2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
November 30, 2025
in Cerpen
Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui imajinasi tak kasat mata dalam lelapku. Aku pun belum mengerti alasan sebenarnya mengapa ini harus mengusik tidur lelapku. Nenekku bilang, aku melik. Entah apapun itu, aku tidak peduli, sungguh. Bagiku itu semua hanyalah ilusi otak yang sedang merespon alam bawah sadarku melalui kisah-kisah aneh dan tak logis.

“Hati-hati! Jangan sampai memasukan kakimu ke danau itu!” kata seorang perempuan.

Perempuan itu bermata biru cerah dengan bulu mata melengkung sempurna bak perempuan masa kini yang menempelkan rambut tambahan ke kelopak matanya agar terlihat indah tanpa perlu menggunakan penjepit bulu mata ataupun riasan. Sayangnya, hanya itu yang bisa aku ingat dari sosok perempuan yang selalu muncul pada saat bulan purnama. Seolah-olah dia datang dibantu oleh gemilang cahaya Chandra, Sang Bulan.

Seingatku, pertama kali aku mendapatkan kunjungan perempuan aneh itu tepat sejak usiaku menginjak angka sepuluh.  Jujur, aku tidak terlalu ingat kisah masa kecilku, tapi tepat sehari sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh, orang tuaku mengajakku berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang berada di dalam hutan.

Hutan itu tidak dapat dikatakan rindang tetapi ditumbuhi pepohonan yang cukup untuk menghalau sinar matahari agar tidak langsung menyentuh kulit. Kata ayah, sebagian besar pohon itu bernama ampupu.

“Atas usul pemerintah, pohon itu ditanam secara kolektif oleh warga yang mendiami hutan. Sebagai gantinya, mereka berhak untuk bercocok tanam dan mencari penghidupan di dalam kawasan itu,” sambung ayahku.

Meski tak kurasakan panas yang menyengat, bisa kurasakan matahari sudah bergeser tepat di atasku. Perjalanan itu tetap berlanjut hingga tiba di pemberhentian terakhir: pinggir danau.  Di sana terdapat gubuk sederhana milik kerabatku yang biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan mereka setelah seharian bekerja di ladang.

“Wah, Restiti sudah besar ya sekarang. Cantik seperti ibunya,” kata seorang perempuan menyambut kedatanganku. Usia perempuan itu kurang lebih berumur 40 tahunan. Ia menggunakan bahasa daerah. Perempuan itu sangat cantik dengan warna mata cokelat terang, meski terlihat guratan mulai menghiasi wajahnya. Entah kenapa, bagiku justru itu menambah kesan indah dan kuat yang terpancar secara natural.

“Iya nih, Mbok. Sudah pinter ngelawan omongan saya juga,” sahut Ibu menyindirku sambil tertawa renyah.

“Iya, namanya juga anak-anak. Putu juga gitu kok ke saya,” ujar perempuan itu seakan menunjukkan sikap memaklumi dan membela dengan menyatakan bahwa tingkah anaknya juga sama sepertiku.

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka setelahnya karena mataku sudah tenggelam ke dalam air danau berwarna hijau jernih yang berada di depan gubuk itu. Danau itu dibingkai oleh bukit dan gunung. Lamat-lamat kutatap air itu; warna hijau segar yang tadinya ditangkap indera penglihatanku, tiba-tiba berubah warna menjadi coklat keruh dan…

Gedebuk!

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang kurasakan di sekujur badan. Aku melihat sosok laki-laki tua berambut putih panjang, disanggul di bagian tengah kepala. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga mata kaki. Sembari memercikan air ke arahku, ia komat-kamit mengucapkan mantra. Ibu dan ayah kulihat berunding dengan lelaki tua tua lain. Nenek juga ada di sana. Aku masih kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandang.

“Oh, aku sudah di rumah,” pikirku.

Setelah kejadian itu, tak ada yang mencoba menjelaskan apapun kepadaku, tapi dapat kurasakan sikap orang tuaku mulai berbeda. Mereka semakin protektif dan tidak pernah mengajakku bepergian jauh lagi.

