14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
November 30, 2025
in Cerpen
Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui imajinasi tak kasat mata dalam lelapku. Aku pun belum mengerti alasan sebenarnya mengapa ini harus mengusik tidur lelapku. Nenekku bilang, aku melik. Entah apapun itu, aku tidak peduli, sungguh. Bagiku itu semua hanyalah ilusi otak yang sedang merespon alam bawah sadarku melalui kisah-kisah aneh dan tak logis.

“Hati-hati! Jangan sampai memasukan kakimu ke danau itu!” kata seorang perempuan.

Perempuan itu bermata biru cerah dengan bulu mata melengkung sempurna bak perempuan masa kini yang menempelkan rambut tambahan ke kelopak matanya agar terlihat indah tanpa perlu menggunakan penjepit bulu mata ataupun riasan. Sayangnya, hanya itu yang bisa aku ingat dari sosok perempuan yang selalu muncul pada saat bulan purnama. Seolah-olah dia datang dibantu oleh gemilang cahaya Chandra, Sang Bulan.

Seingatku, pertama kali aku mendapatkan kunjungan perempuan aneh itu tepat sejak usiaku menginjak angka sepuluh.  Jujur, aku tidak terlalu ingat kisah masa kecilku, tapi tepat sehari sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh, orang tuaku mengajakku berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang berada di dalam hutan.

Hutan itu tidak dapat dikatakan rindang tetapi ditumbuhi pepohonan yang cukup untuk menghalau sinar matahari agar tidak langsung menyentuh kulit. Kata ayah, sebagian besar pohon itu bernama ampupu.

“Atas usul pemerintah, pohon itu ditanam secara kolektif oleh warga yang mendiami hutan. Sebagai gantinya, mereka berhak untuk bercocok tanam dan mencari penghidupan di dalam kawasan itu,” sambung ayahku.

Meski tak kurasakan panas yang menyengat, bisa kurasakan matahari sudah bergeser tepat di atasku. Perjalanan itu tetap berlanjut hingga tiba di pemberhentian terakhir: pinggir danau.  Di sana terdapat gubuk sederhana milik kerabatku yang biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan mereka setelah seharian bekerja di ladang.

“Wah, Restiti sudah besar ya sekarang. Cantik seperti ibunya,” kata seorang perempuan menyambut kedatanganku. Usia perempuan itu kurang lebih berumur 40 tahunan. Ia menggunakan bahasa daerah. Perempuan itu sangat cantik dengan warna mata cokelat terang, meski terlihat guratan mulai menghiasi wajahnya. Entah kenapa, bagiku justru itu menambah kesan indah dan kuat yang terpancar secara natural.

“Iya nih, Mbok. Sudah pinter ngelawan omongan saya juga,” sahut Ibu menyindirku sambil tertawa renyah.

“Iya, namanya juga anak-anak. Putu juga gitu kok ke saya,” ujar perempuan itu seakan menunjukkan sikap memaklumi dan membela dengan menyatakan bahwa tingkah anaknya juga sama sepertiku.

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka setelahnya karena mataku sudah tenggelam ke dalam air danau berwarna hijau jernih yang berada di depan gubuk itu. Danau itu dibingkai oleh bukit dan gunung. Lamat-lamat kutatap air itu; warna hijau segar yang tadinya ditangkap indera penglihatanku, tiba-tiba berubah warna menjadi coklat keruh dan…

Gedebuk!

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang kurasakan di sekujur badan. Aku melihat sosok laki-laki tua berambut putih panjang, disanggul di bagian tengah kepala. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga mata kaki. Sembari memercikan air ke arahku, ia komat-kamit mengucapkan mantra. Ibu dan ayah kulihat berunding dengan lelaki tua tua lain. Nenek juga ada di sana. Aku masih kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandang.

“Oh, aku sudah di rumah,” pikirku.

Setelah kejadian itu, tak ada yang mencoba menjelaskan apapun kepadaku, tapi dapat kurasakan sikap orang tuaku mulai berbeda. Mereka semakin protektif dan tidak pernah mengajakku bepergian jauh lagi.

