24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
November 30, 2025
in Cerpen
Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui imajinasi tak kasat mata dalam lelapku. Aku pun belum mengerti alasan sebenarnya mengapa ini harus mengusik tidur lelapku. Nenekku bilang, aku melik. Entah apapun itu, aku tidak peduli, sungguh. Bagiku itu semua hanyalah ilusi otak yang sedang merespon alam bawah sadarku melalui kisah-kisah aneh dan tak logis.

“Hati-hati! Jangan sampai memasukan kakimu ke danau itu!” kata seorang perempuan.

Perempuan itu bermata biru cerah dengan bulu mata melengkung sempurna bak perempuan masa kini yang menempelkan rambut tambahan ke kelopak matanya agar terlihat indah tanpa perlu menggunakan penjepit bulu mata ataupun riasan. Sayangnya, hanya itu yang bisa aku ingat dari sosok perempuan yang selalu muncul pada saat bulan purnama. Seolah-olah dia datang dibantu oleh gemilang cahaya Chandra, Sang Bulan.

Seingatku, pertama kali aku mendapatkan kunjungan perempuan aneh itu tepat sejak usiaku menginjak angka sepuluh.  Jujur, aku tidak terlalu ingat kisah masa kecilku, tapi tepat sehari sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh, orang tuaku mengajakku berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang berada di dalam hutan.

Hutan itu tidak dapat dikatakan rindang tetapi ditumbuhi pepohonan yang cukup untuk menghalau sinar matahari agar tidak langsung menyentuh kulit. Kata ayah, sebagian besar pohon itu bernama ampupu.

“Atas usul pemerintah, pohon itu ditanam secara kolektif oleh warga yang mendiami hutan. Sebagai gantinya, mereka berhak untuk bercocok tanam dan mencari penghidupan di dalam kawasan itu,” sambung ayahku.

Meski tak kurasakan panas yang menyengat, bisa kurasakan matahari sudah bergeser tepat di atasku. Perjalanan itu tetap berlanjut hingga tiba di pemberhentian terakhir: pinggir danau.  Di sana terdapat gubuk sederhana milik kerabatku yang biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan mereka setelah seharian bekerja di ladang.

“Wah, Restiti sudah besar ya sekarang. Cantik seperti ibunya,” kata seorang perempuan menyambut kedatanganku. Usia perempuan itu kurang lebih berumur 40 tahunan. Ia menggunakan bahasa daerah. Perempuan itu sangat cantik dengan warna mata cokelat terang, meski terlihat guratan mulai menghiasi wajahnya. Entah kenapa, bagiku justru itu menambah kesan indah dan kuat yang terpancar secara natural.

“Iya nih, Mbok. Sudah pinter ngelawan omongan saya juga,” sahut Ibu menyindirku sambil tertawa renyah.

“Iya, namanya juga anak-anak. Putu juga gitu kok ke saya,” ujar perempuan itu seakan menunjukkan sikap memaklumi dan membela dengan menyatakan bahwa tingkah anaknya juga sama sepertiku.

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka setelahnya karena mataku sudah tenggelam ke dalam air danau berwarna hijau jernih yang berada di depan gubuk itu. Danau itu dibingkai oleh bukit dan gunung. Lamat-lamat kutatap air itu; warna hijau segar yang tadinya ditangkap indera penglihatanku, tiba-tiba berubah warna menjadi coklat keruh dan…

Gedebuk!

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang kurasakan di sekujur badan. Aku melihat sosok laki-laki tua berambut putih panjang, disanggul di bagian tengah kepala. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga mata kaki. Sembari memercikan air ke arahku, ia komat-kamit mengucapkan mantra. Ibu dan ayah kulihat berunding dengan lelaki tua tua lain. Nenek juga ada di sana. Aku masih kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandang.

“Oh, aku sudah di rumah,” pikirku.

Setelah kejadian itu, tak ada yang mencoba menjelaskan apapun kepadaku, tapi dapat kurasakan sikap orang tuaku mulai berbeda. Mereka semakin protektif dan tidak pernah mengajakku bepergian jauh lagi.

