23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
November 30, 2025
in Cerpen
Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui imajinasi tak kasat mata dalam lelapku. Aku pun belum mengerti alasan sebenarnya mengapa ini harus mengusik tidur lelapku. Nenekku bilang, aku melik. Entah apapun itu, aku tidak peduli, sungguh. Bagiku itu semua hanyalah ilusi otak yang sedang merespon alam bawah sadarku melalui kisah-kisah aneh dan tak logis.

“Hati-hati! Jangan sampai memasukan kakimu ke danau itu!” kata seorang perempuan.

Perempuan itu bermata biru cerah dengan bulu mata melengkung sempurna bak perempuan masa kini yang menempelkan rambut tambahan ke kelopak matanya agar terlihat indah tanpa perlu menggunakan penjepit bulu mata ataupun riasan. Sayangnya, hanya itu yang bisa aku ingat dari sosok perempuan yang selalu muncul pada saat bulan purnama. Seolah-olah dia datang dibantu oleh gemilang cahaya Chandra, Sang Bulan.

Seingatku, pertama kali aku mendapatkan kunjungan perempuan aneh itu tepat sejak usiaku menginjak angka sepuluh.  Jujur, aku tidak terlalu ingat kisah masa kecilku, tapi tepat sehari sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh, orang tuaku mengajakku berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang berada di dalam hutan.

Hutan itu tidak dapat dikatakan rindang tetapi ditumbuhi pepohonan yang cukup untuk menghalau sinar matahari agar tidak langsung menyentuh kulit. Kata ayah, sebagian besar pohon itu bernama ampupu.

“Atas usul pemerintah, pohon itu ditanam secara kolektif oleh warga yang mendiami hutan. Sebagai gantinya, mereka berhak untuk bercocok tanam dan mencari penghidupan di dalam kawasan itu,” sambung ayahku.

Meski tak kurasakan panas yang menyengat, bisa kurasakan matahari sudah bergeser tepat di atasku. Perjalanan itu tetap berlanjut hingga tiba di pemberhentian terakhir: pinggir danau.  Di sana terdapat gubuk sederhana milik kerabatku yang biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan mereka setelah seharian bekerja di ladang.

“Wah, Restiti sudah besar ya sekarang. Cantik seperti ibunya,” kata seorang perempuan menyambut kedatanganku. Usia perempuan itu kurang lebih berumur 40 tahunan. Ia menggunakan bahasa daerah. Perempuan itu sangat cantik dengan warna mata cokelat terang, meski terlihat guratan mulai menghiasi wajahnya. Entah kenapa, bagiku justru itu menambah kesan indah dan kuat yang terpancar secara natural.

“Iya nih, Mbok. Sudah pinter ngelawan omongan saya juga,” sahut Ibu menyindirku sambil tertawa renyah.

“Iya, namanya juga anak-anak. Putu juga gitu kok ke saya,” ujar perempuan itu seakan menunjukkan sikap memaklumi dan membela dengan menyatakan bahwa tingkah anaknya juga sama sepertiku.

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka setelahnya karena mataku sudah tenggelam ke dalam air danau berwarna hijau jernih yang berada di depan gubuk itu. Danau itu dibingkai oleh bukit dan gunung. Lamat-lamat kutatap air itu; warna hijau segar yang tadinya ditangkap indera penglihatanku, tiba-tiba berubah warna menjadi coklat keruh dan…

Gedebuk!

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang kurasakan di sekujur badan. Aku melihat sosok laki-laki tua berambut putih panjang, disanggul di bagian tengah kepala. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga mata kaki. Sembari memercikan air ke arahku, ia komat-kamit mengucapkan mantra. Ibu dan ayah kulihat berunding dengan lelaki tua tua lain. Nenek juga ada di sana. Aku masih kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandang.

“Oh, aku sudah di rumah,” pikirku.

Setelah kejadian itu, tak ada yang mencoba menjelaskan apapun kepadaku, tapi dapat kurasakan sikap orang tuaku mulai berbeda. Mereka semakin protektif dan tidak pernah mengajakku bepergian jauh lagi.

