3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Nanda Gayatri by Nanda Gayatri
November 30, 2025
in Cerpen
Tenggelam dalam Danau | Cerpen Nanda Gayatri

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU terbangun dengan napas terengah-engah. Barangkali begitukah rasanya selepas berlari sejauh seribu kilometer. Tak pernah kubayangkan, sisa malamku akan seperti ini. Dihantui imajinasi tak kasat mata dalam lelapku. Aku pun belum mengerti alasan sebenarnya mengapa ini harus mengusik tidur lelapku. Nenekku bilang, aku melik. Entah apapun itu, aku tidak peduli, sungguh. Bagiku itu semua hanyalah ilusi otak yang sedang merespon alam bawah sadarku melalui kisah-kisah aneh dan tak logis.

“Hati-hati! Jangan sampai memasukan kakimu ke danau itu!” kata seorang perempuan.

Perempuan itu bermata biru cerah dengan bulu mata melengkung sempurna bak perempuan masa kini yang menempelkan rambut tambahan ke kelopak matanya agar terlihat indah tanpa perlu menggunakan penjepit bulu mata ataupun riasan. Sayangnya, hanya itu yang bisa aku ingat dari sosok perempuan yang selalu muncul pada saat bulan purnama. Seolah-olah dia datang dibantu oleh gemilang cahaya Chandra, Sang Bulan.

Seingatku, pertama kali aku mendapatkan kunjungan perempuan aneh itu tepat sejak usiaku menginjak angka sepuluh.  Jujur, aku tidak terlalu ingat kisah masa kecilku, tapi tepat sehari sebelum aku berulang tahun yang kesepuluh, orang tuaku mengajakku berkunjung ke rumah salah satu kerabat yang berada di dalam hutan.

Hutan itu tidak dapat dikatakan rindang tetapi ditumbuhi pepohonan yang cukup untuk menghalau sinar matahari agar tidak langsung menyentuh kulit. Kata ayah, sebagian besar pohon itu bernama ampupu.

“Atas usul pemerintah, pohon itu ditanam secara kolektif oleh warga yang mendiami hutan. Sebagai gantinya, mereka berhak untuk bercocok tanam dan mencari penghidupan di dalam kawasan itu,” sambung ayahku.

Meski tak kurasakan panas yang menyengat, bisa kurasakan matahari sudah bergeser tepat di atasku. Perjalanan itu tetap berlanjut hingga tiba di pemberhentian terakhir: pinggir danau.  Di sana terdapat gubuk sederhana milik kerabatku yang biasanya digunakan sebagai tempat peristirahatan mereka setelah seharian bekerja di ladang.

“Wah, Restiti sudah besar ya sekarang. Cantik seperti ibunya,” kata seorang perempuan menyambut kedatanganku. Usia perempuan itu kurang lebih berumur 40 tahunan. Ia menggunakan bahasa daerah. Perempuan itu sangat cantik dengan warna mata cokelat terang, meski terlihat guratan mulai menghiasi wajahnya. Entah kenapa, bagiku justru itu menambah kesan indah dan kuat yang terpancar secara natural.

“Iya nih, Mbok. Sudah pinter ngelawan omongan saya juga,” sahut Ibu menyindirku sambil tertawa renyah.

“Iya, namanya juga anak-anak. Putu juga gitu kok ke saya,” ujar perempuan itu seakan menunjukkan sikap memaklumi dan membela dengan menyatakan bahwa tingkah anaknya juga sama sepertiku.

Aku tidak terlalu mendengarkan percakapan mereka setelahnya karena mataku sudah tenggelam ke dalam air danau berwarna hijau jernih yang berada di depan gubuk itu. Danau itu dibingkai oleh bukit dan gunung. Lamat-lamat kutatap air itu; warna hijau segar yang tadinya ditangkap indera penglihatanku, tiba-tiba berubah warna menjadi coklat keruh dan…

Gedebuk!

***

Aku terbangun dengan rasa sakit yang kurasakan di sekujur badan. Aku melihat sosok laki-laki tua berambut putih panjang, disanggul di bagian tengah kepala. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kepala hingga mata kaki. Sembari memercikan air ke arahku, ia komat-kamit mengucapkan mantra. Ibu dan ayah kulihat berunding dengan lelaki tua tua lain. Nenek juga ada di sana. Aku masih kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandang.

“Oh, aku sudah di rumah,” pikirku.

Setelah kejadian itu, tak ada yang mencoba menjelaskan apapun kepadaku, tapi dapat kurasakan sikap orang tuaku mulai berbeda. Mereka semakin protektif dan tidak pernah mengajakku bepergian jauh lagi.