Pernah sekali aku bertanya lagi kepada nenek, sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. 

“Kamu  melik,” jawabnya setiap kali kutanya.

“Apa itu artinya, Nek?”

“Itu berarti kamu spesial dan salah satu yang terpilih untuk dicintai dewa,” jelasnya.

Sejujurnya aku tak cukup puas dengan jawabannya tetapi berusaha kukubur pertanyaan yang terlintas di kepalaku dalam-dalam.

***

Sepuluh tahun berlalu, tetapi suara air dan tatapan perempuan itu seperti masih bersembunyi di balik kelopak mataku, menunggu saat untuk muncul kembali. Selama rentang waktu itu juga, aku mencoba meyakinkan bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan biasa dan mimpi buruk sialan itu hanya sebuah kebetulan yang terasa nyata. Tapi entah kenapa, tubuhku selalu bereaksi berbeda ketika melihat danau ataupun mendengar cerita tentang hutan. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ditutup rapat oleh orang-orang tua di sekitarku.

Benar saja. Saat kugulirkan jariku di layar ponsel pintarku, aku menemukan berita tentang pembangunan yang berdampak terhadap penggusuran warga. Kurang lebih begini judulnya, “Dibangun Taman Hiburan, Lahan-Tempat Tinggal Petani di Kawasan X Terancam Hilang.”

Injak, injaklah air berduri itu, maka kau akan dihisap habis.

Aku mencari tahu lebih dalam tentang taman hiburan sialan itu. Kutemukan bahwa rencana pembangunan taman hiburan itu berada di dekat gubuk kerabat perempuan yang kutemui sepuluh tahun lalu. Di pinggir danau itu, di tempat kejadian aneh yang membuat orang tuaku melarangku bepergian jauh dan membuatku terkurung dalam labirin kecil ini. Labirin ketidaktahuan.

Bagaimana nasib perempuan itu? Apa kabar gubuk kecil itu?

Aku menyelam kembali melalui sosial media Instagram. Dan kembali kulihat unggahan, “Kala menolak proyek dibalas dengan kriminalisasi menggunakan aturan yang seharusnya digunakan untuk melindungi para petani.”

Siapa yang dikriminalisasi? Untuk apa mereka dikriminalisasi?

Unggahan itu menghempasku bagai gelombang yang telah lama tertahan. Kepalaku terasa penuh, bayang mata coklat penuh cahaya milik kerabat perempuanku muncul, lalu lenyap digantikan  mata biru perempuan dari mimpiku. Keduanya menari silih berganti, seperti dua ingatan menolak berdamai.

Kurasakan panas menjalar dari dada hingga tengkuk. Tubuhku seperti dibakar, lalu tiba-tiba  dipadamkan air asing  yang menekan kesadaranku. Pandanganku meredup, seperti sebuah tirai ditarik dari dalam kepalaku. 

Dia kembali, murka.

Mengepakkan selendang hijaunya.

Hutan dibabat habis.
Tak akan ada seorang pun tersisa, atau apa pun.

Kita semua kan sirna.

Gemericik air mengalir di sekujur tubuhku. Suara-suara tak kasat mata menghantuiku. Dituntunnya aku ke salah satu pemandian suci untuk membersihkan diri, melukat.

Akan kusucikan kamu, agar tak perlu serakah.

Kembali… kembalilah padaku.

Pada malam purnama kesepuluh perempuan aneh itu berhasil menenggelamkanku. Perawakan indah tubuhnya tak menyerupai patung-patung suci. Wajahnya penuh sayatan, tak lagi sama seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam bunga tidurku. Kini ia tampak menyeramkan dengan wajah penuh sayatan. Rahimnya terburai, dipenuhi belatung, tak ada lagi tanda-tanda kesuburan.

Aku dihanyutkan air bah,

jauh ke dalam dinginnya magma. [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Neverland’: Ketika Mimpi dan Kehilangan Menyatu

Next Post

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co