilai-nilai perawatan, tentang saling menjaga. Pada suatu kesempatan ketika sedang menginap di rumahnya, Al-Arabi sempat mengatakan bahwa ia telah menganggap saya seperti anaknya sendiri, sehingga saya tak perlu sungkan meminta bantuan. “Eres como mi hija. Si necesitas algo, dime,” begitu katanya.

Al-Arabi adalah bagian dari komunitas yang terbentuk ketika saya dan empat orang teman dari Indonesia hidup di Spanyol selama enam bulan sebagai mahasiswa pertukaran. Dalam perjalanannya, kami saling membantu dan dibantu, berbagi sumber daya ketika ada yang membutuhkan. Kami membangun ruang aman; menumbuhkan empati dan solidaritas kepada satu sama lain.

Bersama anak bungsu Al-Arabi

Saya kemudian menyadari bahwa jauh sebelum pertemuan dengan keluarga Al-Arabi, nilai-nilai perawatan itu telah lebih dahulu diajarkan oleh orang-orang dewasa di sekitar saya sejak masa tumbuh dan dibesarkan. Nilai-nilai itu hadir melalui tetangga yang setiap hari membuka rumahnya bagi anak-anak untuk bermain di halaman atau sekadar menonton televisi bersama; melalui tetangga yang mengajarkan saya memasak untuk pertama kalinya saat kelas empat SD; melalui tetangga yang mengasuh adik saya ketika masih balita karena orang tuanya bekerja dan kakak-kakaknya bersekolah; melalui tetangga yang menanam pohon salam di depan rumah sehingga siapa pun boleh memetiknya saat membutuhkan; hingga ibu-ibu yang memasak kue kering Lebaran bersama untuk berbagi alat, tenaga, dan waktu.

Ada pepatah Barat yang mengatakan: “It takes a village to raise a child.” Dibutuhkan satu “desa” untuk membesarkan seorang anak. Kini, desa itu seolah telah hilang, digantikan oleh “kota-kota” modern dimana kepemilikan pribadi atas kebutuhan sehari-hari memberi kemudahan tetapi sekaligus menciptakan jarak dan mengisolasi. Secara administratif, desa mungkin masih ada; namun kehidupan ala desa lah yang perlahan menghilang.

Walau begitu, nilai-nilai perawatan kolektif sejatinya tidak pernah benar-benar lenyap. Nilai-nilai itu tetap hidup sebagai ingatan yang mengalir dalam tubuh. Hal ini tercermin dari solidaritas yang terbangun, baik kepada saudara di Sumatera atau kepada mereka yang ditangkap karena menyuarakan keadilan.

Kita mungkin tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Namun, kita bisa berupaya melatih kembali refleks terhadap nilai-nilai perawatan; membangun kembali empati dan solidaritas kolektif. Sudah banyak kelompok, dari skala kecil hingga besar, yang memulainya: membangun kebun kolektif, mengadakan kantin sehat bagi anak-anak sekolah, menghidupkan rumah baca dan komunitas literasi, menggunakan kesenian sebagai cara merawat ingatan, mendirikan sekolah alternatif, hingga membangun usaha bersama melalui skema koperasi.

Bersama Mariam dan Cristina sebelum pergi membeli ayam di halal mercado

Bagi saya, Al-Arabi bukan sekedar sosok dari masa lalu ketika dalam perantauan. Ia adalah pengingat bahwa nilai-nilai perawatan akan selalu menemukan jalannya, bahkan jauh dari rumah. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: arabcatatan perjalananMuslimspanyol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Next Post

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co