3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Indah Dua Jalan Reformasi Ritual Hindu, Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 14, 2025
in Ulas Buku
Pertemuan Indah Dua Jalan Reformasi Ritual Hindu, Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti

DI tengah kompleksitas praktik ritual Hindu di Bali yang kian hari terasa semakin berat, mahal, dan sering kali menjauh dari substansi spiritualnya, muncul dua sosok Sulinggih yang menempuh jalan sepi namun jernih: Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti. Keduanya datang dari latar kehidupan walaka yang berbeda, tetapi bertemu pada satu simpul kesadaran yang sama: agama seharusnya membebaskan, bukan membebani.

Ida Pedanda Bang Buruan, yang lahir pada 7 Juli 1947 dan dikenal saat walaka sebagai Ida Bagus Gede Ardadi, B.A, menempuh jalan hidup yang membumi. Ia pernah menjadi pengusaha kecil tahu, tempe, dan tepung beras, lalu bekerja sebagai pegawai Telkom setelah sebuah pertemuan sederhana saat ngayah di Pura Besakih. Pensiun dini dari Telkom pada 1995 menjadi pintu masuk bagi perjalanan spiritualnya yang berpuncak pada diksa sebagai Sulinggih pada 17 Oktober 1999, hanya tiga hari sebelum Bali dilanda amuk massa.

Sejak awal, Ida Pedanda Bang Buruan memosisikan diri bukan sebagai penjaga kemegahan ritual, melainkan penjaga makna. Diksa pariksa yang dijalaninya di Banjar Mertanadi, Sumerta, Denpasar—terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat—menjadi simbol penting bahwa kesucian seorang pandita tidak terletak pada jarak sosial, tetapi pada integritas hidup sehari-hari. Agama, menurut beliau, tidak boleh menjadi beban psikologis maupun ekonomi umat, melainkan sumber kebahagiaan dan pencerahan.

Gagasan “upacara tepat guna” yang diperkenalkan Ida Pedanda Bang Buruan merupakan kritik halus namun tajam terhadap pengelompokan nista, madya, dan utama yang sering dipahami keliru sebagai kelas-kelas ritual. Padahal, kanista justru berarti inti. Dengan pendekatan tepat guna, ritual dikembalikan pada fungsinya, bukan pada gengsi atau kemegahan. Prinsip ini tampak jelas dalam pandangannya tentang ngaben kremasi yang efektif, manusiawi, tidak memacetkan jalan, dan tidak memaksa keluarga mengerahkan massa atau biaya besar.

Nada pemikiran serupa juga bergema kuat dalam ajaran Ida Rsi Bhujangga Waisnawa. Saat walaka dikenal sebagai Drs. Gede Sara Sastra, M.Si, beliau berkiprah sebagai jurnalis, akademisi, dan pelopor tirta yatra ke India melalui Krishna Tour. Didiksa sebagai Sulinggih pada 29 Juni 2009, Ida Rsi membawa pengalaman intelektual dan praksis sosial ke dalam dunia kepanditaan.

Dalam buku Reformasi Ritual, Ida Rsi menegaskan bahwa Hindu tidak mengenal paksaan dalam beryadnya. Fleksibilitas ajaran Hindu tercermin dalam konsep pemade, yakni pengganti. Simbol boleh berganti, substansi tidak. Adu ayam dapat diganti adu tingkih, babi guling diganti telur guling. Hindu, pada dasarnya, adalah agama yang sederhana, murah, dan lentur, namun menjadi berat karena dibungkus adat, kebiasaan, dan otoritas yang sering kali kehilangan pemahaman mendalam.

Pertemuan pandangan kedua tokoh ini menemukan momentumnya dalam praktik-praktik konkret. Ritual Prayascita Bhumi pada 5 Desember 2003, misalnya, menjadi tonggak penting reformasi mecaru di Bali. Penyembelihan binatang digantikan simbol, darah digantikan makna. Bukankah Hindu memang agama simbol? Di sinilah pandangan Ida Pedanda Bang Buruan tentang ritual tanpa kekerasan bertemu dengan kerangka konseptual Ida Rsi Bhujangga Waisnawa tentang fleksibilitas yadnya.

Keduanya sepakat bahwa krisis umat Hindu hari ini bukan sekadar persoalan ritual, tetapi persoalan kelembagaan dan orientasi. Tidak adanya lembaga keumatan yang kuat, ditambah praktik ritual yang mahal dan memaksa, membuat umat kelelahan, bahkan takut menjadi Hindu. Penelitian tentang konversi agama di Bali menunjukkan dampak nyata dari praktik keagamaan yang kehilangan welas asih.

Baik Ida Pedanda maupun Ida Rsi menekankan bahwa beryadnya seharusnya menjadi kebahagiaan, bukan sumber hutang atau penderitaan. Tidak ada yadnya yang suci jika meninggalkan kesengsaraan di masa depan. Bahkan gebogan pun cukup dengan buah lokal yang memenuhi unsur Pancha Rengga, bukan buah impor yang hanya menambah biaya dan gengsi.

Pada akhirnya, sesana Sulinggih bagi kedua tokoh ini tidak berhenti pada wacana abstrak. Sulinggih harus menjadi Sang Satyawadi yang jujur, Sang Apta yang dapat dipercaya, Sang Patirthan tempat penyucian lahir batin, dan Sang Panadahan Upadesa—guru sekaligus sandaran hidup umat. Seperti Rsi Markandeya yang mengajarkan bertani, atau Mpu Kuturan yang mereformasi struktur sosial, Sulinggih masa kini dituntut hadir dalam realitas umat.

Pertemuan indah antara Ida Pedanda Bang Buruan dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa bukanlah pertemuan fisik semata, melainkan pertemuan kesadaran. Keduanya berjalan di jalur yang sama: mengembalikan Hindu pada wajah aslinya—berdasar tatwa tanpa memaksa dan menindas, sakral tanpa menyengsarakan, dan  khidmat dan khusuk tanpa kehilangan kemanusiaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuhinduHindu Baliritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tipat Tahu dan Mikrokosmos Gianyar

Next Post

Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Menggarap Dekorasi, Melampaui Batas Generasi –-Catatan Persiapan Calonarang di Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co