2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

J. Savitri by J. Savitri
December 25, 2025
in Tualang
Bapak Othmane, Belajar Merawat Jauh dari Rumah — Cerita Perjalanan di Spanyol

Bapak Othmane: Belajar Merawat Jauh dari Rumah -- Cerita Perjalanan di Spanyol

AL-ARABI, atau Bapak Othmane (Usman) saya dulu memanggilnya, adalah seorang imigran Maroko yang menetap di Castellon de la Plana, kota kecil di pesisir pantai timur Spanyol. Ia pemilik halal mercado atau toko halal tempat penduduk Muslim kota, terutama yang berasal dari jazirah Arab, bisa menemukan bahan makanan khas daerahnya.

Saya memanggil ingatan samar-samar sepuluh tahun lalu. Toko itu menjadi satu dari banyak hal baru bagi seorang mahasiswa semester akhir yang baru pertama kali pergi ke Eropa. Di selasar toko bagian kanan, sebuah mesin besar dengan penutup kaca menampakkan beberapa ekor ayam matang tergantung pada pipa besi yang berputar perlahan untuk memasaknya dengan teknik pengasapan. Di atas mesin tersebut tertulis pollo asado; dalam Bahasa Indonesia berarti ayam asap. 

Toko itu tidak terlalu luas, sekitar empat hingga lima meter lebarnya, dengan rak memanjang di tengah yang membagi ruang menjadi dua lorong cukup untuk dua orang berpapasan. Rak-rak di sepanjang dinding dipenuhi bahan makanan kering yang asing bagi saya saat itu: kacang-kacangan kaleng, pasta, olahan susu, hingga biji-bijian seperti couscous dan semolina. Di sana pula, untuk pertama kalinya, saya melihat Indomie dengan kemasan berbahasa Inggris dan Arab.

Bersama teman dari Indonesia dan Turki di rumah Al-Arabi (tengah)

Di ujung toko, dua etalase pendingin membentuk sudut L, berisi potongan daging sapi, ayam, dan domba segar, aneka sosis dengan ukuran yang beragam, serta ember-ember acar buah zaitun hijau dan hitam.

Saya dan dua teman masuk dengan ragu dan canggung, masih asing dan belum yakin dapat berkomunikasi dengan pemilik toko. Beberapa hari berada di kota kecil itu sudah cukup untuk menyadarkan kami bahwa mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Di toko Bapak Othmane, interaksi yang diawali salam berbahasa Arab pun segera berlanjut dengan bahasa tubuh.

Saat kami mendekati etalase daging, pemilik toko memulai percakapan dengan bertanya, “Hablas español?” Dengan cepat kami menjawab, “No,” sambil memperagakan berbagai isyarat penolakan; dari melambaikan tangan hingga membentuk huruf X dengan kedua tangan. Kurang dari seminggu berada di sana, belum satu pun dari kami mampu berbicara bahasa Spanyol.

Keberuntungan pun memihak. Putri, teman saya, sedikit menguasai bahasa Arab dari pengalamannya nyantren selama enam tahun. Setelah upaya berbahasa Spanyol gagal, komunikasi akhirnya terjalin berbekal bahasa Arab yang terbatas.

Anak-anak Al-Arabi

Bapak Othmane bertanya dari mana kami berasal dan apa yang kami lakukan di kota itu. Ia mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, seperti seorang ayah mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari perjalanan panjang. Begitulah kami saat itu: lelah oleh perjalanan lintas benua, perubahan cuaca ekstrem, dan proses beradaptasi di tempat asing.

Layaknya seorang ayah, Bapak Othmane tidak membiarkan kami pergi tanpa wejangan. Melalui Putri ia menyampaikan nasihat tentang menjadi seorang Muslim yang baik, menegaskan bahwa sesama Muslim adalah saudara. Ternyata, wejangan itu bukan sekadar kata-kata.