Pernah sekali aku bertanya lagi kepada nenek, sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. 

“Kamu  melik,” jawabnya setiap kali kutanya.

“Apa itu artinya, Nek?”

“Itu berarti kamu spesial dan salah satu yang terpilih untuk dicintai dewa,” jelasnya.

Sejujurnya aku tak cukup puas dengan jawabannya tetapi berusaha kukubur pertanyaan yang terlintas di kepalaku dalam-dalam.

***

Sepuluh tahun berlalu, tetapi suara air dan tatapan perempuan itu seperti masih bersembunyi di balik kelopak mataku, menunggu saat untuk muncul kembali. Selama rentang waktu itu juga, aku mencoba meyakinkan bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan biasa dan mimpi buruk sialan itu hanya sebuah kebetulan yang terasa nyata. Tapi entah kenapa, tubuhku selalu bereaksi berbeda ketika melihat danau ataupun mendengar cerita tentang hutan. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ditutup rapat oleh orang-orang tua di sekitarku.

Benar saja. Saat kugulirkan jariku di layar ponsel pintarku, aku menemukan berita tentang pembangunan yang berdampak terhadap penggusuran warga. Kurang lebih begini judulnya, “Dibangun Taman Hiburan, Lahan-Tempat Tinggal Petani di Kawasan X Terancam Hilang.”

Injak, injaklah air berduri itu, maka kau akan dihisap habis.

Aku mencari tahu lebih dalam tentang taman hiburan sialan itu. Kutemukan bahwa rencana pembangunan taman hiburan itu berada di dekat gubuk kerabat perempuan yang kutemui sepuluh tahun lalu. Di pinggir danau itu, di tempat kejadian aneh yang membuat orang tuaku melarangku bepergian jauh dan membuatku terkurung dalam labirin kecil ini. Labirin ketidaktahuan.

Bagaimana nasib perempuan itu? Apa kabar gubuk kecil itu?

Aku menyelam kembali melalui sosial media Instagram. Dan kembali kulihat unggahan, “Kala menolak proyek dibalas dengan kriminalisasi menggunakan aturan yang seharusnya digunakan untuk melindungi para petani.”

Siapa yang dikriminalisasi? Untuk apa mereka dikriminalisasi?

Unggahan itu menghempasku bagai gelombang yang telah lama tertahan. Kepalaku terasa penuh, bayang mata coklat penuh cahaya milik kerabat perempuanku muncul, lalu lenyap digantikan  mata biru perempuan dari mimpiku. Keduanya menari silih berganti, seperti dua ingatan menolak berdamai.

Kurasakan panas menjalar dari dada hingga tengkuk. Tubuhku seperti dibakar, lalu tiba-tiba  dipadamkan air asing  yang menekan kesadaranku. Pandanganku meredup, seperti sebuah tirai ditarik dari dalam kepalaku. 

Dia kembali, murka.

Mengepakkan selendang hijaunya.

Hutan dibabat habis.
Tak akan ada seorang pun tersisa, atau apa pun.

Kita semua kan sirna.

Gemericik air mengalir di sekujur tubuhku. Suara-suara tak kasat mata menghantuiku. Dituntunnya aku ke salah satu pemandian suci untuk membersihkan diri, melukat.

Akan kusucikan kamu, agar tak perlu serakah.

Kembali… kembalilah padaku.

Pada malam purnama kesepuluh perempuan aneh itu berhasil menenggelamkanku. Perawakan indah tubuhnya tak menyerupai patung-patung suci. Wajahnya penuh sayatan, tak lagi sama seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam bunga tidurku. Kini ia tampak menyeramkan dengan wajah penuh sayatan. Rahimnya terburai, dipenuhi belatung, tak ada lagi tanda-tanda kesuburan.

Aku dihanyutkan air bah,

jauh ke dalam dinginnya magma. [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Neverland’: Ketika Mimpi dan Kehilangan Menyatu

Next Post

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co