DI tengah kompleksitas praktik ritual Hindu di Bali yang kian hari terasa semakin berat, mahal, dan sering kali menjauh dari substansi spiritualnya, muncul dua sosok Sulinggih yang menempuh jalan sepi namun jernih: Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. Keduanya datang dari latar kehidupan walaka yang berbeda, tetapi bertemu pada satu simpul kesadaran yang sama: agama seharusnya membebaskan, bukan membebani.
Ida Pedanda Bang Buruan, yang lahir pada 7 Juli 1947 dan dikenal saat walaka sebagai Ida Bagus Gede Ardadi, B.A, menempuh jalan hidup yang membumi. Ia pernah menjadi pengusaha kecil tahu, tempe, dan tepung beras, lalu bekerja sebagai pegawai Telkom setelah sebuah pertemuan sederhana saat ngayah di Pura Besakih. Pensiun dini dari Telkom pada 1995 menjadi pintu masuk bagi perjalanan spiritualnya yang berpuncak pada diksa sebagai Sulinggih pada 17 Oktober 1999, hanya tiga hari sebelum Bali dilanda amuk massa.
Sejak awal, Ida Pedanda Bang Buruan memosisikan diri bukan sebagai penjaga kemegahan ritual, melainkan penjaga makna. Diksa pariksa yang dijalaninya di Banjar Mertanadi, Sumerta, Denpasar—terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat—menjadi simbol penting bahwa kesucian seorang pandita tidak terletak pada jarak sosial, tetapi pada integritas hidup sehari-hari. Agama, menurut beliau, tidak boleh menjadi beban psikologis maupun ekonomi umat, melainkan sumber kebahagiaan dan pencerahan.
Gagasan “upacara tepat guna” yang diperkenalkan Ida Pedanda Bang Buruan merupakan kritik halus namun tajam terhadap pengelompokan nista, madya, dan utama yang sering dipahami keliru sebagai kelas-kelas ritual. Padahal, kanista justru berarti inti. Dengan pendekatan tepat guna, ritual dikembalikan pada fungsinya, bukan pada gengsi atau kemegahan. Prinsip ini tampak jelas dalam pandangannya tentang ngaben kremasi yang efektif, manusiawi, tidak memacetkan jalan, dan tidak memaksa keluarga mengerahkan massa atau biaya besar.
Nada pemikiran serupa juga bergema kuat dalam ajaran Ida Rsi Bhujangga Waisnawa. Saat walaka dikenal sebagai Drs. Gede Sara Sastra, M.Si, beliau berkiprah sebagai jurnalis, akademisi, dan pelopor tirta yatra ke India melalui Krishna Tour. Didiksa sebagai Sulinggih pada 29 Juni 2009, Ida Rsi membawa pengalaman intelektual dan praksis sosial ke dalam dunia kepanditaan.
Dalam buku Reformasi Ritual, Ida Rsi menegaskan bahwa Hindu tidak mengenal paksaan dalam beryadnya. Fleksibilitas ajaran Hindu tercermin dalam konsep pemade, yakni pengganti. Simbol boleh berganti, substansi tidak. Adu ayam dapat diganti adu tingkih, babi guling diganti telur guling. Hindu, pada dasarnya, adalah agama yang sederhana, murah, dan lentur, namun menjadi berat karena dibungkus adat, kebiasaan, dan otoritas yang sering kali kehilangan pemahaman mendalam.
Pertemuan pandangan kedua tokoh ini menemukan momentumnya dalam praktik-praktik konkret. Ritual Prayascita Bhumi pada 5 Desember 2003, misalnya, menjadi tonggak penting reformasi mecaru di Bali. Penyembelihan binatang digantikan simbol, darah digantikan makna. Bukankah Hindu memang agama simbol? Di sinilah pandangan Ida Pedanda Bang Buruan tentang ritual tanpa kekerasan bertemu dengan kerangka konseptual Ida Rsi Bhujangga Waisnawa tentang fleksibilitas yadnya.
Keduanya sepakat bahwa krisis umat Hindu hari ini bukan sekadar persoalan ritual, tetapi persoalan kelembagaan dan orientasi. Tidak adanya lembaga keumatan yang kuat, ditambah praktik ritual yang mahal dan memaksa, membuat umat kelelahan, bahkan takut menjadi Hindu. Penelitian tentang konversi agama di Bali menunjukkan dampak nyata dari praktik keagamaan yang kehilangan welas asih.
Baik Ida Pedanda maupun Ida Rsi menekankan bahwa beryadnya seharusnya menjadi kebahagiaan, bukan sumber hutang atau penderitaan. Tidak ada yadnya yang suci jika meninggalkan kesengsaraan di masa depan. Bahkan gebogan pun cukup dengan buah lokal yang memenuhi unsur Pancha Rengga, bukan buah impor yang hanya menambah biaya dan gengsi.
Pada akhirnya, sesana Sulinggih bagi kedua tokoh ini tidak berhenti pada wacana abstrak. Sulinggih harus menjadi Sang Satyawadi yang jujur, Sang Apta yang dapat dipercaya, Sang Patirthan tempat penyucian lahir batin, dan Sang Panadahan Upadesa—guru sekaligus sandaran hidup umat. Seperti Rsi Markandeya yang mengajarkan bertani, atau Mpu Kuturan yang mereformasi struktur sosial, Sulinggih masa kini dituntut hadir dalam realitas umat.
Pertemuan indah antara Ida Pedanda Bang Buruan dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa bukanlah pertemuan fisik semata, melainkan pertemuan kesadaran. Keduanya berjalan di jalur yang sama: mengembalikan Hindu pada wajah aslinya—berdasar tatwa tanpa memaksa dan menindas, sakral tanpa menyengsarakan, dan khidmat dan khusuk tanpa kehilangan kemanusiaan. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole



