Pernah sekali aku bertanya lagi kepada nenek, sebenarnya apa yang terjadi pada hari itu. 

“Kamu  melik,” jawabnya setiap kali kutanya.

“Apa itu artinya, Nek?”

“Itu berarti kamu spesial dan salah satu yang terpilih untuk dicintai dewa,” jelasnya.

Sejujurnya aku tak cukup puas dengan jawabannya tetapi berusaha kukubur pertanyaan yang terlintas di kepalaku dalam-dalam.

***

Sepuluh tahun berlalu, tetapi suara air dan tatapan perempuan itu seperti masih bersembunyi di balik kelopak mataku, menunggu saat untuk muncul kembali. Selama rentang waktu itu juga, aku mencoba meyakinkan bahwa kejadian itu hanyalah kecelakaan biasa dan mimpi buruk sialan itu hanya sebuah kebetulan yang terasa nyata. Tapi entah kenapa, tubuhku selalu bereaksi berbeda ketika melihat danau ataupun mendengar cerita tentang hutan. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ditutup rapat oleh orang-orang tua di sekitarku.

Benar saja. Saat kugulirkan jariku di layar ponsel pintarku, aku menemukan berita tentang pembangunan yang berdampak terhadap penggusuran warga. Kurang lebih begini judulnya, “Dibangun Taman Hiburan, Lahan-Tempat Tinggal Petani di Kawasan X Terancam Hilang.”

Injak, injaklah air berduri itu, maka kau akan dihisap habis.

Aku mencari tahu lebih dalam tentang taman hiburan sialan itu. Kutemukan bahwa rencana pembangunan taman hiburan itu berada di dekat gubuk kerabat perempuan yang kutemui sepuluh tahun lalu. Di pinggir danau itu, di tempat kejadian aneh yang membuat orang tuaku melarangku bepergian jauh dan membuatku terkurung dalam labirin kecil ini. Labirin ketidaktahuan.

Bagaimana nasib perempuan itu? Apa kabar gubuk kecil itu?

Aku menyelam kembali melalui sosial media Instagram. Dan kembali kulihat unggahan, “Kala menolak proyek dibalas dengan kriminalisasi menggunakan aturan yang seharusnya digunakan untuk melindungi para petani.”

Siapa yang dikriminalisasi? Untuk apa mereka dikriminalisasi?

Unggahan itu menghempasku bagai gelombang yang telah lama tertahan. Kepalaku terasa penuh, bayang mata coklat penuh cahaya milik kerabat perempuanku muncul, lalu lenyap digantikan  mata biru perempuan dari mimpiku. Keduanya menari silih berganti, seperti dua ingatan menolak berdamai.

Kurasakan panas menjalar dari dada hingga tengkuk. Tubuhku seperti dibakar, lalu tiba-tiba  dipadamkan air asing  yang menekan kesadaranku. Pandanganku meredup, seperti sebuah tirai ditarik dari dalam kepalaku. 

Dia kembali, murka.

Mengepakkan selendang hijaunya.

Hutan dibabat habis.
Tak akan ada seorang pun tersisa, atau apa pun.

Kita semua kan sirna.

Gemericik air mengalir di sekujur tubuhku. Suara-suara tak kasat mata menghantuiku. Dituntunnya aku ke salah satu pemandian suci untuk membersihkan diri, melukat.

Akan kusucikan kamu, agar tak perlu serakah.

Kembali… kembalilah padaku.

Pada malam purnama kesepuluh perempuan aneh itu berhasil menenggelamkanku. Perawakan indah tubuhnya tak menyerupai patung-patung suci. Wajahnya penuh sayatan, tak lagi sama seperti saat pertama kali ia masuk ke dalam bunga tidurku. Kini ia tampak menyeramkan dengan wajah penuh sayatan. Rahimnya terburai, dipenuhi belatung, tak ada lagi tanda-tanda kesuburan.

Aku dihanyutkan air bah,

jauh ke dalam dinginnya magma. [T]

Penulis: Nanda Gayatri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Neverland’: Ketika Mimpi dan Kehilangan Menyatu

Next Post

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Nanda Gayatri

Nanda Gayatri

Lahir pada bulan ke-9 kalender Masehi 24 tahun silam. Memiliki kesempatan bertumbuh dan menghirup udara di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Marga, Tabanan. Senang berjalan-jalan, walau tak banyak, jejaknya dapat ditemui melalui akun sosial media Instagram @nanda.gytri

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Ketika Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co