Sebelum pulang, ia meminta seorang pegawainya mengambilkan dua ekor pollo asado untuk kami, sementara ia sendiri memasukkan beberapa bungkus kacang arab, lentil, dan pasta. Seolah belum cukup, ia menambahkan beberapa bungkus daging giling. “Pasta enak kalau dimasak dengan ini,” katanya, sambil menunjuk daging giling itu. Semuanya diberikan cuma-cuma. Bapak Othmane membuat kami merasa diperlakukan seperti keluarga.

Belanjaan yang semula hanya dua kantong, beranak-pinak jadi lima kantong penuh. Bapak Othmane hanya meminta satu hal sebagai balasan; doa baik untuk orang tuanya. Semenjak saat itu, kunjungan kami tidak pernah absen dari diskon dan bonus yang seringkali lebih banyak dari barang yang kami bayar. Saya heran, karena seolah dialah yang lebih merasa berterima kasih, hanya karena kehadiran kami. Di saat dunia modern mengajarkan kita untuk mengukur relasi dari untung-rugi, Bapak Othmane mengajarkan bahwa saling jaga, saling peduli, dan saling empati tidak melulu tentang pertukaran materi.

Diselingi makan di luar sekali dua kali seminggu, bekal abon, rendang, dan mi instan dari Indonesia, serta upaya menghemat ala anak rantau lintas benua, kami baru kembali ke toko Bapak Othmane sebulan kemudian. Kami datang tepat setelah menyelesaikan les intensif bahasa Spanyol selama sebulan. Tentu saja, kedatangan kami disambut wajah teduh serta senyum hangat Al-Arabi, nama dari Bapak Othmane.

Dengan bangga kami menyampaikan kabar baik kepada pertemanan baru ini: kami bisa berbahasa Spanyol. “Hablo un poquito de español, ahora,” ujar saya. “Saya bisa berbicara sedikit-sedikit bahasa Spanyol.” Sejak saat itu, percakapan pun mulai mengalir, meski masih terbata-bata.

Pada hari itu pula, saya mendengar untuk pertama kalinya mantra andalan Al-Arabi: “Todos los musulmanes son hermanos.” Semua umat Muslim adalah saudara. Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, di hampir setiap kesempatan.

Istri Al-Arabi mengambil paella (paeya), makanan khas Spanyol

Beberapa tahun kemudian, dari kumpulan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke Maroko, saya mulai memahami bahwa negara ini dikenal dengan keramahan warganya. Di Maroko, bukan hal yang aneh jika seseorang langsung mengundangmu makan di rumahnya, meski baru saja berkenalan.

Tentu saja, undangan untuk makan datang dari Al-Arabi. Kami diajak ikut merayakan ulang tahun Othmane. Masalahnya, rumah mereka berada jauh dari pusat kota. Dibutuhkan perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan mobil untuk kesana. Artinya, demi mengajak kami, Othmane harus menjemput dan mengantar kami kembali.

Kami pergi dan bertemu seluruh keluarga Al-Arabi untuk pertama kalinya. Saat itu juga kami menyaksikan kebaikan yang sama terpancar dari istri dan kelima anaknya.

Sangat terasa bahwa keluarga ini menjamu dengan sepenuh hati. Tidak kurang dari empat kali kami berkunjung ke rumah keluarga Al-Arabi. Pada setiap kunjungan, makanan selalu memenuhi meja. Ada paella (makanan khas Spanyol), salad, berbagai jenis minuman dan kudapan manis. Selesai makan, biasanya kami duduk-duduk di sofa sambil menikmati teh mint khas Maroko. Beberapa kali juga kami diajak jalan-jalan ke kota, pantai, atau pusat keramaian di sekitar.

Suatu hari, saya datang ke toko Al-Arabi bersama dua teman lokal, Cristina dan Mariam. Kami membeli ayam untuk memasak paella (baca: paeya) bersama. Setelah berbelanja, Al-Arabi berbincang dengan Mariam sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Ternyata, ia berpesan, “Temanmu ini sangat jauh dari rumahnya, tolong jaga dia baik-baik.” Ia meminta teman-teman saya untuk ikut “menjaga” saya, sebagaimana selama ini ia lakukan sesuai dengan kapasitasnya. Pesan itu disampaikan dengan tulus dan rendah hati, tanpa paksaan.

