14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Indah Dua Jalan Reformasi Ritual Hindu, Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 14, 2025
in Ulas Buku
Pertemuan Indah Dua Jalan Reformasi Ritual Hindu, Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti

DI tengah kompleksitas praktik ritual Hindu di Bali yang kian hari terasa semakin berat, mahal, dan sering kali menjauh dari substansi spiritualnya, muncul dua sosok Sulinggih yang menempuh jalan sepi namun jernih: Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. Keduanya datang dari latar kehidupan walaka yang berbeda, tetapi bertemu pada satu simpul kesadaran yang sama: agama seharusnya membebaskan, bukan membebani.

Ida Pedanda Bang Buruan, yang lahir pada 7 Juli 1947 dan dikenal saat walaka sebagai Ida Bagus Gede Ardadi, B.A, menempuh jalan hidup yang membumi. Ia pernah menjadi pengusaha kecil tahu, tempe, dan tepung beras, lalu bekerja sebagai pegawai Telkom setelah sebuah pertemuan sederhana saat ngayah di Pura Besakih. Pensiun dini dari Telkom pada 1995 menjadi pintu masuk bagi perjalanan spiritualnya yang berpuncak pada diksa sebagai Sulinggih pada 17 Oktober 1999, hanya tiga hari sebelum Bali dilanda amuk massa.

Sejak awal, Ida Pedanda Bang Buruan memosisikan diri bukan sebagai penjaga kemegahan ritual, melainkan penjaga makna. Diksa pariksa yang dijalaninya di Banjar Mertanadi, Sumerta, Denpasar—terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat—menjadi simbol penting bahwa kesucian seorang pandita tidak terletak pada jarak sosial, tetapi pada integritas hidup sehari-hari. Agama, menurut beliau, tidak boleh menjadi beban psikologis maupun ekonomi umat, melainkan sumber kebahagiaan dan pencerahan.

Gagasan “upacara tepat guna” yang diperkenalkan Ida Pedanda Bang Buruan merupakan kritik halus namun tajam terhadap pengelompokan nista, madya, dan utama yang sering dipahami keliru sebagai kelas-kelas ritual. Padahal, kanista justru berarti inti. Dengan pendekatan tepat guna, ritual dikembalikan pada fungsinya, bukan pada gengsi atau kemegahan. Prinsip ini tampak jelas dalam pandangannya tentang ngaben kremasi yang efektif, manusiawi, tidak memacetkan jalan, dan tidak memaksa keluarga mengerahkan massa atau biaya besar.

Nada pemikiran serupa juga bergema kuat dalam ajaran Ida Rsi Bhujangga Waisnawa. Saat walaka dikenal sebagai Drs. Gede Sara Sastra, M.Si, beliau berkiprah sebagai jurnalis, akademisi, dan pelopor tirta yatra ke India melalui Krishna Tour. Didiksa sebagai Sulinggih pada 29 Juni 2009, Ida Rsi membawa pengalaman intelektual dan praksis sosial ke dalam dunia kepanditaan.

Dalam buku Reformasi Ritual, Ida Rsi menegaskan bahwa Hindu tidak mengenal paksaan dalam beryadnya. Fleksibilitas ajaran Hindu tercermin dalam konsep pemade, yakni pengganti. Simbol boleh berganti, substansi tidak. Adu ayam dapat diganti adu tingkih, babi guling diganti telur guling. Hindu, pada dasarnya, adalah agama yang sederhana, murah, dan lentur, namun menjadi berat karena dibungkus adat, kebiasaan, dan otoritas yang sering kali kehilangan pemahaman mendalam.

Pertemuan pandangan kedua tokoh ini menemukan momentumnya dalam praktik-praktik konkret. Ritual Prayascita Bhumi pada 5 Desember 2003, misalnya, menjadi tonggak penting reformasi mecaru di Bali. Penyembelihan binatang digantikan simbol, darah digantikan makna. Bukankah Hindu memang agama simbol? Di sinilah pandangan Ida Pedanda Bang Buruan tentang ritual tanpa kekerasan bertemu dengan kerangka konseptual Ida Rsi Bhujangga Waisnawa tentang fleksibilitas yadnya.

Keduanya sepakat bahwa krisis umat Hindu hari ini bukan sekadar persoalan ritual, tetapi persoalan kelembagaan dan orientasi. Tidak adanya lembaga keumatan yang kuat, ditambah praktik ritual yang mahal dan memaksa, membuat umat kelelahan, bahkan takut menjadi Hindu. Penelitian tentang konversi agama di Bali menunjukkan dampak nyata dari praktik keagamaan yang kehilangan welas asih.

Baik Ida Pedanda maupun Ida Rsi menekankan bahwa beryadnya seharusnya menjadi kebahagiaan, bukan sumber hutang atau penderitaan. Tidak ada yadnya yang suci jika meninggalkan kesengsaraan di masa depan. Bahkan gebogan pun cukup dengan buah lokal yang memenuhi unsur Pancha Rengga, bukan buah impor yang hanya menambah biaya dan gengsi.

Pada akhirnya, sesana Sulinggih bagi kedua tokoh ini tidak berhenti pada wacana abstrak. Sulinggih harus menjadi Sang Satyawadi yang jujur, Sang Apta yang dapat dipercaya, Sang Patirthan tempat penyucian lahir batin, dan Sang Panadahan Upadesa—guru sekaligus sandaran hidup umat. Seperti Rsi Markandeya yang mengajarkan bertani, atau Mpu Kuturan yang mereformasi struktur sosial, Sulinggih masa kini dituntut hadir dalam realitas umat.

Pertemuan indah antara Ida Pedanda Bang Buruan dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa bukanlah pertemuan fisik semata, melainkan pertemuan kesadaran. Keduanya berjalan di jalur yang sama: mengembalikan Hindu pada wajah aslinya—berdasar tatwa tanpa memaksa dan menindas, sakral tanpa menyengsarakan, dan  khidmat dan khusuk tanpa kehilangan kemanusiaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuhinduHindu Baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Next Post

Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co