PADA hari Umanis Galungan, sehari setelah Galungan, tepatnya Kamis, 20 November 2025, saya menyusuri lekuk pertemuan Dusun Butiyang di Desa Les, Tejakula, Buleleng.
Butiyang adalah singkatan dari tiga kawasan yang terpisah oleh tiga paloan (lembah), yakni Buu, Tinganggan dan Yangudi. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan bukit dengan topografi perbukitan yang berbatasan langsung dengan hutan kawasan Kintamani, Bangli, yang berada di selatan hutan Desa Les.
Memulai perjalanan dari Pasar Desa Les, saya menuju jalur arah tenggara desa sejauh 500 meter. Jalan sudah menanjak disambut dengan pemandangan rumah-rumah di pusat Desa Les. Dari titik tanjakan pertama menuju pusat area Buu, tepat di SDN 5 Kelas Jauh, jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer.
Pohon rambutan, mangga, jambu mente, lontar sampai pohon intaran menemani perjalanan menanjak dengan suara penghuni khas bukit seperti burung dan sesekali ada sepeda motor lewat yang dikebut beberapa penduduk lokal.

Dari Pertigaan di Buu, jika lanjut ke kiri akan menuju kawasan Tinggangan sekitar 1 kilometer menuju pusat penduduk menuju arah tenggara yang langsung berbatasan dengan bukit desa Penuktukan. Dari pertigaan di dekat sekolah, saya langsung menuju jalan menuju Yangudi.
Beberapa saya berhenti sembari bertanya kabar semeton (saudara) di sepanjang perjalanan. Dari pertigaan Buu sampai Yangudi berjarak sekitar 2 kilometer. Selanjutnya dari Yangudi kembali ke pusat Desa Les berjarak sama kurang lebih 2 kilometer.
Lekuk bukit Yangudi dan Bukit Mendeha di Desa Subaya, Kintamani, seakan menyapa dengan hamparan hijau saat musim hujan tiba. Tampak ratusan pohon kakao sudah berbuah dan menguning, tanda sebentar lagi petani akan panen.
Jarak jalan mengitari rute ini kurang lebih 6 kilometer. Naik bukit turun bukit begitulah kira-kira jika membuat tema perjalanan menyusuri hulu Desa Les ini. Perjalanan ini, sekali lagi, menjadi ajang refleksi bagaimana keterhubungan antara masyarakat di bukit dengan masyarakat di bawah.
Bagaimana sebaran hasil pertanian yang akan sangat mempengaruhi budaya dan laku sosial suatu masyarakat. Meski masih lingkup satu desa, saya bisa merasakan potensi pertanian seperti lontar, cengkeh, coklat atau kakao menjadi potensi penghasilan masyarakat di Bukit Butiyang.


Dari atas tampak Jelas hamparan pesisir Desa Les sepanjang kurang lebih 3 kilometer. Potensi pesisir termasuk nelayan turut juga menyumbang keanekaragaman potensi daerah di Desa Les.
Sepanjang perjalanan saya masih bisa menikmati ruang yang bebas, bebas dari tiket masuk, bebas dari kemacetan. Tetapi cepat atau lambat semua harus dipersiapkan oleh semua tentang bagaimana potensi indah dan surga ini akan menjadi neraka bagi siapa pun yang melihat tanpa pernah mengukur bagaimana ruang, udara bersih, adalah harta yang tak bisa diukur dengan uang investasi.
Kesadaran dan kecintaan mungkin itu yang menjadi barang langka selangka gas elpiji saat Galungan dan hari raya kebanyakan. Pesimis dilarang. Optimis mulai dari langkah kecil, mengaktivasi kesadaran dengan berjalan kaki setiap hari sambil kembali menemukenali potensi dan tantangan yang ada.


Jika bukit dan laut ini Lestari, siapapun yang melakukan perjalanan ini pasti bahagia. Dan bahagia harusnya menjadi oleh-oleh paling berharga dari pariwisata. Sadarlah berwiasta itu adalah perjalanan.
Perjalanan tak melulu tentang pantai indah yang dipaving dengan ratusan hotel mewah, juga bukan tentang bukit yang dibeton, karena untuk bahagia hanya butuh udara dan ruang bebas. Urusan uang konon mengikuti. Selamat berlibur. [T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto
- BACA artikel lain tentang DESA LES



