Jauh sebelum mengenalnya melalui teori, Al-Arabi dan keluarganya telah lebih dulu mengajarkan saya tentang nilai-nilai perawatan, tentang saling menjaga. Pada suatu kesempatan ketika sedang menginap di rumahnya, Al-Arabi sempat mengatakan bahwa ia telah menganggap saya seperti anaknya sendiri, sehingga saya tak perlu sungkan meminta bantuan. “Eres como mi hija. Si necesitas algo, dime,” begitu katanya.

Al-Arabi adalah bagian dari komunitas yang terbentuk ketika saya dan empat orang teman dari Indonesia hidup di Spanyol selama enam bulan sebagai mahasiswa pertukaran. Dalam perjalanannya, kami saling membantu dan dibantu, berbagi sumber daya ketika ada yang membutuhkan. Kami membangun ruang aman; menumbuhkan empati dan solidaritas kepada satu sama lain.

Bersama anak bungsu Al-Arabi

Saya kemudian menyadari bahwa jauh sebelum pertemuan dengan keluarga Al-Arabi, nilai-nilai perawatan itu telah lebih dahulu diajarkan oleh orang-orang dewasa di sekitar saya sejak masa tumbuh dan dibesarkan. Nilai-nilai itu hadir melalui tetangga yang setiap hari membuka rumahnya bagi anak-anak untuk bermain di halaman atau sekadar menonton televisi bersama; melalui tetangga yang mengajarkan saya memasak untuk pertama kalinya saat kelas empat SD; melalui tetangga yang mengasuh adik saya ketika masih balita karena orang tuanya bekerja dan kakak-kakaknya bersekolah; melalui tetangga yang menanam pohon salam di depan rumah sehingga siapa pun boleh memetiknya saat membutuhkan; hingga ibu-ibu yang memasak kue kering Lebaran bersama untuk berbagi alat, tenaga, dan waktu.

Ada pepatah Barat yang mengatakan: “It takes a village to raise a child.” Dibutuhkan satu “desa” untuk membesarkan seorang anak. Kini, desa itu seolah telah hilang, digantikan oleh “kota-kota” modern dimana kepemilikan pribadi atas kebutuhan sehari-hari memberi kemudahan tetapi sekaligus menciptakan jarak dan mengisolasi. Secara administratif, desa mungkin masih ada; namun kehidupan ala desa lah yang perlahan menghilang.

Walau begitu, nilai-nilai perawatan kolektif sejatinya tidak pernah benar-benar lenyap. Nilai-nilai itu tetap hidup sebagai ingatan yang mengalir dalam tubuh. Hal ini tercermin dari solidaritas yang terbangun, baik kepada saudara di Sumatera atau kepada mereka yang ditangkap karena menyuarakan keadilan.

Kita mungkin tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Namun, kita bisa berupaya melatih kembali refleks terhadap nilai-nilai perawatan; membangun kembali empati dan solidaritas kolektif. Sudah banyak kelompok, dari skala kecil hingga besar, yang memulainya: membangun kebun kolektif, mengadakan kantin sehat bagi anak-anak sekolah, menghidupkan rumah baca dan komunitas literasi, menggunakan kesenian sebagai cara merawat ingatan, mendirikan sekolah alternatif, hingga membangun usaha bersama melalui skema koperasi.

Bersama Mariam dan Cristina sebelum pergi membeli ayam di halal mercado

Bagi saya, Al-Arabi bukan sekedar sosok dari masa lalu ketika dalam perantauan. Ia adalah pengingat bahwa nilai-nilai perawatan akan selalu menemukan jalannya, bahkan jauh dari rumah. [T]

Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: arabcatatan perjalananMuslimspanyol
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Next Post

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

J. Savitri

J. Savitri

Penyuka martabak dan senang belajar, sesekali menyanyi. Saat ini sedang menimba ilmu di Bali Utara

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co