Pernah sekali aku bertanya lagi kepada nenek, sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. 

“Kamu  melik,” jawabnya setiap kali kutanya.

“Apa itu artinya, Nek?”

“Itu berarti kamu spesial dan salah satu yang terpilih untuk dicintai dewa,” jelasnya.

Sejujurnya aku tak cukup puas dengan jawabannya tetapi berusaha kukubur pertanyaan yang terlintas di kepalaku dalam-dalam.

***

Sepuluh tahun berlalu, tetapi suara air dan tatapan perempuan itu seperti masih bersembunyi di balik kelopak mataku, menunggu saat untuk muncul kembali. Selama rentang waktu itu juga, aku mencoba meyakinkan bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan biasa dan mimpi buruk sialan itu hanya sebuah kebetulan yang terasa nyata. Tapi entah kenapa, tubuhku selalu bereaksi berbeda ketika melihat danau ataupun mendengar cerita tentang hutan. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ditutup rapat oleh orang-orang tua di sekitarku.

Benar saja. Saat kugulirkan jariku di layar ponsel pintarku, aku menemukan berita tentang pembangunan yang berdampak terhadap penggusuran warga. Kurang lebih begini judulnya, “Dibangun Taman Hiburan, Lahan-Tempat Tinggal Petani di Kawasan X Terancam Hilang.”

Injak, injaklah air berduri itu, maka kau akan dihisap habis.

Aku mencari tahu lebih dalam tentang taman hiburan sialan itu. Kutemukan bahwa rencana pembangunan taman hiburan itu berada di dekat gubuk kerabat perempuan yang kutemui sepuluh tahun lalu. Di pinggir danau itu, di tempat kejadian aneh yang membuat orang tuaku melarangku bepergian jauh dan membuatku terkurung dalam labirin kecil ini. Labirin ketidaktahuan.

Bagaimana nasib perempuan itu? Apa kabar gubuk kecil itu?

Aku menyelam kembali melalui sosial media Instagram. Dan kembali kulihat unggahan, “Kala menolak proyek dibalas dengan kriminalisasi menggunakan aturan yang seharusnya digunakan untuk melindungi para petani.”

Siapa yang dikriminalisasi? Untuk apa mereka dikriminalisasi?

Unggahan itu menghempasku bagai gelombang yang telah lama tertahan. Kepalaku terasa penuh, bayang mata coklat penuh cahaya milik kerabat perempuanku muncul, lalu lenyap digantikan  mata biru perempuan dari mimpiku. Keduanya menari silih berganti, seperti dua ingatan menolak berdamai.

Kurasakan panas menjalar dari dada hingga tengkuk. Tubuhku seperti dibakar, lalu tiba-tiba  dipadamkan air asing  yang menekan kesadaranku. Pandanganku meredup, seperti sebuah tirai ditarik dari dalam kepalaku. 

Dia kembali, murka.

Mengepakkan selendang hijaunya.

Hutan dibabat habis.
Tak akan ada seorang pun tersisa, atau apa pun.

Kita semua kan sirna.

Gemericik air mengalir di sekujur tubuhku. Suara-suara tak kasat mata menghantuiku. Dituntunnya aku ke salah satu pemandian suci untuk membersihkan diri, melukat.

Akan kusucikan kamu, agar tak perlu serakah.

Kembali… kembalilah padaku.

Pada malam purnama kesepuluh perempuan aneh itu berhasil menenggelamkanku. Perawakan indah tubuhnya tak menyerupai patung-patung suci. Wajahnya penuh sayatan, tak lagi sama seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam bunga tidurku. Kini ia tampak menyeramkan dengan wajah penuh sayatan. Rahimnya terburai, dipenuhi belatung, tak ada lagi tanda-tanda kesuburan.

Aku dihanyutkan air bah,

jauh ke dalam dinginnya magma. [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Neverland’: Ketika Mimpi dan Kehilangan Menyatu

Next Post

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co