Pernah sekali aku bertanya lagi kepada nenek, sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. 

“Kamu  melik,” jawabnya setiap kali kutanya.

“Apa itu artinya, Nek?”

“Itu berarti kamu spesial dan salah satu yang terpilih untuk dicintai dewa,” jelasnya.

Sejujurnya aku tak cukup puas dengan jawabannya tetapi berusaha kukubur pertanyaan yang terlintas di kepalaku dalam-dalam.

***

Sepuluh tahun berlalu, tetapi suara air dan tatapan perempuan itu seperti masih bersembunyi di balik kelopak mataku, menunggu saat untuk muncul kembali. Selama rentang waktu itu juga, aku mencoba meyakinkan bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan biasa dan mimpi buruk sialan itu hanya sebuah kebetulan yang terasa nyata. Tapi entah kenapa, tubuhku selalu bereaksi berbeda ketika melihat danau ataupun mendengar cerita tentang hutan. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ditutup rapat oleh orang-orang tua di sekitarku.

Benar saja. Saat kugulirkan jariku di layar ponsel pintarku, aku menemukan berita tentang pembangunan yang berdampak terhadap penggusuran warga. Kurang lebih begini judulnya, “Dibangun Taman Hiburan, Lahan-Tempat Tinggal Petani di Kawasan X Terancam Hilang.”

Injak, injaklah air berduri itu, maka kau akan dihisap habis.

Aku mencari tahu lebih dalam tentang taman hiburan sialan itu. Kutemukan bahwa rencana pembangunan taman hiburan itu berada di dekat gubuk kerabat perempuan yang kutemui sepuluh tahun lalu. Di pinggir danau itu, di tempat kejadian aneh yang membuat orang tuaku melarangku bepergian jauh dan membuatku terkurung dalam labirin kecil ini. Labirin ketidaktahuan.

Bagaimana nasib perempuan itu? Apa kabar gubuk kecil itu?

Aku menyelam kembali melalui sosial media Instagram. Dan kembali kulihat unggahan, “Kala menolak proyek dibalas dengan kriminalisasi menggunakan aturan yang seharusnya digunakan untuk melindungi para petani.”

Siapa yang dikriminalisasi? Untuk apa mereka dikriminalisasi?

Unggahan itu menghempasku bagai gelombang yang telah lama tertahan. Kepalaku terasa penuh, bayang mata coklat penuh cahaya milik kerabat perempuanku muncul, lalu lenyap digantikan  mata biru perempuan dari mimpiku. Keduanya menari silih berganti, seperti dua ingatan menolak berdamai.

Kurasakan panas menjalar dari dada hingga tengkuk. Tubuhku seperti dibakar, lalu tiba-tiba  dipadamkan air asing  yang menekan kesadaranku. Pandanganku meredup, seperti sebuah tirai ditarik dari dalam kepalaku. 

Dia kembali, murka.

Mengepakkan selendang hijaunya.

Hutan dibabat habis.
Tak akan ada seorang pun tersisa, atau apa pun.

Kita semua kan sirna.

Gemericik air mengalir di sekujur tubuhku. Suara-suara tak kasat mata menghantuiku. Dituntunnya aku ke salah satu pemandian suci untuk membersihkan diri, melukat.

Akan kusucikan kamu, agar tak perlu serakah.

Kembali… kembalilah padaku.

Pada malam purnama kesepuluh perempuan aneh itu berhasil menenggelamkanku. Perawakan indah tubuhnya tak menyerupai patung-patung suci. Wajahnya penuh sayatan, tak lagi sama seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam bunga tidurku. Kini ia tampak menyeramkan dengan wajah penuh sayatan. Rahimnya terburai, dipenuhi belatung, tak ada lagi tanda-tanda kesuburan.

Aku dihanyutkan air bah,

jauh ke dalam dinginnya magma. [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Neverland’: Ketika Mimpi dan Kehilangan Menyatu

Next Post

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co